Wabah Corona, Indonesia Persingkat Prosedur, Malaysia Bersiap Hadapi Terburuk

BBC World - detikNews
Rabu, 04 Mar 2020 09:47 WIB
Pemeriksaan di Light Rail Transit stasiun Velodrome, Jakarta. (EPA)
Kuala Lumpur -

Pemerintah Indonesia mempersingkat prosedur dalam menekan penyebaran virus corona baru, Covid-19, sementara Malaysia menyatakan bersiap menghadapi "yang terburuk".

Achmad Yurianto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan yang menjadi juru bicara pemerintah terkait penanganan Covid-19 mengatakan pemerintah tidak lagi memutuskan menunggu status seseorang "suspect" virus corona sebelum pemeriksaan spesimen.

Hal ini dilakukan setelah enam pasien menjadi suspect Covid-19.

Achmad Yurianto mengatakan langkah itu dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia mengatakan terdapat urutan untuk menentukan status seseorang, yakni pemantauan, pengawasan, suspect, hingga pemeriksaan positif atau tidak mengidap Covid-19.

Warga di stasiun kereta Medan, Sumatra Utara, mengenakan masker. EPA Warga di stasiun kereta Medan, Sumatera Utara, mengenakan masker.

Indonesia sejauh ini baru pemeriksa spesimen sekitar 150 orang, sementara Malaysia sekitar 2.200 orang.

Sejauh ini, secara global sekitar 90.000 orang tertular dengan pasien yang meninggal lebih dari 3.000 orang.

Di Malaysia saat ini terdapat 36 kasus, termasuk 15 orang dari China, satu dari Amerika Serikat, satu dari Italia dan satu dari Jepang dan selebihnya warga Malaysia sendiri.

Dari 36 orang yang tertular, 22 telah keluar dari rumah sakit, kata Dr Noor Hisham Abdullah, Direktur Jendral Kementerian Kesehatan Malaysia.

Dr Noor Hisham juga mengatakan mereka yang diperiksa termasuk yang datang dari luar negeri dengan pemindai yang menunjukkan suhu tubuh di atas rata-rata.

Warga Malaysia di stasiun MRT Kuala Lumpur.

Warga Malaysia di stasiun MRT Kuala Lumpur. (Reuters)

"Di Malaysia, prinsip kami adalah bersiap yang terburuk dan berharap yang terbaik. Walau masih dalam periode awal, pencegahan awal perlu dilakukan bila terjadi kasus sporadis yang tak bisa diperkirakan akan timbul," kata Dr Noor kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, Selasa (03/03).

Dr Noor mengatakan pihaknya juga siap untuk fase mitigasi di mana misalnya "ada orang yang tidak keluar negeri dan tidak tahu mengapa sampai tertular".

Ia mengatakan sejauh ini yang dipersiapkan adalah warga Malaysia sudah tahu akan ke mana bila mereka mengalami gejala virus corona.

"Kita yakinkan bahwa rakyat paham penyakit ini, dan yang kedua kalau ada deman atau akan ke mana," kata Noor Hisham.

Ia mengatakan saat ini terdapat 57 rumah sakit pemerintah yang bisa memeriksa mereka yang tertular Covid-19 dan 26 rumah sakit lain yang bisa menampung pasien.

Pemerintah, katanya, juga bekerja sama dengan rumah-rumah sakit swasta untuk menerima pasien.

Kesiapan dalam menghadapi virus corona, tambahnya lagi, adalah dengan "melengkapi staf medis dengan pakaian yang melindungi dan antikuman".

Pemantauan orang yang masuk

Penjelasan tentang Covid-19 di Banda Aceh.

Penjelasan tentang Covid-19 di Banda Aceh. (AFP)

Achmad Yurianto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan mengatakan pemantauan terkait virus corona dilakukan melalui berbagai pintu masuk ke Indonesia.

Seseorang masuk kategori pemantauan apabila dia masuk wilayah Indonesia dari negara yang terkonfirmasi penularan virus corona dari manusia ke manusia.

Status orang itu bisa naik menjadi kategori pengawasan jika dia sakit.

Orang tersebut menjadi suspect jika memiliki riwayat kontak dengan pasien positif virus corona. Pasien yang suspect kemudian diperiksa spesimennya menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

"Di dalam rangka meningkatkan kewaspadaan kita, maka standar ini kita turunkan. Sehingga kita tidak menunggu menjadi suspect. Semua pasien dalam pengawasan langsung kita periksa. Jadi kita majukan dalam rangka untuk menemukan secara cepat," papar Achmad Yurianto sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Liza Yosephine, Selasa (03/03).

