Pahlawan Perang Dunia II, Dari Rasuna Said Hingga Ratu Kematian Uni Soviet

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 08 Mei 2020 09:46 WIB
Jakarta -

An illustration of Cheng Benhua, a Chinese resistance fighter

Davies Surya, BBC

Coba bayangkan sebuah aksi heroik pada masa peperangan. Siapa sosok pemberani yang muncul dalam benak Anda? Apakah dia laki-laki atau perempuan?

Peran perempuan dalam konflik kerap kali tidak diakui publik.

Pada peringatan 75 tahun berakhirnya Perang Dunia II yang jatuh 8 Mei, kami mengingat kembali delapan perempuan yang keberaniannya melampaui jutaan orang lainnya saat menghadapi konflik berdarah.

Rasuna Said, Sang Singa Betina

Rasuna adalah salah satu sosok kunci dalam perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan. Musuhnya bukan hanya Jepang, tapi juga pemerintah kolonial Belanda.

Rasuna mulai terlibat politik pada usia muda. Dia turut mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) pada usia 20-an tahun.

Perempuan Minangkabau ini dikenal sebagai orator yang pidatonya ibarat 'petir di siang bolong'. Ia dijuluki Singa Betina karena keberaniannya melontarkan kritik kepada Belanda.

Pemerintah kolonial saat itu kerap menghentikan orasinya. Salah satunya terjadi pada Rapat Umum PERMI di Payakumbuh, Sumatera Barat, tahun 1932.

Saat Rasuna berpidato pada forum itu, aparat pemerintah kolonial datang dan memaksanya berhenti. Ia ditangkap, diajukan ke pengadilan, lalu dipenjara selama 14 bulan dengan dakwaan ujaran kebencian.

Pada masa penjajahan Jepang, Rasuna turut menggagas perkumpulan Nippon Raya untuk membentuk kader-kader perjuangan.

Kepada pejabat tinggi Jepang, menurut studi literatur seorang sejarawan, Rasuna pernah berkata, "Boleh Tuan menyebut Asia Raya karena Tuan menang perang. tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini."

Setelah Indonesia merdeka, Rasuna menduduki sejumlah jabatan pemerintahan, dari Komite Nasional Indonesia, DPR Indonesia Serikat, hingga Dewan Pertimbangan Agung.

Rasuna adalah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Namanya kini terpatri di salah satu jalan utama Jakarta.

Cheng Benhua: Menyambut kematian dengan senyuman

Benhua adalah perempuan asal China yang menentang penjajahan Jepang di negaranya tahun 1937.

Sebuah foto yang mengabadikan peristiwa saat ia ditusuk bayonet hingga tewas menjadi potret ikonik tentang perlawanan tanpa rasa takut.

Yang memotret kejadian itu adalah fotografer asal Jepang. Ia mengabadikan momen terakhir kehidupan Benhua setelah dia tangkap dan dipenjara pasukan kolonial.

Berbagai literatur menyebut Benhua diperkosa berulang kali oleh pasukan yang menawannya. Namun ia tetap menolak tunduk pada pemerintah kolonial.

Dalam foto ikonik itu, Benhua terlihat tersenyum. Ia menyilangkan tangan ke dadanya, mengangkat muka serta menatap tajam ke arah kamera seolah memperlihatkan jiwanya yang tanpa rasa takut.

Pose Benhua dalam foto itu baru-baru ini diabadikan dalam patung setinggi lima meter di Nanjing. Kota itu adalah salah satu titik terparah dalam perang China melawan pendudukan Jepang.

Sekitar 300.000 penduduk Nanjing diyakini tewas dalam perang tersebut.

Benhua berusia 24 tahun ketika ia meninggal tahun 1938.

"Dia memiiki personalitas yang mencengangkan, membuat impresi terhebat, dan sosok yang paling pantas mendapatkan rasa hormat," kata sejarawan China, Fan Jianchuan kepada koran People's Daily tahun 2013.

Noor Inayat Khan, Sang Ratu Mata-Mata An illustration of Noor Inayat Khan

Davies Surya, BBC

Ratu sekaligus mata-mata Inggris, Noor Inayat Khan adalah keturunan langsung Sultan Tipu, penguasa kerajaan Muslim Mysore pada abad ke-18.

Ayahnya merupakan seorang guru sufi, sementara ibunya berkebangsaan Amerika Serikat. Inayat Khan lahir di Moskow, Soviet dan menempuh pendidikan tinggi di Sorbonne, Prancis.

Keterampilan berbahasa Inggris memberinya peluang terlibat dalam Satuan Operasi Khusus Inggris (SOE).

Organisasi ini berisi para agen telik sandi yang terjun payung untuk masuk ke Perancis selama pendudukan Nazi. Mereka melakukan sabotase hingga memata-matai pergerakan pasukan musuh.

Inayat Khan bekerja sebagai operator radio. Dia menjadi perempuan pertama yang menjalan peran tersebut di organisasi rahasia itu. Dia kerap berpindah lokasi untuk menghindari penangkapan.

Namun akhirnya ia diciduk kepolisian Nazi, Gestapo. Dia melalui sesi interogasi yang disertai kekerasan.

