detikNews
Senin 08 Juli 2019, 10:38 WIB

Mengapa Iran Sengaja Melanggar Kesepakatan Nuklir 2015?

BBC World - detikNews
Mengapa Iran Sengaja Melanggar Kesepakatan Nuklir 2015? Iran mengumumkan bahwa mereka akan melampaui batas pengayaan uranium, tindakan yang melanggar kesepakatan nuklir. (EPA)
Teheran - Iran mengumumkan bahwa mereka akan melampaui batas pengayaan uranium, tindakan yang melanggar kesepakatan nuklir tahun 2015.

Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengatakan Iran masih ingin menyelamatkan kesepakatan itu, tapi menyalahkan negara-negara Eropa yang disebutnya gagal memenuhi komitmen mereka sendiri.

Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018. Sejak saat itu, AS telah kembali memberlakukan sanksi tegas terhadap Iran.

Pengumuman Iran menandai pelanggaran terbaru atas kesepakatan nuklir.

Pada bulan Mei, Iran meningkatkan produksi pengayaan uranium, yang bisa digunakan membuat bahan bakar reaktor sekaligus senjata nuklir.

Negara itu telah menimbun lebih banyak uranium yang diperkaya daripada yang diizinkan, berdasarkan kesepakatan.

Namun, Iran membantah dengan keras bahwa mereka berniat untuk membangun senjata nuklir.

Apa yang diumumkan Iran?

Tepat setahun setelah AS menarik diri, Iran memberikan batas waktu 60 hari kepada lima negara lain yang menandatangani kesepakatan nuklir yakni China, Prancis, Jerman, Rusia dan Inggris, untuk melindunginya dari sanksi AS.

Berbicara pada konferensi pers pada hari Minggu (07/07) di akhir tenggat waktu itu, Araqshi mengatakan Iran akan mulai memperkaya uranium di atas konsentrasi 3,67% dalam waktu beberapa jam, untuk menyediakan bahan bakar bagi pembangkit listrik di Bushehr.

Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran selatan Iran mengatakan uranium yang diperkaya akan digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik di Bushehr. (EPA)

Beberapa pejabat pemerintah sebelumnya mengatakan ini berarti konsentrasi sekitar 5% uranium standar senjata telah diperkaya hingga 90% atau lebih.

Bagaimanapun, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi mengatakan bahwa Iran tidak akan membuat bahan bakar untuk reaktor di Tehran, yang membutuhkan konsentrasi 20%.

"Kami akan memperkaya uranium berdasarkan kebutuhan kami," ujarnya. "Saat ini kami tidak perlu memperkaya uranium untuk reaktor Tehran."

Araqchi mengatakan Iran akan terus mengurangi komitmennya pada kesepakatan tahun 2015 setiap 60 hari.

Presiden Iran Hassan Rouhani (kedua dari kanan) ditunjukkan teknologi nuklir oleh Ali Akbar Salehi (kanan), kepala Organisasi Energi Atom Iran. Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negara-negara adidaya gagal mempertahankan komitmen mereka. (EPA)

Tapi ia juga menekankan bahwa diplomasi masih menjadi pilihan, asalkan sanksi dicabut.

Menteri energi Israel Yuval Steinitz telah mengkritik langkah terbaru Iran, mengatakan bahwa meskipun peningkatannya "sedang", Iran telah "memulai langkah... menuju senjata nuklir".

Pengumuman ini disampaikan sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan menyatakan "sangat khawatir" akan apa yang akan terjadi jika perjanjian itu diabaikan.

Rouhani meminta negara-negara Eropa untuk bertindak sekarang untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir.

Wartawan bidang diplomatik BBC, Jonathan Marcus mengatakan keputusan Iran ini membuat kesepakatan 2015 untuk memaksa negara tersebut menghentikan program nuklir sudah hampir pasti gagal.

Beberapa pihak mengatakan, dihadapkan pada sejumlah sanksi, tak banyak yang bisa dilakukan pemerintah di Teheran agar sanksi bisa diperlonggar.

Sengaja melanggar kesepakatan adalah satu dari sedikit opsi yang dimiliki Iran untuk memaksa AS dan Eropa melonggarkan sanksi.

Nuklir Iran BBC


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed