Hasil Uji Coba Tahap Pertama di AS: Vaksin Melatih Kekebalan Melawan Corona

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 19 Mei 2020 10:14 WIB
Getty Images
Washington -

Perusahaan obat di Amerika Serikat melaporkan petunjuk pertama bahwa vaksin dapat melatih sistem kekebalan tubuh manusia untuk melawan virus corona.

Moderna mengatakan antibodi penawar ditemukan pada delapan orang pertama yang ambil bagian dalam uji coba keamanan vaksin mereka.

Mereka juga mengatakan, respons kekebalan pada peserta uji coba mirip dengan orang yang terinfeksi virus sebenarnya.

Uji coba yang lebih besar untuk melihat apakah vaksin benar-benar bisa melindungi dari infeksi diperkirakan akan dimulai pada bulan Juli.

Penelitian vaksin virus corona berlangsung dengan sangat cepat, dengan sekitar 80 kelompok penelitian di seluruh dunia mengerjakannya.

Moderna adalah perusahaan pertama yang menguji vaksin eksperimental, yang disebut mRNA-1273, pada manusia.

Vaksin ini adalah potongan kecil kode genetik virus corona, yang disuntikkan ke tubuh pasien.

Materi genetik itu tidak mampu menyebabkan infeksi atau gejala Covid-19, namun cukup untuk memicu respons sistem kekebalan tubuh.

Uji coba vaksin, yang dijalankan oleh lembaga pemerintah AS, Institut Nasional Penyakit Alergi dan Penyakit Menular, menunjukkan bahwa vaksin itu menyebabkan produksi antibodi yang dapat memusnahkan virus corona.

Namun, tes untuk antibodi penawar ini baru dilakukan pada delapan, dari 45 orang yang mengikuti uji coba.

Fasad bangunan moderna

Moderna perlu melakukan uji coba skala lebih besar untuk mengukur kemampuan vaksin melindungi dari virus corona. (Getty Images)

Para peserta uji coba mendapatkan vaksin dalam dosis rendah, menengah, atau tinggi. Dosis tertinggi dikaitkan dengan banyak efek samping.

Namun, Moderna mengatakan bahwa orang yang mendapatkan dosis terendah pun memiliki antibodi pada tingkat yang sama seperti yang ditemukan pada pasien yang pulih dari Covid-19.

Dan antibodi "secara signifikan melebihi" pasien yang pulih pada orang dengan dosis menengah.

Studi ini disebut uji coba fase 1 karena dirancang untuk menguji keamanan vaksin, bukan efektivitasnya.

Diperlukan uji coba dengan skala lebih besar untuk melihat apakah vaksin bisa melindungi khalayak dari virus. Namun, percobaan pada tikus menunjukkan vaksin ini dapat mencegah replikasi virus di paru-paru.

"Data sementara untuk fase 1 ini, meskipun baru data awal, menunjukkan bahwa vaksinasi dengan mRNA-1273 menimbulkan respons kekebalan tubuh yang besarnya sama seperti yang disebabkan oleh infeksi alami," kata Dr Tal Zaks, kepala petugas medis di Moderna.

"Data ini memperkuat keyakinan kami bahwa mRNA-1273 berpotensi mencegah penyakit Covid-19 dan meningkatkan kemampuan kami dalam menentukan dosis untuk uji coba penting."

Moderna mengatakan mereka berharap bisa memulai uji coba skala besar pada bulan Juli, dan bahwa mereka sudah memikirkan cara memproduksi vaksin dalam skala besar.

Vaksin Oxford

Vaksin yang dipelopori oleh Universitas Oxford juga sedang diujicobakan pada manusia, tapi belum ada hasil dari uji coba tersebut.

Namun, muncul kekhawatiran tentang hasil percobaannya pada monyet.

Tes menunjukkan hewan yang divaksinasi menunjukkan gejala yang tidak begitu parah dan tidak terkena pneumonia. Namun mereka tidak sepenuhnya terlindungi dari virus, dan jumlah virus yang terdeteksi di hidung monyet sama seperti pada hewan yang tidak divaksinasi.

Profesor Eleanor Riley, dari University of Edinburgh, mengatakan: "Jika hasil serupa diperoleh pada manusia, vaksin ini kemungkinan akan memberikan perlindungan parsial terhadap penyakit pada si penerima vaksin, tapi tidak mungkin mengurangi penularan di masyarakat luas."

Bagaimanapun, hingga uji coba manusia selesai dilakukan, mustahil untuk mengetahui keampuhan vaksin pada manusia.

Tonton juga video Obama Kritik Pemerintah AS Atas Penanganan Covid-19:

(ita/ita)