Sejumlah Peneliti Indonesia Berikhtiar Cari Penawar Covid-19

BBC Magazine - detikNews
Jumat, 13 Mar 2020 16:05 WIB
Jakarta -

Seiring Indonesia memulai pengembangan vaksin untuk virus Covid-19, sejumlah peneliti di Indonesia mengidentifikasi senyawa-senyawa dari bahan herbal yang berpotensi sebagai obat.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta resmi ditunjuk untuk memimpin ikhtiar tersebut. Direktur Eijkman, Amin Soebandrio, berencana membentuk konsorsium yang melibatkan Kementerian Kesehatan, perguruan tinggi, dan industri.

Amin mengatakan, sejauh ini sudah ada dua perguruan tinggi yang diajak ikut serta Universitas Airlangga, Surabaya dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

"Kita masih mengidentifikasi siapa saja yang punya kompetensi dan komitmen," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Berbagai kelompok penelitian di seluruh dunia tengah berlomba untuk menemukan vaksin Covid-19. Vaksin, umumnya berupa virus atau bagian dari virus yang telah dilemahkan, disuntikkan ke dalam tubuh untuk membantu sistem kekebalan mengenali mereka sebagai penyerang dan belajar melawannya.

Amin menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan para peneliti ialah mengidentifikasi bagian virus Covid-19 yang memiliki sifat antigenik serta mempelajari cara merangsang pembentukan antibodi yang protektif. Tantangan pertama mereka, mendapatkan sampel virus hidup.

"Saat ini belum ada yang menyatakan berhasil membiakkan virusnya di Indonesia," kata Amin. Perlu diketahui, sampel yang digunakan dalam uji virus Covid-19 bukanlah virus hidup, melainkan materi genetik atau RNA-nya saja.

"Membiakkan virusnya itu tidak mudah, dan tidak semua lembaga bisa melakukannya," ia mengimbuhkan.

Amin mengakui bahwa pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia agak terlambat dibandingkan di negara-negara lain, karena Indonesia "baru melihat urgensinya setelah ada eskalasi [kasus]". Namun demikian, ia mengatakan lembaga penelitian Eijkman sudah berbicara dengan Biofarma sejak bulan Januari untuk menginisiasi penelitian vaksin Covid-19.

Amin berharap para peneliti dapat menghasilkan bibit vaksin dalam satu tahun. Bibit vaksin itu kemudian akan diserahkan ke industri untuk diproduksi massal.

Tak cuma di Eijkman, sejumlah ilmuwan dari berbagai universitas dan lembaga riset di Indonesia juga secara independen melakukan penelitian untuk menemukan obat Covid-19. Mereka mengatakan sudah mengidentifikasi beberapa senyawa yang potensial, sebagian besarnya berasal dari obat-obatan herbal.

Propolis

Muhammad Sahlan, peneliti di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, mengembangkan propolis sebagai "alternatif pengobatan" untuk Covid-19. Propolis, yang juga dikenal sebagai "lem lebah", adalah zat resin yang dikumpulkan oleh lebah dari berbagai jenis tanaman. Ekstrak propolis dikenal memiliki berbagai manfaat antara lain antiseptik, anti-inflamasi, antioksidan, antikanker, hingga menguatkan sistem pertahanan tubuh.

Sejak 2010, pria yang menyandang gelar doktor di bidang teknik kimia ini berusaha "mensaintifikasi" manfaat propolis dengan meneliti struktur molekulnya melihat caranya berikatan dengan molekul target dalam sel. Propolis yang ia gunakan dalam penelitian berasal dari Tetragonula biroi, lebah tak bersengat asal Sulawesi Selatan.

Muhammad Sahlan

Muhammad Sahlan mengidentifikasi beberapa senyawa dalam propolis asli Indonesia yang berpotensi menjadi obat Covid-19. (BBC)

Akhir Januari lalu, ilmuwan di China menerbitkan publikasi tentang struktur protease virus Covid-19, bagian yang digunakan oleh virus untuk menempel pada sel inang. Dalam struktur yang dipublikasikan itu, sang ilmuwan menyertakan molekul sintetis, disebut N3, yang bisa menjadi inhibitor atau penghambatnya.

