detikNews
Rabu 17 Juli 2019, 10:41 WIB

Bukti Foto Ini Patahkan Teori Konspirasi Pendaratan Astronot AS ke Bulan

BBC Magazine - detikNews
Bukti Foto Ini Patahkan Teori Konspirasi Pendaratan Astronot AS ke Bulan
Washington - Modul Apollo 11 tahun 1969
Modul Bulan Apollo 11 mendekati satelit itu. (Getty Images)

Siaran Pendaratan Bulan pertama pada bulan Juli 1968 ditonton jutaan orang di dunia.

Tetapi masih ada sejumlah orang yang meyakini bahwa manusia tidak pernah menginjakkan kaki di Bulan.

Badan Luar Angkasa Amerika (NASA) melaporkan bahwa berdasarkan jajak pendapat, jumlah warga Amerika yang percaya bahwa Pendaratan Bulan dipalsukan, tetap konsisten di kisaran 5%.

Angka ini memang rendah, tetapi cukup untuk membuat teori konspirasi tetap hidup.

Gerakan "Hoaks Bulan"

Bill Kaysing
Bill Kaysing, yang meninggal pada tahun 2005, dipandang sebagai pendiri gerakan "Hoaks Bulan". (Billkaysing.com)

Argumen utama pendukung teori hoaks adalah bahwa pada tahun 1960-an program luar angkasa AS tidak memiliki teknologi yang cukup untuk melakukan misi sukses ke Bulan.

Ini mengisyaratkan bahwa karena hal ini tidak mungkin dilakukan, maka NASA kemungkinan membuat pendaratan palsu untuk memenangkan perlombaan luar angkasa dengan Uni Sovyet. Saat itu Sovyet masih lebih maju, bahkan pernah melakukan pendaratan wahana di daratan Bulan meskipun mengalami kecelakaan.

Berbagai cerita yang mempertanyakan kebenaran pernyataan terkenal Neil Armstrong, "satu langkah kecil bagi manusia, satu langkah raksasa bagi kemanusiaan" mulai beredar tidak lama setelah Apollo 11 kembali ke Bumi.

Tetapi hal ini meningkat ketika buku berjudul We Never Went to the Moon: America's Thirty Billion Dollar Swindle diterbitkan pada tahun 1976.

Tulisan tersebut adalah karya Bill Kaysing, seorang wartawan dan pegawai bagian hubungan masyarakat kontraktor NASA.

Buku itu memaparkan sejumlah argumen inti yang kemudian dipakai para penyangkal.

'Mengibarkan' bendera AS di 'lingkungan hampa udara'

Bendera AS di Bulan.
Bendera yang ditancapkan Armstrong dan Aldrin kusut karena pengaruh tiang pada daratan Bulan. (Getty Images)

Daftar ini memasukkan "bukti" dari sejumlah foto - seperti tidak adanya bintang di latar belakang foto daratan Bulan dan kibaran bendera AS di lingkungan hampa udara.

Michael Rich, astronom University of California, mengatakan terdapat justifikasi ilmiah yang mempertanyakan teori ini.

Bendera menjadi kusut atau bergelombang karena tenaga yang dikeluarkan Armstrong dan astronaut Buzz Aldrin saat menancapkan tiang ke daratan. Bentuknya tidak berubah karena gravitasi Bulan enam kali lebih rendah dibandingkan Bumi.

Langit 'tanpa bintang'

Buzz Aldrin di Bulan.
Langit gelap Bulan karena pantulan Matahari pada daratannya. (NASA)

Foto lain yang dipakai para penyangkal adalah gambar Pendaratan Bulan yang memperlihatkan langit tanpa bintang.

Foto tersebut sebenarnya adalah bentuk umum akibat kontras ekstrem antara kegelapan dan cahaya.

Brian Koberlein, profesor Astrofisika Rochester Institute of Technology, menjelaskan hal ini terjadi karena daratan Bulan merefleksikan cahaya matahari dan karena itulah terlihat sangat terang di sejumlah foto.

Sinar ini meredam cahaya yang lebih suram dari bintang. Karena itulah kita tidak dapat melihat bintang di foto misi Apollo 11 - cahaya bintang terlalu lemah.

Lama paparan kamera seharusnya juga lebih lama.

