Tragis! Lima Pasien COVID-19 Tewas Akibat Kebakaran di Rumah Sakit Rusia

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 12 Mei 2020 15:08 WIB
Moskow -

Sebanyak lima pasien Covid-19 meninggal dunia di St Petersburg, Rusia, setelah rumah sakit tempat mereka dirawat dilalap api.

Kebakaran yang menghanguskan ruang perawatan intensif tersebut tampaknya dipicu oleh korsleting pada unit ventilator, sebagaimana dilaporkan sejumlah kantor berita Rusia.

Api telah dipadamkan dan sebanyak 150 orang sudah dievakuasi dari rumah sakit, sebut kementerian penanganan keadaan darurat Rusia.

Belum jelas berapa orang yang mengalami cedera.

Sebelumnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan karantina wilayah atau lockdown akan dilonggarkan dan aktivitas bisnis akan kembali berfungsi, mulai Selasa (12/05).

Dia mengatakan "periode tidak bekerja" di seluruh wilayah Rusia sudah diterapkan selama enam minggu demi mengekang penyebaran virus.

Pelonggaran pembatasan akan memengaruhi semua sektor ekonomi, kata Putin, tetapi beberapa daerah kemungkinan akan mempertahankan kontrol lebih ketat apabila diperlukan.

Rusia saat ini memiliki jumlah kasus virus corona yang terbanyak keempat di dunia.

Dalam 24 jam terakhir, Rusia mencatat rekor kenaikan harian tertinggi yaitu 11.656 kasus, sehingga total resmi kasus virus corona di negara menjadi 221.344.

Hal itu berarti Rusia sekarang memiliki lebih banyak kasus yang terkonfirmasi ketimbang Italia. Hanya Amerika Serikat (AS), Spanyol, dan Inggris yang melaporkan lebih banyak kasus infeksi.

Namun demikian, perbandingan antar negara tidak selalu akurat, karena berbagai faktor seperti tingkat pengujian yang tidak selalu sama.

Menurut angka resmi, 2.009 orang di Rusia telah meninggal akibat virus corona. Tetapi sejumlah kalangan mempertanyakan angka itu terlalu rendah, dan diyakini angka kematian jauh lebih tinggi.

Apa yang dikatakan Presiden Putin?

Dalam pidato yang disiarkan televisi, pemimpin Rusia itu mengumumkan berakhirnya pembatasan selama enam minggu di seluruh negara, yang disebutnya memungkinkan negara itu mempersiapkan sistem kesehatan dan mampu menyelamatkan "ribuan jiwa".

"Mulai besok (Selasa), 12 Mei, periode hari-hari tidak bekerja secara nasional akan diakhiri untuk semua sektor ekonomi," kata Putin. Namun masing-masing wilayah dapat mempertahankan kebijakan pengetatan apabila diperlukan.

Acara-acara yang melibatkan banyak orang tetap dilarang dan masyarakat masih harus mengikuti "aturan sanitasi yang ketat", tetapi kepentingan semua orang agar kehidupan ekonomi "kembali normal dengan cepat", kata Putin, seraya menambahkan bahwa sektor konstruksi dan pertanian harus menjadi salah satu sektor industri pertama yang kembali dibuka.

Namun demikian wabah itu masih jauh dari selesai, demikian dia memperingatkan, dengan mengatakan bahwa "bahaya masih tetap mengintai".

"Kita tidak boleh membiarkan ... gelombang baru epidemi dan tumbuh menjadi komplikasi yang serius," katanya.

Keputusan itu diumumkan hanya beberapa hari setelah Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, memperpanjang karantina wilayah ibu kota sampai 31 Mei.

Kendati para pekerja konstruksi dan industri kini harus kembali bekerja di kota, setiap orang harus mengenakan masker dan sarung tangan di toko-toko dan angkutan umum.

Warga masih tidak dapat meninggalkan rumah kecuali untuk berbelanja, bekerja atau berjalan-jalan dengan anjing, dan harus memiliki izin untuk bepergian.

Ibu kota Moskow merupakan pusat penyebaran wabah di Rusia, di mana kasus di kota itu merupakan lebih dari setengah dari total jumlah kasus secara keseluruhan dan kematian resmi negara yang dikonfirmasi.

Namun Wali kota Moskow, Sobyanin, memperkirakan bahwa di wilayahnya kemungkinan memiliki lebih dari 300.000 kasus infeksi - sekitar tiga kali jumlah yang dikonfirmasi dari 115.909.

Selama akhir pekan, Rusia terpaksa membatalkan Pawai Hari Kemenangan Dunia II yang digelar tiap tahun karena wabah virus corona.

(ita/ita)