Pembatasan Sosial Dicabut, Ini yang Perlu Dilakukan untuk Hindari Corona

BBC Indonesia - detikNews
Minggu, 24 Mei 2020 11:55 WIB
Seiring rencana pencabutan pembatasan sosial, apa yang akan Anda lakukan untuk tetap terhindar dari virus corona? (Getty Images)
Jakarta -

Bahaya apa yang mengintai saya saat seorang laki-laki bersin di dekat saya dalam jalur antrean masuk bus?

Apakah saya benar-benar perlu pergi ke restoran atau naik transportasi umum?

Ketika sebagian besar negara melonggarkan pembatasan sosial dan karantina wilayah, kita akan memulai lagi aktivitas dan kembali ke kehidupan sosial.

Pada saat itu, risiko penyebaran dan infeksi Covid-19 semakin besar. Muncul pula kekhawatiran adanya gelombang kedua pandemi penyakit ini.

BBC berbincang dengan pakar imunologi dan pakar biologi Erin Bromage tentang bagaimana kita bisa memutus peluang terpapar penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 tersebut.

Bromage adalah profesor yang mengajar epidemologi penyakit menular di University of Massachusetts Dartmouth, Amerika Serikat. Dia memantau secara mendalam pandemi yang tengah terjadi.

Bromage menganggap lebih bisa berperan sebagai pemberi informasi berbasis sains ketimbang para pakar penyakit ini. Dia menulis blog tentang beragam risiko virus corona. Laman itu sudah dibaca lebih dari 16 juta kali.

Berikut ini adalah saran Bromage untuk menjaga diri dari risiko penularan Covid-19 saat kita kembali beraktivitas dengan orang banyak

The crowd at a music concert

Sejumlah lingkungan mengandung lebih banyak risiko penularan virus corona. (Getty Images)

Di mana orang-orang terpapar?

Bromage berkata, mayoritas orang terinfeksi Covid-19 di rumah mereka. Virus itu dibawa anggota keluarga yang menularkannya lewat kontak fisik rutin.

Lalu bagaimana risiko di luar rumah? Apakah kita menghadapi bahaya saat joging di taman? Apakah orang-orang yang berlari tanpa masker akan menularkan virus corona kepada saya?

Kemungkinan besar jawabannya tidak, kata Bromage.

"Di luar ruang, penyusupan material ke pernafasan kita sangat terbatas. Jadi setelah Anda bernafas, itu material yang Anda keluarkan menghilang dengan sangat, sangat cepat," ujar Bromage.

"Untuk terpapar, Anda harus menerima virus dalam dosis tertentu. Merujuk kajian tentang MERS dan SARS, diperkirakan perlu ada sekitar 1.000 partikel SARS-CoV-2 agar proses penularan terjadi," tuturnya.

A jogger running through a park

Walau orang yang berlari menarik nafas lebih dalam, mereka hanya berpapasan sementara waktu dengan Anda. (Getty Images)

Angka pasti partikel virus itu masih diperdebatkan. Butuh uji coba ilmiah untuk memastikannya. Namun perkiraan itu memberi gambar sederhana bagaimana proses penularan bisa terjadi.

Poin utamanya adalah bahwa Anda bisa terpapar partikel sebanyak itu dalam beberapa cara, misalnya menghirup 1.000 partikel virus dalam sekali nafas atau 100 partikel dalam 10 kali nafas atau bahkan 10 partikel dalam 100 kali tarikan nafas.

Setiap kondisi itu, kata Bromage, bisa berujung pada penularan virus corona.

Artinya, Anda tidak mungkin menghirup cukup banyak partikel virus saat dalam perjumpaan singkat dengan orang yang tak mengindahkan anjuran jaga jarak di luar ruangan.

Lantas situasi lain apa lagi yang semestinya kita khawatirkan?

https://www.youtube.com/watch?v=9qqHOKUXY5U

Orang dengan gejala

Batuk dan bersin benar-benar metode penyebaran virus yang efektif. Namun keduanya memiliki perbedaan mencolok.

Dalam satu kali batuk, menurut Bromage, kita melepaskan 3.000 droplet dengan kecepatan sekitar 80 kilometer per jam.

Kebanyakan droplet berukuran besar dan karena gaya gravitasi, mereka jauh ke permukaan dengan cepat. Namun sebagian droplet bertahan di udara dan bisa berpindah ruangan.

Namun jika orang yang bersama Anda di sebuah lift bersin, bahaya yang Anda hadapi bertambah sepuluh kali lipat.

Dalam satu kali bersin, ada sekitar 30.000 ribu droplet yang Anda lepaskan. Droplet yang berukuran kecil terbang dengan jarak yang lebih jauh, dengan kecepatan sekitar 320 kilometer per jam, kata Bromage.

