Wabah Corona, KBRI Teheran Buka Posko dan Bagikan Masker ke WNI

BBC World - detikNews
Kamis, 05 Mar 2020 19:27 WIB
Teheran -

Di tengah merebaknya virus corona di Iran, KBRI di Teheran telah membuka posko aju di dekat bandara internasional untuk digunakan bagi WNI yang menunggu penyelesaian dokumen keimigrasian dan kesehatan apabila mereka hendak meninggalkan Iran.

Hal itu disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Iran, Octavino Alimudin, ketika ditanya langkah apa saja yang dilakukan dalam memberikan perlindungan terhadap 474 warga dan diaspora Indonesia di negara itu.

Posko berada di dekat Bandara Internasional Imam Khomeini di kota Parand yang terletak antara Teheran dan Qom, dua kota dengan kasus virus corona terbesar.

"Posko tersebut juga digunakan KBRI sebagai tempat pelayanan kekonsuleran apabila penularan COVID-19 di ibu kota Tehran mencapai tingkat yang mengkhawatirkan," jelas Duta Besar Octavino Alimudin kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, Rabu (04/03).

Sejauh ini posko itu baru akan ditempati oleh satu orang yang menuju ke sana untuk menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya.

Perempuan di Iran, virus corona

Semakin banyak warga di Teheran yang mengenakan masker ketika keluar dari rumah. (AFP)

Menurut Kementerian Kesehatan, jumlah kasus virus corona yang terkonfirmasi meningkat lebih dari 50% untuk dua hari berturut-turut.

Jumlah kasus sekarang mencapai 2.336, namun jumlah sejatinya diyakini jauh lebih tinggi.

Jumlah pasien yang meninggal dunia tercatat 77 orang sejauh ini.

Selain membuka posko, kata Duta Besar Octavino Alimudin, KBRI Teheran mengontak masyarakat Indonesia melalui berbagai grup komunikasi dan media sosial.

"KBRI juga telah mendistribusikan masker, disinfektan untuk digunakan oleh seluruh WNI khususnya pada saat terjadi kelangkaan kelengkapan medis tersebut."

Belakangan, tambahnya, apotek membatasi jumlah masker yang dapat dibeli oleh setiap konsumen, sekitar 10 masker per orang.

Namun demikian KBRI mempunyai apotek langganan yang bisa menyediakan masker dalam jumlah lebih banyak dibanding kuota untuk masyarakat umum.

Walaupun jumlah kasus virus corona di Iran meningkat pesat, berdasarkan pengamatan Duta Besar Octavino Alimudin, secara umum tidak tampak kekhawatiran yang berlebihan.

"Setiap malam dan pagi hari dilakukan penyemprotan disinfektan di fasilitas umum dan transportasi publik," katanya.

"Dengan dikuranginya jam kerja bank dan perkantoran, situasi ibu kota dan kota-kota lain di Iran terasa lebih lengang dibandingkan dua minggu sebelumnya."

Petugas kebersihan Iran menyemprotkan disinfektan pada kuil Masumeh di kota Qom.

Petugas kebersihan Iran menyemprotkan disinfektan pada kuil Masumeh di kota Qom. (Getty Images)

Dalam perkembangan lain, dua pria di Iran yang menentang peringatan tentang virus corona diancam hukuman penjara dan cambuk setelah beredar video yang menunjukkan mereka menjilat kuil suci.

Iran juga melepaskan puluhan ribu narapidana untuk sementara, dalam rangka melawan penyebaran virus di dalam penjara yang penuh.

Dalam salah satu video, yang telah dilihat lebih dari satu juta kali di Instagram, seorang pria yang tampak berada di kuil Masumeh di kota Qom, mengatakan, "Saya tidak takut pada virus corona", sebelum menjilati dan mencium gerbang kuil.

Dalam video lainnya yang direkam di sebuah kuil di Masyhad seorang pria mengatakan ia ada di sana untuk menjilat kuil, "sehingga penyakitnya bisa masuk ke dalam tubuh saya dan orang lain dapat mengunjungi [kuil] tanpa merasa cemas".

Warganet kritik pemerintah

Anggota Parlemen Hasan Nowrozi mengatakan, "Mereka yang melakukan tindakan tidak biasa seperti itu menyebarkan berita palsu dan takhayul yang menentang pihak berwenang di negara ini."

"Orang-orang seperti itu diancam dengan hukuman penjara dua bulan hingga dua tahun dan maksimal 74 cambukan."

Penangkapan dilakukan setelah video kedua pria itu dibagikan di media sosial oleh wartawan dan aktivis Iran, Masih Alinejad.

"Menangkap dua orang ini tidak cukup karena pusat-pusat keagamaan masih dibuka di Qom dan kota-kota lain tempat orang-orang menderita virus corona," katanya kepada BBC.

Iran menjadi salah satu negara dengan jumlah terbesar kasus virus corona di luar China.

Meskipun beberapa tindakan telah dilakukan untuk melindungi para pengunjung tempat-tempat suci - seperti menyemprotkan disinfektan - tidak ada penutupan serentak terhadap situs-situs tersebut.

Beberapa ulama percaya bahwa kuil, termasuk kuil Masumeh di Qom, mengandung kekuatan gaib yang dapat menyembuhkan penyakit.

Jutaan orang mengunjungi kuil-kuil itu setiap tahun, menghabiskan berjam-jam untuk berdoa di dekat mereka, atau mencium dan menyentuh mereka.

Warganet di media sosial mengkritik pemerintah Iran karena gagal mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti negara-negara lain demi melindungi warganya.

Pekan lalu, Arab Saudi untuk sementara melarang umat Muslim mengunjungi kota-kota suci Mekah dan Madinah dan, di beberapa daerah di Italia, misa gereja telah ditangguhkan.

"Ayatollah Agung harus bereaksi. Reaksi cepat diperlukan," kata seorang pengguna Twitter.

Sementara twit lain mendukung mereka yang ingin terus mengunjungi situs keagamaan.

"Pikiran kita didasarkan pada ajaran ilahi, dan Syiah adalah agama paling murni di dunia, dan masjid-masjid berada di garis depan dalam memerangi virus corona."

Iranian sanitary workers disinfect Qom's Masumeh shrine

(Getty Images)

Di daerah-daerah terdampak di Iran, sekolah dan universitas ditutup dan di Teheran penggunaan pipa shisha telah dilarang.

Sementara orang-orang diminta tidak menghadiri pertemuan besar dan penggunaan masker dan gel tangan sedang dianjurkan, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan tidak ada rencana untuk mengkarantina seluruh kota.

Pada Senin (02/03), tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tiba di Iran untuk memberikan bantuan dan dukungan termasuk peralatan pelindung untuk petugas kesehatan dan peralatan diagnostik.

Dokter dan perawat Iran telah memulai tantangan tarian online dalam upaya untuk meningkatkan moral tim medis dan masyarakat di tengah wabah virus corona.

Jurnalis Reza Haqiqatnejad mengunggah sebuah video di Twitter yang menunjukkan seorang suster menari di rumah sakit.

Banyak warganet mengirimkan komentar positif yang mengucapkan terima kasih pada para petugas kesehatan, dan mendoakan mereka supaya sehat selalu.

Lepaskan tahanan

Iran melepaskan lebih dari 54.000 narapidana untuk sementara, dalam rangka melawan penyebaran virus di dalam penjara yang penuh.

Juru bicara pengadilan, Gholamhossein Esmaili, mengatakan kepada wartawan bahwa para tahanan diizinkan keluar dari penjara setelah menjalani pemeriksaan dan dinyatakan negatif Covid-19 serta mengirim uang jaminan.

"Tahanan keamanan" yang dijatuhi hukuman lebih dari lima tahun tidak akan dibebaskan.

