Korsel Laporkan Kasus Baru Corona Terendah, Tapi Waspada Gelombang Baru

BBC World - detikNews
Selasa, 24 Mar 2020 11:00 WIB
Seoul -

Korea Selatan melaporkan jumlah kasus baru virus corona terendah sejak terjadi lonjakan kasus empat pekan lalu.

Tercatat ada 64 kasus Covid-19 baru dalam waktu 24 jam terakhir, dengan total kasus sebanyak 8.961 dan 111 korban jiwa. Hal ini menimbulkan harapan bahwa wabah terburuk di luar China mereda.

Namun para pejabat kesehatan memperingatkan untuk jangan berpuas diri, karena negara itu masih menghadapi perang panjang melawan virus corona.

Apa yang berbeda dari pendekatan Korea Selatan?

Hampir 20.000 orang diuji virus corona setiap hari di Korea Selatan, jumlah per kapita terbanyak dibandingkan negara-negara lain di seluruh dunia.

Negara ini telah menciptakan jaringan laboratorium publik dan swasta, serta menyediakan puluhan pusat pemeriksaan sehingga orang-orang dengan gejala Covid-19 dapat memeriksa status kesehatan mereka.

Korea Selatan mengembangkan pendekatan ini sejak wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2015. Saat itu, 36 orang meninggal di Korea Selatan, yang membuat negara itu sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua setelah Arab Saudi.

MERS memaksa negara itu untuk mereka ulang pendekatannya terhadap penyakit menular dan pusat pengendalian penyakit di negara itu membentuk departemen khusus guna mengantisipasi wabah terburuk, sebuah langkah yang tampaknya telah membuahkan hasil.

Local residents spray disinfectant in their neighbourhood as a precaution against the coronavirus outbreak, in Seoul, South Korea, 23 March 2020

Petugas di Korea Selatan sedang memberi disinfektan di lingkungannya (EPA)

Undang-undang tentang pengelolaan dan berbagi informasi secara publik tentang pasien dengan penyakit menular berubah secara signifikan setelah MERS dan dapat terlihat tahun ini ketika pemerintah menggunakan peringatan telepon untuk memberi tahu orang-orang jika mereka berada di sekitar seorang pasien.

Akhir pekan ini, pemerintah meningkatkan tindakan pencegahan dengan mengirimkan peringatan darurat yang mendesak orang-orang untuk menjauh dari tempat-tempat yang memungkinkan pertemuan massa, seperti gereja, ruang karaoke, klub malam dan pusat kebugaran.

Mereka juga meminta para pemuka agama untuk memeriksa suhu para jemaahnya dan menjaga jarak mereka setidaknya dua meter dalam tiap peribadatan yang mereka anggap perlu.

Sejumlah gereja kini menghadapi tindakan hukum setelah melanggar kebijakan itu.

Mengapa Korea Selatan mewaspadai gelombang baru?

Negara itu telah mengalami dua gelombang infeksi, lapor kantor berita Yonhap. Gelombang pertama terjadi pada 20 Januari ketika kasus pertama terjadi, sementara gelombang kedua terjadi ketika infeksi massal terjadi di antara kelompok agama.

Sekarang ada kekhawatiran bahwa kasus-kasus yang diimpor dapat memicu gelombang ketiga.

Pemerintah berencana untuk memasang 20 fasilitas pengujian di Bandara Incheon untuk mempercepat proses pengujian semua orang-orang yang datang dari Eropa.

Prosedur baru ini dimulai pada Minggu (22/03). Sejauh ini, 152 orang yang tiba di negara itu menunjukkan gejala-gejala virus corona dan mereka tengah menunggu hasil tes mereka.

Passengers from London load their baggage on a bus after undergoing COVID-19 tests at a hotel near Incheon International Airport, in Incheon, South Korea, 23 March 2020, to be bussed to a facility for their two-week isolation.

Penumpang yang tiba di Incheon dari London sedang dikarantina selama dua minggu (EPA)Analysis box by Laura Bicker, Seoul correspondent

BBC

Korea Selatan berada di titik kritis. Penggunaan teknologi yang agresif untuk melacak virus dan pengujian massal terhadap semua orang yang pernah berhubungan dengan virus ini tampaknya merupakan strategi yang berhasil, namun pertanyaan yang diajukan oleh para dokter di seluruh negeri kepada diri mereka sendiri adalah - apa yang akan terjadi selanjutnya?

Korsel bertujuan membuka kembali sekolah dalam waktu dua minggu. Itulah sebabnya pemerintah mengirimkan pesan yang meminta penduduk untuk menjaga jarak sosial selama 15 hari ke depan guna menghindari lonjakan infeksi.

Musim semi telah tiba dan orang-orang ingin bersenang-senang. Semangat solidaritas bahwa ini adalah sebuah pertempuran yang harus dimenangkan bersama, perlahan hancur.

Pejabat kesehatan berharap peringatan bahwa ini adalah perang yang berkepanjangan akan mendorong orang-orang untuk tak kehilangan kendali dan menjauh dari kerumunan massal.

Sementara itu, para dokter sedang mendiskusikan langkah selanjutnya yang mungkin dilakukan.

Pendekatan penelusuran kontak, pengujian, dan perawatan akan terus berlanjut. Namun, hal lain juga perlu dipikirkan. Misalnya, apa yang terjadi jika ruang kelas terinfeksi? Apakah mereka akan mengisolasi seluruh sekolah? Menutup sekolah lagi? Kehidupan normal terus terganggu?

Dalam sebuah konferensi pers, Komisi Medis Nasional, Oh Myoung-don, berkata kepada para wartawan bahwa kemungkinan akan ada lonjakan kasus lagi jika sekolah-sekolah dibuka.

Dia juga khawatir tentang kemungkinan gelombang baru virus pada musim dingin mendatang.

Dia mengungkapkan kemungkinan bahwa mungkin sudah waktunya untuk membiarkan sebagian penduduk jatuh sakit. Teori "kekebalan massa". Dia mengakui risikonya tetapi juga percaya sekarang adalah waktunya untuk melakukan percakapan ini dan memperingatkan publik.

Paradoks keberhasilan Korea Selatan adalah bahwa setelah bekerja keras untuk menurunkan tingkat infeksi, tenaga medis mereka harus terus bekerja.

Ini seperti mendaki gunung yang curam tanpa mengetahui seberapa tinggi puncaknya atau hambatan apa yang menghalangi.

Situasi yang mengerikan di Eropa juga membuat banyak orang cemas jika mereka menyerah sedikit saja, itu juga bisa menjadi takdir mereka.

Apa yang terjadi di belahan bumi lain?

  • Italia melarang orang bepergian di luar area tempat tinggal mereka, bahkan untuk kembali ke tempat asal mereka, kecuali untuk pekerjaan yang mendesak atau alasan kesehatan
  • Pesawat militer Rusia mulai mengirimkan ventilator, peralatan desinfeksi, dan tim medis yang sangat dibutuhkan ke Italia, yang memiliki angka kematian tertinggi di dunia.

https://twitter.com/luigidimaio/status/1241860171443339264

  • Arab Saudi menerapkan jam malam selama 21 hari, dengan pengecualian bagi pekerja kunci
  • Uni Emirat Arab, rumah bagi maskapai besar Emirates dan Etihad Airways, akan menangguhkan semua penerbangan penumpang dan transit selama dua pekan
  • Menteri Kesehatan Inggris menyebut orang-orang yang mengabaikan nasihat pemerintah "sangat egois" dan memperingatkan bahwa tindakan lebih lanjut dapat diambil dengan tujuan mengatasi pandemi tersebut
(nvc/nvc)