"Jika seseorang terinfeksi virus corona, droplet dalam satu kali batuk atau bersin bisa mengandung hingga 200 juta partikel virus."

"Jadi jika Anda berhadapan dengan seseorang, berbincang dengannya, lalu orang itu batuk atau bersin di depan Anda, ada peluang yang begitu besar Anda menghirup 1.000 partikel dan akhirnya terpapar virus itu," kata Bromage.

Bahkan jika Anda tidak ada saat batuk atau bersin itu terjadi, Anda barangkali tidak akan benar-benar aman.

Sejumlah droplet virus cukup kecil untuk terus berada di udara dalam beberapa menit. Jika Anda masuk ke ruangan saat droplet itu masih ada, Anda berpotensi menghirupnya sehingga akhirnya terpapar.

A man wearing a hat with his back to camera crosses a road

Mayoritas orang tertular virus corona di luar ruangan dari orang tanpa gejala. (Getty Images)

Orang tanpa gejala

Kita tahu bahwa seseorang bisa saja sudah terpapar virus corona lima hari sebelum mereka menunjukkan gejala klinis. Tapi ada sebagian orang yang bahkan tidak menunjukkan gejala apapun setelah terpapar.

Faktanya, bahkan saat menarik dan mengeluarkan nafas, orang yang sudah terinfeksi itu bisa melepaskan virus itu ke lingkungan sekitarnya.

Seberapa banyak?

"Satu kali nafas mengeluarkan 50 sampai 5.000 droplet. Sebagian besar berkecepatan rendah dan langsung jatuh ke permukaan," kata Bromage.

Ketika kita bernafas lewat hidung, jumlah droplet yang kita keluarkan lebih sedikit.

"Virus itu lebih tersaring dan langsung jatuh. Jadi sangat sedikit patogen yang merupakan partikel virus itu keluar lewat nafas," ujarnya.

Dr Erin Bromage

Bromage menyebut kita harus melihat pergantian udara dan jumlah orang dalam satu ruangan untuk memperkirakan potensi kita terpapar corona. (Erin Bromage)

Kita tidak tahu persis berapa banyak partikel virus SARS-CoV-2 yang keluar saat kita bernafas. Namun Bromage merujuk hasil kajian yang menyebut bahwa seorang yang terinfeksi influenza melepaskan sekitar tiga sampai 20 RNA (asam ribonukleat) setiap menit saat bernafas.

Jika jumlah itu digunakan dalam kasus virus corona, seorang yang terpapar SARS-CoV-2 melepaskan 20 salinan asam ribonukleat setiap menit.

Untuk terpapar, Anda harus menghirup setiap partikel yang dikeluarkan orang terinfeksi itu selama 50 menit untuk mencapai jumlah minimal 1.000 partikel.

Sebagai catatan, angka-angka ini digunakan sebagai gambaran umum. Jumlah pastinya masih harus dipastikan dalam penelitian lebih lanjut.

Jadi, kecil kemungkinan Anda terpapar saat berada dalam satu ruangan dengan orang terinfeksi virus corona yang tidak bersin atau batuk.

A woman and a man sit and speak face to face at a breakfast bar

Saat berbicara, droplet yang keluar dari mulut lebih besar ketimbang saat seseorang bernafas. (Getty Images)

Sementara itu, jumlah droplet yang keluar jauh lebih banyak saat seseorang berbicara. Jumlahnya sekitar 10 hingga 200 salinan virus per menit, menurut Bromage.

Jumlah itu naik berkali lipat saat seseorang bernyanyi dan berteriak.

"Ketika Anda mulai bernyanyi dan berteriak, droplet benar-benar dipersiapkan untuk keluar. Droplet ini keluar dari dalam paru-paru ketika Anda memaksa mengeluarkan suara," kata Bromage.

Droplet ini juga keluar dari jaringan yang sangat berisiko terpapar virus.

"Jadi nafas yang keluar dengan tekanan lebih besar akan mengeluarkan lebih banyak droplet ke udara," ujarnya.

Walau kita akan lebih sulit terpapar dalam situasi itu, kajian memperkirakan bahwa banyak infeksi, termasuk mayoritas perindahan virus di luar rumah, terjadi akibat orang tanpa gejala.

Lingkungan seperti apa yang berisiko jadi tempat perpindahan virus corona?

A group of teenagers singing from sheets

Bernyanyi dan berteriak memungkinkan lebih banyak droplet keluar dari mulut seseorang. (Getty Images)

Jelas, orang-orang yang secara langsung berkontak dengan orang terinfeksi Covid-19 memiliki risiko tertinggi.

Kita juga paham bahwa lingkungan tertentu menyebabkan penularan virus dalam skala besar.

Walau kapal pesiar secara mencolok dianggap paling rawan, Bromage justru menyorot yang bisa terjadi di kantor berdesain terbuka serta acara yang melibatkan banyak orang seperti perayaan ulang tahun, pemakaman, dan pertunjukan paduan suara.

Dalam situasi itu, seseorang berhadapan dengan risiko paparan besar karena waktu yang mereka habiskan bersama orang terinfeksi di ruangan tersebut.

"Meskipun mereka saling berjarak 15 meter seperti pada pola baris paduan suara dan kantor pusat kontak telepon, dalam satu waktu yang berkelanjutan, virus di udara dalam jumlah sedikit tetap bisa menginfeksi mereka," kata Bromage.

Kantor dengan desain meja terbuka yang berventilasi buruk juga problematis. Bromage merujuk satu peristiwa di mana 94 dari 216 karyawan di sebuah gedung di Korea Selatan terinfeksi virus corona.

Sebagian besar dari mereka berada di sisi gedung yang sama. Mereka berbagi ruangan dalam sistem meja terbuka.

A dentist and dental nurse attend a patient

Getty Images

Jumlah dokter gigi memang tidak banyak di masyarakat, tapi mereka menghadapi risiko besar terpapar virus ini.

"Ini adalah pekerjaan yang menciptakan banyak aerosol, hanya dengan prosedur yang mereka jalankan," kata Bromage.

"Mereka harus benar-benar memikirkan ruang kerja mereka untuk melindungi karyawan mereka. Bukan karyawan akan membuat pasien terpapar, tapi sebaliknya"

"Pasienlah yang akan membuat perawat, ahli gigi, dan para dokter gigi terpapar karena proses pengeboran dan penghisapan gigi membuat cairan mulut keluar ke mana-mana."

Tenaga pengajar juga menghadapi risiko besar terpapar virus corona, kata Bromage.

"Ada sekelompok guru dan profesor berusia tua yang mengajar orang-orang berusia lebih muda dalam sebuah ruangan yang padat."

"Harus ada perhatian besar bagaimana membuat ruang kerja itu aman bagi mereka," ujar Bromage.

Dalam dan luar ruangan

An older woman wearing a mask passes food to a boy on a bench, also wearing a mask

Getty Images

Bromage berkata, sangat sedikit kasus positif Covid-19 yang terjadi di luar ruangan.

Angin dan situasi luar ruang melemahkan virus. Cahaya dan panas matahari, serta kelembapan juga mempengaruhi daya tahan virus.

Dengan jaga jarak dan membatasi interaksi dengan orang lain, kita dapat mengurangi risiko paparan virus ini.

Namun interaksi dalam ruangan memang sangat berbahaya. Acara yang berisi orang berbicara, bernyanyi atau berteriak jelas membuat risiko besar. Prinsip jaga jarak menjadi tidak efektif dalam situasi itu.

Ruangan dengan sirkulasi udara yang terbatas juga menciptakan risiko tertentu. Namun aktivitas berbelanja, setidaknya bagi para pembeli, lebih tidak berbahaya selama Anda hanya sebentar saja berada di swalayan itu.

Menghitung risiko

A restaurant with tables well spaced

Getty Images

Ketika pembatasan akibat pandemi virus corona dicabut, menurut Bromage, kita mesti menghitung secara cermat aktivitas yang bisa memperburuk risiko.

Di dalam ruangan, pertimbangan volume udara, jumlah orang yang dalam sekali waktu bisa berada di dalamnya, serta maksimal waktu yang akan Anda habiskan di sana.

"Jika Anda duduk di ruangan berventilasi baik dengan beberapa orang, risiko paparan rendah," kata Bromage.

"Jika Anda berada di kantor dengan desain terbuka, Anda perlu secara kritis menghitung risiko itu. Jika pekerjaan Anda mengharuskan Anda berbincang secara tatap muka, atau bahkan teriak, Anda wajib mempertimbangkan risikonya."

"Dalam kunjungan ke mal, misalnya, dengan kepadatan rendah, volume udara yang tinggi, serta batasan waktu Anda di dalamnya, kemungkinan paparan virus menjadi rendah."

"Namun bagi pekerja toko atau mal itu, waktu yang mereka habiskan di dalamnya memunculkan peluang mereka menerima virus dari orang lain," ujar Bromage.

Di luar ruangan, risiko infeksi lebih rendah karena droplet akan menghilang dengan cepat. Tapi ingat soal 'jumlah virus dan waktu' yang dibutuhkan untuk seseorang terpapar.

"Walau saya fokus pada paparan pernafasan, jangan lupakan permukaan. Droplet berisi virus itu jatuh ke permukaan tertentu. Cuci tangan Anda secara rutin dan berhenti mengusap wajah Anda!" ujar Bromage.

Dan barangkali Anda juga harus berhenti meniup lilin ulang tahun.

Blog Dokter Bromage dapat Anda temukan di sini.

(ita/ita)