detikNews
Sabtu 31 Agustus 2019, 08:32 WIB

Kisah Warga Kashmir yang Mengklaim Disiksa Tentara

BBC World - detikNews
Kisah Warga Kashmir yang Mengklaim Disiksa Tentara Bekas penyiksaan yang dialami seorang pria di Kashmir. (BBC)
Kashmir -

Tentara di wilayah Kashmir yang dikuasai India dituduh melakukan pemukulan dan bahkan penyiksaan setelah pemerintah memutuskan mencabut otonomi kawasan itu.

BBC mendengar kisah dari sejumlah penduduk desa yang mengalami luka-luka. Namun BBC tidak dapat melakukan verifikasi dengan para pejabat.

Militer India sendiri menyebut tuduhan itu, "tak mendasar dan tak ada bukti pendukung."

Pembatasan yang diterapkan di Kashmir menyebabkan wilayah itu terisolir selama lebih dari tiga minggu dan informasi yang muncul sejak 5 Agustus - setelah Pasal 370 tentang status khusus- dicabut.

Puluhan ribu pasukan tambahan dikerahkan dan sekitar 3.000 orang, termasuk pemimpin politik, pengusaha dan aktivis, dilaporkan ditahan. Banyak yang dibawa ke penjara di luar negara bagian itu.

Pemerintah India mengatakan langkah itu dirancang untuk mempertahankan keamanan dan ketertiban di kawasan yang merupakan satu-satunya negara bagian dengan penduduk mayoritas Muslim. Wilayah ini kini terbagi menjadi dua kawasan federal.

Militer India dalam tiga dekade terakhir memerangi kelompok separatis. India menyalahkan Pakistan memicu kerusuhan di kawasan dengan memberikan dukungan kepada militan, namun disanggah Islamabad. Pakistan sendiri menguasai sebagian lain dari Kashmir.

Banyak pihak di India yang menyambut dicabutnya Pasal 370 dan memuji Perdana Menteri Narendra Modi karena mengambil keputusan itu. Langkah itu juga disambut oleh media utama India.

Tentara berjaga-jaga di Srinagar pada 28 Agutus 2019. Kawasan di lembah Himalaya ini masih ditutup dan internet serta telpon diputus sejak 5 Agustus.
Tentara berjaga-jaga di Srinagar pada 28 Agutus 2019. Kawasan di lembah Himalaya ini masih ditutup dan internet serta telpon diputus sejak 5 Agustus. (Getty Images)

Peringatan: Konten di bawah ini berisi rincian penyiksaan

Wartawan BBC Sameer Hashmi berkunjung ke sedikitnya enam desa di kawasan selatan yang menjadi tempat kelompok militan anti-India dalam beberapa tahun terakhir.

Di desa ini, Sameer mendengar kisah orang yang mengalami penyergapan di malam hari, pemukulan dan penyiksaan.

Para dokter dan petugas kesehatan tak mau berbicara kepada wartawan tentang pasien mereka. Namun penduduk desa menunjukkan luka-luka yang, menurut mereka, akibat pemukulan tentara.

Di satu desa, penduduk mengatakan tentara bergerak dari rumah ke rumah tak lama setelah India mengumumkan kebijakan kontroversial tentang status Kashmir.

Dua kakak beradik mengklaim mereka dibangunkan di malam hari dan dibawa ke suatu tempat serta menyaksikan sekitar 12 pria lain dari desa itu dikumpulkan. Mereka juga takut untuk mengungkap nama mereka.

"Mereka memukul saya. Kami bertanya, apa yang kami lakukan? Tanya saja penduduk lain, apakah kami pernah melakukan kesalahan?" cerita salah satu dari mereka.

"Mereka tak mendengar kami, mereka tak berkata apapun, mereka terus saja memukul kami."

"Saat kami menjerit kesakitan, mulut kami disumpal lumpur" Luka memar yang dialami salah seorang penduduk yang mengklaim mengalami penyiksaan.
Luka memar yang dialami salah seorang penduduk yang mengklaim mengalami penyiksaan. (BBC)


"Semua bagian tubuh saya dipukul. Mereka menendang kami, memukul kami dengan pentungan, menyengat listrik, memukul kami dengan kabel. Saat kami pingsan, mereka menyengat kami dengan listrik agar kami bangun. Saat kami menjerit kesakitan, mereka menyumpal mulut kami dengan lumpur," cerita mereka.

"Kami katakan kami tak melakukan kesalahan apapun. Tapi mereka tak mendengar. Saya minta tembak saja saya jangan pukul. Saya minta Tuhan untuk mengambil nyawa saya karena siksaan itu luar biasa tak tertahankan."

Seorang warga desa lain, seorang pria muda, mengatakan tentara terus menanyakan siapa demonstran yang melempar batu, pertanyaan yang mengacu pada para remaja laki yang selama ini melakukan demo di Lembah Kashmir.

Ia mengatakan tidak mengetahui apapun dan bahkan diminta buka baju, kacamata dan sepatu.

"Begitu saya buka baju, mereka terus memukul saya, selama hampir dua jam. Begitu saya tak sadar, mereka menyadarkan saya dengan sengatan listrik."

