Lebih dari 3 Miliar Populasi Akan Hidup dalam Suhu Panas Ekstrem pada 2070

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 08 Mei 2020 09:27 WIB
Kecuali jika emisi gas rumah kaca turun, banyak orang akan mengalami cuaca dengan suhu rata-rata lebih panas dari 29C. (Getty Images)
Jakarta -

Penelitian terbaru menunjukkan lebih dari tiga miliar populasi akan hidup di tempat dengan suhu udara "yang hampir tak bisa ditinggali" pada 2070.

Kecuali jika emisi gas rumah kaca turun, banyak orang akan mengalami iklim dengan suhu rata-rata lebih panas dari 29 Celsius.

Ini dianggap di luar "relung" iklim, di mana manusia berkembang selama 6.000 tahun terakhir.

Salah satu penulis penelitian, Tim Lenton, mengatakan kepada BBC: "Studi ini diharapkan menempatkan perubahan iklim dalam istilah yang lebih manusiawi".

Para peneliti menggunakan data dari proyeksi populasi PBB dan skenario pemanasan 3C (Celsius) berdasarkan perkiraan kenaikan suhu global.

Sebuah laporan PBB menemukan bahwa meskipun negara-negara mematuhi perjanjian iklim Paris, suhu udara di dunia akan tetap mengalami kenaikan 3 Celsius.

Menurut penelitian, populasi manusia terkonsentrasi dalam pita iklim sempit, dengan sebagian besar orang berada di tempat dengan suhu rata-rata sekitar 11-15 Celsius.

Sejumlah kecil orang tinggal di daerah dengan suhu rata-rata 20-25 Celsius.

Kebanyakan populasi di dunia tinggal dengan kondisi iklim seperti ini selama ribuan tahun.

Namun, jika pemanasan global menyebabkan suhu naik tiga derajat, sejumlah besar orang akan hidup dalam suhu yang dianggap di luar "relung iklim".

A man in India rides a bike along a melted road

India, Australia dan Afrika diprediksi akan menjadi sejumlah area yang paling terdampak. (EPA)

Lenton, yang merupakan spesialis iklim dan direktur Global Systems Institute di University of Exeter, melakukan penelitian bersama para ilmuwan dari China, AS, dan Eropa.

Dia mengatakan kepada BBC: "Tanah memanas lebih cepat dari pada lautan sehingga tanah itu memanas lebih dari tiga derajat. Pertumbuhan populasi diproyeksikan berada di tempat-tempat yang sudah panas, sebagian besar sub-Sahara Afrika."

"Ini menggeser seluruh distribusi orang ke tempat-tempat yang lebih panas yang dengan sendirinya, tempat itu semakin panas dan itulah mengapa kami menemukan rata-rata orang di planet ini hidup dalam kondisi 7 Celsius lebih hangat, di dunia yang 3 Celsius lebih hangat."

Wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan terdampak meliputi Australia utara, India, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Timur Tengah.

Studi ini menimbulkan kekhawatiran tentang orang-orang menengah ke bawah yang tidak dapat berlindung dari panas ekstrem.

"Bagi saya, penelitian ini bukan tentang orang kaya yang bisa masuk ke dalam gedung ber-AC dan melindungi diri dari apa pun. Kita harus peduli dengan mereka yang tidak memiliki sarana untuk mengisolasi diri dari cuaca dan iklim di sekitar mereka," kata Lenton.

Lenton mengatakan pesan utama dari temuan tim adalah bahwa "membatasi perubahan iklim dapat memiliki manfaat besar dalam hal mengurangi jumlah orang yang diproyeksikan untuk jatuh di luar relung iklim.

"Sekitar satu miliar orang terdampak untuk setiap tingkat pemanasan di luar masa sekarang. Jadi untuk setiap tingkat pemanasan, kita bisa menghemat banyak perubahan dalam kehidupan orang banyak."

(ita/ita)