Pekerja amal Inggris-Iran yang dipenjara, Nazanin Zaghari-Ratcliffe, mungkin akan segera dibebaskan, menurut seorang anggota parlemen Inggris, Tulip Siddiq.

Ia mengutip duta besar Iran untuk Inggris mengatakan bahwa Zaghari-Ratcliffe "mungkin dibebaskan berbarengan dengan cuti hari ini atau besok".

Suaminya mengatakan pada Sabtu (29/02) bahwa ia percaya Zaghari-Ratcliffe telah terinfeksi Covid-19 di penjara Evin, Teheran dan bahwa pihak berwenang menolak untuk mengetesnya.

Tetapi Esmaili bersikeras pada hari Senin bahwa Zaghari-Ratcliffe telah berhubungan dengan keluarganya dan "mengabari mereka tentang kesehatannya yang baik".

Ada lebih dari 90.000 kasus Covid-19 yang dilaporkan di seluruh dunia dan 3.110 kematian sejak penyakit ini muncul akhir tahun lalu sebagian besar di China.

Wabah di Iran telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam waktu kurang dari dua minggu.

Pada hari Selasa, Kementerian Kesehatan Iran mengatakan jumlah kasus yang terkonfirmasi telah meningkat lebih dari 50% selama dua hari.

Sekarang jumlahnya mencapai 3.513, meskipun angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.

Kasus-kasus yang terkait dengan Iran juga telah dilaporkan oleh Afghanistan, Kanada, Lebanon, Pakistan, Kuwait, Bahrain, Irak, Oman, Qatar dan Uni Emirat Arab.

Iran melaporkan 835 kasus baru Covid-19 pada hari Selasa.

Iran melaporkan 835 kasus baru Covid-19 pada hari Selasa. (AFP)

Sejumlah pejabat senior Iran telah tertular virus corona. Di antara yang terbaru adalah kepala layanan medis darurat, Pirhossein Kolivand.

Sebanyak 23 dari 290 anggota parlemen juga dinyatakan positif.

Pada hari Senin, seorang anggota Dewan Kemanfaatan, yang merupakan penasihat Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei, meninggal akibat Covid-19 di Teheran. Media pemerintah mengatakan Mohammad Mirmohammadi, 71, menjalin hubungan dekat dengan Ayatollah Khamenei.

Pada upacara penanaman pohon untuk memperingati Hari Margasatwa Dunia pada Selasa (03/03), sang pemimpin agung meminta masyarakat untuk mematuhi pedoman kebersihan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan dan memerintahkan semua badan pemerintah untuk memberikan bantuan yang diperlukan kepada Kementerian Kesehatan.

Ayatollah Khamenei juga menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak menyembunyikan informasi tentang skala masalah, dengan mengatakan, "Pejabat kami melaporkan dengan tulus dan transparansi sejak hari pertama. Namun, beberapa negara tempat wabah wabah ini lebih serius telah berusaha menyembunyikannya."

Wabah Iran, ia menambahkan, "Tidak akan bertahan lama di negara itu dan akan berkemas".

Sementara itu, Menteri Kesehatan Saeed Namaki mengatakan kampanye penyaringan nasional akan dimulai pada hari Rabu.

Tim akan mengunjungi pasien yang diduga terinfeksi Covid-19 dan tidak memiliki akses ke layanan medis.

Tim ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang tiba di Iran pada hari Senin, mendukung otoritas kesehatan setempat.

WHO mengatakan mereka akan "mengetes kesiapan dan upaya respon, mengunjungi fasilitas kesehatan yang ditunjuk, laboratorium dan tempat masuk, dan memberikan bimbingan teknis".

Pesawat yang membawa para pakar juga berisi pengiriman pasokan medis dan peralatan pelindung untuk menyokong lebih dari 15.000 petugas kesehatan, serta kit laboratorium yang cukup untuk menguji dan mendiagnosis hampir 100.000 orang.

(nvc/nvc)