detikNews
Selasa 06 Agustus 2019, 16:47 WIB

Bagaimana Bepergian Tanpa Mahram Berpengaruh pada Perempuan Arab Saudi?

BBC Magazine - detikNews
Bagaimana Bepergian Tanpa Mahram Berpengaruh pada Perempuan Arab Saudi?
Riyadh -

Arab Saudi telah mengizinkan perempuan bepergian tanpa persetujuan pria, dan salah seorang penduduk Jeddah, Lulwa Shalhoub, menjelaskan pengaruh kebijakan ini terhadap kehidupannya.

Tidak diperlukannya izin dari pria saat melakukan perjalanan, merupakan langkah maju berikutnya bagi hak perempuan di Arab Saudi.

Jika melakukan perjalanan ke luar negeri nanti, saya tidak perlu khawatir dengan perpanjangan izin bepergian di Direktorat Paspor Saudi atau di perbatasan Saudi.

Saya akan mengepak koper dan meyakini bahwa memperlihatkan paspor hijau, sebagai warga negara dewasa Saudi, sudah cukup. Saya pribadi akan merasa bertanggung jawab atas keputusan saya melintasi perbatasan tanpa izin wali pria.

Minggu lalu kembali menjadi hari bersejarah bagi perempuan Saudi, karena telah memberikan harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi mereka dan anak-anak perempuan mereka. Masa depan dimana mereka bukanlah warga negara kelas dua.

Mendapatkan izin wali pria untuk melakukan perjalanan ke luar negeri merupakan salah satu hambatan yang dihadapi perempuan Arab Saudi, terutama bagi janda cerai atau janda karena suaminya meninggal.

Dalam beberapa kasus, perempuan harus mendapatkan izin dari anak laki-laki mereka karena tidak memiliki ayah, paman atau saudara laki-laki yang masih hidup.

Akhirnya, terdapat kesetaraan gender terkait definisi kedewasaan di Arab Saudi. Baik pria maupun perempuan sama-sama dipandang sebagai warga dewasa begitu mencapai umur 21 tahun.

Sebelumnya, Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang melarang perempuan menjadi pengemudi.
Sebelumnya, Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang melarang perempuan menjadi pengemudi. (AFP)

Sebelumnya, seorang ibu yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membesarkan anak laki-lakinya, merasa direndahkan karena memerlukan izin anaknya itu agar dapat bepergian.

Hal ini juga dipandang ironis karena terjadi dalam kebudayaan yang sangat mementingkan penghormatan kepada orang tua.

Yang lebih menyulitkan adalah ketika seorang perempuan tidak memiliki kerabat pria yang dapat menjadi walinya - apakah itu ayah, suami, saudara laki-laki atau anak laki-laki.

Janda cerai atau janda karena suami meninggal pada keluarga sangat konservatif yang didominasi pria dapat dilarang bepergian saat mereka menginginkannya.

Sebagai seorang perempuan Saudi, rasanya senang menjadi saksi era baru perubahan cepat yang akan dianggap di masa depan sebagai masa di mana Arab Saudi mulai membuka diri, menerima perempuan sebagai rekan setara pria.

saudi, perempuan
Reuters

Dibesarkan pada tahun 90-an, generasi saya terbelenggu banyak tabu.

Tabu budaya ini, didukung interpretasi ekstrem agama, banyak terjadi pada masyarakat yang memisahkan laki-laki dengan perempuan. Aturan ini memberikan laki-laki wewenang untuk mengambil keputusan bagi anggota keluarganya yang perempuan.

Saya tinggal di luar negeri selama delapan tahun dari tahun 2008, dan setiap kali saya mengunjungi Jeddah untuk menjenguk keluarga saya, saya melihat perubahan secara perlahan.

Ini terjadi di masyarakat bukan karena perubahan peraturan.

Masyarakat mulai menerima kenyataan bahwa laki-laki dan perempuan muda dapat bekerja bersama-sama, bertemu di muka umum, perempuan mengenakan abaya warna-warni - menjadikan pakaian longgar ini sebagai elemen adi busana - dan perempuan muda bisa bersekolah di luar negeri seorang diri.

'Arah baru'

Yang membuat perubahan terjadi lebih cepat dan semakin sulit ditolak dalam dua tahun terakhir adalah dukungan perubahan aturan dan keputusan kerajaan.

Di antaranya adalah pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan Saudi pada bulan September 2017, yang mulai diterapkan pada Juni 2018, dan yang terbaru terkait dengan perubahan izin bepergian.

Perubahan terbaru berpengaruh positif terhadap struktur keluarga. Di dalam sebuah keluarga, bepergian memang seharusnya menjadi sebuah pilihan.

Mencapai tingkat persamaan seperti ini berarti hubungan antara seorang perempuan dengan ayah, suami atau saudara laki-laki, seharusnya berdasarkan kepercayaan, komunikasi terbuka dan rasa tanggung jawab.

Peraturan baru ini menandakan hubungan suami dan istri menjadi sebuah hubungan dua orang dewasa yang bertanggung jawab, bukannya perwalian terhadap seseorang yang tidak dewasa.

Teman-teman Saudi saya, diri saya sendiri dan kebanyakan perempuan Saudi, tidak lagi dipandang sebagai perempuan dalam keadaan khusus, yang tidak memiliki hak seperti perempuan lain di dunia.

Arah baru ini menempatkan kami, perempuan, di tempat dimana kami dapat memiliki hak pribadi dan keyakinan diri terkait kemampuan kami dalam menjaga diri kami sendiri.

Lulwa Shalhoub adalah wartawan lepasan di Jeddah yang sebelumnya bekerja untuk BBC Arab di London.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed