Derita Pasien Cuci Darah di Tengah Pandemi Virus Corona

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 12:50 WIB
Jakarta -

Sekitar 200.000 pasien gagal ginjal terancam meninggal di tengah wabah virus corona yang melanda Indonesia, ungkap Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) serta ahli epidemiologi dan biostatistik.

Daya tubuh yang rendah membuat risiko kematian mereka meningkatkan tajam ketika mereka terkena virus corona.

Selain itu, prosedur kesehatan "yang ruwet" menyebabkan pasien terlantar untuk melakukan cuci darah di tengah pergeseran kekuatan medis yang fokus mengatasi wabah virus corona.

Pemerintah mengakui adanya modifikasi protokol kesehatan dan berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan semua layanan kesehatan bagi pasien kronis termasuk pasien gagal ginjal.

Pasien cuci darah: Mau cuci darah malah diisolasi

Dela Yusmarna adalah pasien gagal ginjal kronis (CKD), hipertensi resistant, autoimmune anemia hemolytic (AIHA) atau kelainan sel darah merah, dan penyempitan batang otak.

Dela bercerita kondisi tubuhnya sangat lemah dan rapuh. Sedikit debu saja bisa membuat tubuhnya demam, sesak nafas, dan batuk.

Sehingga menjadi hal yang wajar bagi dia menjalani cuci darah atau hemodialisa (HD) dengan kondisi demam dan sesak nafas.

Tapi situasi berat dialami oleh Dela pada Senin pagi (30/03) lalu saat menghadiri jadwal rutin cuci darah di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Pusat.

Saat itu kondisi dia demam dan sesak nafas akibat dari cairan yang menumpuk.

Ketika tiba di depan pintu masuk, Dela ditolak masuk, jadwal cuci darahnya pun batal padahal kondisi badannya saat itu sudah sangat sakit.

Dela pun dirujuk ke rumah sakit rujukan, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto.

Sesampainya di RSPAD, Dela masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Ia menjalani isolasi 13 jam di sana. Bagaimana dengan cuci darahnya? Tidak juga dilakukan.

Pasien sedang menjalani cuci darah.

Pasien sedang menjalani cuci darah. (Getty Images)

Lalu Dela menjalani dua kali rapid test dan tidak mengetahui hasilnya. Namun ia tidak boleh pulang dan kembali masuk untuk menginap sehari di sana IGD.

Esok paginya, Dela masuk ke kamar mandi yang digunakan sebagai disinfektan chamber, lalu dimasukan dua pasien positif corona dalam ruangan itu.

"Badan saya sakit, saya ketakutan, tidak ada suami saya, dikasih nasi kotak sekali, lalu digabung sama pasien corona. Saya minta pulang. Dokter bilang oke pulang setelah dikasih obat infus untuk tensi dan tes swab. Kemudian jam 10 malam baru boleh pulang. Artinya dua hari saya di IGD," kata Dela.

Banner koronavirus atasBBC

Dela yang memiliki jadwal cuci darah tiga kali seminggu itu mengatakan, hasil tesnya menunjukkan negatif virus corona.

"Kenapa sih rumah sakit tempat saya biasa HD harus menolak? Dan kenapa di RSPAD saya tidak dicuci darah berbarengan dengan tes Covid? Kenapa semua terasa sulit dan rumit? Saya itu sakit komplikasi. Saya butuh cuci darah, kalau tidak saya bisa mati."

"Harusnya mereka itu menyediakan fasilitas cuci darah, mau saya positif atau negatif, jangan dilempar-lempar, ditelantarkan. Dan pasien cuci darah itu wajar demam, sesak nafas dan batuk, jadi jangan ditolak tapi dirawat.

"Seminggu kemarin itu, dari jadwal saya tiga kali cuci darah per pekan, jadi hanya sekali. Saya tidak tahu apakah akan terus begini dan tubuh saya tetap kuat? Saya cuma bisa berdoa," katanya.

Pasien cuci darah: Ditolak berkali-kali

Manusia memiliki dua ginjal tetapi hanya memerlukan satu buah saja, sehingga donasi dimungkinkan.

Manusia memiliki dua ginjal tetapi hanya memerlukan satu buah saja, sehingga donasi dimungkinkan. (Getty Images)

Ia meminta kepada pemerintah untuk juga memperhatikan pasien-pasien penyakit kronis di tengah pandemi virus corona karena nyawa mereka juga berada di ujung tanduk.

Pengalaman yang sama juga dialami P, pasien gagal ginjal dan pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 karena suaminya meninggal dunia akibat virus corona.

