Mengapa Angka Penyebaran Corona di Afrika Rendah?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 19:01 WIB
Jumlah infeksi virus corona di Afrika tercatat 55.000 kasus. (Getty Images)
Cape Town -

Sejak kasus pertama virus Corona di Afrika dilaporkan pada tanggal 14 Februari lalu, media, para pakar, pemerintah dan bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi akan terjadi "bencana" di benua itu.

Walaupun pakar memperingatkan saat ini terlalu awal untuk menyatakan klaim itu tak terbukti, apa yang diperkirakan oleh John Nkengasong, direktur pusat pengawasan dan pencegahan penyakit di Afrika, belum terjadi.

Sejauh ini, kasus infeksi di Eropa mencapai lebih dari 1,5 juta, Amerika Serikat lebih dari 1,4 juta, dan Afrika melaporkan sekitar 69.000 penularan.

Angka ini cukup rendah dan sampai tanggal 13 Mei, kawasan ini mencatat kematian lebih dari 2.300, jauh di bawah kematian Negara Bagian New York di AS yang mencapai lebih dari 27.000 orang.

Bila dibandingkan dengan penduduk di seluruh kawasan ini yang menjadi 1,2 miliar jiwa, rasio ini jauh lebih rendah lagi.

Negara yang paling tinggi angka infeksinya adalah Afrika Selatan dengan lebih 10.000 kasus, Mesir dengan lebih 10.000 infeksi, Maroko dan Aljazair dengan lebih 6.000 kasus.

Secara total, empat negara ini terdiri dari hampir 50% angka infeksi di Afrika.

Sejumlah pakar mengatakan penjelasan terkait rendahnya infeksi di Afrika adalah buruknya fasilitas kesehatan sehingga tes dan deteksi COVID-19 lebih sulit dilakukan terutama karena kurangnya sumber daya.

Bertindak lebih cepat

pemeriksaan suhu di Afrika

Afrika sempat diperkirakan akan menjadi salah satu pusat pandemi tertinggi namun sejauh ini mencatat angka infeksi relatif rendah. (Getty Images)

Namun pakar lain mengatakan faktor lain seperti demografi dan lebih kurangnya mobilitas rakyat di Afrika juga ikut berperan dalam rendahnya angka infeksi di benua ini.

Anne Soy, wakil redaktur BBC Afrika, menerangkan bahwa 53 negara di Afrika yang telah memastikan adanya infeksi virus Corona menerapkan strategi berbeda.

"Ada negara yang mengambil langkah drastis dari awal sementara jumlah kasus terus meningkat, namun ada juga yang masih belum menerima kalau terjadi pandemi dan tidak menerapkan langkah mencegah penyebaran virus, seperti Tanzania," kata Soy.

Presiden Tanzania, John Magufuli adalah salah satu dari sejumlah pemimpin dunia yang tidak mengindahkan parahnya penyebaran virus. Dia bahkan pernah mempertanyakan akurasi tes COVID-19 dan memecat kepala laboratorium nasional yang melakukan pengetesan.

Magufuli sebelumnya meminta rakyat Tanzania untuk berdoa agar pandemi berlalu dan pemerintahnya tidak memberikan informasi tentang perkembangan penyebaran.

Walaupun ada sejumlah pengecualian, sebagian besar negara Afrika melakukan satu hal yang sama yaitu "bertindak lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia," kata Soy.

"Langkah yang diambil lebih menentukan dan lebih drastis, seperti Rwanda misalnya termasuk yang pertama. Mereka menerapkan karantina saat ditemukan kurang dari 20 kasus. Mereka menghentikan penerbangan internasional," tambah Soy.

afrika selatan

Afrika Selatan menerapkan salah satu karantina paling ketat sejak akhir Maret. (Getty Images)

Afrika Selatan, negara dengan kasus tertinggi di benua ini, menerapkan karantina sejak tanggal 27 Maret, dengan melarang semua penerbangan komersial dan bahkan penjualan minuman keras dan rokok.

Dengan turunnya gerak perekonomian Afrika Selatan, kementerian kesehatan setempat mulai melonggarkan sejumlah langkah pada awal Mei.

Pengalaman pandemi

Walapun, pandemi virus Corona adalah masalah kesehatan paling parah di dunia, wabah ini bukanlah yang pertama.

Khususnya di Afrika, benua itu begitu sering mengalami pandemi parah, mulai dari malaria, tuberkolosis, kolrea, HIV dan Ebola.

Berbagai penyakit ini menelan banyak korban jiwa namun para ilmuwan dan komunitas medis Afrika berupaya untuk menemukan inovasi.

"Penduduk Afrika sudah terbiasa bergerak cepat dan menggunakan sukarelawan dari pedesaan. Dengan cara ini mereka dapat menyebarkan informasi terkait pencegahan penyakit dan menerapkan pada waktunya," kata Karl Blanchet, pakar kesehatan global di pusat penelitian dan pendidikan terkait langkah kemanusiaan, Geneva Center for Education and Research on Humanitarian Action (Cerah), kepada BBC.

Rwanda menerapkan jaga jarak dan karantina secara ketat.

Rwanda menerapkan jaga jarak dan karantina secara ketat. (Getty Images)

Pandemi Ebola yang menghantam Afrika Barat antara 2014 dan 2016 menimbulkan kekacauan di negara-negara seperti Guinea, Liberia dan Sierra Leone dengan lebih dari 11.000 orang meninggal.

Walaupun WHO menetapkan berakhirnya situasi darurat di kawasan itu pada Maret 2016, sejumlah negara yang mengalami pandemi masih berwaspada karena masih muncul sejumlah kasus.

cuci tangan

Wabah Ebola mengajarkan masyarakat untuk cuci tangan. (Getty Images)

"Masalah Ebola masih ada saat pandemi COVID-19 merebak. Ini berarti sejumlah negara Afrika telah memiliki prasarana deteksi di bandar udara. Para petugas kesehatan masyarakat dan termometer badan telah dipasang," kata wakil editor Afrika di BBC, Soy.

Wabah Ebola di Afrika Barat juga mengajarkan Afrika pentingnya mendeteksi kasus secara cepat, merawat pasien yang sudah terjangkit dan mengisolasi komunitas," kata Soy lagi.

"Karena epidemi (Ebola) itu, orang bahkan tidak lagi berjabat tangan di Afrika Barat dan di Republik Kongo. Mereka menyebarkan kesadaran masyarakat," tambahnya.

Benua yang lebih kurang mobilisasi

Kenya airways

Kurangnya mobilitas membuat angka infeksi virus corona di Afrika rendah, menurut sejumlah pakar. (Getty Images)

Frederique Jacquerioz, pakar kesehatan masyarakat Afrika dan anggota tim dokter penyakit tropis di University Hospital, Jenewa, Swiss, memperkirakan faktor lain yang menerangkan mengapa Afrika lebih tahan dari pandemi adalah rendahnya mobilitas antarnegara di benua ini dibandingkan belahan dunia lain.

"Karantina pertama di Afrika adalah anak-anak muda, orang Afrika atau Eropa, yang melakukan perjalanan, dan kembali ke Afrika dengan membawa virus," kata Jacquerioz.

Di belahan dunia lain, pergerakan orang memicu penyebaran virus, terutama di Eropa, di mana banyak anak-anak muda menghabiskan akhir pekan di berbagai kota.

Hipotesa tentang lebih sedikitnya mobilisasi ini juga didukung sejumlah pakar

Blanchet, direktur Cerah, memberikan contoh tiga negara Afrika yang paling banyak terkena infeksi, Afrika Selatan, Mesir dan Aljazair.

"Negara-negara ini paling banyak hubungan udara dengan China. Perkecualiannya adalah Ethiopha, yang punya penerbangan langsung dengan China. Namun negara itu belum terkena parah pandemi. Ini yang belum dapat dijelaskan," kata Blanchet.

Umur rata-rata di Afrika 19,7 tahun

anak muda Afrika

Afrika adalah benua dengan populasi paling muda di dunia. (Getty Images)

Piramida demografi Afrika adalah faktor lain yang membantu menerangkan mengapa jumlah kematian di benua ini tidak tinggi. Afrika adalah benua dengan penduduk termuda di dunia.

Blanchet mendukung hipotesis ini dan mengatakan "Umur rata-rata di Afrika adalah 19,7 tahun, sementara di Eropa sekitar 40 tahun."

Sementara Anne Soy, wakil editor Afrika di BBC, mengakui bahwa, demografi menjadi salah satu faktor namun belum ada studi ilmiah yang mendukung teori ini.

"Demografi mungkin salah satu keuntungan Afrika, namun banyak pula anak-anak yang kekurangan gizi, dengan kekebalan lemah. Apakah ini berarti akan ada infeksi yang lebih banyak pada anak-anak Afrika?" katanya.

Peringatan WHO

penduduk Afrika

WHO memperkirakan infeksi COVID-19 di Afrika akan mencapai 190.000 dalam 12 bulan ke depan. (Getty Images)

Organisasi Kesehatan Dunia (WH) memperingatkan bahwa virus Corona dapat menyebar ke 190.000 orang dalam 12 bulan mendatang.

Peringatan ini muncul satu bulan setelah WHO memperkirakan wabah ini dapat menyebabkan 10 juta penularan di benua itu dalam enam bulan.

Studi baru yang diterbitkan minggu ini oleh WHO memperkirakan antara 29 juta dan 44 juta dapat terinfeksi dalam tahun pertama pandemi COVID-19 bila langkah meredam virus gagal.

Berbagai analis menekankan dampak pandemi tergantung pada langkah yang diambil berbagai pemerintahan.

Direktur badan ekonomi PBB untuk Afrika, United Nations Economic Commission for Africa, Stephen Karingi, mengatakan kepada surat kabar Inggris, The Guardian, bahwa "Pemerintah negara-negara Afrika harus diakui melakukan banyak hal untuk menekan wabah."

"Proyeknya saat ini sudah seperti suasana perang, namun karena langkah-langkah yang diambil pemerintah dan berbagai komunitas masyarakat, angka penularan lebih rendah dibandingkan di wilayah lain," kata Karingi.

"Mereka memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan fasilitas kesehatan yang buruk. Sebagian masyarakat malah tak bisa mendapatkan air bersih," tambahnya.

The Guardian juga mengangkat fakta bahwa sebagian besar penduduk di Afrika tidak bisa berlama-lama menjalani karantina wilayah karena mereka adalah buruh harian yang harus bekerja tiap hari untuk memberi nafkah keluarga.

Di tengah berbagai pendapat dan debat terkait mengapa Afrika lebih baik dalam menekan pandemi COVID-19, sebagian besar pakar sepakat bahwa saat ini masih terlalu awal untuk menyebut bahwa "Afrika adalah perkecualian."

virus corona

BBC

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci tangan sampai jaga jarak

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

IKUTI LAPORAN KHUSUS TERKAIT VIRUS CORONA

(nvc/nvc)