Setelah membaca publikasi tersebut, Sahlan dan kawan-kawan langsung melakukan pemodelan dengan senyawa-senyawa kimia yang berasal dari propolis. Senyawa-senyawa itu dinilai berdasarkan kemampuannya untuk menempel pada struktur protease virus Covid-19 membuatnya jadi tidak bisa menempel pada sel manusia.

Ia menemukan tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia bisa menempel yang cukup baik pada virus Covid-19. Bila senyawa N3 memiliki nilai -8, senyawa Sulawesins a memiliki nilai -7.9, Sulawesins b -7.6 dan deoxypodophyllotoxin -7.5.

"Semakin negatif nilai yang dimiliki, semakin besar kemampuan senyawa menempel pada virus Covid-19," kata Sahlan. "Makanya saya bilang, ini kelihatannya kita punya potensi."

Tetragonula biroi yang dibudidayakan di taman Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Tetragonula biroi adalah lebah tak bersengat asal Sulawesi Selatan. (BBC)

Seluruh penelitian ini baru dilakukan di komputer atau in silico. Sahlan mengatakan, untuk bisa sampai ke tahap uji preklinis (uji coba pada hewan) dan uji klinis (uji coba pada manusia), ia membutuhkan sampel virus Covid-19.

"Kita berharap sampai ke situ (uji klinis), tinggal ketika kita punya akses untuk bisa ke situ, kita akan lakukan," ujarnya.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan mengelompokkan obat herbal atau obat bahan alam ke dalam jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Obat bahan alam yang klaim khasiatnya dibuktikan berdasarkan data empiris, tapi belum melalui uji pra klinik, dikategorikan sebagai jamu.

Maka dari itu, propolis ini baru bisa ditawarkan sebagai jamu, bukan obat Covid-19, kata Sahlan.

"Selama aman, tidak, selama ada evidence-nya ... bisa menjelaskan untuk membantu supaya tidak terjadi infeksi, kita bilangnya jamu."

Flavonoid

Riset serupa juga dilakukan Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (IPB). Wisnu Ananta Kusuma, pakar ilmu komputer dari IPB, mengatakan pihaknya menggunakan pendekatan big data analitycs atau analisis data.

Dari berbagai makalah ilmiah yang diterbitkan dalam satu bulan terakhir, para peneliti mendapatkan 56 senyawa sintetis dan 396 protein baik pada virus maupun sel manusia yang bisa dijadikan target.

Kemudian mereka menggunakan teknik pembelajaran mesin atau machine learning untuk membangun sebuah jaringan yang dicocokkan dengan 1400 senyawa di basis data tanaman obat yang diciptakan Departemen Farmasi UI, herbaldb.

"Dari situ beberapa senyawa diperoleh yang paling sesuai untuk mencegah virus corona ini kemudian dicari senyawa itu ada di tanaman apa saja, kita memang sengaja memilih yang umum sehingga orang bisa menggunakan," kata Wisnu.

Setelah mendapatkan senyawa yang cocok, dilakukan simulasi secara in silico untuk melihat apakah senyawa tersebut bisa menempel dengan baik dengan protein tertentu.

Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB, Irmanida Batubara, mengatakan sebagian besar senyawa yang potensial sebagai obat Covid-19 termasuk dalam golongan flavonoid, yang dihasilkan tanaman-tanaman herbal.

"Itu sudah terbukti secara in silico bahwa mereka bisa menghancurkan protein pada virus corona sehingga dia mampu merusak virus corona, dan di sisi lain, si senyawa metabolit sekunder ini pun mampu meningkatkan daya tahan tubuh manusia sehingga bisa menangkal serangan dari virus corona," ia menjelaskan.

Empon-empon

Guru besar Universitas Airlangga (UNAIR), Chairul Anwar Nidom, menawarkan pendekatan berbeda. Ia mengusulkan masyarakat agar mengonsumsi empon-empon untuk membantu melindungi diri dari Covid-19.

"Empon-empon" adalah istilah yang biasa dipakai para ibu rumah tangga di pedesaan untuk bumbu-bumbu yang biasanya terdiri dari jahe, temulawak, kunyit, lengkuas, kunir, sereh, dan sebagainya. Nidom dan para peneliti di Profesor Nidom Foundation pernah menguji empon-empon untuk mengatasi gejala yang diakibatkan virus flu burung.

Menurut Nidom, kebanyakan orang yang menderita flu burung meninggal dunia karena paru-parunya rusak berat atau pneumonia. Hal itu bukan semata disebabkan oleh virus sendiri, melainkan efek dari infeksi virus itu yang memperberat kondisi paru-paru.

Ia menjelaskan, ketika virus flu burung menginfeksi sel paru, ia menggertak respon imun yang disebut dengan sitokin. Sitokin di paru-paru tidak hanya melawan virus, tapi juga menyebabkan sel-sel paru itu menjadi rusak. Infeksi virus menyebabkan badai sitokin atau cytokine storm di dalam paru-paru.

"Itu yang menyebabkan seseorang yang terinfeksi flu burung itu menjadi fatal," ujarnya.

Menurut Nidom, empon-empon mengandung senyawa curcumin yang bisa mengendalikan produksi sitokin di dalam paru-paru.

Berdasarkan penelitian terhadap Covid-19, diketahui penyakit tersebut juga menyebabkan pneumonia, yang semakin parah terutama pada umur-umur atau usia yang tua.

"Saya melihat bahwa pada kasus pasien [Covid-19] yang pneumonia berat, respon imunnya hampir sama dengan respon imun yang digertak oleh virus flu burung," kata Nidom.

"Hipotesis saya, bahwa [respon imun] terhadap Covid itu jauh lebih ringan daripada terhadap flu burung. Nah karena itu empon-empon jauh lebih baik sekarang dipakai oleh masyarakat dalam menyiapkan diri berhadapan dengan virus Covid-19."

Nidom mengatakan, penelitian empon-empon untuk mengobati flu burung telah sampai ke uji praklinis pada tahun 2009. Namun penelitian itu tidak diteruskan, karena proyeknya berubah fokus pada pengembangan vaksin.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dr. Agus Dwi Susanto, mengatakan pengalaman pada kasus flu burung belum tentu bisa diterapkan pada Covid-19. "Pada prinsipnya semua butuh uji klinis untuk membuktikannya," kata Agus.

Menurut Agus, sah-sah saja mengatakan bahwa obat herbal bisa meningkatkan imunitas karena telah ada cukup banyak riset yang mendukung itu. Tapi bukan berarti bisa melawan Covid-19.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto meminta para peneliti yang melakukan studi tentang virus tersebut untuk berkoordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).

Ia mengatakan, lembaga riset di bawah Kementerian Kesehatan itu mengampu seluruh peneliti di Indonesia untuk melakukan penelitian bersama tentang virus Covid-19 termasuk yang terkait obat dan vaksinnya.

Achmad mengimbuhkan, penelitian mengenai virus Covid-19 dilakukan di Balitbangkes sejalan dengan pemeriksaan sampel dari pasien suspek.

"Jadi ini bukan pekerjaan yang sepotong-potong ya, ini pekerjaan yang multidimensional dan sifatnya global. Jadi jangan dianggap bahwa kita cuma periksa thok, nanti setelah memeriksa baru meneliti virusnya. Ini bareng kok simultan."

Dikarenakan belum ada obat khusus untuk Covid-19, kata Achmad, para pasien di rumah sakit diberikan obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka serta obat untuk meringankan gejala seperti obat panas dan obat batuk.

Dalam perkembangan terakhir, tiga dari 34 pasien Covid-19 di Indonesia dinyatakan sembuh pada Kamis (12/03).

(nvc/nvc)