detikNews
Sabtu 07 September 2019, 12:59 WIB

Awas! Stres Saat Hamil Bisa Timbulkan Gangguan Kepribadian pada Anak

BBC Magazine - detikNews
Awas! Stres Saat Hamil Bisa Timbulkan Gangguan Kepribadian pada Anak Stres berkepanjangan bisa menimbulkan efek jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak-anak. (Getty Images)
Oslo - Anak-anak yang dilahirkan dari para ibu yang mengalami stres sewaktu hamil berisiko 10 kali terkena gangguan kepribadian saat berusia 30 tahun, sebut sebuah penelitian.

Bahkan stres berkepanjangan, menurut penelitian tersebut dapat berdampak pada perkembangan sang anak dan berlanjut setelah persalinan.

Para pakar mengajukan beberapa pertanyaan terhadap lebih dari 3.600 ibu hamil di Finlandia tentang tingkat stres yang mereka alami, lalu mereka juga memantau perkembangan anak dari para ibu tersebut.

Psikiater mengatakan para calon ibu harus memiliki akses untuk mendapatkan bantuan kesehatan mental.

Faktor-faktor penting lainnya, seperti bagaimana anak-anak dibesarkan, situasi keuangan keluarga dan trauma yang dialami selama masa kanak-kanak, diketahui berkontribusi dan bisa berperan pada perkembangan gangguan kepribadian.

Apa itu gangguan kepribadian?

Penyakit ini menyebabkan gangguan terhadap aspek-aspek kepribadian seseorang yang membuatnya sulit menjalani kehidupan, juga bagi orang lain.

Mereka bisa mengalami kecemasan berlebih atau tidak stabil secara emosional, misalnya, atau paranoid atau antisosial.

Gangguan kepribadian diperkirakan mempengaruhi sekitar satu dari 20 orang.

Mereka lebih cenderung memiliki masalah kesehatan mental lain, seperti depresi, atau masalah narkoba dan alkohol.

Seperti gangguan mental lain, pola pengasuhan, permasalahan otak, dan gen dapat berperan dalam perkembangan mereka.

Apa yang dilakukan dalam penelitian ini?

Setiap bulan selama kehamilan, penelitian - yang dituangkan dalam British Journal of Psychiatry - meminta para perempuan untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang tingkat stres mental mereka.

Mereka harus mengatakan jika mereka mengalami stres, agak stres atau tidak stres.

Para perempuan itu tinggal di sekitar kota Helsinki, Finlandia, dan bayi-bayi mereka lahir antara tahun 1975 dan 1976.

Tercatat ada 40 anak yang didiagnosis gangguan kepribadian, ketika anak-anak mereka berumur 30 tahun, kesemuanya merupakan kasus terparah yang mengharuskan mereka dirawat di rumah sakit.

Anak memeluk ibu
Anak-anak yang dilahirkan dari para ibu yang mengalami stres sewaktu hamil beresiko 10 kali terkena gangguan kepribadian. (Getty Images)


Apa yang mereka temukan tentang stress itu?

Hasil dari penelitian menyebutkan, stres berkepanjangan dan dalam level tinggi selama kehamilan berpotensi memiliki efek panjang terhadap anak-anak.

Anak-anak yang terpapar stres dari ibunya kemungkinan mengalami gangguan kepribadian 9,53 kali lipat dibanding mereka yang ibunya tidak mengalami stres.

Anak-anak yang terpapar stres sedang, memiliki peluang empat kali lipat.

Ini bisa berupa stres terkait dengan masalah hubungan, faktor sosial atau masalah psikologis, misalnya.

Mengapa stres itu merusak?

Tidak diketahui bagaimana stres pada ibu-ibu hamil dapat meningkatkan risiko gangguan kepribadian.

Mungkin ini terkait dengan perubahan yang terjadi di otak atau akibat gen bawaan, atau sejumlah faktor lain dalam pengasuhan anak-anak.

Para peneliti mencoba untuk menghilangkan efek stres itu terlebih dahulu, dengan mengendalikan faktor-faktor lain seperti riwayat kejiwaan para ibu hamil, apakah mereka merokok selama kehamilan atau mengalami depresi.

Penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara stres dalam kehamilan dan perkembangan depresi, kecemasan dan skizofrenia.

Anak yang marah
Anak-anak yang terpapar stres dari ibunya kemungkinan besar akan mengalami gangguan kepribadian saat mereka nanti berusia 30 tahun. (Getty Images)


Apa yang bisa dilakukan?

Dr Trudi Senevirante, yang mengepalai fakultas perinatal di Royal College of Psychiatrists mengatakan kehamilan bisa menjadi masa yang penuh tekanan dan para calon ibu membutuhkan bantuan.

"Jika stres tidak ditanggulangi, ada kemungkinan besar itu akan masuk ke periode pascakelahiran," katanya.

"Ini hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan.

"Kami tidak ingin para orang tua berpikir mereka merusak anak-anak mereka - tetapi tingkat stres yang tinggi mempengaruhi kita."

Ia mengatakan badan layanan kesehatan Inggris, NHS, secara dramatis sudah meningkatkan layanan kesehatan mental perinatal selama beberapa kali.

Bagaimana cara menurunkan stres selama kehamilan?

Para calon ibu harus mendapatkan dukungan selama di rumah dan di tempat pekerjaan selama kehamilan dan diberikan strategi bagaimana menyesuaikan diri ketika mereka stres, kata Dr. Senevirante.

"Mereka perlu belajar untuk beristirahat, meminta dukungan dan berbicara dengan seseorang tentang bagaimana perasaan mereka."

Mereka juga disarankan untuk menjalani pola makan berimbang, berhenti merokok, dan tidur teratur.

Dan setelah kelahiran?

Penulis utama dalam penelitian ini, Ross Brannigan, dari Royal College of Surgeons di Irlandia, mengatakan, "Studi ini menyoroti pentingnya dukungan untuk mengatasi stres dan kesehatan mental bagi para perempuan hamil dan keluarga selama masa kehamilan dan setelah melahirkan."

Bidan atau petugas kesehatan harus bertanya apakah Anda pernah memiliki masalah dengan kesehatan mental Anda di masa lalu dan apakah Anda memiliki perasaan putus asa setelah bayi Anda lahir.

Para dokter akan menawarkan bantuan kesehatan untuk membantu Anda mengelola perasaan Anda.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com