Konflik Perparah Kondisi Timur Tengah Akibat Pandemi Corona

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 15:48 WIB
Virus corona memberi alasan baru untuk unjuk rasa di Lebanon dan tempat lain. (AFP)
Jakarta -

Timur Tengah punya banyak alasan untuk mengkhawatirkan wabah virus corona, tetapi mereka juga punya satu keuntungan besar dalam melawannya. Sebagian besar penduduk kawasan tersebut adalah generasi muda.

Secara rata-rata sedikitnya 60% penduduknya berusia di bawah 30 tahun. Ini membuat mereka lebih kecil kemungkinannya menderita Covid-19, penyakit yang telah menewaskan begitu banyak orang di negara-negara dengan populasi lebih tua.

Sebagian besar pemerintahan di wilayah ini menyaksikan apa yang terjadi di tempat lain dan mereka sebenarnya memiliki waktu untuk menerapkan larangan keluar rumah dan penjarakan sosial.

Namun konflik yang terjadi bertahun-tahun di wilayah yang tidak stabil ini membuat Timur Tengah lemah, dan wabah ini dipastikan memperburuk keadaan disana.

Sarana kesehatan yang tersedia sangat beragam. Memang terdapat rumah sakit terbaik di Israel. Tetapi sistem layanan kesehatan di Yaman, Suriah dan Libia rusak parah karena perang menahun.

Yaman mengalami krisis kemanusiaan terburuk dunia, kata PBB. Sekarang negara tersebut menghadapi Covid-19 yang dengan cepat menyebar di masyarakat yang miskin dan padat.

Aden, di selatan, sedang mengalami gejolak politik. Meskipun kematian akibat Covid-19 telah diumumkan pekan lalu, penduduk setempat dilaporkan tidak mematuhi larangan keluar rumah. Mereka masih memadati pasar dan masjid.

Memperburuk keadaan

Anak-anak muda yang sebenarnya paling berkemungkinan tidak terkena virus, tetap berunjuk rasa di luar menentang pemerintah.

Di Timur Tengah protes dilakukan untuk menentang korupsi, kronisme, dan menuntut reformasi. Kelompok elit yang korup dituduh merampas uang rakyat yang seharusnya disalurkan untuk pelayanan umum, seperti rumah sakit.

Pengunjuk rasa di Aljazair, Lebanon dan Irak berhasil menurunkan seorang presiden dan dua perdana menteri. Demonstran menduduki lapangan utama ibu kota.

Di Irak, mereka tetap berunjuk rasa meskipun sekitar 600 ditembak mati dan ribuan lainnya luka.

Anak-anak muda yang telah menolak perintah tidak turun ke jalan selama berbulan-bulan tidak akan menikmati ironi bahwa virus corona telah memaksa mereka tinggal di rumah.

Ketika mereka akhirnya keluar, mereka akan menghadapi pengaruh buruk sistem ekonomi yang telah gagal memberikan pekerjaan kini semakin buruk.

Yang terjadi adalah peningkatan kemarahan yang semakin parah karena wabah.

Dampak Ekonomi

Terhentinya kegiatan dunia sudah merusak ekonomi Timur Tengah.

Di Lebanon, para pengunjuk rasa yang nyaris jatuh miskin karena ekonomi yang hancur sebelum kasus virus terjadi menyerbu dan membakar bank-bank.

Para pemain di Timur Tengah memang harus mengkaji ulang kebijakan luar negeri mereka yang ambisius, mahal, dan kadang-kadang berbahaya. Hari-hari mereka membeli pengaruh dan melakukan perang proksi mungkin sudah berakhir.

Toko-toko tutup saat pemberlakuan larangan keluar rumah di Jeddah, Arab Saudi.Larangan keluar rumah, seperti di Jeddah, menghentikan kegiatan perdagangan. (AFP)

Lina Khatib, kepala program Timur Tengah di Chatham House memandang kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Iran harus "mengkaji ulang pengaruh mereka di Timur Tengah.

"Mereka terpaksa harus menentukan prioritas...mengorbankan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah diantisipasi sebelumnya, misalnya terkait dengan Yaman dan Suriah, ujarnya.

Konsekuensi ekonomi virus corona merusak semua pihak, mulai dari miliarder minyak di Teluk sampai ke pekerja harian di Mesir.

Di negara-negara yang lebih miskin, jutaan orang hanya bergantung pada uang yang mereka dapat setiap hari. Jika mereka tidak dapat bekerja karena larangan keluar, maka mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Perempuan di jalanan TehranEkonomi Iran telah dipukul berat oleh sanksi AS sebelum dihantam virus corona. (AFP)

Iran membuka kembali perbatasannya agar dapat berdagang. Padahal sebelumnya wabah dilaporkan menewaskan lebih dari 6.000 orang dari 97.000 yang terinfeksi. Virus melanda sementara sanksi AS telah menyerang ekonomi Iran.

Ibadah haji berperan penting pada ekonomi Timur Tengah.

Irak, yang telah merugi triliunan dolar karena minyak, juga bergantung pada jutaan jemaah Syiah, terutama dari Iran. Di Arab Saudi, kota Mekah memberlakukan larangan keluar rumah, dan memperkirakan ibadah haji tahunan pada bulan Juli akan dibatalkan.

Amarah meningkat

Anjloknya harga minyak berarti penurunan besar pemasukan negara-negara yang sebelumnya kuat keuangannya.

Rencana besar-besaran Arab Saudi untuk mendiversifikasi ekonominya sepertinya tidak mungkin dilakukan.

Aljazair, negara yang 60% pemasukannya dari minyak dan gas, telah memotong sepertiga anggarannya. Pada bulan Maret, gerakan protes Hirak menghentikan unjuk rasa mingguan yang telah dilakukannya selama setahun karena virus corona. Namun setelah pemotongan itu terasa, mereka akan kembali.

Pemberontakan Arab tahun 2011 digerakkan kemarahan generasi muda yang meyakini masa depan mereka dihancurkan. Harapan bagi perubahan nyaris hancur. Tetapi kemarahan telah muncul kembali sebelum wabah terjadi.

Kehancuran karena pandemi dapat kembali menciptakan ledakan politik.

(ita/ita)