detikNews
Sabtu 07 September 2019, 10:33 WIB

Ketua KPU Rusia Diserang Pria Bertopeng dengan Alat Kejut Listrik

BBC World - detikNews
Ketua KPU Rusia Diserang Pria Bertopeng dengan Alat Kejut Listrik Ella Pamfilova dilaporkan diserang di rumahnya oleh laki-laki bertopeng pada Jumat dini hari. (Getty Images)
Moskow - Ketua Komisi Pemilihan Umum Rusia, EllaPamfilova, diserang oleh seorang laki-laki bertopeng di rumahnya di pinggiran ibu kota Moskow, pada Jumat (06/09) dini hari.

Polisi mengatakan laki-laki menyerang Pamvilova dengan alat kejut listrik, namun tidak mengalami luka yang serius dan ia terlihat menghadiri acara di Moskow beberapa jam kemudian.

Kepada para wartawan, Pamvilova mengatakan, "Saya selamat." Tayangan televisi menunjukkan tidak terlihat bekas luka di badannya.

Kepada kantor berita AFP, polisi mengatakan, "Pelaku memukul korban dengan alat kejut listrik beberapa kali sebelum ia melarikan diri."

Polisi mengatakan laki-laki itu memaksa masuk ke rumah melalui jendela. Polisi menduga laki-laki tersebut adalah pencuri.

Pemilu lokal di Moskow Ketua KPU Rusia mendukung pelarang calon independen dalam pemilu lokal di ibu kota Moskow. (Getty Images)

Belum dipastikan apakah kejadian ini murni "pencurian yang berubah menjadi serangan" atau ada motif lain. Polisi sendiri mengatakan sudah memulai penyelidikan atas kasus ini.

Namun pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, dalam unggahan di Twitter mengatakan insiden di rumah ketua KPU Rusia ini adalah "hoaks yang ditujukan sebagai pengambilalihan isu".

Navalny mengklaim insiden ini untuk "mengalihkan perhatian dari rencana melakukan kecurangan" di pemilu lokal, yang akan diselenggarakan pada hari Minggu (08/09).

Unjuk rasa di Moskow Pelarangan calon independen dalam pemilu lokal memicu unjuk rasa besar-besaran. (Getty Images)

Pemungutan suara untuk memilih anggota parlemen untuk kota Moskow ini dikritik karena komisi pemilihan melarang calon-calon independen.

Beberapa pejabat, termasuk Pamvilova, mendukung pelarangan calon-calon independen dengan alasan "tanda tangan orang-orang yang mendukung calon independen tidak sah".

Keputusan ini memicu krisis dengan digelarnya aksi unjuk rasa besar-besaran mendesak dibolehkannya calon independen di pemilu lokal.

Dalam unjuk rasa ini beberapa orang ditahan dan mereka dijatuhi hukuman penjara setelah dinyatakan "menyerang polisi".




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com