WHO Evaluasi Penanganan Virus Corona Usai Dituduh Terlambat

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 20 Mei 2020 12:15 WIB
Negara-negara peserta Majelis Kesehatan Dunia bertemu di dunia maya. (AFP)
Jakarta -

Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat untuk mengadakan penyelidikan independen pada respons global terhadap pandemi virus corona.

Resolusi itu, yang disetujui tanpa keberatan oleh 194 peserta pertemuan tahunan WHO di Jenewa - digelar secara virtual - juga mengizinkan penyelidikan untuk menilik peran badan kesehatan itu sendiri.

Amerika Serikat secara khusus sangat kritis terhadap caranya menangani pandemi.

Uni Eropa mempresentasikan resolusi itu atas nama 100 negara.

Apa isi resolusi?

Resolusi ini meminta "evaluasi yang imparsial, independen, dan komprehensif" terhadap respons internasional.

Evaluasi tersebut juga akan fokus pada "kronologi [tanggapan] WHO terhadap pandemi Covid-19". Lembaga itu menghadapi kritik bahwa mereka terlambat mengumumkan keadaan darurat kesehatan.

Resolusi juga menyerukan kepada dunia untuk memastikan "akses yang transparan, adil dan tepat waktu" pada pengobatan atau vaksin, dan mendesak WHO untuk menyelidiki "sumber virus dan rute penularan ke populasi manusia".

"Karena saya tidak melihat permintaan dari majelis, saya menganggap bahwa tidak ada keberatan dan resolusi itu diadopsi," kata presiden majelis, Keva Bain, duta besar dari Bahama.

Mengapa WHO di bawah tekanan?

Presiden Donald Trump telah melabeli WHO "boneka" China dan menangguhkan dana untuk organisasi itu. AS adalah donor terbesar WHO.

Ia juga menuduh China berusaha menutup-nutupi wabah itu - tudingan yang ditolak China - dan mengatakan WHO gagal meminta pertanggungjawaban Beijing.

Pada hari Senin, sang presiden mengunggah surat yang ia kirim ke kepala WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus yang menguraikan masalah-masalah spesifik yang dimiliki AS.

https://twitter.com/realDonaldTrump/status/1262577580718395393

Menteri Kesehatan AS Alex Azar menyampaikan kritik pedas dalam pidatonya di hadapan majelis pada hari Senin.

"Kita harus jujur tentang salah satu alasan utama wabah ini menyebar di luar kendali: ada kegagalan oleh organisasi ini untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dunia, dan kegagalan itu dibayar dengan banyak korban jiwa," ujarnya.

Presiden Trump menghadapi pemilihan ulang tahun ini dan lawan politiknya memandang kritiknya pada WHO sebagai upaya untuk mengelak dari kegagalannya dalam menangani pandemi di AS, yang memiliki jumlah kasus tertinggi, dan angka kematian yang melampaui 90.000 pada hari Senin.

Namun, Uni Eropa, bersama dengan negara-negara termasuk Inggris, Australia, dan Selandia Baru, juga telah mendesak penyelidikan tentang langkah penanganan pandemi.

Juru bicara Uni Eropa Virginie Battu-Henriksson mengatakan beberapa pertanyaan kunci perlu dijawab sebagai bagian dari setiap penelaahan.

"Bagaimana pandemi ini menyebar? Apa epidemiologi di baliknya? Semua ini sangat penting bagi kita untuk menghindari pandemi jenis ini," katanya.

Namun ia menambahkan bahwa sekarang bukan waktunya untuk "saling menyalahkan".

Apa kata WHO?

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyambut penyelidikan independen. (AFP)

Dr Tedros telah setuju untuk meninjau penanganan agensi yang dipimpinnya terhadap pandemi, namun membantah saran bahwa diperlukan perbaikan besar-besaran.

Ia mengatakan evaluasi independen, yang akan meninjau pelajaran yang bisa diambil dan mengajukan rekomendasi, akan dimulai "sesegera mungkin".

Ia menyerukan agar WHO, dan sejumlah organisasi lain, diperkuat.

Bagaimana dengan sikap China?

Kasus-kasus virus corona pertama kali muncul di kota Wuhan di Cina Desember lalu. Virus ini secara luas dilaporkan muncul dari pasar bahan makanan setelah melintasi batas spesies dari hewan ke manusia.

China dituduh berusaha menutupi tingkat infeksi pada pekan-pekan awal.

Beberapa politisi senior AS berpendapat bahwa sumbernya adalah sebuah laboratorium di Wuhan yang melakukan penelitian tentang virus corona pada kelelawar. China menolak gagasan itu, dan para pakar di negara Barat juga meragukannya.

China mengatakan telah berterus terang tentang perkembangan epidemi di negaranya; mereka menerbitkan kode genetik virus pada Januari dan dengan cepat berbagi informasi dengan WHO.

Presiden Xi Jinping mengatakan kepada majelis pada hari Senin bahwa negaranya telah bertindak "dengan keterbukaan dan transparansi" dan bersikeras bahwa penyelidikan harus terjadi setelah pandemi berhasil dikendalikan.

Juru bicara kementerian luar negeri, Zhao Lijian mengatakan pada jumpa pers di Beijing hari Selasa bahwa AS berusaha untuk mencoreng nama China untuk mengelak dari tanggung jawabnya sendiri.

Lebih dari 4,5 juta orang telah terinfeksi secara global dan lebih dari 300.000 orang telah meninggal dunia sejak virus pertama kali muncul.

(ita/ita)