Inayat Khan beberapa kali berusaha kabur. Suatu kali ia nyaris berhasil membuat jalan rahasia di atap gedung penyekapan.

Setiap kali tertangkap hendak melarikan diri, proses pemenjaraan dan interogasi terhadapnya semakin kejam. Namun sejumlah sumber menyebut dia tak pernah memberi informasi berharga apapun kepada Nazi.

Nazi disebut hanya mengetahui nama samarannya, Madeleine. Mereka juga tak tahu bahwa dia sebenarnya seorang warga India.

Pada September 1944, Inayat Khan dan tiga agen perempuan SOE lainnya dikirim ke kamp konsentrasi Dachau. Tanggal 13 September, mereka dieksekusi mati,

Atas keberaniannya, Inayat Khan dianugerahi George Cross oleh Kerajaan Inggris. Ia juga mendapat penghargaan Croix de Guerre dari pemerintah Perancis.

Sebuah patung Inayat Khan kini berdiri di Gordon Square Gardens, London, untuk menghargai keberaniannya.

"Noor Inayat Khan terus menginspirasi bahkan hingga saat ini, bukan hanya keberaniannya tapi juga prinsip yang dia pegang teguh," kata Shrabani Basu, penulis buku Spy Princess, The Life of Noor Inayat Khan.

"Walau dia penganut Sufi dan meyakini jalan tanpa kekerasan, dia memberi pengorbanan terbesar, yaitu nyawanya, untuk melawan fasisme," ujar Basu.

Lyudmila Pavlichenko, Wanita Pembawa Kematian An illustration of Lyudmila Pavlichenko, a Soviet sniper

Davies Surya, BBC

Lyudmila Pavlichenko adalah salah satu sniper paling gemilang sepanjang sejarah. Sebanyak 309 tentara Jerman terkonfirmasi tewas ia tembak selama pendudukan Nazi di Uni Soviet tahun 1941.

Puluhan korbannya adalah spiner yang kalah dalam pertarungan 'kucing-tikus'. Keberhasilan Lyudmila membunuh musuh selama pengepungan Kota Sevastopol dan Odessa diganjar julukan 'wanita pembawa kematian'.

Para penembak jitu Nazi tidak dapat menemukannya, walau ia terluka akibat ledakan mortar. Sempat pulih, dia akhirnya ditarik dari garis depan.

Lyudmila belakangan diserahi tugas menggunakan ketenarannya untuk menarik dukungan terhadap upaya Soviet berperang melawan Nazi.

Sebagai representasi citra Tentara Merah Soviet, ia pergi ke banyak negara, termasuk bertemu Presiden Amerika Serikat kala itu, Franklin Roosevelt.

Maski dianugerahi Bintang Emas Pahlawan Uni Soviet, kisahnya dihilangkan dari sejarah.

"Mengejutkan bahwa sniper perempuan dengan kemampuan luar biasa tidak diingat dan dihargai setelah ia meninggal," kata aktivis gender, Iryna Slavinska.

"Namun narasi Soviet tentang Perang Dunia II berpusat pada citra tentara laki-laki yang berani. Lihat saja monumen untuk pahlawan perang dan tentara yang tewas tanpa diketahui identitasnya."

"Perempuan bukan bagian dari narasi tersebut," kata Slavinska.

Nancy Wake, Si Tikus Putih An illustration of Nancy Wake, an Australian spy during WW2

Davies Surya, BBC

Sosok yang menarik perhatian banyak orang, Nancy Wake memiliki reputasi sebagai pejuang mematikan. Ia dikenal sebagai sosok dengan rayuan hebat, peminum alkohol, juga musuh Nazi yang berkepala batu.

Wake lahir di Selandia Baru, tapi tumbuh dewasa di Australia. Dia berhenti sekolah pada usia 16 tahun.

Wake kemudian bekerja sebagai jurnalis di Prancis. Menurut sejumlah sumber, pekerjaan itu dia dapatkan setelah berbohong bahwa mampu menulis aksara Mesir kuno.

Di Prancis dia bertemu dan menikah dengan pengusaha, Henri Fiocca. Mereka tinggal di Marseille saat Nazi menginvasi negara itu tahun 1939.

Wake lalu bergabung dengan kelompok perlawanan Prancis dan membantu sejumlah pilot Sekutu kabur dari Pyrenees menuju Spanyol.

Ketika jaringan yang dibangunnya membelot ke Jerman tahun 1942, Wake melarikan diri ke Inggris.

Suaminya, Fiocca, yang tidak ikut kabur akhirnya ditangkap dan dibunuh tentara Nazi. Wake lantas kembali ke Prancis dalam operasi terjun payung dan bekerja untuk Satuan Operasi Khusus Inggris (SOE).

Wake terlibat dalam sejumlah misi mematikan. Dia mengklaim pernah membunuh prajurit Nazi dengan tangan kosong.

"SOE mengajarkan teknik judi dan saya terus berlatih kemampuan itu. Namun itulah satu-satu peristiwa saya menggunakannya dan dia terbunuh," kata Wake dalam sebuah wawancara televisi dekade 1990-an.

