detikNews
Minggu 14 Juli 2019, 02:49 WIB

Mengenal 'Hutan Keramat' di Ethiopia Utara

BBC Karangan Khas - detikNews
Mengenal Hutan Keramat di Ethiopia Utara Hutan keramat di Ethiopia (BBC)
Jakarta -

Hutan-hutan itu ditemukan lewat kekhasan sejarah geopolitik kawasan itu, yang meninggalkan jejak fotografi berupa foto udara Perang Dunia kedua dan citra satelit mata-mata era Perang Dingin.

Sekelompok anak-anak mendengarkan cerita di bawah bayangan pohon juniper Afrika di hutan gereja kecil dekat Debre Tabor di Etiopia utara.

Tiga orang perempuan berjalan di sepanjang jalur, suara obrolan mereka menembus pepohonan lebat ketika kelompok kami yang berjumlah 12 orang, yang jelas-jelas orang asing, mendekat.

Ketika anak-anak itu melihat kami di tepi hutan, mereka berlari di sepanjang jalan berdebu, melompati dinding batu yang rendah, merunduk di bawah cabang-cabang pepohonan dan mendekati kami karena rasa ingin tahu.

Saya bergabung dengan kelompok peneliti yang dipimpin oleh seorang ahli ekologi, Dr Catherine Cardelus dari Colgate University di negara bagian New York dan Bernahu Tsegay dari Bahir Dar University, Etiopia, yang sedang berada di sini untuk mempelajari ekologi hutan.

Di sisi lain, anak-anak itu sudah ahli sejak dulu. Mereka mengetahui setiap inci tempat ini: tumbuh besar di antara pepohonan yang ada, inilah satu-satunya hutan yang mereka kenal.

Saya berada di salah satu 'hutan keramat', lebih dari 1.000 di antaranya tersebar rapi dalam lanskap yang terpola nyaris sempurna, masing-masing melingkupi satu gereja tradisional Ortodoks Etiopia yang terletak di tengahnya.

Kelompok pepohonan kecil dan rapi ini, yang masing-masing berjarak sekitar 2 kilometer dari yang berikutnya, memastikan bahwa penduduk lokal tidak pernah jauh dari hutan yang begitu dalam berakar pada kehidupan sosial dan spiritual mereka.

Pepohonan itu biasa digunakan sebagai pusat komunitas, tempat pertemuan dan sekolah; untuk upacara keagamaan, tanah pemakaman bahkan kamar mandi; dan menyediakan satu-satunya tempat berteduh setelah bermil-mil.

Meskipun beberapa hutan keramat sebenarnya cukup mudah diakses - seperti hutan pulau di Lake Tana yang dapat dikunjungi selama setengah hari dengan berperahu dari kota Bahir Dar - di kawasan pegunungan Gondar Selatan yang terpencil, di sisi timur Bahir Dar, tempat saya berada saat ini, hutan-hutan gereja bisa jadi lebih sulit ditemukan.

Setiap titik hijau tampak begitu menonjol di atas lanskap yang terlihat, karena titik-titik itu menunjukkan hanya beberapa dari sedikit pepohonan yang tersisa di negara yang mengalami deforestasi secara luas itu.

Beberapa hutan berusia lebih dari 1.000 tahun, dan pohon-pohon yang berharga ini berhasil diselamatkan berkat konservasi bayangan - bentuk konservasi yang muncul dari 'produk sampingan' praktik keyakinan beragama.

Tetapi hutan-hutan itu kecil dan terancam oleh pembangunan jalan, gedung-gedung serta lahan pertanian. Paradoksnya, selain sebagai pelindung, manusia juga menjadi ancaman terbesar bagi masa depan pepohonan tersebut.

Seorang pendeta muncul dari pojok hutan dan mendengarkan penerjemah kami menerangkan bahwa kami di sini untuk lebih mempelajari hubungan antara penduduk lokal dengan hutan yang sangat mereka hormati.

Dia mengangguk, dan kami mengikutinya ke sebuah jalanan berdebu ke dalam bayangan hutan, meninggalkan ladang pertanian yang panas luar biasa.

Rata-rata hutan itu luasnya hanya lima kali ukuran lapangan sepak bola, jadi hanya membutuhkan waktu beberapa menit bagi kami dari batas terluar sampai gereja di tengah-tengah.

Seluruh hutan terdiri dari lingkaran pohon-pohon yang berbentuk donat di sekitar bagian tengah yang terbuka.

Sebuah dinding batu mengelilingi wilayah terbuka, sementara gereja berbentuk lingkaran terletak di tengah-tengah dengan hiasan salib di pucuk atap, dengan warna-warna kenegaraan mereka - merah, kuning dan hijau - dengan tegas mengelilingi atap.

Saya kemudian mengetahui bahwa jarak simbolis antara gereja dan tembok ini secara tradisional digambarkan 'sejauh 40 panjang lengan malaikat'.

Pendeta itu menjelaskan bahwa hutan itu dianggap keramat karena masing-masing menyimpan sebuah tabot di tengah gereja, yang dianggap sebagai replika dari Tabut Perjanjian yang asli.

Kesucian tabot memancar keluar dari pusat, sehingga semakin mendekati gereja, semakin suci tempat itu.

Hal yang sama terjadi juga pada pepohonan di sana - mereka dipandang sebagai 'baju' bagi gereja, bagian dari gereja itu sendiri, yang jadi alasan kenapa hanya selingkaran kecil pepohonan saja - yang terdekat dengan gereja, itu yang dilindungi, menciptakan hutan kecil dengan ladang yang menjorok sampai ke tepi.

Namun hutan kecil lebih rentan dari gangguan manusia dan alam, dan kawasan ini telah mengalami deforestasi besar-besaran selama beberapa dekade terakhir.

Saat ini hanya sekitar 5% daerah Etiopia yang ditutupi hutan, dibandingkan dengan sekitar 45% satu abad yang lalu. Meski sebagian besar pepohonan di antara hutan yang telah lenyap, hutan keramat juga terpengaruh secara tidak langsung.

Duduk bersila di dekat tepi hutan bersama ahli geografi, Dr. Peter Scull, kami menyaksikan seorang petani menunggangi lembunya melalui ladang tetangganya.

Scull memberi tahu saya bagaimana tim peneliti menggunakan jejak catatan fotografi bersejarah untuk menunjukkan dengan tepat lokasi hutan-hutan ini, mengukur luasnya serta menentukan dengan tepat bagaimana lanskap telah berubah selama abad terakhir.

Ternyata teknologi yang dikembangkan untuk kepentingan perang kini membantu menginformasikan dalam upaya proyek konservasi di kawasan hutan-hutan itu.

Scull menjelaskan pada akhir 1930-an, pasukan Italia yang menduduki wilayah Ethiopia, mengambil foto udara wilayah itu dan menyimpannya dalam kotak amunisi ketika mereka mundur pada 1941.

Barang-barang berharga itu pernah tidak ditemukan lagi sampai pada 2014, ketika 8.000 foto ditemukan di ruang bawah tanah Badan Pemetaan Ethiopia di ibu kota Addis Ababa.

Setelah Perang Dunia Kedua, pada 1960-an, program satelit Corona AS juga melewati wilayah tersebut.

Program Corona adalah satelit mata-mata pertama AS yang diluncurkan selama puncak Perang Dingin untuk mengidentifikasi potensi lokasi peluncuran rudal Uni Soviet.

Mantan Presiden AS Bill Clinton mendeklasifikasi foto-foto bidikan satelit itu pada 1995, dan dengan membandingkan foto-foto bersejarah itu dengan foto-foto Google Earth modern, menunjukkan kepada para peneliti bahwa batas-batas hutan belum menyusut - dan beberapa di antaranya, kenyataannya, telah tumbuh, berkat upaya penanaman kembali pepohonan di wilayah itu untuk menggantikan pepohonan eucalyptus asli.

Namun foto-foto itu juga menunjukkan bahwa pohon dan semak-semak tumbuh di luar kawasan hutan, yang bertindak sebagai zona penyangga dan melindungi pohon dari angin, erosi, dan perubahan suhu dan kelembaban.

Dalam beberapa dekade terakhir, pohon-pohon di zona penyangga telah dibabat habis untuk kepentingan konstruksi dan bahan bakar, dan lahan dikonversi menjadi lahan pertanian.

Tidak ada transisi bertahap dari kawasan hutan ke lahan pertanian; zona penyangga telah sepenuhnya hilang.

Foto-foto itu juga mengungkapkan bahwa apa yang dulunya merupakan kanopi hijau utuh, kini memiliki sejumlah lubang yang menyebabkan sinar matahari masuk ke tempat yang seharusnya ada naungan. Dan dengan semakin berkurangnya pepohon di dalam hutan, kini setiap titiknya menjadi tempat berlindung terisolasi bagi tumbuhan dan hewan di sana.

Dari angkasa, hutan hijau yang tinggal secuil tampak seperti sisa-sisa para korban selamat yang berkumpul untuk saling melindungi.

Bidikan foto dari udara, bagaimanapun, tidak dapat menangkap jenis pohon yang tumbuh, berapa banyak bibit, apakah tanah memiliki nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan berapa banyak kehadiran gangguan manusia. Untuk itulah, Anda memerlukan sepatu bot untuk menjejaki daratan di bawahnya.

Sepanjang hari, para peneliti mengambil sampel tanah dan daun dari spesies seperti Prunus africana, ceri Afrika dengan mahkotanya yang luas dan Juniperus procera, juniper Afrika, pohon asli yang tumbuh lambat yang digunakan untuk membangun gereja ketika sedang rimbun.

Anak-anak berkumpul di sekitar kami, awalnya malu-malu, tetapi kemudian menyebut-nyebut nama pohon dalam bahasa Amharik, tertawa ketika kami mencoba mengulangi kata-katanya. Beberapa anak bertanya apakah ini hutan tercantik yang pernah kami lihat.

Namun, kita tidak berada di hutan hujan tropis yang rimbun atau hutan konifer yang tidak berujung di Amerika Utara.

Hutan seperti ini, di mana ada banyak struktur buatan manusia seperti jalan setapak, bangunan dan pembukaan lahan, cenderung memiliki banyak tanaman padat yang ternyata rapuh, yang menghambat pertumbuhan lainnya, dan ada terlalu banyak pohon yang bukan pohon asli, yang tumbuh di tempat yang seharusnya tumbuh pohon asli.

Hutan itu hidup, tetapi mereka tidak dalam keadaan yang bagus. Dan sementara generasi baru anak-anak berlarian keluar masuk hutan, bermain, ketika tiba waktunya untuk mereka untuk mengambil alih peran pemeliharaan, ada kesadaran tentang apa yang tersisa.

Hutan yang sehat seharusnya memiliki kanopi yang kuat dan pepohonan muda tumbuh di bawahnya.

"Beberapa hutan yang kita datangi memiliki pepohonan besar yang cantik, indah dan besar," kata ahli ekologi Dr. Carrie Woods, menunjuk ke arah kanopi.

"Tetapi masalahnya adalah, Anda melihat ke bawah dan itu adalah rumput dan batu." Di beberapa hutan, tidak ada generasi baru pohon-pohon.

Namun meski hutan tidak kuat, Cardelus mengatakan bahwa mereka juga tidak terdegradasi sebanyak yang mereka takutkan.

Beberapa paroki mengambil langkah langsung untuk meningkatkan kesehatan hutan dengan menambah dinding batu rendah di sekeliling hutan luar untuk mencegah ternak masuk untuk merumput.

Dan itu sedikit membantu, memungkinkan kelompok-kelompok pembibitan yang lebih kaya dapat tumbuh.

Paroki-paroki juga mengambil keuntungan dari program-program pemerintah untuk menyediakan pembibitan gratis.

Sayangnya, bibit tersebut sering berupa pohon-pohon yang bukan pohon asli daerah setempat seperti eucalyptus, yang mengungguli spesies asli yang tumbuh lebih lambat.

Perkebunan eucalyptus bermunculan di tepi banyak hutan keramat dan telah menjadi pusat perekonomian.

Di negara yang membutuhkan potongan kayu untuk memasak dan membangun, eucalyptus merupakan penolong, dan akhirnya itu adalah pilihan yang sulit untuk menyeimbangkan spesies asli dengan kebutuhan kayu cepat tumbuh untuk dijual.

Sejauh ini, tim peneliti telah mengunjungi 44 hutan keramat di Gondar Selatan, mendaki lereng bukit berdebu, melintasi sungai dan ladang ke situs-situs di puncak-puncak gunung di mana mereka mewawancarai pendeta tentang cara religius mereka dalam mengurus hutan, serta mengambil sampel tanah dan daun untuk mengukur keanekaragaman hayati.

Cardelus berharap bahwa informasi yang mereka kumpulkan ini akan membantu strategi konservasi lebih maju, seperti memulai pembibitan untuk menumbuhkan bibit asli, memindahkan spesies eksotik atau lemah, dan membatasi tumbuhnya bangunan-bangunan di dalam hutan.

"Tetapi akhirnya," kata Cardelus, "Penelitian yang kami lakukan memperlihatkan bahwa konservasi bayangan itu benar-benar berhasil."

"Para penduduk setempat merupakan satu-satunya yang membutuhkan hutan-hutan tersebut, dan mereka jugalah yang merawat hutan-hutan itu, jadi kita harus merayakan apa yang telah dilakukan oleh penduduk setempat, membantu mereka untuk berbuat lebih baik lagi dan bantu mendukung konservasi bayangan di tempat lain."

Menjelang sore, status kami sebagai orang asing di sana tampaknya mulai terkikis. Seorang gembala, masih membawa tongkatnya, memotret kami dengan telepon lipatnya.

Cardelus berterima kasih kepada seorang pendeta, dan sekali lagi, anak-anak ikut. Seorang anak laki-laki mengeluarkan seruling buatan tangan, dan seperti peniup suling, dia membawa kami keluar dari hutan dan kembali melintasi ladang untuk disoraki teman-temannya.

Sudah jelas bahwa kehidupan spiritual dan budaya komunitas ini terjalin di pepohonan ini.

Terlepas dari ukurannya yang kecil dan berbagai gangguan manusia yang terjadi, keterikatan budaya terhadap suatu tempat - yang telah disembah, dijejaki dan dipanen selama ratusan tahun - telah menjadi alat konservasi yang menyelamatkan mereka.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris: The 'sacred forests' of northern Ethiopia di BBC Travel.




(haf/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed