Pencurian Mobil Besar-besaran Terjadi Saat Lockdown di Selandia Baru

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 08 Mei 2020 07:22 WIB
Para pencuri menemukan mobil-mobil dibiarkan tak terkunci dan kunci mobil ada di dalam kendaraan (Jucy)
Jakarta -

Apa yang terjadi bagaikan perampokan besar-besaran yang ideal bagi para pelakunya. Ini dilakukan di lapangan parkir tempat perawatan mobil sewaan yang berbaris rapi, tak dikunci, dengan kunci mobil tersedia di dalam.

Di tengah terjadinya pembatasan sosial berskala besar dan karantina wilayah di Selandia Baru, sekelompok pencuri pun melakukan aksinya.

Mereka memotong pagar milik perusahaan sewa mobil Jucy di Auckland, mengangkat gerbang di engselnya dan mengemudikan mobil-mobil itu keluar.

Selandia Baru berada dalam keadaan senyap akibat pembatasan gerak terkait virus corona, membuat pencurian itu berjalan mudah.

Saking mudahnya, itu membuat si pencuri tergoda untuk melakukan lagi pencurian kedua. Dan seterusnya.

Total, sebanyak 97 mobil dicuri.

Selama beberapa hari di akhir pekan yang panjang, mereka secara bergelombang mencuri mobil-mobil itu melalui jalan-jalan lengang di Auckland.

"Ini seperti kena hantaman di perut, kata Tom Ruddenklau, petugas di Jucy kepada BBC.

"Kami tak percaya saat semua sedang menjaga satu sama lain sebagai bangsa, ternyata ada pencurian nekat seperti ini.

'Ada yang tak beres

Papan nama Jucy mudah ditemui di tepi jalan di Selandia Baru. Jika Anda pernah ke sana, akan mudah teringat padanya. Mereka termasuk penyedia van untuk berkemah, salah satu cara terbaik untuk menjelajahi Selandia Baru.

Warna van mereka hijau terang dan mudah dikenali, dan jika kita mencurinya akan dengan mudah diketahui. Maka dari itu, kebanyakan yang dicuri adalah mobil biasa.

Jucy camper vanJucy dikenal untuk layanan sewa mobil van (jucy.com)

Lalu, apa yang terjadi?

Jucy tidak memperhatikan hal ini sampai mereka diberitahu oleh polisi. Mobil-mobil mereka diparkir di tempat penyimpanan dan pada peringatan hari Anzac di akhir pekan bulan April, tidak dilakukan pemeriksaan oleh perusahaan.

Jalan-jalan di Selandia Baru kosong saat itu, dan orang-orang berada di rumah karena aturan pembatasan gerak. Namun polisi tetap berada di luar di jalur patroli mereka.

"Kami sadar ada yang tak beres, kata inspektur polisi Matt Srhoj kepada BBC. "Mobil-mobil ini mendatangkan kecurigaan karena caranya dikendarai, dan akhirnya beberapa mobil patroli kemudian mengejar mereka.

"Ketika kami sadar bahwa kami lihat beberapa mobil Jucy dalam keadaan yang tidak biasa, kami berasumsi mobil-mobil itu dicuri, lalu memberi tahu Jucy.

Gelombang dukungan

Pencurian di saat normal saja sudah cukup buruk, dan pencurian kali ini dianggap berat karena terjadi di saat pandemi. Saat seluruh negeri bahu membahu melawan virus corona.

"Mengecewakan. Ini merupakan pencurian mobil terbesar yang pernah saya lihat, kata inspektur Srhoj.

"Cukup menyedihkan orang melakukan hal ini saat kita berada dalam karantina.

Jucy van in front of a restaurantSaat penutupan wilayah, sebagian mobil Jucy digunakan untuk layan antar (JUcy)

Selandia Baru berada di bawah karantina tingkat 4, dengan aturan-aturan yang lebih ketat dibandingkan negara-negara lain.

Jucy mencoba untuk menjalankan peran mereka. Beberapa van mereka yang besar yang dilengkapi dengan toilet dan ruang mandi digunakan sebagai rumah isolasi bagi beberapa orang yang tak punya tempat untuk mengkarantina diri.

Perusahaan ini juga menggunakan mobil mereka sebagai layanan pengantar makanan.

Ketika berita pencurian mobil ini menjadi berita, terjadi gelombang dukungan.

"Masyarakat berada di belakang Jucy, kata Ruddenklau dari Jucy.

Perusahaan ini mendapat papan iklan gratis dan mengumumkan mobil mereka dicuri. Warga memberi tahu polisi ketika mereka mencurigai iklan mobil dijual kelewat murah di media daring.

'Polisi dan masyarakat sangat luar biasa'

Pada akhirnya, karantina yang menyebabkan terjadinya pencurian, juga menyediakan jalan keluar bagi pencurian itu.

Kata polisi, keadaan Selandia Baru yang sangat tenang sangat memudahkan untuk melacak mobil-mobil tersebut dan para pencurinya.

Satu demi satu, mobil-mobil itu terlacak dan dikembalikan ke Jucy. Sejauh ini sudah ada 85 mobil yang kembali, dan 29 orang ditangkap terkait pembobolan tersebut.

Kebanyakan dari mereka terkait dengan geng setempat, kata polisi. Pembobol itu juga tampaknya tidak terencana dengan baik, dan para pencuri tidak memikirkan dengan baik rencana pencurian mereka.

Jucy mendapat kejutan tetapi mobil-mobil mereka kembali dan siap berbisnis lagi sekiranya karantina dicabut.

Selandia Baru sendiri mendapat pujian terhadap langkah mereka menangani virus dan perlahan mulai melakukan pelonggaran.

"Ini menghancurkan kami sebagai bisnis, kata pendiri Jucy Tim Alpe kepada BBC.

"Ini situasi yang mengerikan tapi kalau bisa mengambil hal positif dari sini, yaitu warga berbondong-bondong membantu. Kepolisian juga luar biasa, menahan orang yang bertanggung jawab dan mengembalikan mobil-mobil kami.

Kolega Tim, Tom Ruddenklau setuju: "Saya angkat topi untuk kepolisian dan masyarakat, mereka luar biasa."

Inspektur Shroj yakin timnya bisa menemukan mobil yang masih hilang.

"Sejauh ini kami dapat 85 mobil. Tiada alasan kami tak mendapatkan yang 12 lagi.

(ita/ita)