Kisah Perempuan Menyusui Bayi-bayi Yatim Akibat Serangan di Rumah Sakit

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 15 Mei 2020 11:30 WIB
Firooza Omar telah menyusui empat bayi yang ibunya telah meninggal dunia akibat serangan bersenjata di rumah sakit. (Firooza Omar)
Kabul -

"Saya menyusui anak saya sendiri dan saya menjadi emosional. Saya bisa melihat penderitaan bayi-bayi ini," kata Firooza Omar.

Selasa (12/05) pekan ini, setidaknya 24 orang, termasuk beberapa bayi yang baru lahir, sejumlah ibu, dan perawat, dibunuh secara brutal oleh kelompok militan bersenjata yang menyerang sebuah rumah sakit bersalin di ibu kota Afghanistan, Kabul.

Firooza, 27 tahun, mendengar tentang serangan itu di televisi. Dia memahami gawatnya situasi setelah mengobrol dengan teman-temannya dan melihat foto-foto mengerikan di media sosial.

Dia sendiri adalah ibu dari bayi laki-laki berusia empat bulan.

Firooza Omar with her four-month-old boy.

Firooza adalah ibu dari anak berusia empat bulan (Firooza Omar)

Tatkala dia menyusui anaknya, pikiran tentang bayi-bayi yang menjadi yatim setelah dilahirkan, memenuhi pikirannya.

Welas asih dan keberanian

Dia lantas memutuskan pergi ke rumah sakit tersebut dan menolong bayi-bayi yang ditinggal mati ibunya.

Yang terjadi selanjutnya adalah tindakan welas asih, dan keberanian.

A woman sits next to new-born babies who lost their mothers following a suicide attack on a maternity hospital in Afghanistan

Beberapa bayi dibiarkan tanpa pengawasan setelah ibu mereka dibunuh oleh kelompok militan (Getty Images)

"Ketika menjelang buka puasa [serangan terjadi saat Ramadhan, bulan suci umat Islam], saya memberi tahu suami saya tentang niat saya membantu bayi-bayi yatim."

Suaminya langsung setuju dan meyakinkannya bahwa dia akan mengawasi putra mereka.

Ketika itu, Pasukan Khusus Afghanistan telah menyelamatkan 100 perempuan dan anak-anak dari Rumah Sakit Dasht-e-Barchi dan memindahkannya ke Rumah Sakit Anak Ataturk, sekitar dua kilometer dari tempat tinggal Firooza.

Bayi-bayi menangis

Jarak yang dia tempuh dengan mobil barangkali pendek, tetapi berisiko, di kota yang dihantui trauma dan ketakutan setelah serangan brutal tersebut.

Firooza Omar in front of a cupboard holding books

Firooza mengatakan suaminya mendukung penuh niatnya untuk menyusui bayi-bayi itu. (Firooza Omar)

"Ketika saya pergi ke rumah sakit, saya melihat sekitar 20 bayi. Beberapa dari mereka terluka. Saya berbicara dengan perawat dan mereka mengatakan kepada saya untuk menyusui bayi yang kerap menangis."

Dia kemudian menyusui empat bayi, satu demi satu.

Sebelum Firooza tiba, para perawat berusaha memberi makan bayi-bayi itu dengan makanan yang terbuat dari susu bubuk.

"Beberapa bayi menolak untuk minum susu itu," kenang Firooza.

Efek menenangkan

Dia menyediakan dirinya demi bayi-bayi tersebut.

Firooza Omar. speaking at a seminar

"Ketika saya menyusui mereka, itu efeknya menenangkan saya. Saya senang bisa membantu mereka." (Firooza Omar)

"Ketika saya menyusui mereka, itu efeknya menenangkan saya. Saya senang bisa membantu mereka."

Setelah kembali ke rumah, giliran dia menyusui putranya.

"Setelah sekitar dua jam, saya menyusui bayi laki-laki saya," ujar Firooza.

Dia menuliskan pengalamannya di media sosial dan mendesak ibu-ibu lain untuk pergi ke rumah sakit untuk menyusui bayi-bayi yang sering menangis.

Dia mengatakan sejumlah perempuan tergerak dan menyusui bayi-bayi malang itu.

Sehari setelah serangan, Firooza sudah mengunjungi rumah sakit sebanyak dua hari, yaitu hari Rabu (13/05) dan Kamis (14/05).

Dia mengatakan mungkin hal ini bisa terjadi lantaran suaminya sepenuhnya memberikan dorongan dan dukungan.

'Kejahatan perang'

Tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan hari Selasa (12/05), yang telah digambarkan oleh Human Rights Watch sebagai 'kejahatan perang'.

Pemerintah Kabul telah memerintahkan militer untuk mencari pelaku serangan.

Mourners carry a covered dead body during a burial ceremony at a cemetery in Kabul, Afghanistan

Korban serangan brutal di Kabul dikubur sehari setelahnya. (Getty Images)

Kabul menjadi saksi melimpahnya kekerasan selama empat dekade terakhir akibat perang dan konflik.

Namun pembunuhan pada pekan ini terhadap sejumlah bu dan bayi mereka yang baru lahir akan diingat sebagai salah satu insiden terburuk.

Firooza mengatakan dia merasa tertekan dengan siklus kekerasan yang tampaknya tidak pernah berakhir di kota asalnya.

"Alih-alih dipeluk oleh ibu mereka, bayi-bayi ini berada di rumah sakit, diberi makan oleh orang asing," dia berkata.

Sebagai seorang psikiater yang terlatih, Firooza ingin memainkan peran proaktif dalam masyarakat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit yang diderita banyak keluarga Afghanistan.

'Senang membesarkan anak'

Dia telah menghubungi sejumlah temannya untuk mengumpulkan uang guna membeli popok dan susu bubuk, ketika bayi-bayi itu tidak bisa disusui.

Firooza Omar speaking at a conference

Firooza akan mengadopsi satu bayi yang ditinggal mati ibunya akibat serangan tersebut. (Firooza Omar)

Dia mengatakan, bayi-bayi yang tidak terluka saat ini sudah dikeluarkan dari Rumah Sakit Anak Ataturk. Adapun yang terluka masih dirawat.

Namun demikian dia mengkhawatirkan bayi-bayi yang tidak memiliki keluarga.

"Prioritas saya adalah bayi-bayi yatim." kata Firooza.

"Saya akan senang untuk bertanggung jawab atas seorang bayi dan membesarkannya bersama putra saya."

(ita/ita)