detikNews
Sabtu 06 Juli 2019, 17:33 WIB

Pertanyaan-pertanyaan Keluarga Korban Tragedi 737 MAX untuk Boeing

BBC Magazine - detikNews
Pertanyaan-pertanyaan Keluarga Korban Tragedi 737 MAX untuk Boeing Paul Njoroge yang kehilangan istri dan tiga anaknya di Ethiopian Airlines 302 yang jatuh. (BBC)
Addis Ababa -

"Saya kehilangan istri saya Carole, tiga anak saya Ryan, Kelly dan Ruby dan juga ibu mertua saya. Saya merasa kesepian. Saya lihat orang-orang bermain dengan anak-anak mereka, dan saya tak bisa. Saya tak bisa lagi melihat wajah dan mendengar suara mereka."

Paul Njoroge kehilangan seluruh keluarganya ketika Penerbangan 302 Ethiopian Airlines jatuh di Addis Ababa 10 Maret lalu dengan korban jiwa 157 orang.

Paul kini berpindah dari satu rumah temannya ke rumah teman yang lain. Ia tak sanggup melihat sepatu anak-anaknya.

"Saya masih bisa melihat kaki mereka di dalam. Saya tak akan pernah kembali ke rumah."

Penerbangan ET302 itu adalah pesawat Boeing 737 Max kedua yang jatuh dalam empat bulan.

Sebelumnya Boeing 737 Max milik Lion Air terjatuh di Karawang bulan Oktober 201 dilaporkan disebabkan oleh persoalan serupa: sistem kendali pesawat.

Maka keluarga korban seperti Paul bertanya: Kenapa pesawat ini masih dibolehkan terbang sesudah ada kecelakaan sebelumnya?

Linimasa: Kecelakaan Boeing

  • 29 Oktober 2018: 737 Max 8 yang dioperasikan Lion Air di Indonesia jatuh menewaskan 189 penumpangnya.
  • 31 Januari 2019: Boeing melaporkan pemesanan 5.011 pesawat 737 Max dari 79 pelanggan.
  • 10 Maret 2019: 737 Max 8 yang dioperasikan Ethiopian Airlines jatuh menewaskan 157 orang penumpangnya.
  • 14 Maret 2019: Boeing melarang terbang seluruh armada 737 Max.
  • 3 Juli 2019: Boeing menyatakan akan memberi kompensasi US$100 juta (sekitar Rp1,4 trilyun) kepada keluarga korban dan pihak terdampak di Indonesia dan Ethiopia.
Sangat marah

Chris dan Claryss Moore yang tinggal di pinggir kota Toronto kehilangan putri mereka Danielle dalam penerbangan ET302.

Danielle baru saja menghadiri konferensi PBB tentang lingkungan di Kenya.

"Mereka bilang ini salah satu pesawat paling aman. Ternyata tidak. Pesawat ini mengambil nyawa orang yang kami cintai, dan tak peduli apapun kata mereka, hidup kami tak pernah lagi sama."

"Kini kami harus berjuang tiap hari menerima kematian anak kami, dan ini sangat berat. Ini bikin saya sangat marah."

Keluagra Moore membuat semacam tempat pengingat bagi anak mereka Danielle
Keluarga Moore membuat semacam tempat pengingat bagi anak mereka Danielle. (BBC)


Saling menyalahkan

Kini saling menyalahkan pun terjadi. Anggota Kongres Amerika Sam Graves bersama suara-suara lain di Amerika menyalahkan "pilot asing" untuk kecelakaan itu. Mereka bilang pilot Amerika pasti mampu mengendalikan pesawat itu.

Namun laporan dari dua peristiwa terpisah menyimpulkan sistem kendali pesawat yang bermasalah.

"Keluarga saya meninggal karena kesembronoan Boeing. Kesombongan, disfungsi manajemen dan tak ada pengawasan internal, juga kesalahan FAA (Federal Aviation Administration)," kata Paul Njorogre.

"Mereka punya kesempatan menghentikan pesawat ini tapi mereka tak lakukan. Malah berfokus pada kesalahan 'pilot asing'. Kalau mereka sungguh peduli pada hidup manusia dan keamanan, mereka akan melarang terbang pesawat ini bulan November tahun lalu dan menyelesaikan masalahnya."

Samya Rose Stumo
Samya Rose Stumo berumur 24 tahun dan sempat mengabarkan ibunya ia terbang dengan penerbangan ET302 sebelum pesawat itu jatuh. (BBC)


'Mimpi seram'

Nadia Milleron dan suaminya Michael Stumo tinggal di Massachusetts barat yang tenang di Amerika Serikat.

Putri mereka Samya Rose Stumo berumur 24 tahun ketika menjadi korban jatuhnya pesawat ET302.

"Ini seperti mimpi seram," kata Nadya. Nadya mendengarkan laporan pesawat jatuh itu dari siaran BBC World Service. Ia tahu putrinya ada di dalam pesawat itu. Satu jam sebelumnya Samya mengirimkan pesan itu kepadanya.

"Saya mulai gemetar, dan tak bisa menghentikannya," kata Nadya.

Nadia Milleron dan Michael Stumo
Michael Stumo and Nadia Milleron percaya putri mereka meninggal karena Boeing mengutamakan keuntungan daripada keselamatan penumpang. (BBC)


Investigasi

Dalam sebulan, Nadia dan Michael mengubah rasa kehilangan dan kesedihan menjadi energi yang berbeda.

Mereka bertekad mencari tahu kenapa Boeing tak melarang terbang 737 Max sesudah jatuh pertama kali. Juga kenapa FAA menolak memberi larangan terbang terhadap pesawat itu.

Hingga kini mereka telah bertemu 25 orang anggota Kongres di Washington, dan para pejabat penerbangan di Amerika Serikat.

Mereka tak boleh bersaksi dalam dengar pendapat penyelidikan, tetapi mereka memastikan keluarga korban dilibatkan di dalam penyelidikan itu.

Ada suara kritis bahwa pembangunan dan peluncuran Boieng 737 Max diburu-buru, lantaran Boeing tertinggal dari Airbus.

"Jelas bahwa putri saya meninggal karena Boeing mencari untung, dan saya tak mau orang lain mati karena alasan itu," kata Nadia. "Saya ingin agar pesawat aman dan Boeing untuk berinvestasi di perangkat dan infrastruktur agar industri penerbangan aman."

American civil aviation and Boeing investigators search through the debris at the scene of the Ethiopian Airlines Flight ET 302 plane crash
Reuters


BBC meminta Boeing untuk wawancara dan berkomentar terhadap tuduhan-tuduhan ini. Mereka menolak.

Dalam pernyataan, Direktur Boeing Dennis Muilenburg menyatakan: "Kami sangat prihatin atas kehilangan yang tragis dalam kecelakaan ini dan menyampaikan simpati sedalam-dalamnya kepada anggota keluarga dan orang-orang tercinta dari para korban. Segala tragedi kehilangan dalam pesawat kami tak bisa diterima, dan ini akan terus memberatkan hati kami dalam tahun-tahun mendatang. Keamanan terbang terus adalah prioritas tertinggi kami dan kami memfokuskan diri untuk memperoleh kembali kepercayaan dan keyakinan terhadap kami di bulan-bulan mendatang."

Awal pekan ini Boeing mengumumkan penawaran kompensasi sekitar Rp1,4 trilyun kepada "keluarga dan komunitas yang menjadi korban kecelakaan tragis Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302."

Reruntuhan ET302
157 orang meninggal dunia ketika Ethiopian Airlines penerbangan ET302 jatuh (Getty Images)


Keluarga yang kami temui tak ingin uang itu, mereka ingin jawaban.

Chris Moore percaya perlunya penyelidikan kriminal terhadap hal ini. Sedangkan Paul Njoroge sependapat. Ia percaya kecelakaan ET302 bisa dihindari, "Jika mereka tahu bahwa mereka berisiko dipenjara karena keputusan mereka ini, tentu Boeing 737 Max sudah mereka larang terbang bulan November lalu," katanya."

Keluarga korban kini mencari jawaban. Sebagian masih berduka dalam keheningan, sebagian lagi mulai bicara.

Ini seharusnya membuat Boeing tidak nyaman.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed