detikNews
Senin 29 Juli 2019, 16:15 WIB

Teleskop Rp 19,5 T Akan Dibangun di Hawaii, Bisa Buktikan Kehidupan Lain?

BBC Magazine - detikNews
Teleskop Rp 19,5 T Akan Dibangun di Hawaii, Bisa Buktikan Kehidupan Lain? Komet Hale-Bopp terlihat di atas teleskop Mauna Kea. (SCIENCE PHOTO LIBRARY)
Honolulu - Perdebatan tentang gunung api tidak aktif di Hawaii kembali muncul dalam beberapa hari terakhir, membenturkan budaya dan sejarah negara bagian AS itu dengan ambisinya.

Rencana pembangunan sebuah teleskop baru yang kuat di dekat puncak gunung api Mauna Kea dapat menciptakan ratusan pekerjaan dan meningkatkan ekonomi dan ilmu pengetahuan.

Tetapi penduduk asli Hawaii menegaskan situs tersebut adalah tempat suci dan konstruksi yang sudah lama direncanakan untuk dibangun tersebut seharusnya tidak dilanjutkan.

Minggu lalu pengunjuk rasa menutup akses ke tempat konstruksi di Mauna Kea, pegunungan tertinggi dunia jika diukur dari dasarnya di bawah air. Paling tidak sudah 33 orang ditangkap, dipanggil dan kemudian dibebaskan.

Gubernur Hawaii mengeluarkan "pernyataan darurat" agar dapat meningkatkan pemakaian kekerasan untuk membubarkan blokade tetapi dia mengatakan tetap menginginkan jalan keluar "damai dan memuaskan" bagi kedua belah pihak.

Inilah sejumlah orang di pusat perdebatan menjelaskan arti proyek Mauna Kea dan Teleskop Tiga puluh Meter (Thirty Meter Telescope/TMT) bagi mereka.

Pendukungnya: 'Ini dapat membawa kita ke kehidupan angkasa luar'

TMT senilai US$1,4 miliar atau Rp19,5 triliun dapat membantu menjawab salah satu pertanyaan terbesar kemanusiaan: apakah terdapat kehidupan di planet lain? Itu menurut Roy Gal, astronom University of Hawaii.

"Kita untuk pertama kalinya dapat mengukur atmosfer planet seukuran Bumi di daerah yang dapat ditinggali di sekitar bintang lain," katanya. "Kita akan menyaksikan apakah atmosfer planet tersebut memiliki air dan molekul yang diperlukan bagi kegiatan biologis.

Roy mengatakan Mauna Kea mempunyai keadaan yang ideal untuk menyaksikan kosmos dan teleskop sudah memberikan sumbangan besar, termasuk pengamatan peningkatan perluasan alam semesta.

Penolaknya: 'Ini adalah kuil kami'

Bukit ini adalah kuil bagi penduduk asli Hawaii, menghubungkan "ciptaan dengan penciptanya", kata Kealoha Pisciotta, presiden Mauna Kea Anaina Hou, salah satu kelompok penolak TMT.

"Gunung ini adalah tempat sebagian nenek moyang kami yang tertinggi dan terhormat. Ini adalah simbol perdamaian dan aloha", tambahnya.

Puncak yang dipandang tempat tinggal para dewa, "hanya untuk hal-hal yang sangat khusus, unik, yang dilakukan para pemimpin, pendeta dan pemimpin spiritual. Ini bukanlah tempat umum untuk manusia."

Tetapi sejumlah teleskop sudah dibangun di puncak Mauna Kea. Kealoha dan pihak-pihak lainnya mengatakan mereka tidak percaya janji bahwa TMT akan menjadi yang terakhir.

Bima Sakti difoto dari Mauna Kea.
Bima Sakti difoto dari Mauna Kea. (Science Photo Library)


Pendukung: 'Astronomi membantu saya menyatu dengan kebudayaan saya'

Gunung api ini adalah "tempat suci dan khusus yang harus diperlakukan secara sangat terhormat", kata Alexis Acohido, penduduk asli Hawaii yang telah bekerja selama lebih empat tahun di laboratorium yang sudah ada di Mauna Kea.

"Saya mendukung proyek Thirty Meter Telescope karena ini akan memberikan kesempatan untuk belajar," katanya.

"Astronomi adalah salah satu cara saya untuk merasa menyatu dengan kebudayaan saya. Orang Hawaii adalah ilmuwan dan insinyur yang luar biasa. Cara mereka mengarungi Samudra Pasifik dengan mengamati angin, ombak dan bintang."

"Saya percaya bahwa ilmu pengetahuan yang kami lakukan di Mauna Kea adalah perpanjangan warisan, dan ini membuat saya bangga sebagai orang Hawaii."

Penolak: 'Tidak menolak sains'

"Mauna Kea diakui sebagai tempat tinggal sejumlah dewa yang berkaitan dengan air," kata Noelani Goodyear-Kaopua, profesor ilmu politik ahli politik asli dan pribumi Hawaii. "Hal ini terjelma dalam bentuk hujan di sekeliling gunung."

Bukit tersebut adalah bagian dari "tanah Hawaii yang diberikan", yang sebelumnya dimiliki kerajaan Hawaii dan sekarang di bawah yayasan pemerintah. Tanah dimana teleskop dibangun disewakan ke University of Hawaii, tempat kerja Noelani.

Noelani menegaskan protes terhadap TMT bukannya "sebuah penentangan terhadap sains. (Tetapi) sebenarnya penentangan terhadap pengembangan industri dan pengrusakan tanah dan sumber daya kami," katanya.

Mauna Kea BBC


Pendukung: 'Gunung cukup besar untuk semuanya'

Kalepa Baybayan, navigator penduduk asli Hawaii, mengatakan Mauna Kea sejak lama menjadi "mercu suar" yang mengarahkannya pulang setelah mengarungi laut.

"Hubungan saya dengan gunung berasal dari pengalaman saat saya mengarungi laut dan menggunakan bintang sebagai cara untuk membantu menciptakan sistem pemandu bagi kami," katanya. "Dalam perjalanan saya, menavigasi Hawaii tanpa peralatan, kami biasanya memulainya dengan Mauna Kea."

Dia juga mengatakan akan terdapat keuntungan ekonomis TMT termasuk pembayaran sewa dan pekerjaan. "Terdapat cukup tempat di gunung untuk semuanya. Yang orang perlu pelajari adalah bagaimana cara saling berbagi."

Penolak: 'Hawaii adalah kebudayaan tersendiri'

Gunung adalah inti jati diri Hawaii, kata Theresa Keohunani Taber, penentang proyek TMT yang membantu peningkatan kesadaran terhadap gerakan ini lewat media sosial.

"Budaya Hawaii dan bahasa Hawaii dan sumber daya Hawaii dan orang Hawaii adalah apa yang dimaksud dengan Hawaii. Jika Anda mulai menghapus hal tersebut maka Hawaii sudah tidak ada lagi," katanya.

Para pengunjuk ras di Mauna Kea mengatakan mereka tidak menyerah sampai TMT dihentikan.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com