Ilmuwan Temukan Cara Membuat Karang Lebih Tahan Panas

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 12:56 WIB
Kenaikan suhu air laut membuat karang mengeluarkan alga kecil yang hidup di dalamnya sehingga warna karang menjadi putih. (AFP)
Jakarta -

Tim ilmuwan di Australia mengatakan berhasil menemukan cara untuk membantu terumbu karang mengatasi dampak pemutihan yang merusak, dengan cara membuat karang lebih tahan panas.

Kenaikan suhu laut membuat terumbu karang mengeluarkan lumut kecil yang hidup di karang.

Hal itu membuat karang berubah warna menjadi putih dan pada hakikatnya membuat karang kelaparan.

Untuk mengatasi persoalan itu, para peneliti mengembangkan strain lumut mikro yang dibuat di laboratorium yang lebih punya daya tahan terhadap panas.

Ketika disuntikkan ke dalam terumbu karang, lumut tersebut dapat bertahan lebih baik di lingkungan air yang lebih hangat.

Tim peneliti yakin temuan mereka mungkin berguna dalam upaya melestarikan terumbu karang, yang dikatakan "mengalami kematian massal karena gelombang panas air laut".

Mereka membuat karang lebih tahan terhadap pemutihan yang terjadi karena kenaikan suhu dengan jalan meningkatkan ketahanan terhadap panas pada simbion mikroalga -sel-sel kecil lumut yang hidup di dalam jaringan karang.

Alga mikro itu kemudian dipaparkan ke suhu yang semakin hangat selama periode empat tahun.

Langkah ini membuat alga mikro beradaptasi dan bertahan dalam kondisi lebih panas.

"Begitu alga mikro dikembalikan ke larva karang, maka simbiosis alga-karang yang baru terbentuk menjadi lebih tahan panas dibanding yang asli," jelas penulis inti Dr Patrick Buerger dari Csiro, lembaga ilmu pengetahuan nasional Australia.

"Kami menemukan bahwa alga mikro yang tahan panas lebih baik dalam berfotosintesis dan meningkatkan respons panas hewan karang," kata Profesor Madeleine van Oppen, dari Australian Institute of Marine Science and the University of Melbourne.

"Temuan menarik ini menunjukkan bahwa alga mikro dan karang saling berkomunikasi."

Langkah berikutnya adalah melakukan uji coba pada strain-strain alga di berbagai spesies karang.

Seberapa buruk pemutihan karang?

"Terumbu karang terus berkurang di seluruh dunia," kata Dr Buerger.

"Perubahan iklim telah menyusutkan bentangan karang, dan karang yang bertahan hidup terus mendapat tekanan seiring dengan peningkatan suhu air, dan peningkatan frekuensi serta skala kejadian pemutihan karang."

Awal tahun ini, kawasan terumbu karang Great Barrier Reef di Australia mengalami pemutihan massal- kejadian kelima dalam tempo lima tahun saja.

Suhu laut yang lebih hangat - khususnya pada bulan Februari - dikhawatirkan telah menyebabkan kerusakan besar.

Para ilmuwan mengatakan mereka mendeteksi pemutihan meluas, termasuk petak-petak luas yang rusak berat.

Namun mereka juga menemukan kantong-kantong yang sehat.

Dua pertiga dari Great Barrier Reef, yang merupakan gugusan terumbu karang terbesar di dunia, rusak karena kejadian yang sama pada tahun 2016 dan 2017.

(ita/ita)