Lawan Kritik Penanganan Corona, China Kerahkan Diplomat 'Pejuang Serigala'

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 15:26 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lijian Zhao menuduh AS mengirimkan virus corona ke China (AFP)
Beijing -

Diplomasi China dari dulu dikenal serba rahasia dan penuh teka-teki.

Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, menulis dalam studi seminarnya bertajuk Diplomacy bahwa "diplomasi Beijing sangat halus dan tidak langsung sehingga kami di Washington sulit memahaminya."

Negara-negara Barat mempekerjakan pengamat China untuk menginterpretasikan sinyal-sinyal yang berasal dari politbiro China.

Di bawah kepemimpinan mantan Presiden Deng Xiaoping, strategi umum China adalah "sembunyikan kemampuan kita dan tunggu waktu terbaik." Hal itu tidak berlaku lagi sekarang.

China telah mengerahkan sekelompok diplomat yang vokal ke media sosial untuk berbicara berbagai hal dan mereka, terkadang, jujur. Tujuan mereka adalah untuk membela penanganan China atas pandemi virus Corona dan menantang orang-orang yang mempertanyakan kronologi versi Beijing.

Soldiers guard the Forbidden City in Beijing

Para diplomat membela penanganan COVID-19 di China (Getty Images)

Mereka rutin bercuit di Twitter dan media sosial lainnya dari kedutaan-kedutaan besar China di seluruh dunia. Mereka lantang, menjawab dengan sarkastis dan agresif. Teknik ini masih baru dan mereka dinamakan "pejuang serigala" atau wolf warrior, sesuai nama sebuah film aksi.

Wolf Warrior dan Wolf Warrior 2 adalah film yang sangat populer yang menampilkan pasukan khusus elite China yang berhadapan dengan tentara bayaran pimpinan AS. Film-film ini menyuguhkan kekerasan dan nasionalisme ekstrem.

Seorang kritikus film mengatakan bahwa film tersebut "seperti Rambo dengan karakteristik China." Poster promosi film tersebut menunjukkan karakter utama mengangkat jari tengahnya dengan slogan: "siapapun yang menyerang China, dari manapun asalnya, harus dihancurkan."

Posters for the film Wolf Warrior 2

Film Wolf Warrior sangat populer di China (Getty Images)

Dalam sebuah tajuk rencana baru-baru ini, surat kabar Partai Komunis China, Global Times, mendeklarasikan bahwa rakyat China "tidak lagi puas dengan nada diplomasi yang lemah" dan negara Barat merasa tertantang oleh diplomasi "Wolf Warrior" baru China.

Bahasa baru

Mungkin "pejuang serigala" terdepan adalah Lijian Zhao, juru bicara muda Kementerian Luar Negeri China. Ia adalah pejabat yang mengemukakan tudingan tanpa substansi bahwa AS mungkin yang membawa virus Corona ke Wuhan.

Ia memiliki lebih dari 600.000 pengikut di Twitter dan ia memanfaatkannya dengan terus menerus bercuit, retweet, atau menyukai konten apapun yang mempromosikan dan membela China setiap jamnya.

Ini tentunya tugas setiap diplomat di manapun: mereka harus mempromosikan kepentingan nasional negaranya. Namun hanya sedikit diplomat yang memakai bahasa yang tidak diplomatis.

Contohnya Kedutaan Besar China di India yang mengatakan bahwa tuntutan agar China membayar kompensasi karena menyebarkan virus "konyol dan terang-terangan tidak masuk akal."

Duta besar China di Belanda menuding Presiden AS Donald Trump "sangat rasis".

Merespons spekulasi obat anti-virus Corona Trump yang banyak dicela, ketua juru bicara Partai Komunis China di Beijing mengatakan di Twitter: Presiden Trump benar. Beberapa orang memang perlu disuntik #disinfektan, atau setidaknya berkumur dengannya. Dengan begitu mereka tidak akan menyebarkan virus, kebohongan, dan kebencian saat bicara."

Di London, "pejuang serigala" China adalah Ma Hui, orang nomor tiga di Kedubes China di Inggris. Nama akunnya di Twitter mengandung kata "warhorse" dan ia bisa dikatakan sebagai orang yang tangguh dan produktif.

Salah satu tweet-nya mengatakan: "Beberapa petinggi di AS sangat merendahkan dirinya untuk bohong, menyebarkan informasi yang salah, menyalahkan, dan menstigmatisasi [China]. Ini sangat tercela, tapi kami tidak akan menurunkan standar, atau ikut balapan mereka ke level dasar. Mereka tidak peduli terhadap moralitas, integritas, tapi kami peduli. Kami juga bisa melawan kebodohan mereka."

Hal-hal seperti ini terdengar familiar bagi siapapun yang aktif di media sosial. Namun untuk China, hal ini sangat baru. Menurut data dari lembaga riset German Marshall Fund, jumlah pejabat China yang memiliki akun resmi di Twitter naik 300% dalam satu tahun terakhir, dan jumlah konten mereka naik empat kali lipat.

Kristine Berzina, periset senior di GMF, mengatakan: "Ini sangat berbeda dari ekspektasi kita soal China. Di masa lalu, wajah publik China biasanya citra positif dari negeri itu. Banyak dorongan untuk berteman dengan China. Video panda yang lucu biasanya lebih mudah ditemukan ketimbang bantahan lantang soal kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Jadi ini sangat berbeda."

