Berapa Lama Virus Corona Bisa Bertahan pada Permukaan?

BBC Karangan Khas - detikNews
Kamis, 26 Mar 2020 18:04 WIB
Jakarta -

Seiring penyakit Covid-19 menyebar, begitu pula rasa takut kita pada permukaan. Telah muncul pemandangan yang akrab di tempat-tempat umum di seluruh dunia orang-orang berusaha membuka pintu dengan siku, para penumpang tidak mau menyentuh pegangan di dalam gerbong kereta api, pekerja kantoran menggosok meja mereka setiap pagi.

Di daerah-daerah yang paling parah terdampak virus corona, tim petugas yang mengenakan alat pelindung diri telah dikirim untuk menyemprotkan desinfektan di plaza, taman, dan jalan-jalan umum.

Kegiatan bersih-bersih di kantor, rumah sakit, toko dan restoran telah digalakkan. Di beberapa kota, para sukarelawan yang baik bahkan keluar di malam hari untuk membersihkan keypad mesin ATM.

Seperti banyak virus pernapasan lainnya, termasuk flu, Covid-19 dapat menyebar dalam butiran air atau droplet yang keluar dari hidung dan mulut orang yang terinfeksi saat batuk.

Satu batuk bisa menghasilkan hingga 3.000 droplet. Partikel-partikel ini dapat mendarat pada orang lain atau pakaian dan permukaan di sekitar mereka, namun beberapa partikel yang lebih kecil dapat tetap berada di udara.

Ada juga beberapa bukti bahwa virus ini diam lebih lama dalam materi tinja, sehingga siapa saja yang tidak mencuci tangan dengan baik setelah dari toilet bisa mengontaminasi apa pun yang mereka sentuh.

corona

EPA

Perlu dicatat bahwa, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), menyentuh permukaan atau objek dengan virus dan kemudian menyentuh wajah sendiri "tidak dianggap sebagai cara utama penyebaran virus".

Meski begitu, CDC, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan otoritas kesehatan lainnya, menekankan bahwa mencuci tangan dan membersihkan serta menyemprot disinfektan pada permukaan yang sering disentuh setiap hari adalah kunci dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Jadi, meskipun kita masih belum tahu persis berapa banyak kasus yang disebabkan langsung oleh permukaan yang terkontaminasi, para ahli menyarankan untuk berhati-hati.

Salah satu aspek yang belum jelas adalah berapa lama SARS-CoV-2, nama virus yang menyebabkan penyakit Covid-19, dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia.

Beberapa studi tentang virus corona jenis lain, termasuk Sars dan Mers, menemukan bahwa mereka dapat bertahan hidup pada logam, kaca, dan plastik selama sembilan hari, kecuali mereka didesinfeksi dengan benar. Beberapa jenis virus bahkan dapat bertahan hingga 28 hari di suhu rendah.

Virus corona dikenal sangat tangguh dalam hal tempat mereka dapat bertahan hidup. Dan para peneliti sekarang mulai lebih memahami tentang pengaruh sifat ini terhadap penyebaran virus corona baru.

Neeltje van Doremalen, seorang pakar virologi di US National Institutes of Health (NIH), dan rekan-rekannya di Rocky Mountain Laboratories di Hamilton, Montana, adalah salah satu tim peneliti pertama yang melakukan tes tentang kemampuan SARS-CoV-2 bertahan hidup di berbagai permukaan.

Studi mereka, yang telah diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, menunjukkan bahwa virus tersebut dapat bertahan dalam droplet hingga tiga jam setelah terlepas ke udara.

Droplet halus berukuran antara 1-5 mikrometer - sekitar 30 kali lebih kecil dari lebar rambut manusia - bisa tetap mengudara selama beberapa jam di udara yang tenang.

Ini berarti bahwa virus yang bersirkulasi dalam sistem pendingin udara tanpa filter hanya akan bertahan paling lama selama dua jam, terutama karena tetesan aerosol cenderung mengendap pada permukaan lebih cepat dalam udara yang berpolusi.

Tapi studi NIH menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 bertahan lebih lama di atas permukaan kardus - hingga 24 jam - dan hingga 2-3 hari di permukaan plastik dan stainless steel.

Berdasarkan temuan tersebut, para ilmuwan menduga virus bertahan lama di gagang pintu, meja dapur yang dilaminasi atau dilapisi plastik, dan permukaan keras lainnya. Namun, para peneliti mendapati bahwa virus cenderung mati dalam waktu sekitar empat jam di permukaan tembaga.

Tetapi ada pilihan yang lebih cepat: penelitian menunjukkan bahwa virus korona dapat dinonaktifkan hanya dalam satu menit dengan mendesinfeksi permukaan dengan alkohol 62-71 persen, atau cairan pemutih yang mengandung hidrogen peroksida 0,5 persen atau cairan pemutih rumah tangga yang mengandung 0,1 persen natrium hipoklorit.

Seorang petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri menyemprotkan disinfektan pada lantai sebuah gedung.

Getty Images

Suhu dan kelembaban yang lebih tinggi juga cenderung menyebabkan virus corona lain mati lebih cepat, meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa kerabat virus corona lain yang menyebabkan Sars bisa mati oleh suhu di atas 56 C (cukup panas untuk mencederai kulit) dengan laju sekitar 10.000 partikel virus setiap 15 menit.

Meskipun tidak ada data tentang berapa banyak partikel virus dalam satu droplet yang keluar dalam sekali batuk, penelitian tentang virus flu menunjukkan bahwa tetesan yang lebih kecil dapat mengandung puluhan ribu salinan virus influenza.

Namun jumlah ini dapat bervariasi tergantung pada jenis virus itu sendiri, tempat ia ditemukan dalam saluran pernapasan, dan tahapan infeksi orang yang batuk tersebut.

Pada pakaian dan permukaan lain yang lebih sulit didesinfeksi, belum jelas berapa lama virus bisa bertahan.

Sifat penyerap serat alami dalam karton, bagaimanapun, dapat menyebabkan virus mengering lebih cepat daripada pada plastik dan logam, menurut Vincent Munster, kepala bagian ekologi virus di Rocky Mountain Laboratories dan salah satu dari peneliti yang memimpin studi NIH.

"Kami berspekulasi bahwa karena bahannya berpori, si virus cepat kering dan mungkin menempel pada serat," ujarnya.

Virus penyebab Covid-19 diduga bisa bertahan lebih lama pada permukaan keras dibandingkan pada bahan-bahan seperti kardus.

Virus penyebab Covid-19 diduga bisa bertahan lebih lama pada permukaan keras dibandingkan pada bahan-bahan seperti kardus. (Getty Images)

Perubahan suhu dan kelembaban juga dapat mempengaruhi berapa lama virus dapat bertahan, dan karenanya bisa menjelaskan mengapa ia kurang stabil dalam droplet yang mengambang di udara, karena mereka lebih terekspos.

"[Kami] sedang menjalankan percobaan tindak lanjut untuk menyelidiki efek suhu dan kelembaban secara lebih rinci."

Kemampuan virus untuk bertahan lama hanya menekankan pentingnya mencuci tangan dan membersihkan permukaan, menurut Munster.

"Ada potensi virus ini ditularkan melalui berbagai rute," katanya.

(ita/ita)