Cerita itu diunggah keponakan P bernama Dita melalui media sosial. Menurut Dita, P ditolak cuci darah di dua rumah sakit dan kemudian dirujuk ke RSPAD.

Sesampai di RSPAD, P tetap tidak bisa cuci darah karena tidak ada fasilitas cuci darah bagi pasien dalam pengawasan.

Akhirnya ia mendapatkan HD dan diisolasi di rumah sakit keempat, RS Fatmawati.

"Yang aku bingung ini. Tanteku posisinya sudah sendirian. Tanteku nggak punya anak dan suaminya baru aja meninggal. Kondisinya gagal ginjal kronis tapi masih harus bolak balik RS sana sini dan nggak diisolasi di RS (posisi badan udah bengkak semua)," ucap Dita seperti dikutip dari Detik.com.

Pengalaman yang sama juga diungkapkan Suhantono, seperti yang diungkapkan istrinya bernama Nurasiah.

Nurasiah menjelaskan bahwa suaminya ditolak menjalani cuci darah di rumah sakit biasa dia melakukannya karena diketahui suhu tubuh di atas 37 derajat Celsius.

Setelah ditolak RS tersebut, Suhantono dirujuk ke sebuah rumah sakit di Jakarta.

Bukannya segera di HD, kata Nurasiah, suaminya malah menjalani pengecekan virus corona dan diisolasi hingga hasilnya keluar.

"Saya tidak membayangkan beratnya penderitaan suami saya tanpa cuci darah menunggu hasil tes keluar berhari-hari, suami saya sedang dibunuh pelan-pelan," kata Nurasiah.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi dari RSPAD, Jonny, menjelaskan alasan RSPAD dituding "menolak" pasien cuci darah.

"Ada pasien yang viral di medsos yang datang ke tempat saya RSPAD dan merasa ditolak. Harusnya dokter yang merujuk komunikasi dengan kita, ada tidak tempatnya, mengapa dirujuk. Lah ini, pasien disuruh berangkat dan cari sendiri, tanpa ada komunikasi dulu."

"Karena yang dipegang pasien itu hanya tulisan CKD ON HD, padahal harus dijelaskan apa yang menyebabkan pasien ini harus dirujuk dan komunikasi dengan kami. Akhirnya kalau seperti itu disuruh balik lagi ke tempat semula, kasihan pasiennya," ujarnya.

Jonny menjelaskan, rumah sakit tidak boleh membiarkan pasien mencari-cari sendiri RS rujukan atau disebut dirujuk lepas.

"Rujuk lepas itu artinya pokoknya tidak boleh HD di sini, silahkan cari tempat sendiri. Salah itu, merujuk itu harus jelas kemana rujukannya, dan sudah dipastikan ada tempat di RS rujukan sehingga antar dokter harus komunikasi lebih dulu," ujarnya.

PERNEFRI: Pasien harus mendapatkan cuci darah di RS masing-masing

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) telah mengeluarkan buku panduan agar diterapkan di seluruh rumah sakit di Indonesia bahwa pasien cuci darah harus mendapatkan hemodialisa di tempat biasa mereka cuci darah.

"Kita harus meng-HD pasien di tempat masing-masing. Kalau biasa di RSPAD maka wajib di sana. Kalaupun mau dikirim ke tempat lain, saya sebagai dokter ginjal di RSPAD harus komunikasi dengan dokter ginjal di tempat tujuan untuk memberitahu alasan dirujuk, dan ketersediaan tempat di RS rujukan," kata Jonny yang juga pengurus PERNEFRI.

Gejala virus corona.

Gejala virus corona. (BBC)

Pedoman tersebut, kata Jonny, telah dikeluarkan beberapa hari lalu dan diharapakan seluruh rumah sakit untuk menjalankannya.

Mengapa pedoman itu dibuat?

Jonny menjelaskan karena pasien cuci darah memiliki daya tahan tubuh rendah, tiap rumah sakit sudah memiliki ketersediaan alat pelindung diri yang cukup, dan mencegah penumpukan pasien cuci darah di rumah sakit rujukan.

"Dengan perbaikan melalui panduan dari PERNEFRI, APD lebih siap, pemeriksaan Covid-19 lebih cepat, harusnya tidak ada lagi hal-hal seperti itu. Tiap RS harus meng-HD pasiennya. Jika dicurigai terinfeksi Covid, petugas menggunakan APD lengkah, ditempatkan di tempat khusus, dan tidak boleh ditolak, dirujuk-rujuk," kata Jonny.

Penanganan khusus bagi pasien cuci darah

Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Samosir, meminta pemerintah memberikan perlakukan khusus bagi pasien yang menderita penyakit kronis yang membutuhkan perlakukan khusus, seperti pasien cuci darah.