Saat kode radio berharga Sekutu hilang dalam pertempuran, Wake secara sukarela bersepeda sejauh 500 kilometer menuju area musuh. Dia berkata hanya perlu tiga hari untuk memasang ulangnya.

Wake bersedia berdandan dan berkencan dengan orang Jerman untuk mendapatkan informasi.

"Sedikit bedak dan alkohol, saya bisa melewati pos Jerman, berkedip, lalu berkata, 'Anda ingin mencari saya?' Oh Tuhan, saya benar-benar perayu ulung," ujarnya kepada koran Australia.

Wake mendapat banyak panggilan dari Jerman selama perang, tapi dia selalu berhasil menghindari mereka, kata Peter FitzSimons, penulis biografinya.

Karena kemampuannya mengelak dari Jerman, Wake dijuluki Si Tikus Putih. Julukan itu juga menjadi judul buku autobiografinya.

Wake menerima banyak penghargaan setelah perang. Dia wafat 7 Agustus 2011 pada usia 98 tahun di London. Dalam wasiatnya, dia meminta abu kremasinya disebar di Prancis.

Jane Vialle: Reporter, mata-mata, politikus

Jane Vialle lahir di Republik Kongo. Dia pindah ke Prancis saat kanak-kanak dan bekerja sebagai jurnalis saat Perang Dunia II pecah.

Vialle meninggalkan Paris dan menjadi agen rahasia untuk Prancis di kawasan selatan negara tersebut. Walau tidak secara resmi diduduki Jerman, saat itu wilayah selatan Perancis dikuasai rezim Vichy.

Nazi menangkap Vialle pada Januari 1943. Dia didakwa melakukan pengkhiatanan.

Walau begitu, rahasia yang dibawa Vialle tetap terjaga. Dia memberi kode tertentu untuk data-datanya sehingga musuh tidak dapat mengurainya.

Vialle pertama kali dikirim ke kamp konsentrasi, sebelum ditahan di penjara perempuan. Namun dia mampu bertahan saat perang berakhir.

Pada tahun 1947, Vialle terpilih menjadi anggota Senat Prancis.

Hedy Lamarr, perempuan atraktif paling cerdas dari Hollywood Hollywood actress Hedy Lamarr

Getty Images

Lammar adalah bintang film kelahiran Austria berkarier gemerlap yang membawanya pada ketenaran. Perempuan yang enam kali menikah itu terpatri di Walk of Fame Hollywood.

Lammar lahir dengan nama Hedwig Maria Kiesler di keluarga keturunan Yahudi kaya raya yang tinggal di Wina.

Dia pertama kali menikah dengan pengusaha senjata yang tidak menyukai karier aktingnya. Lammar justru diminta menjadi ibu rumah tangga yang menjamu kawan-kawan suaminya, termasuk Nazi.

Lammar tidak bisa menerima hal permintaan itu dan kabur ke Paris, lalu ke London. Di sana dia bertemu dengan Louis Mayer, pimpinan perusahaan film terkenal, MGM Studios.

Mayer menawari Lammer kontrak kerja di Hollywood. Sejak saat itu dia mempromosikan Lammar sebagai 'perempuan paling cantik di dunia'.

Kesuksesannya tampil dalam lebih 30 film membuatnya masyhur. Yang membuatnya masuk dalam daftar ini adalah pekerjaan sampingannya: penemu.

Lammer mengembangkan sistem pemandu torpedo milik Sekutu yang bisa membalas ancaman musuh dengan mengubah frekuensi radio.

Angkatan Laut Amerika Serikat tidak mematenkan temuannya, tapi temuannya itu hingga kini kita rasakan dalam teknologi bluetooth dan WiFI.

Mya Mi, perempuan dengan pedang dan racun

Mya Yi photo portrait

Ludu collection

Perjuangan Mya Mi dimulai bahkan sebelum Jepang menduduki Myanmar pada Perang Dunia II. Dia giat mengkampanyekan kemerdekaan bagi negaranya, melawan keinginan pemerintah kolonial Inggris.

Mya Mi bergabung ke kelompok perlawanan pada Perang Dunia II. Dia selalu membawa pedang dan botol berisi racun untuk melindungi diri dari musuh.

Tahun 1944 dia berpergian jalan kaki melewati wilayah musuh dan mendaki pegunungan yang dikontrol pasukan Inggris. Tujuannya, melawan pasukan Jepang.

Dia dikenal pernah membalut lukanya dengan sarung dan menolak tawaran kawan-kawan lelakinya untuk membopongnya.

Di India, Mya Mi berkontribusi dengan menyebar pamflet berisi betapa buruknya perlakuan Jepang terhadap penduduk Myanmar.

Walau berencana kembali ke Myanmar dengan suami setelah melahirkan anak pertama mereka, dia memberi jatah kursinya untuk seorang prajurit. Dia baru bisa kembali ke negaranya pada Oktober 1945 setelah perang berakhir.

Perjuangannya tidak berakhir di situ karena dia terus menggelorakan tuntutan kemerdekaan dan setelahnya, pembebasan Myanmar dari rezim militer yang otoriter.

(ita/ita)