Mengapa Psikopat Keji Sering Tak Menyesali Kekejamannya?

BBC Magazine - detikNews
Sabtu, 14 Mar 2020 18:16 WIB
California -

Ilustrasi Psycho

Psikopat yang kejam tak memperlihatkan penyesalan atas perbuatan yang melibatkan kekerasan. (Getty Images)

Profesor Jim Fallon adalah seorang psikopat yang baik.

Sebagai seorang ahli saraf, ia menemukan fakta itu dengan cara tidak lazim.

Bidang Profesor Fallon adalah psikiatri dan perilaku manusia di University of California-Irvine. Ia sedang mengkaji hasil pindai otak para pembunuh dan menggunakan data pindai keluarganya sebagai pembanding.

Ketika ia tiba pada hasil pindai terakhir, ia menemukan satu yang digambarkannya sebagai "jelas-jelas patologis".

Fallon kemudian memperlihatkan hasil pindai itu ke teknisi yang melakukan pemindaian.

"Saya pikir mereka sedang meledek saya, menukar salah satu hasil pindai otak pembunuh dengan pindai keluarga saya," katanya. "Namun teknisi itu menjawab, itu adalah sesungguhnya. Mereka tidak bercanda".

"Lalu saya bilang, orang ini seharusnya tidak berkeliaran bebas di masyarakat. Ia mungkin orang yang berbahaya. Ini adalah otak psikopat terburuk yang pernah saya lihat".

"Lalu saya buka label yang menutupi nama pemilik otak itu. Ternyata itu saya sendiri".

Apakah semua psikopat berbahaya?

Jim Fallon

Profesor Jim Fallon berasal dari keluarga yang punya tujuh pembunuh dalam silsilahnya. (BBC)

Namun Fallon tidak pernah membunuh orang, dan menggambarkan dirinya sebagai "orang baik". Bagaimana ia bisa menjadi psikopat?

"Saya psikopat yang prososial," katanya. "Saya tak punya karakter antisosial dan kriminal (yang dimiliki banyak psikopat lain)".

Diperkirakan satu dari 100 manusia adalah psikopat.

Sekalipun banyak perilaku kekerasan masuk kategori ini, sebagaimana yang diteliti oleh Fallon, tak berarti semua psikopat cenderung melakukan kekerasan.

Pertanyaannya apakah psikopat memang terlahir dengan otak seperti itu atau disebabkan oleh pengasuhan?

Otak psikopatis

Ilustrasi

Pindai otak menemukan adanya perbedaan-perbedaan dalam kerja otak di beberapa bagian yang membedakan antara seorang psikopat atau bukan. (Getty Images)

Hasil pindai otak menemukan berbagai perbedaan dalam aktivitas di beberapa bagian otak antara psikopat yang kejam dan nonpsikopat.

Psikopat yang kejam punya bagian abu-abu (grey matter) yang lebih sedikit di bagian otak depan - yang fungsinya memahami emosi orang lain.

Bagian otak depan ini juga aktif ketika kita berpikir tentang perilaku moral.

Psikopat juga punya area amygdala lebih kecil. Area ini biasanya dikaitkan dengan perasaan takut.

Jika perbedaan-perbedaan ini bisa dilihat di usia muda, ini memperlihatkan ada dasar genetis bagi sifat psikopatik itu.

Namun jika kita bayangkan otak seperti otot, bisa jadi psikopat menjadi seperti itu karena bagian tersebut jarang dilatih. Membuatnya tidak berkembang - mungkin sebagai hasil pengasuhan dan lingkungan.

Keluarga Profesor Fallon bisa jadi contoh.

Psikopat di keluarga

Lizzie Borden

Pada bulan Juni 1893, Lizzie Borden, yang masih sepupu Jim Fallon diadili dan kemudian dinyatakan bebas atas pembunuhan terhadap ayah dan ibu tirinya dengan menggunakan kapak. (Getty Images)

Fallon sadar ciri psikopat itu tidak dimulai darinya. Bahkan ada tujuh tersangka pembunuh di dalam silsilah keluarganya.

Fallon ingat buku yang pernah diberi ibunya tentang kakek moyangnya yang hidup tahun 1670 dan merupakan pria pertama yang membunuh ibunya sendiri di koloni Amerika.

Sepupu Fallon, Lizzie Borden, didakwa membunuh ayah dan ibu tirinya dengan kapak tahun 1882.

Secara kontroversial Lizzie dibebaskan, tapi sajak mengerikan tentang kriminalitas ini masih bertahan hingga sekarang.

Fallon mengatakan ia bisa melihat bagaimana - sampai batas tertentu - ia memperlihatkan perilaku psikopatik.

Misalnya, ia mengaku bahwa ia bisa saja menghindar dari pemakaman anggota keluarga kalau di saat yang sama ada pesta atau hal menyenangkan lain yang bisa dilakukan.

Ia bilang ia tahu bahwa hal itu "tidak baik".

"Masalahnya, saya tahu itu tidak baik tapi saya tak peduli. Saya tak tahu bagaimana mengatakannya: saya dalam posisi tahu bahwa itu tidak benar, tapi saya tetap tidak peduli".

Tapi jika di otak Fallon ada gen pembunuh, mengapa ia tak jadi pembunuh kejam?

Psikopat dan lingkungan mereka

Foto anak-anak

Masa kanak-kanak yang bahagia bisa membatalkan perkembangan gen psikopatik. (Getty Images)

Jawabannya: apakah gen psikopat terpicu atau tidak, tergantung pada apa yang terjadi di masa kanak-kanak.

"Jika seseorang punya gen yang lebih berisiko dan disiksa sejak kecil, peluang untuk hidup sebagai seorang penjahat lebih besar," kata Fallon.

"Jika punya gen tapi hidup dengan damai, tidak ada risiko itu. Gen itu sendiri tidak secara dramatis mempengaruhi perilaku. Namun di bawah kondisi tertentu, ada perbedaan besar," ujarnya.

Fallon mengaku masa kecilnya "sangat menyenangkan" dan itu membatalkan gen psikopatnya.

"Ketika saya lihat foto-foto lama keluarga, saya tersenyum dan bahagia seakan seekor burung. Selalu begitu di sepanjang hidup saya. Besar kemungkinan hal ini menghilangkan faktor genetik".

Psikopat bermanfaat

Ilustrasi empati

Orang dengan empati emosional rendah, punya kesulitan untuk terlibat dalam masalah orang lain. (Getty Images)

Karakter biologis penting tapi bukan segalanya ketika dipakai untuk menentukan apakah seseorang hidup sebagai pembunuh atau tidak.

Bagi Fallon, ada sisi positif bahwa ia bisa melihat sesuatu secara tidak memihak dan "tidak terikat emosi" dari berbagai peristiwa.

Salah satunya, ia jadi andalan saat ada teman atau keluarga yang butuh nasihat.

"Saya bisa duduk mendengarkan mereka bicara selama dua jam. Mereka menangis dan saya tak pernah merespons secara emosional. Namun saya mengerti yang mereka rasakan dan berusaha membantu mereka. Saya bisa memberi analisis yang dingin tapi akurat dan tulus," katanya.

"Angka saya tinggi untuk empati kognitif dan rendah dalam empati emosional. Ternyata orang seperti saya melakukan banyak hal bagi masyarakat".

"Namun orang seperti saya tak pandai untuk diajak menangis".

(nvc/nvc)