Mulai dari Ebola-SARS, Bagaimana Manusia Kalahkan Wabah Sebelum Corona?

BBC Karangan Khas - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 13:51 WIB
Jakarta -

Pada 31 Januari 2003, seorang penjual ikan bernama Zhou Zuofen dirawat di Rumah Sakit Sun Yat-sen Memorial di Guangzhou, salah satu kota terbesar di China. Dia menunjukkan gejala aneh seperti pneumonia, gejala yang muncul pada sejumlah kecil pasien sejak November 2002.

Penyakit ini diduga pertama kali menginfeksi seorang petani di daerah Foshan di China, bagian dari provinsi Guangdong yang berbatasan dengan Hong Kong. Gejalanya seperti flu yang meliputi nyeri otot, demam, batuk, kelelahan luar biasa dan sakit tenggorokan. Penyakit ini kadang-kadang menyebabkan pneumonia, yang terkadang muncul akibat infeksi bakteri yang terpisah.

Infeksi Zhou membuat penyakit yang masih belum jelas ini menjadi perhatian internasional.

Di Rumah Sakit Sun Yat-sen Memorial, dia dianggap telah menularkan infeksi kepada 30 petugas kesehatan. Salah satu dokter rumah sakit, Liu Jianlun, akhirnya merawat sembilan pasien yang terinfeksi penyakit ini.

Dari sekitar 15 Februari 2003, dokter Liu mulai menunjukkan gejala penyakit ringan, tetapi tidak menghubungkannya dengan penyakit yang sedang ditanganinya.

Dokter Liu meninggalkan kota untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga di dekat Hong Kong. Dan dengan perjalanan itu, penyakit misterius ini selangkah lebih maju menuju sebuah darurat internasional.

Pada 21 Februari, dokter dan istrinya masuk ke kamar mereka di lantai sembilan Hotel Metropole Hong. Keesokan paginya, dokter merasa sakitnya cukup parah sehingga perlu perawatan medis.

Dia berjalan ke Rumah Sakit Kwong Wah di dekat lokasi itu. Mengetahui dia sakit parah, dokter berusia 64 tahun itu meminta ditempatkan di ruang isolasi. Kejeliannya ini menimbulkan konsekuensi yang luas. Seandainya dia tidak minta diisolasi, semuanya bisa jauh lebih buruk.

Penyakit yang diderita Liu akan dikenal seluruh dunia sebagai Sars (sindrom pernafasan akut yang parah). Cepatnya dokter Liu pergi ke rumah sakit dan minta diisolasi dianggap telah mencegah ancaman baru ini menjadi pandemi global.

Namun, dokter Liu tidak bisa menyaksikan bagaimana penularan penyakit ini bisa dihentikan. Dia meninggal pada 5 Maret, setelah dua minggu berjuang melawan infeksi di ruang isolasi.

Meskipun kasus-kasus terpisah masih dilaporkan hingga Maret 2004, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan berakhirnya keadaan darurat pada 5 Juli 2003 setelah tidak melihat adanya kasus baru selama 20 hari.

Pada akhirnya, Sars menginfeksi lebih dari 8.000 orang di 29 negara, menewaskan sedikitnya 774 di antaranya. Tingkat kematian Sars ada di bawah 10%, jauh lebih tinggi daripada penyakit musiman serius seperti flu. Efeknya paling terasa di China, Taiwan dan Kanada.

Seorang pria mengenakan masker di depan pintu masuk klinik Sars.

Perjalanan udara internasional membuat Sars dengan cepat menular di negara negara-negara yang jauhnya ribuan mil dari tempat dimulainya wabah. (Getty Images)

Sama seperti pandemi Covid-19 saat ini yang sedang diperangi dunia, Sars tersebar melalui pesawat terbang. Infeksi ini bisa sampai di belahan dunia yang lain hanya dalam waktu satu hari. Sangat berbeda dengan flu Spanyol yang muncul lebih dari seabad yang lalu, yang perlahan menulari dunia melalui kapal uap penumpang dan kereta api yang memakan waktu berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Potensi wabah penyakit menjadi pandemi telah tumbuh secara eksponensial karena kemampuan kita melakukan perjalanan, telah membuat dunia menyusut.

Infeksi virus barangkali sudah ada sejak munculnya kehidupan dalam bentuk sel. Mereka mengikuti perkembangan manusia; kadang-kadang melompat dari spesies lain ke manusia ketika kondisinya tepat.

Seiring bertambahnya populasi kita, dengan permukiman yang semakin merambah hutan yang dihuni oleh inang alami mereka, ancaman pun meningkat. Sars, dan Ebola, demam penuh darah yang menakutkan, adalah penyakit abad ke-21 di dunia yang padat.

Sars dimulai di Cina, tetapi salah satu wabah paling seriusnya terjadi di belahan dunia yang lain, di Toronto, Ontario, Kanada.

Jacalyn Duffin, seorang sejarawan medis dan hematologis Kanada, bekerja di dekat Toronto ketika wabah pertama kali terjadi. "Sebagai seorang sejarawan yang juga tertarik pada penyakit, saya memperhatikan sejak awal," kata dia.

Sars tiba di Kanada bersama seorang penduduk tua Toronto, Kwan Sui-Chu, yang baru kembali dari Hong Kong. Di Hong Kong, dia tinggal di Metropole Hotel.

Kwan jatuh sakit dan meninggal di rumah. Sebelum meninggal, dia menulari putranya, yang meneruskan penyakit itu ke sekelompok orang lain sebelum meninggal di Rumah Sakit Scarborough Grace.

Layanan kesehatan Ontario segera bersiap untuk perang. "Setiap rumah sakit di Ontario harus menerapkan karantina yang ketat," kata Duffin. "Sebelum masuk, para pekerja harus antre di luar dan mengukur suhu tubuh."

Sars sangat menular, sehingga mereka yang sakit harus dilacak dengan baik. Duffin mengatakan bahwa pekerja rumah sakit diberikan kartu identitas baru dengan foto, dan barcode. Dengan demikian, pergerakan mereka dari satu zona ke zona lain dapat dilacak. "Saya takjub dengan cepatnya ide itu diterapkan," kata dia.

Melacak pasien adalah satu dari tiga senjata paling penting yang dimiliki badan kesehatan untuk menangani pandemi. Tritunggal ini adalah pelacakan, isolasi, perawatan.

Kita telah melihat beberapa negara Asia, seperti Singapura, dan Korea Selatan, yang nampaknya telah meratakan kurva penularan virus corona. Negara-negara ini melakukannya dengan pelacakan yang teliti terhadap mereka yang terinfeksi. Ini adalah pelajaran yang dipetik selama wabah Sars.

Kertas pengumuman bertulisan hingga wabah Sars berakhir tidak akan ada pengakuan dosa di gereja.

Sars menunjukkan bahwa pandemi akan menyebabkan gangguan besar pada kehidupan normal. (Getty Images)

Pada akhirnya, Sars menginfeksi sekitar 400 orang di Kanada, dan menewaskan 44 orang. Jika otoritas kesehatan Kanada tidak menangani wabah dengan cepat, korban meninggal mungkin akan lebih banyak lagi.

Isolasi memiliki istilah lain, yang lebih medis, yaitu karantina. Kata itu berasal dari kata Venesia abad pertengahan "quarantena", merujuk pada 40 hari yang dihabiskan Kristus di padang belantara menurut Alkitab.

Jauh sebelum ilmu pengetahuan mengkonfirmasi bahwa virus dan bakteri menyebabkan penyakit, karantina adalah senjata yang sangat efektif dalam memerangi wabah.

"Di Milan, selama wabah besar, mereka menutup gerbang," kata Duffin. "Jika ada wabah di rumah Anda, mereka akan mengurung Anda dan tidak diizinkan keluar sampai pulih, atau mati. Dan karena itu, Milan punya insiden kematian yang jauh lebih rendah daripada Italia," kata dia.

Duffin bercerita bahwa dia mendapat telepon di tengah epidemi karena Wali Kota Toronto saat itu kesal karena Toronto disebut dalam peringatan perjalanan, dengan rekomendasi agar orang-orang tidak pergi ke Toronto.

"Ian Gemmill [Petugas Kesehatan Kanada pada waktu itu] bertanya kepada saya, "Apakah karantina pernah berhasil?" Saya berkata, "Berhasil." Dia kemudian bertanya kepada saya, "Saya perlu tahu berapa banyak nyawa yang diselamatkan." Dan saya berkata, "Mereka tidak menghitung orang yang tidak tertular"," kata Duffin.

Ada satu aspek Sars yang mempermudah perlawanan manusia. Sars adalah virus baru bagi sistem kekebalan manusia.

Ketika tubuh manusia mengalaminya, sistem kekebalan berjuang terlalu keras untuk melawannya karena tubuh belum memiliki antibodi.

Ini berarti bahwa mereka yang terinfeksi, jatuh sakit dengan cepat akibat respons yang terlalu reaktif ini, yang juga dikenal sebagai badai sitokin.

Kondisi ini membatasi jumlah orang yang dapat tertular. Duffin berkata: "Anda memiliki tanda-tanda Sars, kemungkinannya hanya Anda meninggal, atau Anda akan pulih dengan cepat.

"Rasanya aneh melihat betapa lamanya para pasien Covid-19 dirawat," kata dia. Covid-19 memiliki masa inkubasi yang relatif lama, dari beberapa hari dan hingga dua minggu. Perlu waktu berminggu-minggu sampai pasien yang sakit parah bisa pulih, atau menyerah kalah pada virus.

Ada efek besar lain dari virus Sars, setidaknya di Kanada. "Sampai saat itu, Kanada tidak punya lembaga nasional untuk kesehatan masyarakat," kata Duffin.

Meskipun ada perencanaan pandemi sebelumnya, itu hanya di tingkat provinsi. "Penanganan Sars hampir seperti coba-coba."

Duffin dipekerjakan untuk membuat perencanaan pandemi setelah badan kesehatan publik federal Kanada dibentuk pada tahun 2004.

Perencanaan pandemi secara teratur dilakukan di tahun-tahun setelah wabah Sars. Namun beberapa tahun terakhir, perencanaan menjadi lebih sporadis karena pemotongan anggaran dan ingatan akan krisis 2003 mulai memudar.

"Sars sudah lama sekali," kata Duffin. "Anak-anak muda [di agensi] tidak tahu banyak tentang itu. Meskipun strukturnya masih ada, mereka tidak sekuat sebelumnya. "

Meski demikan, Sars memicu terbentuknya banyak prosedur pandemi yang kita lihat dalam empat bulan terakhir.

Tapi Sars itu bukan satu-satunya wabah penyakit serius yang terjadi baru-baru ini.

Papan pengumuman Sars di bandara Kanada.

Seandainya otoritas kesehatan Kanada tidak segera menangani pandemi Sars, kondisinya bisa jauh lebih buruk. (Getty Images)

Pada tahun 2009, pandemi flu babi diperkirakan menewaskan lebih dari 250.000 orang. Wabah ini melanda seluruh dunia dan menginfeksi hingga 1,4 miliar orang, lebih banyak daripada yang terinfeksi oleh Flu Spanyol.

Pada tahun 2016 WHO mengumumkan keadaan darurat karena demam Zika yang menyebar ke seluruh Amerika Selatan dan Tengah, Asia, dan Pasifik tropis. Virus ini memang hanya akan menimbulkan demam ringan pada orang dewasa, tapi jika perempuan hamil terkena, bayi yang dilahirkan bisa cacat parah.

Namun sejauh ini, wabah paling serius, setidaknya dalam hal kerusakan yang bisa ditimbulkannya di negara berkembang, adalah wabah Ebola 2013-2014 di Afrika Barat.

Ebola adalah patogen mengerikan. Demam yang berdarah ini dapat menyebabkan pendarahan internal yang parah. Dalam kasus terburuk, penderita mengeluarkan darah darah dari mata, hidung, dan lubang lainnya saat organ penting mereka mulai mati.

Kasus-kasus pertama yang diidentifikasi pada manusia dilaporkan pada tahun 1976, selama wabah di Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo). Wabah terjadi di Zaire bagian utara, di Desa Yambuku dekat Sungai Ebola, yang kemudian menjadi nama penyakit itu.

Ebola diduga dibawa oleh kelelawar, yang menginfeksi manusia melalui perdagangan daging hewan liar Afrika. Pemerintah Zaire mengkarantina wilayah tersebut di tengah kepanikan yang meningkat, dan wabah itu relatif cepat terkendali.

Tapi tingkat kematiannya sangat tinggi. Dari 318 orang yang dipastikan terinfeksi, 280 meninggal. Artinya, tingkat kematiannya 88%.

