Kisah Ilmuwan Bertahan Tanpa Sinar Matahari 100 Hari Lebih di Kutub Utara

BBC Magazine - detikNews
Kamis, 16 Apr 2020 15:37 WIB
Peneliti seperti Vishnu Nandan sangat tergantung dengan cahaya lampu selama bekerja di Kutub Utara yang sedang musim dingin. (Lars Barthel)
Jakarta -

Untuk mencegah penyebaran virus corona, orang-orang di seluruh dunia diminta untuk tetap tinggal di dalam rumah.

Bagi mereka yang memiliki penyakit dasar bahkan disarankan untuk tidak meninggalkan rumah selama 12 pekan. Tidak mendapatkan cahaya matahari selama tiga bulan adalah bayangan yang sangat menakutkan bagi mereka.

Tapi setiap tahun, ratusan ilmuwan menuju ke Arktika (Kutub Utara) dan Antarktika (Kutub Selatan) selama musim dingin yang keras untuk melakukan berbagai eksperimen lapangan - dan mereka hidup tanpa cahaya siang matahari selama berbulan-bulan.

Bagaimana cara mereka mengatasinya?

"Saat hari-hari pertama, saya merindukan matahari dan sulit menyesuaikan diri. Tapi saya kemudian beradaptasi dan hampir 'kecanduan' pada kegelapan," kata Wisnu Nandan kepada BBC.

Nandan adalah ilmuwan penginderaan jauh, yang bekerja sebagai peneliti pasca-doktoral di Pusat Ilmu Observasi Bumi (CEOS) Universitas Manitoba, di Kanada.

Dia adalah satu-satunya orang India dalam ekspedisi penelitian iklim Arktik terbesar yang pernah dilakukan, yang dikenal sebagai MOSAiC.

Vishnu Nandan bersama dengan rekan peneliti.Nandan dan timnya berjalan ke laboratorium lapangan untuk melakukan penelitian. (Steffen Graupner)

Sekitar 60 ilmuwan dari berbagai negara tergabung dalam penelitian ini. Mereka tinggal di kapal penelitian pemecah es RV Polarstern Jerman.

Jam biologis

Sesampainya di wilayah Kutub Utara, para anggota ekspedisi kemudian melakukan penyesuaian jam tangan mereka dengan waktu Moskow.

Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu - dan tubuh mereka segera memberontak.

"Jam biologis saya tidak stabil. Beberapa hari saya tidak bangun untuk sarapan. Kadang-kadang saya tidur sangat pagi dan di lain waktu sangat larut malam," kata Nandan kepada BBC, beberapa hari usai melakukan tugas selama 127 hari di Kutub Utara.

Selama 7 tahun karirnya dalam penelitian kriosfer (cryosphere) - studi tentang bagian air beku di sistem Bumi, ia telah mengunjungi Kutub Utara dan Antartika sekitar 15 kali.

Nandan mengendarai skuter saljuPeneliti menggunakan skuter salju untuk memindahkan peralatan penelitian. (Julienne Stroeve)

"Anda tidak melihat matahari terbit dan terbenam. Beberapa hari saya bangun sangat lelah," kata ilmuwan.

"Ketika Anda melihat keluar, masih gelap dan tubuhmu tidak membiarkan kamu bangun."

Tidur dan kesehatan

Selain menyediakan vitamin D yang esensial bagi tubuh, sinar matahari juga berfungsi untuk membangkitkan suasana hati.

Namun, tanpa batas yang jelas antara siang dan malam, ritme alami tubuh Anda akan berubah.

Ketidakseimbangan dalam pola tidur dapat membuat Anda merasa lelah dan mudah tersinggung.

Bayangkan jika berlangsung selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, dampak yang muncul akan sangat buruk bagi kesehatan.

Selama musim dingin, dari awal Oktober hingga akhir Maret, Kutub Utara diliputi kegelapan.

"Meskipun saya seperti kecoak (tidak banyak tidur), kurang tidur akan membuat saya kelelahan. Kadang-kadang sulit untuk memotivasi diri sendiri jika saya harus bekerja di sore hari."

Di luar, itu "sangat dingin dan berangin" - sekitar minus 55C.

Kapal Polarstern memiliki tiga lampu besar dan jangka yang besar.Kapal laut pemecah es dari Jerman ini dilengkapi dengan laboratorium yang canggih. (Steffen Graupner)

Meskipun berpengalaman dengan kehidupan di kutub, Nandan juga mengalami kesulitan beradaptasi, bukan hanya terhadap malam, tapi juga saat kutub mendapatkan sinar matahari yang konstan selama musim panas.

"Ketika Anda memiliki 24 jam sinar matahari Anda akan memiliki banyak energi di pagi hari tetapi di malam hari Anda akan jatuh menabrak. Jika saya bangun di tengah malam, saya tidak akan bisa kembali tidur. "

Sangat waspada

Polarstern, lab penelitian terapung yang penuh dengan instrumen canggih yang menampung para ilmuwan MOSAiC, memecahkan rekor: pada 23 Februari karena dapat berlayar hingga berjarak 156 km dari titik geografis Kutub Utara atau titik pusat di Kutub Utara.

"Belum pernah ada kapal mencapai Utara sejauh ini selama musim dingin Kutub Utara yang keras," kata Nandan, yang menggunakan satelit radar dan sensor radar berbasis permukaan untuk mengukur ketebalan es laut.

Es laut adalah satu-satunya rumah bagi pemangsa daratan terbesar di dunia - beruang kutub.

"Kami memiliki satu situasi di mana beruang datang ke situs kami dan bermain dengan salah satu instrumen".

Beruang kutub sedang memeriksa alat penelitian.Kutub Utara adalah rumah bagi predator terbesar di darat, beruang kutub. Dan tingkat kewaspadaan meningkat ketika ada bahaya, kata Nandan. (University of Bremen /Marcus Huntemann)

Agar tetap aman, mereka memiliki orang yang bertugas mengawasi beruang yang dilengkapi senapan.

Nandan mengatakan lingkungan yang bermusuhan meningkatkan tingkat siaga.

"Ketika Anda berada dalam 24 jam kegelapan, Anda akan menjadi lebih sadar", kata sang ilmuwan.

Itu juga membantunya untuk memiliki rutinitas harian di atas kapal, yang hampir tidak berubah.

Setelah sarapan (yang sering dia lewatkan karena kurang nafsu makan), timnya akan turun untuk bekerja di laboratorium lapangan, tempat instrumen-instrumen itu digunakan.

Mereka akan kembali ke kapal untuk makan siang, dan kemudian melanjutkan empat jam kerja lapangan.

Waktu istirahat

"Anda kehilangan banyak energi ketika berada di es karena tubuh Anda terus membakar kalori. Saya kehilangan 10 kg selama empat bulan".

Dapur di atas kapal menjadi tempat bagi mereka untuk mengisi waktu istirahat, yaitu dengan cara memasak. Nandan membuat sayur briyani dan kari bayam, dan juga memanggang ayam dan ikan tandoori untuk seluruh tim.

Peneliti berkumpul mengelilingi api unggun. Kapal Polarstern terlihat di belakang.Peneliti merayakan Natal dan tahun baru dengan api unggun. (Lukas Piotrowski)

Hiburan juga merupakan kunci untuk membuat mereka tetap fokus. Mereka mengadakan malam bar tiga kali seminggu dan bermain game selama waktu istirahat.

Tim juga merayakan acara-acara khusus, seperti Natal dan Tahun Baru, dan juga merayakan ulang tahun Nandan.

Namun, hidup dalam isolasi menimbulkan korban.

"Menjelang akhir Februari, banyak yang kelelahan karena jadwal yang sangat padat."

Dari kutub menuju 'lockdown'

Nandan melihat sinar matahari untuk pertama kalinya lagi ketika mereka berlayar menjauhi Kutub Utara.

Peneliti berkumpul mengelilingi api unggun.Lukas PiotrowskiMenghabiskan waktu istirahat dengan membuat api unggun.

"Aku tidak membenci kegelapan. Itu adalah cara hidup bagi kebanyakan dari kami di atas kapal."

Ketika dia kembali ke Calgary, Kanada, dia menemukan sebuah dunia yang terkunci, 'lockdown' akibat wabah virus corona. Seperti semua orang yang memasuki Kanada, ia diminta untuk menyendiri.

Terbiasa hidup dalam kondisi ekstrem di kutub membuatnya mudah mengikuti banyaknya aturan karantina.

"Agar fisik tetap sehat, kamu tidak perlu pergi ke gym. Kamu bisa berolahraga di rumah, ada banyak video bagus yang tersedia di situs streaming."

Di beberapa negara, orang-orang diizinkan keluar untuk berolahraga sekali sehari saat 'lockdown'. Tetapi mereka yang tidak bisa keluar harus menyibukkan diri, kata sang ilmuwan.

"Terlibat dalam beberapa kegiatan di rumah," sarannya. "Ini adalah satu-satunya waktu dalam hidup kita di mana kita semua menjadi kurang sibuk, jadi manfaatkan waktu luang itu."

Dia mengatakan orang harus belajar cepat untuk bertahan hidup dalam keadaan sulit ini.

"Ini seperti hidup yang sulit. Hampir seperti Armageddon."

(ita/ita)