Hal itu disebabkan karena protokol kesehatan pengecekan corona "ruwet dan berliku" untuk dapat dijalani oleh pasien cuci darah yang membutuhkan pelayanan cepat.

"Kalau pasien cuci darah badannya demam, lalu mengikuti prosedur swab dan hasilnya baru tujuh hari kemudian. Mending pasien dibunuh saja... Ada 200.000 pasien cuci darah di Indonesia, hancur kita kalau seperti itu," kata Tony.

Penanganan khusus apa yang dibutuhkan pasien cuci darah? Tony menjelaskan para pasien harus menjalani cuci darah sambil menunggu hasil tes keluar jika dicurigai menderita Covid-19.

"Pemerintah harus menyiapkan tempat khusus bagi pasien untuk cuci darah di setiap rumah sakit atau jadikan Wisma Atlet sebagai rujukan cuci darah. Tidak boleh berhenti. Kalau tidak maka akan jatuh banyak korban. Ada 200 ribu pasien loh, 100 ribu saja yang mati, Indonesia nomor satu nanti," katanya.

'Fasilitas kesehatan terbatas'

Sejumlah petugas Palang Merah Indonesia menmyemprotkan cairan disinfektan ke sejumlah sekolah di Jakarta, pada Senin (16/03).

Sejumlah petugas Palang Merah Indonesia menyemprotkan cairan disinfektan ke sejumlah sekolah di Jakarta, pada Senin (16/03). (EPA)

Selain prosedur kesehatan yang berliku, Ahli epidemilogi dan biostatistik dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengungkapkan ancaman kematian bagi pasien cuci darah meningkat tajam di tengah wabah virus corona disebabkan juga oleh terbatasnya kapasitas layanan kesehatan.

"Kita tidak menyiapkan APD, tenaga kesehatan terbatas, peralatan kesehatan terbatas, ruangan terbatas dan banyak orang gejala Covid harus dilayani. Itu membuat orang dengan penyakit kronis yang harus dilayani dengan optimal jadi terlantar," katanya.

Akibatnya, pasien penyakit kronis, bukan hanya gagal ginjal tapi juga penyakit diabetes melitus, jantung, kanker akan rawan meninggal akibat terlantar.

"Saya belum pernah mendengar presiden atau menteri kesehatan mengunjungi orang-orang yang dirawat, mengunjungi IGD, lihat dong supaya tahu bagaimana kondisi sebenarnya. Ini yang dikunjungi RS belum jadi, Wisma Atlet belum ada orang sakitnya. Coba kunjungi dan pakai masker," kata Pandu.

'Kami bekerja sekuat tenaga'

Mengapa pasien cuci darah yang demam perlu menjalani tes Covid-19 terlebih dahulu?

Menurut Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sriprahastuti, di tengah wabah virus corona, pengukuran suhu menjadi protokol utama untuk penapisan atau screening kesehatan.

Suhu tubuh merupakan salah satu gejala bagi pasien yang terinfeksi virus corona.

"Jadi layanan kesehatan tidak dihentikan, hanya ada protokol yang berubah, tidak hanya untuk pasien gagal ginjal memerlukan HD, hampir semua layanan kesehatan itu memerlukan modifikasi protokol karena ada ancaman pandemi Covid-19 untuk kepentingan pasien maupun petugas," katanya.

Brian meminta para pasien yang mempunyai penyakit dasar dan merasa terabaikan untuk mengerti dengan modifikasi protokol demi memastikan keselamatan untuk semua pihak.

"Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan layanan kesehatan yang dibutuhkan bagi saudara kita, terutama gagal ginjal dan memerlukan hemodialisis tetap diberikan."

"Mungkin masih ada kekurangan di sana-sini karena ada beberapa hal yang harus dimodifikasi. Prioritasnya sedikit tersingkirkan karena ada ancaman lain yang sedikit lebih prioritas. Tetapi kami pastikan kami berusaha keras untuk bisa memastikan bahwa akses terhadap layanan hemodialisa itu masih bisa diakses oleh yang membutuhkan," kata Brian.

Imbauan WHO agar mengurangi resiko terpapar virus corona.

Imbauan WHO agar mengurangi resiko terpapar virus corona. (BBC)

Berdasarkan data dari Indonesian Renal Registry pada tahun 2018, jumlah pasien cuci darah di Indonesia sebesar 198.575 pasien dengan jumlah tindakan HD sebanyak 2.754.409 kali.

Jumlah itu meningkat dari tahun 2017 sebesar 108.723 pasien.

(ita/ita)