Selama beberapa dekade berikutnya, wabah Ebola sporadis kebanyakan terjadi di Afrika bagian selatan, sebagian besar di Republik Demokratik Kongo (RDK) dan negara tetangganya, Uganda. Setiap kali ratusan kasus dilaporkan. Tingkat kematian terburuk terjadi selama wabah di RDK pada tahun 2003, dengan 90%.

Namun, wabah Ebola terburuk sejauh ini terjadi pada 2013 dan 2014. Tidak terjadi di RDK yang tertutup hutan luas, kali ini wabah muncul di negara-negara Afrika Barat yang jauh lebih ramai.

Wabah itu ditelusuri berasal dari anak berusia satu tahun yang terinfeksi dan meninggal di Guinea. Dari Guinea, virus menyebar ke Liberia dan Sierra Leone, menjadi berita global saat itu.

Gwendolen Eamer bekerja untuk Federasi Internasional Palang Merah di Guinea dan Sierra Leone selama wabah itu, yang akhirnya menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Pelajaran yang didapat dari wabah sporadis itu sangat penting. "Banyak pelajaran tentang bagaimana Anda memperlakukan orang, bahwa ketersediaan perawatan suportif sangat penting, dan harus ada hidrasi untuk mengganti cairan yang hilang."

Penguburan pasien ebola

Wabah Ebola di Afrika Barat mengajarkan kita bahwa lembaga kesehatan harus peka terhadap praktik penguburan lokal. (Getty Images)

Eamer mengatakan bahwa sejak itu perawatan suportif dan vaksin yang dikembangkan untuk perlindungan terhadap Ebola telah membantu menumpulkan efeknya "tetapi bukan peluru perak".

Dia mengatakan kelompok-kelompok seperti Palang Merah harus belajar cara kerja yang baru. "Cara kami menangani komunitas-komunitas tadinya sangat atas ke bawah. Kami datang dan berkata 'kami punya keahlian yang Anda butuhkan'," kata Eamer.

Eamer mengatakan bahwa wawasan klinis dan medis sering kali tidak meyakinkan orang-orang yang terkena dampak wabah.

"Bagi kebanyakan orang, informasi seperti itu tidak ada artinya. Mereka ingin tahu 'apa yang harus saya lakukan untuk mengubah perilaku saya? Bagaimana saya membantu diri sendiri dan anak-anak saya?" Maka, para kelompok medis dan pemberi bantuan internasional harus terhubung pada komunitas.

Eamer mengatakan bahwa wabah Ebola menunjukkan pentingnya trinitas suci pencegahan pandemi: deteksi, isolasi dan pengobatan.

Yang paling penting dari semuanya adalah pelacakan kontak yang luas, apalagi di pemukiman padat penduduk di Afrika Barat.

"Langkah-langkah ini sangat baik dalam menangani Ebola," katanya.

"Kami melakukan pelacakan ganda dua lapis, yang melacak setiap orang yang berkontak dengan Anda, kemudian menghubungi semua yang kontak dengan dengan mereka."

Teknik ini tidak selalu membutuhkan teknologi yang mahal, tetapi membutuhkan banyak waktu wawancara dan tindak lanjut. "Ini 'sangat berat secara operasional' tetapi berfungsi," tambah Eamer.

Pengobatan klinis barat juga kadang-kadang terbentur dengan kebiasaan setempat, dan Eamer mengatakan bahwa agensi-agensi harus belajar fleksibel dalam hal ini.

Salah satu contoh kasusnya adalah pemakaman korban Ebola. Mengingat bahwa setelah meninggal mereka masih mungkin menularkan penyakit, jenazah harus dimasukkan dalam kantong mayat untuk menghindari kontaminasi.

Tetapi adat setempat mengharuskan wajah terlihat pada saat penguburan. Jika tidak, jiwa tidak bisa meninggalkan tubuh.

Di beberapa tempat, sudah menjadi kebiasaan bagi anggota keluarga yang berduka untuk menyentuh wajah kerabat mereka yang sudah meninggal.

"Jika anak Anda meninggal, bagaimana jiwa anak bisa masuk surga benar-benar penting bagi Anda sebagai orang tua," kata Eamer.

Seorang petugas kesehatan mengangkat pasien yang meninggal karena ebola dalam kantung mayat.

Wabah Ebola jauh lebih sulit untuk ditangani di Afrika Barat yang padat. (Getty Images)

Setelah berbicara dengan para pemimpin setempat, mereka menemukan solusi, yaitu melubangi kantong mayat di sekitar wajah, sesuai dengan praktik tradisional.

"Tidak sempurna, tetapi cukup baik," kata Eamer. "Ini soal mendengarkan. Kami diberi tahu apa yang penting untuk mereka dan bagaimana kami dapat beradaptasi dengan hal itu."

Dukungan yang baik dari komunitas lokal berdampak jauh hingga setelah wabah mereda. Badan-badan kesehatan menyadari bahwa infrastruktur lokal seperti tabib tradisional, tokoh masyarakat, petani dan petugas kesehatan, adalah alat yang sangat kuat untuk memastikan agar wabah lokal tidak menjadi epidemi.

"Komunitas tahu apa yang normal bagi mereka," kata dia. Salah satu faktor risiko yang sering jadi penanda kemungkinan wabah penyakit seperti antraks adalah kematian hewan massal.

"Orang komunitas Masai tahu bahwa tidak normal jika ada lima sapi mati dalam 24 jam."

Sistem peringatan dini komunitas benar-benar berfungsi: sistem ini mendeteksi kasus pertama Covid-19 di Somaliland beberapa pekan yang lalu.

Alexander Kumar, seorang dokter medis kesehatan global yang berbasis di King's College di London, juga menyaksikan wabah Ebola dari dekat. Dia bekerja di klinik perawatan di Sierra Leone selama wabah, dan melihat pasien meninggal di depannya.

"Seorang ahli Ebola 10 tahun yang lalu adalah seseorang yang telah melihat mungkin lima atau 10 kasus," katanya. "Saya tidak menyebut diri saya seorang ahli, tetapi di Afrika Barat, saya melihat ratusan kasus dalam seminggu."

Salah satu hal yang Kumar pelajari dari pengalamannya sendiri adalah bahwa di lapangan, Ebola jarang menimbulkan gejala paling serius: kehilangan darah.

"Orang-orang ini tidak berdarah dari mata atau hidung mereka. Gejalanya lebih seperti muntah dan diare. Tapi angka kematiannya sama."

Bekerja dengan mengenakan alat pelindung diri atau APD sangat penting untuk menjaga staf medis dari terjangkitnya penyakit itu sendiri. Tetapi dalam iklim tropis yang terik, pakaian rumit ini membuat pekerjaan mereka semakin sulit.

APD juga memiliki efek psikologis yang sangat besar pada mereka yang berusaha memberikan perawatan terakhir kepada pasien yang sekarat.

"Bekerja dengan mengenakan APD selama krisis Ebola itu, rasanya seperti menghilangkan sisi sentuhan manusia," kata Kumar.

"Sebagai mahasiswa kedokteran, kami diajarkan untuk meletakkan tangan di tubuh pasien ketika berbicara dengan mereka. Kami tidak bisa melakukan itu dengan cara yang sama ketika mengenakan APD."

Petugas kesehatan mengenakan APD.

Melacak orang yang terinfeksi dan dengan siapa mereka berkontak adalah bagian penting dari pencegahan pandemi. (Getty Images)

Perjuangan yang sama sedang disiarkan ke dalam ruang tamu kita setiap hari. Kita melihat rekaman perawat dan dokter yang mengenakan APD, mencoba untuk menjaga agar pasien Covid-19 tetap hidup, ditutupi dengan alat pelindung yang makin menyulitkan koneksi manusia.

Kumar mengatakan bahwa wabah Ebola dapat dengan mudah memburuk, tetapi itu tidak terjadi karena ada "kemauan politik, perhatian media dan inovasi dan penelitian, yang muncul dengan vaksin dan perawatan. Jika Ebola muncul kembali, kita akan bisa menghancurkannya."

Setiap pandemi adalah ruang kelas; setiap wabah mengajarkan pelajaran baru. Pandemi virus corona saat ini adalah kesempatan pertama bagi lembaga kesehatan untuk mempelajari bagaimana seluruh negara beradaptasi dengan isolasi yang diperpanjang.

"Saya menghabiskan sembilan bulan dalam isolasi di Antartika, dan itu adalah hal terbaik dan hal terburuk yang saya lakukan," kata Kumar.

Setelah wabah virus corona awal bisa terbendung, tantangan baru mungkin terkait efek setelah isolasi, yang akan berlanjut lama setelah pandemi membunuh korban terakhirnya.

Artikel ini sebelumnya telah dimuat di BBC Future dengan judul How disease outbreaks are contained.

(ita/ita)