detikNews
Selasa 30 Juli 2019, 10:14 WIB

Mantan Teknisi Boeing: Keluarga Saya Tidak Akan Naik Pesawat 737 Max

BBC World - detikNews
Mantan Teknisi Boeing: Keluarga Saya Tidak Akan Naik Pesawat 737 Max Foto: Getty Images
London - Mantan teknisi Boeing mengatakan kepada program Panorama BBC bahwa pekerjaan bidang produksi pesawat 737 Max tidak cukup dana dan bahwa "keluarganya sendiri tidak akan naik" karena masalah keamanan.

Saat ini pesawat itu dilarang terbang karena dua kecelakaan yang menewaskan 346 orang.

Ethiopian Airlines 737 Max jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Maret 2019, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 157 orang.

Jenis yang sama diterbangkan oleh maskapai Indonesia Lion Air, jatuh ke laut hanya lima bulan sebelum insiden di Ethiopia, tidak lama setelah lepas landas dari Jakarta. Kecelakaan itu merenggut nyawa 189 orang.

737 Max adalah pesawat yang paling laku dan telah menghasilkan miliaran dolar.

Boeing menyangkal pernyataan tersebut dan mengatakan pihaknya tetap bertekad menjadikan 737 Max sebagai salah satu pesawat yang paling aman diterbangkan.

Ganti rugi Boeing secara umum.
BBC

Ganti rugi Boeing secara umum

Adam Dickson telah bekerja di Boeing selama 30 tahun dan memimpin kelompok teknisi yang memproduksi 737 Max. Dia mengatakan mereka terus ditekan untuk menghemat.

"Sudah pasti apa yang saya saksikan adalah kurangnya sumber daya untuk melakukan pekerjaan secara menyeluruh," katanya.

"Budayanya sangat terpaku pada biaya, sangat ditekan. Para teknisi diberikan target untuk menghemat sejumlah dana saat membuat pesawat."

Adam Dickson sudah bekerja selama 30 tahun di Boeing.
Adam Dickson sudah bekerja selama 30 tahun di Boeing. (BBC)

Dickson mengatakan para teknisi ditekan untuk tidak mementingkan fitur baru 737 Max.

"Keluarga saya tidak akan naik 737 Max"

Dengan mengelompokkannya pada perubahan kecil bukannya besar, Boeing menjadi tidak terlalu diperhatikan badan AS, Federal Aviation Administration.

"Tujuannya adalah menunjukkan bahwa berbagai perubahan tersebut begitu mirip dengan desain sebelumnya sehingga tidak diperlukan adanya klasifikasi desain besar dalam proses sertifikasi. Muncul banyak perhatian dan tekanan terkait sertifikasi dan terutama pada teknisi analisis, untuk memandang perubahan apapun pada Max sebagai perubahan kecil," kata Dickson.

boeing, 737 max
BBC

Dia mengatakan sikap yang tidak menganggap penting perubahan mengurangi pemeriksaan sehingga dapat mempengaruhi keamanan. Ia bahkan mengatakan keluarganya sendiri mengkhawatirkan keamanan pesawat.

"Keluarga saya tidak akan naik 737 Max. Satu hal yang menakutkan menyaksikan kecelakaan sebesar itu karena sistem yang tidak bekerja dengan baik atau tepat."

Boeing mengatakan pernyataan mantan insinyur tersebut tidaklah tepat.

"Kami tidak menghemat atau memasarkan 737 Max sebelum pesawat tersebut siap," kata perusahaan itu.

"Kami selalu berpegang pada nilai-nilai keamanan, kualitas dan integritas serta nilai-nilai yang saling mendukung dan secara bersama-sama memperkuat produktifitas dan kinerja perusahaan."

Boeing menyatakan keamanan adalah salah satu nilainya.
Boeing menyatakan keamanan adalah salah satu nilainya. (BBC)

Penumpang pertama kali menaiki 737 Max pada tahun 2017, tetapi maskapai penerbangan sudah melakukan pembelian di depan sejak pesawat pertama kali dipasarkan pada tahun 2011.

Lima ribu pesawat telah dipesan - menjadikannya pesawat paling laku sepanjang sejarah Boeing.

Sebagian dana yang didapat dari penjualan dipakai untuk membayar pada eksekutif dan pemegang saham perusahaan dalam jumlah besar.

