detikNews
Selasa 03 September 2019, 19:11 WIB

Pasca-Perang Dunia II, Tentara Dilatih 'Tanpa Belas Kasih' Saat Bertempur

BBC Magazine - detikNews
Pasca-Perang Dunia II, Tentara Dilatih Tanpa Belas Kasih Saat Bertempur Tentara infanteri dari Alabama, Amerika Serikat, dilatih bertempur menggunakan sangkur. (Getty Images)
Washington DC -

Ketika Perang Dunia II berakhir, konflik paling berdarah dalam sejarah yang menewaskan lebih dari 70 juta orang, militer AS mengemukakan kesimpulan menakjubkan: yang tewas dibunuh belum cukup banyak.

Atau dengan kata lain: tentara AS tidak cukup banyak berpartisipasi dalam pembunuhan.

Di dalam regu berisi 10 serdadu, rata-rata kurang dari tiga serdadu yang menembakkan senjata mereka saat bertempur lepas dari pengalaman mereka atau seberapa besar ancaman musuh terhadap nyawa mereka.

as
Apakah tentara AS enggan menekan pelatuk pada senjata mereka dalam Perang Dunia II? (Getty Images)


Hal ini dijabarkan analis sekaligus sejarawan resmi militer AS, Brigadir Jenderal Samuel Lyman Atwood Marshall alias S.L.A. Marshall atau 'Slam,' yang menulis sejumlah artikel dalam jurnal-jurnal militer yang belakangan dijadikan buku berjudul Men Against Fire.

Karyanya menuai kritik tajam dari banyak kalangan yang menuduhnya penipu. Namun, saat itu karyanya merevolusi pelatihan di tubuh militer AS.

Rasio penembakan

"Seorang komandan infanteri akan dianjurkan untuk meyakini bahwa ketika dia berhadapan dengan musuh, tidak lebih dari seperempat anak buahnya yang akan melancarkan serangan telak," tulis Marshall.

"Estimasi 25%," tambahnya, "Berlaku pula untuk pasukan yang terlatih dengan baik dan berpengalaman bertempur. Maksud saya, 75% tidak akan menembak atau tidak akan secara konsisten menembak musuh. Serdadu-serdadu ini mungkin menghadapi bahaya tapi mereka tidak akan melawan," ujarnya.

Marshall belakangan merevisi estimasinya dari rata-rata 75% menjadi 85%.

Lantas mengapa pasukan infanteri AS baik di palagan Eropa maupun Pasifik begitu enggan menembakkan senjata walau menghadapi bahaya ekstrem?

as
Riset Marshall mengubah cara pelatihan serdadu. (Getty Images)


Menurut Marshall, ada dua penyebab. Pertama, mayoritas tentara akan selalu cenderung memasrahkan pekerjaan kepada segelintir orang. Kedua, peradaban yang berkembang di Amerika membuat warga AS "takut terhadap agresi" sehingga mereka tidak bertempur.

Kesimpulan Marshall adalah orang Amerika adalah manusia yang terlalu damai secara inheren

Karena itu, segenap tentara harus dilatih menembakkan senjata mereka menggunakan insting dalam pertempuran, tanpa berpikir atau menggunakan perasaan belas kasihan.

Sejarawan militer Inggris, Sir John Keegan, menilai "tujuan utama Marshall dalam tulisannya bukanlah semata untuk dijabarkan dan dianalisa...tapi meyakinkan militer Amerika bahwa mereka berperang dengan cara yang salah".

Ditambahkannya, "Argumen-argumennya efektif, pengalamannya sebagai seorang sejarawan tidak umum, yaitu pesannya tidak hanya diterima saat dia masih hidup, tapi juga diterjemahkan menjadi praktik."

as
Riset mengklaim bahwa pasukan AS di Vietnam cenderung lebih banyak menggunakan senjata mereka ketimbang saat Perang Dunia II. (AFP)


Marshall sendiri mengklaim bahwa penelitiannya ditanggapi secara efektif oleh militer AS sehingga kemudian "rasio penembakan" meningkat.

Dia melanjutkan penelitiannya pada Perang Korea dan melaporkan rasio penembakan bertambah menjadi 55%.

Di Vietnam, rasio penembakan naik lebih tinggi. Sebuah kajian menemukan bahwa 90% tentara AS menembakkan senjata mereka ke pihak lain.

Metodologi

Marshall mengemukakan istilah "wawancara setelah pertempuran".

Caranya, dia mengunjungi pasukan di garis depan dia mengklaim telah berbincang dengan lebih dari 400 orang sesaat setelah pertempuran dan berbicara dengan tentara yang terlibat.

Tanpa menyebut identitas, para tentara itu mengemukakan apa yang mereka lakukan dalam pertempuran dan Marshall mencatatnya. Namun, kalangan yang mengritik Marshall mengatakan hanya sedikit buku catatan yang pernah ditemukan.

Kalangan pengritik juga menuding Marshall tidak pernah mewawancarai prajurit yang terluka, atau karena alasannya jelas, mereka yang kemudian tewas.

as
Sejumlah tentara AS membantah apa yang disebutkan dalam wawancara dengan Marshall. (Reuters)


Dari catatan-catatan itu, Marshall membangun teori, yaitu mayoritas tentara AS yang berperang melawan Jerman dan Jepang terlalu takut menembak musuh.

Mereka tidak takut mati, menurutnya, tapi takut membunuh.

Penuturan Marshall ini kemudian didengar oleh para jenderal di Washington.

Teknik pelatihan

Semula latihan menembak bagi tentara AS biasanya menggunakan sasaran jarak jauh di lapangan tembak.

Namun, latihan semacam ini tidak mirip dengan kondisi pertempuran yang sebenarnya dan tidak menyiapkan serdadu untuk menembak manusia.

as
Pasukan AS pada 1940-an menggunakan sasaran sederhana. (Getty Images)


Kemudian setelah Perang Dunia II, militer mulai memakai sasaran berupa bayangan manusia.

Hal ini, diharapkan, akan membantu mengatasi ketakutan agresi.

Target menembak juga akan muncul secara tiba-tiba pada jarak yang beragam, lantas tentara diperintahkan menembak secara cepat untuk merangsang refleks menembak.

Ketika Perang Vietnam berlangsung, pertempuran jarak dekat semakin jarang terjadi.

Akan tetapi, latihan menyerang menggunakan sangkur masih diteruskan guna membangun sikap agresif terhadap musuh bukan berarti latihan ini akan diterapkan pada medan tempur.

as
Latihan menyerang menggunakan sangkur masih diterapkan oleh militer AS. (Getty Images)


Semua metode ini dimaksudkan untuk membangun kekebalan dalam hati nurani untuk membunuh.

Mayor F.D.G. Williams dalam Doktrin dan Pelatihan Militer AS menulis: "Ide-idenya tampak disambut baik kemudian pudar. Namun, faktanya, observasi Marshall dan anjuran-anjurannya berujung pada banyak perbaikan."

Kontroversi

Namun tidak semua kalangan militer mendukung karya Marshall. Kritik tajam pada akhirnya mencoreng reputasinya.

Di samping catatannya yang dipertanyakan, beberapa serdadu yang diwawancarainya belakangan mengaku Marshall tidak pernah bertanya apakah mereka pernah menembakkan senjata.

Marshall juga tidak pernah mengemukakan analisis statistik untuk mendukung angka-angka estimasi yang dibuatnya.

as
Para prajurit Amerika mendarat di pesisir Nugini Belanda yang kini menjadi wilayah Provinsi Papua, Indonesia. (Getty Images)


Menurut penulis Kanada, Robert Engen: "Ada kemungkinan bahwa rasio jumlah penembakan yang terkenal itu direkayasa berdasarkan pemikiran Marshall soal pertempuran."

"Terlepas dari semua karya historisnya dan jumlahnya banyak, Marshall adalah pria yang mengalami rabun akademis dan melihat apa yang dia ingin lihat."

Namun, yang terutama adalah klaim-klaimnya semisal pengakuan pernah memimpin pasukan dalam Perang Dunia I dan menjadi perwira termuda dalam seluruh pasukan tempur Amerika di luar negeri sepenuhnya salah.

Dia baru diberi pangkat sebagai perwira pada 1919, kemudian berpartisipasi di Eropa dengan mengawal para serdadu ke kampung halaman setelah perang berakhir.

as
Pertanyaan mengemuka soal peran Marshall dalam pertempuran Perang Dunia I. (Getty Images)


Argumen-argumennya juga membuat kesal para tentara veteran yang merasa reputasi mereka tercoreng.

Seorang sersan tua mempertanyakan teori Marshall dengan sinis, "Apakah para perwira militer berpikir kami memukuli tentara Jerman sampai mati?"

Estimasi 15% sampai 20% yang dikemukakan Marshall masih sering dikutip sumber-sumber kredibel sampai sekarang, jauh setelah landasan argumennya dipertanyakan.

Namun, warisan Marshall tidak diragukan. Karya-karyanya membuat segenap serdadu di seluruh penjuru dunia menjadi mesin pembunuh yang lebih efisien.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com