Demi kecepatan pula, tambah Achmad Yurianto, pemeriksaan spesimen tidak lagi hanya terpusat di Jakarta.

Menurutnya, pemeriksaan spesimen dengan PCR yang siap dalam 24 jam akan disebarkan ke Balai Besar Teknologi Kesehatan Lingkungan (BBTKL) dan Balai Teknologi Kesehatan Lingkungan (BTKL).

BBTKL ada di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Banjarmasin. Adapun BTKL ada di Batam, Medan, Palembang, Makassar, Manado, dan Ambon.

Pemerintah, kata Achmad, per Senin (02/03) pukul 18.00 WIB telah menerima 155 spesimen dari 155 orang.

Dari data tersebut, dua orang terkonfirmasi virus corona yakni ibu (64) dan anak (31) yang tengah dirawat di RSPI Sulianti Saroso. Namun, masih ada beberapa spesimen yang masih didalami pemerintah.

Penyemprotan di kediaman rumah orang yang terkena virus corona di Depok.

Penyemprotan di kediaman rumah orang yang terkena virus corona di Depok. (EPA)

Sebanyak enam suspect pengidap virus corona alias Covid-19 diisolasi di Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta.

Mereka datang setelah Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa terdapat dua WNI di Indonesia yang positif terjangkit virus corona.

Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, mengatakan keenam orang tersebut diisolasi dengan keluhan demam, batuk, dan sakit tenggorokan. Tiga di antara mereka berkaitan dengan dua warga Depok yang sebelumnya dinyatakan positif terjangkit virus corona alias Covid-19.

"Tiga orang itu ada kontak dengan pasien sebelumnya," kata Syahril kepada wartawan, pada Selasa (03/02).

Menurut Syahril, satu orang lainnya diisolasi sejak Senin (02/03) malam setelah mengunjungi negara terjangkit virus corona. Syahril tak menyebut negara mana yang dikunjungi pasien tersebut.

Dua suspect virus corona yang lain baru diisolasi pada Selasa (03/03).

Syahril menyebut keduanya merupakan rujukan dari rumah sakit lain. "Dari salah satu rumah sakit di Jakarta. Saya nggak bisa sebut asalnya," tutur dia.

Syahril mengatakan kepastian para pasien positif terjangkit Covid-19 atau tidak, akan dilihat dari hasil pemeriksaan yang keluar pada Rabu (04/03) pagi.

Memeriksa orang yang kontak dengan yang tertular

Menilik dari situasi saat ini, seorang pakar kesehatan masyarakat menganjurkan pemerintah agar segera melaksanakan tes laboratorium bagi orang yang kontak dengan yang tertular termasuk para tenaga medis.

Syahrizal Syarif, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bidang Politik Kesehatan memberi contoh pada kasus yang terjadi di kapal pesiar Diamond Princess di Yokohama, Jepang, dimana ada beberapa orang yang tidak menunjukkan gejala namun didiagnosa terinfeksi penyakit itu.

"Dengan contoh itu makanya saya menganjurkan untuk kasus-kasus yang jelas ada riwayat kontak dengan kedua kasus konfirmasi, misalnya untuk kasus di Depok itu, saya pribadi menganjurkan agar 71 orang yang saat ini dikarantina di rumah itu selama 14 hari itu ada baiknya diperiksalah aja toh, dari sisi biaya juga tidak mahal," kata Syahrizal kepada wartawan BBC News Indonesia, Liza Tambunan, Selasa (03/03).

"Menurut saya, mumpung situasi kasus masih sedikit lalu ada kelompok yang riwayat kontaknya jelas gitu, kalau menurut saya tidak berlebihan kita melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap mereka," tambahnya.

Indonesia, ujarnya, sejauh ini menunggu hingga seorang suspect yang berobat ke rumah sakit dan menunjukkan gejala sebelum memutuskan untuk melakukan tes.

"Jadi kalau mereka di tempat-tempat negara lain mungkin jumlahnya jauh melebihi, jauh melebihi angka-angka yang diperiksa, ada kemungkinan mereka melakukan pemeriksaan terhadap mereka-mereka juga yang tidak ada gejala tapi mempunyai riwayat kontak dengan orang yang sudah dikonfirmasi sebagai kasus," ujar Syahrizal.

Pemantauan di Depok

Sementara itu, Kemenkes akan memantau 48 orang yang diduga melakukan kontak dengan dua orang warga Depok yang positif terinfeksi virus Corona.

Di antara mereka terdapat para peserta acara dansa asal berbagai negara yang melakukan kegiatan di Paloma Bistro, Des Indes Hotel, Menteng, Jakarta Pusat.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan pemerintah tidak akan mengisolasi atau menghentikan kegiatan di Depok sebagaimana yang dilakukan pemerintah China di Wuhan, kota tempat wabah Covid-19 berasal.

"Nggak ada pemberhentian kegiatan yang melibatkan banyak orang, nggak ada. Kita rasional saja, masa mau ditutup? Masa seluruh Indonesia harus ditutup. Ya nggaklah," ujar Terawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3).

Dari Istana Negara, Terawan kemudian meluncur ke Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, tempat kedua WNI dirawat.

"Saya sudah menengok, pasien kondisi baik. Tidak ada demam, tidak ada sesak. Menurut saya, dua-duanya sehat, batuk sedikit saja," kata Terawan kepada para wartawan.

Di rumah sakit tersebut, kedua WNI berada di ruang isolasi yang terpisah dengan pasien-pasien lain.

Terawan menegaskan, Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan melakukan upaya pencegahan sesuai prosedur yang disepakati bersama dengan WHO. "Tidak ada yang terlewat," cetusnya.

Kedua WNI tersebut, kata Terawan, bermukim di wilayah Depok, Jawa Barat.

Mereka adalah WNI pertama yang terjangkit Covid-19 di Indonesia.

Sebelumnya, pada Senin (02/03), Presiden Joko Widodo menyatakan terdapat dua WNI di Indonesia yang positif terjangkit virus corona baru alias Covid-19.

Presiden Joko Widodo, didampingi Menteri Kesehatan Terawan, menjelaskan tentang kasus pertama virus corona di Indonesia.

Presiden Joko Widodo, didampingi Menteri Kesehatan Terawan, menjelaskan tentang kasus pertama virus corona di Indonesia. (Reuters)

Menurut Jokowi, dua WNI itu tersebut sempat kontak dengan warga negara Jepang yang terdeteksi virus corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia.

"Orang Jepang ke Indonesia bertamu siapa, ditelusuri dan ketemu. Ternyata orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun," kata Jokowi.

"Dicek dan tadi pagi saya dapat laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif corona," tambahnya.

Awal penularan

Dalam pemaparan di RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, Menkes Terawan mengungkap bahwa salah satu WNI merupakan guru dansa.

Pada 14 Februari, dia mengikuti acara dansa yang turut dihadiri seorang warga Jepang dari Malaysia. Terawan menyebut, perempuan 31 tahun itu berprofesi sebagai guru.

"Jadi dia guru dansa dan dia berdansa dengan teman dekatnya itu (warga negara Jepang)," kata Terawan dalam jumpa pers di RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, Senin (02/03).

Saat kembali ke Malaysia, warga Jepang itu terbukti positif Covid-19 dan dirawat di Malaysia.

Dua hari kemudian, menurut Menkes Terawan, WNI tersebut batuk-batuk dan rawat jalan di rumah sakit. Selang 10 hari kemudian, si guru dansa ini meminta dirawat di rumah sakit.

"Tanggal 26 [Februari] dia minta dirawat, demam. Dirawat tanggal 28, ditelpon sama teman dansanya, orang Jepang itu, bahwa dia di Malaysia dirawat, corona positif. Dia memberitahukan kepada [WNI] yang dirawat sebagai orang dalam pengawasan. Sehingga teman-teman dokter di rumah sakit, sudah menyiapkan diri. [Dia] dianggap sebagai pasien dalam pemantauan," tutur Menkes Terawan.

Kedua WNI lantas dipindahkan ke RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, pada 1 Maret.

Keterangan Menkes Terawan berbeda dengan penuturan salah satu WNI.

Dalam wawancara dengan harian Kompas, salah satu WNI mengaku dia dan anaknya tidak mengenal warga Jepang di acara dansa yang belakangan diketahui positif Covid-19.

Bahkan, dia mengaku, tes virus corona dilakukan atas inisiatif dirinya.

Dia mengklaim dirinya dan anaknya dipindahkan ke RSPI Sulianti Saroso dan diisolasi tanpa pemberitahuan apapun pada Sabtu (29/02).

Dia juga menyatakan tidak menerima pemberitahuan bahwa dirinya dan anaknya positif mengidap Covid-19 sampai Presiden Joko Widodo mengumumkan kondisi mereka ke khalayak luas.

Penelusuran para individu yang berkontak

Ditanya apakah pemerintah sudah menelusuri penduduk sekitar rumah kedua WNI tersebut dan siapapun yang bersentuhan dengan mereka, Menkes Terawan mengaku surveillance tracking telah dilakukan.

"Tracking sudah dilakukan sewaktu dia masih dalam pengawasan...siapa yang dikontak, rumah, rumah sakit. Kita cek, waspadai. Tapi tidak semua yang kontak itu sakit atau positif corona, tergantung sistem kekebalan tubuhnya," jelas Menkes Terawan.

Di Istana Negara pada Senin (02/03), Menkes Terawan menyatakan pihaknya sudah mengisolasi rumah kedua WNI tersebut.

"Terkenanya di rumahnya, rumahnya di Depok. Rumahnya dicek, ibu dan anak. Sudah melakukan isolasi rumah," kata Terawan ketika ditanya para wartawan mengenai rumah kedua WNI tersebut.

Secara terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, memastikan dua orang lainnya yang tinggal di rumah tersebut negatif corona.

Dua orang itu yakni kakak dari sang anak serta seorang pembantu.

"Sudah dua-duanya diperiksa, dua-duanya negatif," kata Achmad Yurianto di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (02/03).

rumah orang yang tertular virus corona di Depok.

Seorang perempuan berjalan melintas di depan rumah dua orang yang terkena Covid-19 di Depok. (EPA)

Menurut Yuri, sang anak yang lebih dulu sakit memang dirawat intensif oleh sang ibu. Adapun sang kakak dan pembantunya tidak melakukan kontak intensif.

"Rupanya selama sakit, kakaknya tidak dekat kontaknya (karena) bekerja, dan pembantu ada kesibukan sendiri," tutur Achmad Yurianto.

Penelusuran, lanjut Achmad Yurianto, juga dilakukan terhadap komunitas dansa asal berbagai negara yang melakukan kegiatan dansa di Paloma Bistro, Des Indes Hotel, Menteng, Jakarta Pusat.

"Setelah selesai dansa kurang lebih 50 orang dan itu multinasional," kata Achmad Yurianto.

"Banyak warga beberapa negara sedang kita tracking dengan pemeriksaan lebih lanjut ini terkait kasus dua WNI positif."

"Dinas kesehatan setempat di bawah koordinasi kami melakukan tracking yang lain di sekitarnya termasuk pemantauan illness ada perubahan angka fluktuasi dan perubahan angka pneumonia, karena sudah 14 hari lebih, dari 14 Februari. Data awal akan perdalam lagi," kata Achmad Yurianto.

Secara keseluruhan, Kemenkes memantau 48 orang yang diduga melakukan kontak dengan dua orang warga Depok yang positif terinfeksi virus Corona.

"Untuk sementara, aku ngomong sementara ya. First contact, second contact, third contact, kita sudah sampai ke angka 48 orang," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono.

Anung menjelaskan, 48 orang tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yakni kontak erat, kontak dekat, dan kontak dalam satu ruangan dengan orang yang terinfeksi atau kontak area.

Orang yang masuk dalam kategori kontak erat diwajibkan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi apakah ia terinfeksi virus corona atau tidak.

"Tetapi kalau saya dekat dengan dinyatakan positif saya berada di dalam proses pemantauan. Kalau jumlahnya lebih dari satu maka pemantauan ini bisa dilakukan pengambilan sampel secara acak untuk kemudian dilakukan pemeriksaan," ujar Anung.

Adapun orang yang masuk kategori berada dalam satu ruangan dengan orang yang terinfeksi corona juga akan dipantau kondisinya.

Ini adalah kali pertama terdapat orang yang terjangkit Covid-19 di Indonesia.

Sebelumnya ada sejumlah WNI yang terjangkit Covid-19, tetapi mereka berada di luar negeri. Sebagai contoh, seorang tenaga kerja wanita asal Indonesia di Singapura yang belakangan pulih.

Kemudian sembilan WNI yang tertular Covid-19 saat bekerja sebagai awak kapal pesiar Diamond Princess.

corona 3 maret

BBC

(ita/ita)