Warga China Direlokasi dari Rumah Tebing Setinggi 800 Meter ke Apartemen

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 09:52 WIB
Desa Atulie'er menjadi terkenal setelah muncul foto-foto yang menunjukkan warga mendaki tebing dengan tangga untuk sampai di rumah mereka. (Getty Images)
Beijing -

Orang-orang menjulukinya sebagai rumah-rumah tebing setinggi 800 meter, tetapi desa itu kini kosong. Puluhan penduduknya di Provinsi Sichuan, China, telah direlokasi ke gedung apartemen di kota kecil.

Desa Atulie'er menjadi terkenal setelah muncul foto-foto yang menunjukkan penduduk desa dan anak-anak mendaki tebing berbahaya dengan tangga rotan untuk menuju rumah mereka.

Kini sekitar 84 kepala keluarga (KK) telah direlokasikan ke gedung apartemen baru sebagai bagian dari upaya untuk mengentaskan kemiskinan.

Presiden Xi Jinping menyatakan China akan berhasil menghapus kemiskinan sebelum akhir tahun 2020.

'Betapa senang saya mendapat rumah'

Desa Atulie-er menjadi berita besar pada tahun 2016 ketika terungkap bahwa penduduknya harus mendaki tangga berbahaya menuju rumah mereka, sambil menggendong bayi dan barang-barang yang diperlukan.

Tak lama kemudian pemerintah turun tangan dan mengganti tangga rotan dengan tangga baja.

Kini 84 KK itu telah menempati apartemen di kota Zhaojue, sekitar 70 km dari desa asal.

Mereka menempati gedung-gedung apartemen yang dilengkapi dengan perabotan, dengan ukuran 50, 75 dan 100 meter persegi - tergantung pada jumlah anggota keluarga di setiap KK.

Ini merupakan perubahan besar bagi banyak warga, yang berasal dari kelompok minoritas Yi, dan telah tinggal di Atulie-er secara turun temurun.

Foto-foto yang diterbitkan media pemerintah China menunjukkan wajah gembira para warga.

Salah satu di antara mereka mengatakan kepada media pemerintah, CGTN bahwa "betapa senang saya mendapat rumah hari ini".

'Beban keuangan besar'

Menurut Mark Wang, guru besar geografi manusia di Universitas Melbourne, Australia, skema perumahan seperti itu biasanya mendapat subsidi besar dari pemerintah, rata-rata sampai 70%.

Namun demikian, ada kalanya warga tidak mampu membayar apartemen walaupun sudah disubsidi.

"Bagi desa-desa yang benar-benar miskin, pembayaran 30% mungkin masih berat, jadi mereka terpaksa meminjam uang, sehingga justru mereka mengutang," jelas Wang kepada BBC.

"Bagi kelompok paling miskin, itu menjadi beban keuangan, jadi dalam beberapa kasus, mereka terpaksa bertahan di desa."

Media pemerintah, China Daily, melaporkan setiap orang harus membayar 2.500 yuan atau sekitar Rp5 juta untuk keperluan kepindahan ini.

Jika satu KK terdiri dari empat orang, maka mereka harus membayar Rp20 juta.

Warga desa Atulie'er

Warga Desa Atulie'er terbiasa mendaki tebing dengan tangga. (Getty Images)

Biaya itu cukup murah, kata Wang, karena dalam proyek-proyek relokasi lain warga diharuskan membayar Rp84 juta.

Menurut Wang, dalam proyek relokasi untuk mengentaskan kemiskinan seperti ini, penduduk desa diberi pilihan untuk pindah atau tetap tinggal, dan biasanya tidak dipindah ke kota dari kawasan pedesaan.

"Dalam beberapa kasus, relokasi dilakukan ke kota kecil atau ke pinggiran kota. Jadi mereka tidak pindah ke kota besar. Tak semua orang menginginkan kehidupan perkotaan dan sebagian besar yang memang ingin tinggal di kota, sudah meninggalkan desa dan pindah ke kota-kota besar," jelasnya.

"Biasanya pemerintah membatasi jarak relokasi. Langkah ini menguntungkan sebagian besar warga karena mereka dapat mempertahankan lahan pertanian, jadi itu sangat menarik."

Sekitar 30 KK akan bertahan di Desa Atulie'er - yang dicanangkan menjadi tujuan wisata.

Media pemerintah, China Daily melaporkan mereka praktis akan bertanggungjawab atas urusan pariwisata setempat, dengan mengoperasikan penginapan dan memandu pengunjung.

Pemerintah daerah setempat mempunyai rencana ambisius untuk memasang gondola sehingga dapat mengangkut turis ke desa dan untuk mengembangkan daerah di sekitarnya.

Laporan sebelumnya menyebutkan ada rencana untuk menyulap desa itu menjadi resor wisata dan pemerintah akan menggelontorkan dana 630 juta yuan untuk investasi.

Meskipun pembangunan tersebut kemungkinan besar akan membuka lapangan kerja baru, sampai sekarang belum jelas langkah-langkah yang disiapkan untuk menjaga kelestarian ekologi dan tidak timbul risiko pembangunan berlebihan.

(ita/ita)