Soal Planet Wasp-76b yang Memiliki Temperatur 2.400 Derajat Celsius

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 16:40 WIB
Jenewa -

Gambaran di Planet Wasp-76b disebut seperti dalam film fiksi ilmiah karena di planet ini terjadi hujan besi.

"Bayangkan, bukan butiran air, namun butiran besi turun dari langit," kata Dr David Ehrenreich, dari Universitas Jenewa, Swiss, kepada wartawan sains BBC News, Jonathan Amos.

Ia dan timnya melakukan pengamatan mendalam terhadap Planet Wasp-76b dan hasilnya diterbitkan di jurnal ilmiah Nature.

Suhu maksimal bisa mencapai 2.400 derajat Celsius, cukup untuk melelehkan logam.

Tingginya temperatur di Wasp-76b karena posisi planet ini yang sangat dekat dengan bintang yang ia kelilingi. Bintang ini seperti Matahari kita.

Sementara di bagian lain, suhunya 1.000 derajat lebih rendah, menyebabkan logam mengalami kondensasi dan menjadi hujan.

Fitur Wasp-76b mirip dengan Bulan kita. Dari Bumi, kita selalu menatap sisi Bulan yang sama, tak berubah. Kita tak pernah melihat sisi lainnya.

Demikian juga Wasp-76b. Sisi yang menghadap bintang yang dikelilinginya tak berubah.

Pada sisi ini selalu siang hari, sementara sisi lainnya, yang memunggungi bintang, selalu malam hari.

Akibatnya, sisi Wasp-76b yang selalu menghadap bintang, seakan terpapar panas yang luar biasa.

Sebegitu panasnya, awan akan langsung menguap dan semua molekul di atmosfer langsung terpecah menjadi atom-atom.

Tim dari Universitas Jenewa, Swiss, menjelaskan kondensasi atau pengembunan terjadi di bagian planet yang tidak terpapar sinar.

Di bagian yang tidak terpapar sinar, meski suhunya tetap saja panas, yaitu sekitar 1.400 derajat Celsius, masih tergolong cukup dingin untuk mengubah besi menjadi awan, kemudian menjadi hujan dan diperkirakan turun ke bawah layaknya butiran air.

Sejauh ini, karena keterbatasan alat, tim pakar belum bisa memastikan apa yang terjadi ketika hujan besi ini memasuki lapisan atmosfer Wasp-76b yang lebih rendah.

Planet ini berada 640 tahun cahaya dari Bumi dan hanya perlu waktu 43 jam untuk mengitari bintangnya.

Hasil pengamatan lain yang didapat tim pimpinan Dr Ehrenreich adalah perbedaan yang ekstrem antara suhu di bagian Wasp-76b yang terpapar dan yang tidak terpapar matahari sehingga menyebabkan angin berhembus kencang, dengan kecepatan hingga 18.000 km/jam.

Para ahli mengatakan Wasp-76b adalah planet gas raksasa, lebih besar dari Jupiter, planet terbesar di system Tata Surya kita.

Wasp-76b ditemukan empat tahun lalu dan hasil kajian atas planet tersebut diterbitkan di jurnal ilmiah belum lama ini.

Profesor Don Pollacco dari Universitas Warwick, Inggris, yang ikut menemukan Wasp-76b mengatakan "sulit membayangkan dunia eksotik di permukaan Planet Wasp-76b".

"Wasp-76b mengorbit dengan sangat dekat ke bintangnya. Sebegitu dekat, ia berada di atmosfer bintang tersebut," ujar Pollacco.

"Akibatnya, hukum-hukum fisika di permukaan Wasp-76b tak bisa kita pahami," tambahnya.

Mungkin, kata Pollacco, Wasp-76b akan dimakan oleh bintang yang ia kelilingi atau radiasi dari bintang akan menghilangkan atmosfer planet sehingga yang tersisa hanya inti planet yang membara.

Dr Ehrenreich mengatakan ia adalah penyuka novel bergambar dan meminta ilustrator Swiss, Frederik Peeters, menginterpretasi seperti apa rupa dan permukaan Wasp-76b.

Hasilnya gambar-gambar yang punya unsur jenaka, sesuatu yang memang disengaja.

Dr Ehrenreich mengatakan langkah ini diambil karena ketika ada penemuan planet baru, orang kadang sulit membedakan foto asli dan gambar hasil olahan dengan menggunakan komputer.

(nvc/nvc)