'Jejak kaki palsu'

Neil Armstrong
Tidak adanya atmosfir membuat jejak Neil Armstrong dan astronaut lainnya tetap bertahan. (Getty Images)

Jejak kaki yang ditinggalkan manusia di Bulan juga menjadi sasaran para pendukung teori konspirasi Pendaratan Bulan.

Mereka memandang kurangnya kelembaban di Bulan tidak memungkinkan bertahannya gambar seperti foto jejak kaki Aldrin.

Meskipun demikian, Mark Robinson, profesor di Arizona State University, memberikan penjelasan ilmiahnya.

Tanah Bulan tertutup lapisan batu dan debu bernama "regolith".

Lapisan ini sangat halus dan mudah terkompres ketika dijejak.

Karena partikel tanah juga kohesif, jejak kaki bertahan meskipun sepatu boots sudah bergerak pergi dari tempat itu.

Robinson menegaskan jejak kaki di Bulan akan tetap berada disana selama jutaan tahun karena tidak adanya atmosfir disana - akibatnya tidak ada angin di Bulan.

'Radiasi dapat membunuh astronaut'

Model radiasi angkasa luar dan angin matahari di sekitar Bumi.
Teori konspirasi mengatakan sabuk radiasi di sekeliling Bumi dapat membunuh astronaut. (Getty Images)

Salah satu teori konspirasi yang populer adalah sabuk radiasi di sekeliling Bumi dapat membunuh astronaut.

Dikenal sebagai sabuk Van Allen yang terbentuk karena interaksi antara angin matahari dan medan magnet Bumi.

Pada permulaan perlombaan luar angkasa luar, radiasi menjadi salah satu kekhawatiran utama para ilmuwan, mereka cemas para astronaut dapat terbunuh saat memasukinya.

Tetapi menurut NASA, awak Apollo 11 tetap berada di dalam sabuk Van Allen selama kurang dari dua jam dalam perjalanan ke Bulan. Mereka hanya menghabiskan waktu kurang dari lima menit di tempat-tempat dimana radiasi mencapai intensitas tertinggi - ini berarti mereka tidak cukup lama berada di dalamnya.

Bukti foto menggugurkan teori konspirasi

Penting untuk diperhatikan bahwa serangkaian foto yang diambil Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) dan diungkapkan NASA memperlihatkan foto terbaru semua tempat pendaratan Apollo.

Sisa modul Apollo 11.
Foto yang dikeluarkan NASA pada tahun 2012 memperlihatkan sisa modul Bulan Apollo 11 dan alat-alat ilmiah lainnya di daratan. (NASA)

Foto dari wahana yang mengorbit Bulan sejak tahun 2009 memperlihatkan bukti kuat bahwa Pendaratan Bulan memang terjadi.

Salah satunya adalah foto tempat pendaratan Apollo 11, dimana Anda dapat melihat bekas pada tanah dan bahkan sisa modul Bulan.

LRO juga memperlihatkan bendera yang ditancapkan enam awak yang mendarat di Bulan masih ada - wahana melihat bayangannya pada daratan.

Dan jika ini memang tidak terjadi .. mengapa Sovyet tidak mendukung teori konspirasi?

Roker Sovyet.
Sovyet tidak pernah mempertanyakan Pendaratan Bulan. (Getty Images)

Meskipun sejumlah teori konspirasi di atas telah digugurkan - hal ini tetaplah sangat populer dan masih banyak disebarluaskan.

Tetapi kenyataannya adalah terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk memastikan bahwa pada tanggal 20 Juli 1969, Neil Armstrong benar-benar menjejakkan kaki di Bulan.

Satu pertanyaan yang sering kali dilontarkan terhadap pendukung teori konspirasi Pendaratan Bulan adalah jika kejadian tersebut memang palsu, mengapa Uni Sovyet, yang sedang menghadapi Perang Dingin melawan AS dan juga terlibat dalam program rahasia mengirim manusia ke Bulan, tidak ikut mendukung?

"Jika kami tidak mendarat di Bulan dan memalsukannya, pihak Sovyet memiliki kemampuan dan keinginan untuk mempertanyakannya, jika ini memang benar," kata Robert Launius, mantan sejarahwan NASA.

"Dan karena mereka tidak pernah mengatakan apapun, bagi saya, itu adalah sebuah pernyataan yang cukup kuat," ungkapnya.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com