"Bila mereka menyiksa saya lagi. Saya akan lakukan apapun. Saya akan ambil senjata. Saya tak tahan menghadapi ini," katanya.

Pria muda itu menambahkan tentara memintanya untuk memperingatkan semua orang di desa bila ikut demo menentang tentara, mereka akan menghadapi penyiksaan yang sama.

Semua pria di semua desa percaya bahwa pasukan keamanan melakukan ini untuk mengintimidasi penduduk desa sehingga mereka tak akan melakukan protes lagi.

"Mereka tak menganggap kami manusia" - Tentara menyangkal

Dalam pernyataan kepada BBC, tentara India mengatakan, "Tidak pernah bertindak seperti yang dituduhkan terhadap warga sipil manapun."

"Tidak ada tuduhan seperti itu yang dilaporkan ke kami. Tuduhan itu pasti dipicu oleh mereka yang sengaja mengangkat permusuhan," kata juru bicara tentara Kolonel Aman Anand.

Sejumlah langkah diambil untuk melindungi warga sipil namun "tak ada laporan korban atau luka-luka karena tindakan tentara," tambahnya.

BBC mengunjungi sejumlah desa, tempat banyak warga yang mendukung gerakan separatis yang mereka sebut "pejuang kebebasan."

Di kawasan Kashmir ini, pada Februari lalu terjadi serangan bom bunuh diri yang menewaskan 40 tentara India dan kejadian ini menyebabkan India dan Pakistan hampir terjerumus perang.

Kawasan ini juga tempat terbunuhnya militan Kashmir Burhan Wani pada 2016, kejadian yang memicu kemarahan anak muda Kashmir yang bergabung dengan pemberontakan melawan India.

Tentara India memiliki kamp di kawasan ini dan militer secara rutin melakukan patroli untuk melacak kelompok militan dan pendukungnya. Penduduk desa mengatakan mereka sering terjebak.

Di satu desa, BBC bertemu seorang pria berumur 20an yang mengatakan tentara mengancamnya bila ia menolak menjadi informan mereka. Saat ia menolak, ia mengatakan dipukuli.

"Mereka memukul saya seperti binatang dan tak menganggap kami manusia."

Pria lain yang menunjukkan luka-lukanya mengatakan ia didorong dan dipukuli dengan "kabel, senjata, kayu dan mungkin besi" oleh sekitar 15 tentara.

"Saya setengah sadar. Mereka menarik janggut saya dan rasanya mulut saya seperti mau lepas."

Ia mengatakan seorang anak laki yang menyaksikan penyiksaan itu bercerita tentara hampir membakar janggutnya namun dicegah oleh tentara lain.

Di desa lain, BBC bertemu dengan pria muda yang mengatakan abangnya dua tahun lalu bergabung dengan Hizbul Mujahideen, salah satu kelompok yang melawan kekuasaan India atas Kashmir.

Ia bercerita baru-baru ini diinterogasi di kamp tentara dan ia mengklaim mengalami penyiksaan dan keluar dari situ dengan kaki patah.

"Mereka mengikat tangan dan kami saya dan menggantung saya. Mereka pukul saya selama lebih dari dua jam," katanya.

Namun tentara menyanggah.

Dalam pernyataan yang diterima BBC, mereka mengatakan mereka adalah "organisasi profesional dan menghargai hak asasi manusia" dan "semua tuduhan itu diselidiki."

Mereka menambahkan bahwa 20 dari total 37 kasus yang diangkat Komisi Hak Asasi Manusia (NHRC) dalam lima tahun terakhir "tidak berdasar," 15 diselidiki dan "hanya tiga tuduhan yang ditemukan perlu diselidiki lebih lanjut." Mereka yang ditemukan bersalah, dihukum, kata tentara India dalam pernyataan.

Namun, laporan organisasi hak asasi Kashmir tahun ini menyebut adanya ratusan tuduhan kasus pelanggaran HAM di Kashmir dalam tiga dekade.

Komisi HAM PBB juga menyerukan dibentuknya tim penyelidik untuk melakukan penyelidikan internasional yang komprehensif. Komisi menerbitkan laporan 49 halaman berisi tuduhan penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh pasukan keamanan di kawasan itu.

India menyanggah tuduhan dalam laporan itu.

Apa yang terjadi di Kashmir?
  • Kashmir adalah wilayah Himalaya yang diklaim oleh India dan Pakistan. Setiap negara menguasai sebagian wilayah. India dan Pakistan terlibat dalam dua perang terkait konflik ini.
  • Kawasan yang dikuasai India, negara bagian Jammu dan Kahsmir - memiliki otonomi dalam Artikel 370 yang kemudian dicabut.
  • Pada 5 Agustus, pemerintah India mencabut Pasal 370. Perdana Menteri Narendra Modi dan partai yang berkuasa Bharatiya Janata menyatakan Kashmir harus memiliki status sama dengan negara bagian lain.
  • Sejak itu, Kashmir yang dikuasai India ditutup di tengah protes besar yang berujung kekerasan. Pakistan menyerukan masyarakat internasional untuk turun tangan.



(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com