Langkah ini jelas disetujui oleh pemerintah China. Mereka bisa saja memusatkan kampanye informasinya ke apa yang disebut "diplomasi masker," terutama soal donasi dan penjualan alat pelindung diri ke seluruh negara di dunia.

A sign in Belgrade reads 'thank you brother Xi'

Papan reklame berisi pesan "Terima kasih, Abang Xi" di Belgrade yang dibayar oleh sebuah surat kabar (AFP)

Ini berpotensi mempromosikan soft power China di saat negara lain tengah kesulitan. Namun niat baik pemerintah yang terlihat dalam "jalur sutra kesehatan" nampaknya telah digantikan oleh agresi para "pejuang serigala."

Duta-duta besar yang marah

Duta besar China di Australia, Cheng Jingye, telah beberapa kali terlibat dalam debat panas dengan pejabat di sana. Ketika pemerintah Australia mendukung investigasi internasional independen soal asal muasal virus, Cheng seolah-olah mengatakan China akan memboikot produk-produk Australia.

"Mungkin rakyat biasa akan berkata, 'kenapa kita harus minum anggur Australia atau makan daging sapi Australia?" katanya kepada Australian Financial Review.

Kabinet Australia melihatnya sebagai ancaman "pemerasan ekonomi." Pejabat Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) memanggil Cheng untuk menjelaskan apa maksud perkataannya. Ia merespon dengan menerbitkan detail percakapan di situs Kedubes China, di mana ia mendesak Australia untuk berhenti "bermain politik."

General view of a vineyard in the Barossa wine region, South Australia, Australia.

Kebun anggur di wilayah Barossa - anggur merupakan komoditas ekspor kunci dari Australia ke China (BBC)

Minggu ini China menerapkan larangan impor bagi beberapa produsen daging sapi Australia dan mengancam akan menerapkan tarif untuk barley dari Australia.

Di Paris, duta besar China di sana Lu Shaye dipanggil oleh kementerian luar negeri untuk menjelaskan komentarnya di situs Kedubes China yang mengatakan bahwa Prancis telah menelantarkan warga manula sampai mati karena COVID-19 di panti-panti jompo.

Kritik lebih keras terhadap diplomat China datang dari Afrika, di mana sejumlah duta besar-dari Nigeria, Kenya, Uganda, Ghana, dan Uni Afrika-dipanggil oleh negara masing-masing dalam beberapa minggu terakhir untuk menjelaskan perlakuan diskriminatif dan rasis yang dialami oleh warga Afrika di China.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nigeria, Femi Gbajabiamila, mengunggah video dirinya protes kepada duta besar China.

Dalam sebuah artikel di majalah Foreign Affairs, Kevin Rudd, mantan perdana menteri Australia, mengatakan bahwa China sedang membayar strategi barunya ini: "Apapun yang dilaporkan generasi baru diplomat 'pejuang serigala' China ke Beijing, kenyataannya posisi China telah dirugikan (ironinya, para pejuang serigala ini yang memperburuk keadaan, bukan memperbaikinya).

"Reaksi anti-China terhadap penyebaran virus ini, sering kali berbau rasis, telah dilihat di negara-negara seperti India, Indonesia, dan Iran. Soft power China berisiko rusak."

Kerasnya diplomasi China mungkin memperburuk citranya di mata negara-negara Barat, yang makin tidak percaya dan enggan berurusan dengan Beijing.

Di Amerika Serikat, China telah menjadi isu penting di pemilihan presiden lantaran kedua calon presiden bersaing untuk menjadi yang paling tangguh. Di Inggris, anggota parlemen dari Partai Konservatif telah bersatu untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan terkait China.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah tensi diplomatik ini akan berevolusi menjadi konfrontasi yang lebih serius antara China dengan Barat. Ini penting bukan hanya karena risiko yang bisa muncul karena eskalasi konflik, namun juga karena banyak aspek yang memerlukan kerjasama dunia.

A scientist works in the lab of Linqi Zhang on research into novel coronavirus disease (COVID-19) antibodies for possible use in a drug at Tsinghua University

Penelitian mencari vaksin virus Corona akan membutuhkan kerja sama semua negara di dunia, termasuk China (Reuters)

Dalam jangka pendek, riset, uji coba, pengembangan dan distribusi vaksin COVID-19 akan membutuhkan kerja sama internasional, termasuk China. Dalam jangka panjang, sebagian besar analis memprediksi adanya aksi kolektif global untuk memperbaiki ekonomi dunia. Namun nampaknya hal itu sulit terjadi.

Bonnie Glaser, direktur China Power Project di Centre for Strategic and International Studies di Washington mengatakan: "Jika AS dan China tidak mengesampingkan perbedaannya untuk bersama-sama memerangi pandemi global, sulit rasanya meyakini bahwa mereka akan bekerja sama untuk memperkuat ekonomi mereka."

Beberapa ahli strategi mengatakan, meski Barat akan harus meningkatkan independensi mereka dari China setelah pandemi, Barat juga harus menemukan kerangka kerja sama dengan China. Namun hal itu mungkin dipersulit oleh pada diplomat "pejuang serigala."

(nvc/nvc)