'Bayaran tinggi'

Sejak tahun 2013, Boeing membayar US$17 miliar atau Rp238 triliun dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham dan mengeluarkan US$43 miliar atau Rp603 triliun untuk membeli sahamnya sendiri - langkah ini turut membuat saham Boeing naik tiga kali lipat hanya dalam waktu lima tahun.

Pimpinan perusahaan Dennis Muilenburg juga mendapat gaji lebih dari US$70 juta atau Rp982 miliar.

William Lazonick
Ekonom William Lazonick mengatakan manajemen senior terlalu memusatkan perhatian pada usaha mendapatkan uang. (BBC)

Para pengkritik menuduh Boeing terlalu memperhatikan pasar saham bukannya keamanan para penumpang.

Ahli ekonomi William Lazonick mengatakan manajemen senior terlalu memfokuskan diri pada usaha mendapatkan keuntungan.

"Jika Anda membayar sangat tinggi insentif yang diterima eksekutif teratas dan mengatakan kepada mereka bahwa pekerjaan mereka adalah menaikkan harga saham, maka mereka tidak akan memberikan perhatian yang diperlukan untuk memastikan mereka menghasilkan pesawat yang aman," katanya.

Boeing mengatakan pihaknya "menerapkan strategi penempatan dana seimbang yang memastikan investasi pada bisnis inti dan pegawai, memberikan nilai yang sepadan kepada pemegang saham dan memelihara laporan keuangan dan peringkat pinjaman yang kuat," katanya.

Pesawat 737 Max dilarang terbang sejak bulan Maret dan belum ada petunjuk kapan pesawat ini diizinkan terbang lagi.

Boeing telah berusaha memperbaiki perangkat lunak yang membuat pesawat di Indonesia dan Ethiopia mengalami kecelakaan.

Sistem manuver, Maneuvering Characteristics Augmentation System, MCAS dirancang untuk beroperasi ketika pesawat terbang pada sudut curam dengan hidung pesawat ke atas - dan akan secara otomatis berusaha menggerakkan hidung pesawat ke bawah.

Hal ini bertujuan agar kontrol lebih dapat diperkirakan dan dikenal para pilot yang biasa dengan versi 737 sebelumnya.

Tetapi para pilot tidak mengenal MCAS karena tidak dimasukkan dalam materi pelatihan atau manual 1.600 halaman Max.

Sistem Boeing juga memiliki cacat yang fatal - karena menggunakan sensor tunggal untuk mengetahui sudut terbang pesawat.

Pada penerbangan Indonesia dan Ethiopia, sensor berhenti bekerja dengan baik. Ini menyebabkan MCAS memaksa pesawat bergerak ke bawah meskipun sebenarnya telah berada pada arah yang benar.

Pilot berjuang mengendalikan kontrol, karena MCAS dirancang untuk bekerja setiap beberapa detik. Pesawat Indonesia dipaksa bergerak turun lebih dari 20 kali sebelum mengalami kecelakaan.

'Rumit'

Boeing menyatakan pihaknya tidak bergantung pada sensor tunggal, karena pilot hadir sebagai pengganti. Terdapat cara untuk mengendalikan MCAS - prosedur standar yang para pilot seharusnya telah mengetahui saat menerbangkan 737 versi sebelumnya.

Perusahaan mengatakan para pilot tidak mengikuti prosedur operasi yang tepat ketika terjadi masalah.

Tetapi pilot seperti Chris Brady mengatakan adalah suatu kekeliruan untuk menyalahkan pilot.

"Jika Anda akan merancang dan mensertifikasi sebuah pesawat dengan modus kegagalan yang begitu rumit dan tidak jelas seperti yang dialami para awak, tidaklah mengherankan jika awak pada umumnya tidak dapat mengatasinya," katanya.

Boeing menyatakan pihaknya memusatkan perhatian pada penerapan perbaikan perangkat lunak, menyelesaikan pelatihan pilot dan membangun kembali kepercayaan para pelanggan.

"Boeing sangat menyesalkan hilangnya nyawa dan akan terus bekerja sama dengan masyarakat, pelanggan dan industri penerbangan untuk membantu proses penyembuhan," katanya.

"Di setiap kecelakaan kita harus belajar dari apa yang terjadi. Adalah juga penting untuk menghindarkan diri dari berspekulasi sebelum hasil penyelidikan rampung."


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com