detikNews
Minggu 07 Juli 2019, 17:53 WIB

Iran Umumkan Rencana Baru yang Langgar Kesepakatan Nuklir

BBC World - detikNews
Iran Umumkan Rencana Baru yang Langgar Kesepakatan Nuklir
Jakarta - Presiden Iran Hassan Rouhani (kedua dari kanan) ditunjukkan teknologi nuklir oleh Ali Akbar Salehi (kanan), kepala Organisasi Energi Atom Iran.EPA Presiden IranHassanRouhani mengatakan negara-negara adidaya gagal mempertahankan komitmen mereka.

Iran mengumumkan bahwa mereka akan melampaui batas pengayaan uranium, tindakan yang melanggar kesepakatan nuklir tahun 2015.

Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengatakan Iran masih ingin menyelamatkan kesepakatan itu, tapi menyalahkan negara-negara Eropa yang disebutnya gagal memenuhi komitmen mereka sendiri.

Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018. Sejak saat itu, AS telah kembali memberlakukan sanksi tegas terhadap Iran.

Pengumuman Iran menandai pelanggaran terbaru atas kesepakatan nuklir.

Pada bulan Mei, Iran meningkatkan produksi pengayaan uranium, yang bisa digunakan membuat bahan bakar reaktor sekaligus senjata nuklir.

Negara itu telah menimbun lebih banyak uranium yang diperkaya daripada yang diizinkan, berdasarkan kesepakatan.

Namun, Iran membantah dengan keras bahwa mereka berniat untuk membangun senjata nuklir.

Apa yang diumumkan Iran?

Tepat setahun setelah AS menarik diri, Iran memberikan batas waktu 60 hari kepada lima negara lain yang menandatangani kesepakatan nuklir yakni China, Prancis, Jerman, Rusia dan Inggris, untuk melindunginya dari sanksi AS.

Berbicara pada konferensi pers pada hari Minggu (07/07) di akhir tenggat waktu itu, Araqshi mengatakan Iran akan mulai memperkaya uranium di atas konsentrasi 3,67% dalam waktu beberapa jam, untuk menyediakan bahan bakar bagi pembangkit listrik di Bushehr.

Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran selatanEPA Iran mengatakan uranium yang diperkaya akan digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik diBushehr.

Beberapa pejabat pemerintah sebelumnya mengatakan ini berarti konsentrasi sekitar 5% uranium standar senjata telah diperkaya hingga 90% atau lebih.

Bagaimanapun, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi mengatakan bahwa Iran tidak akan membuat bahan bakar untuk reaktor di Tehran, yang membutuhkan konsentrasi 20%.

"Kami akan memperkaya uranium berdasarkan kebutuhan kami," ujarnya. "Saat ini kami tidak perlu memperkaya uranium untuk reaktor Tehran."

Araqchi mengatakan Iran akan terus mengurangi komitmennya pada kesepakatan tahun 2015 setiap 60 hari.

Tapi ia juga menekankan bahwa diplomasi masih menjadi pilihan, asalkan sanksi dicabut.

Menteri energi Israel Yuval Steinitz telah mengkritik langkah terbaru Iran, mengatakan bahwa meskipun peningkatannya "sedang", Iran telah "memulai langkah... menuju senjata nuklir".

Pengumuman ini disampaikan sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan menyatakan "sangat khawatir" akan apa yang akan terjadi jika perjanjian itu diabaikan.

Rouhani meminta negara-negara Eropa untuk bertindak sekarang untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir.




(imk/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com