detikNews
Rabu 03 Juli 2019, 18:37 WIB

Mengapa Sejumlah Negara Memulangkan Sampah dan Limbah ke Negara Pengirim?

BBC World - detikNews
Mengapa Sejumlah Negara Memulangkan Sampah dan Limbah ke Negara Pengirim?
London - Environmental activists protest outside the Canadian embassy in Manila on May 21, 2019, to push the government of Canada to speed up removal of their garbage out of Manila and Subic Ports.
Getty Images

Pada Mei lalu, Filipina mengirim berton-ton sampah kembali ke Kanada, setelah kedua negara terlibat perseteruan diplomatik yang ditandai oleh ancaman Presiden Rodrigo Duterte bahwa dirinya akan "berlayar ke Kanada dan membuang sampah mereka di sana".

Selain Filipina, ada sejumlah negara yang mendesak negara-negara pengirim sampah untuk mengambil kembali limbah mereka.

Praktik pengiriman sampah yang bisa didaur ulang ke luar negeri dilakoni negara-negara kaya karena biayanya murah, membantu memenuhi target pendauran ulang, serta mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Di sisi lain, bagi negara berkembang, menerima kiriman sampah berarti ada uang yang bisa didulang.

Masalahnya, sampah plastik dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang tidak bisa didaur ulang kadang bercampur dalam kiriman sampah dan berujung di tempat pemrosesan limbah yang ilegal.

Di mana saja kejadian ini berlangsung dan apa saja langkah yang diambil?

malaysiaBBC

Uni Eropa adalah eksportir terbesar sampah plastik, sedangkan Amerika Serikat adalah eksportir terbesar dalam kategori negara.

Kenyataannya, dari semua plastik yang diproduksi, hanya segelintir yang didaur ulang.

Bahan yang tidak bisa didaur ulang kerap dibakar secara ilegal, ditimbun di tempat pembuatan akhir atau sungai sehingga menimbulkan ancaman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Kekhawatiran menerima limbah semacam itu telah mendorong sejumlah negara untuk beraksi.

Sebagaimana dicontohkan di atas, Filipina mengirim balik berton-ton sampah ke Kanada yang dikirim pada 2013 dan 2014. Filipina mengklaim sampah-sampah itu diberi label daur ulang plastik ketika dikirim ke Manila pada 2014.

Bulan ini, Malaysia mengirim balik lima kontainer berisi sampah plastik ke Spanyol setelah ditemukan bahwa sampah-sampah tersebut terkontaminasi.

impor sampah plastik malaysiaBBC

Malaysia mengatakan sebanyak 3.000 ton sampah akan segera dikembalikan ke Inggris, AS, Jepang, China, Kanada, Australia, Belanda, Jerman, Arab Saudi, Singapura, Bangladesh, Norwegia, dan Prancis.

Guna memahami mengapa negara-negara itu begitu banyak mengumpulkan sampah, Anda perlu menengok ke China.

Sampai Januari 2018, China adalah pengimpor sampah plastik terbanyak di dunia.

Namun, karena kerisauan soal kontaminasi dan polusi, China memutuskan tidak lagi membeli plastik daur ulang yang tidak punya kadar kemurnian 99,5%.

A woman collecting plastic to recycle at a import plastic waste dump in Mojokerto, East Java, Indonesia in December 2018.
Getty Images


Dampak larangan China

Akibat keputusan China tersebut, ekspor sampah plastik dunia merosot. Analisa kelompok Greenpeace menyebut, penurunannya hampir setengah pada akhir 2018 jika dibandingkan dengan jumlah sampah pada 2016.

Terdapat berbagai laporan bahwa sampah plastik yang siap diekspor telah menumpuk dan sebagian telah dialihkan ke negara lain.

Malaysia, Vietnam, Thailand, Indonesia, Taiwan, Korea Selatan, Turki, India, dan Polandia menanggung beban tersebut.

Malaysia mengambil porsi terbesar. Sampah plastik yang diimpor dari 10 negara dalam enam bulan pertama pada 2018 hampir mencapai jumlah total sampah yang negara itu terima pada 2016 dan 2017.

Akan tetapi, sampah yang tiba di negara-negara ini belum didaur ulang secara memadai sehingga menimbulkan berbagai masalah.

Inggris secara khusus disoroti oleh pemerintah Malaysia.

"Yang warga Inggris yakini bahwa mereka telah mengirim sampah untuk didaur ulang sejatinya dibuang ke negara kami," kata Menteri Lingkungan Malaysia, Yeo Bee Yin.

sampah plastik inggris BBC


Negara-negara mengambil tindakan

Negara-negara pengimpor sampah lantas menyadari bahwa jumlah sampah yang datang sulit ditangani dan membuat sejumlah negara mengeluarkan langkah pengendalian.

Polandia, pada Mei 2018, mengumumkan aturan pengetatan penerimaan sampah setelah terjadi beberapa kebakaran di lokasi pembuangan. Negara itu mengaitkan peningkatan impor sampah secara ilegal dengan tindakan China yang menolak menerima kiriman sampah.

Thailand untuk sementara melarang impor sampah plastik dan menyatakan akan menerapkan larangan penuh pada 2021.

Malaysia mencabut izin impor dan menutup berbagai tempat pemrosesan sampah ilegal.

Vietnam tidak lagi mengeluarkan izin baru dan akan melarang impor semua jenis sampah plastik pada 2025.

Pada Oktober, Taiwan menyatakan hanya akan mengimpor sampah plastik dari satu sumber.

India melebarkan larangan impor sampah plastik padat pada Maret lalu.

https://twitter.com/moefcc/status/1103235063800520704

Bagaimanapun, masih ada permintaan untuk mengirim sampah plastik dan limbah lain untuk didaur ulang. Tantangan untuk membuangnya pun masih menjadi tantangan.

Ada beberapa indikasi bahwa setelah sukses melarang impor sampah, negara-negara ini mulai menerima sampah dalam jumlah besar lagi.

Aliansi Global untuk Insinerator Alternatif (Gaia) mengatakan memang ada penurunan sementara. "Impor mulai naik lagi pada akhir kwartal terakhir 2018, ini mengindikasikan ada sejumlah tantangan dalam menerapkan larangan di masing-masing negara."

Pada 2016, 235 juta ton sampah plastik dihasilkan di seluruh dunia.

Jika mengikuti tren saat ini, angka itu bisa mencapai 417 juta ton per tahun pada 2030.

Reality Check branding BBC
(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed