detikNews
Sabtu 15 Juni 2019, 08:14 WIB

Krisis Sudan, Bagaimana Awal Konflik dan Mengapa Dunia Tak Bertindak?

BBC World - detikNews
Krisis Sudan, Bagaimana Awal Konflik dan Mengapa Dunia Tak Bertindak?
Khartoum - sudan Getty Images

Sudan mengalami krisis politik setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa pro-demokrasi di ibu kota, Khatoum.

Perwakilan pengunjuk rasa mengadakan pembicaraan dengan pihak militer terkait siapa yang akan memimpin setelah diturunkannya Presiden Omar al-Bashir.

Tetapi perundingan gagal ketika militer menumpas unjuk rasa tanggal 3 Juni lalu dan puluhan demonstran meninggal.

Apa yang terjadi di Sudan? Bagaimana semua itu dimulai? Kenapa dunia internasional tidak bertindak? Artikel ini akan menjelaskannya.

Militer menyatakan sudah membatalkan semua perjanjian dengan pihak oposisi, dan pemilu akan digelar dalam sembilan bulan.

Tetapi para pemprotes bersikeras meminta masa transisi selama setidaknya tiga tahun untuk memastikan pemilihan umum berlangsung bebas dan adil.

Sebagian besar negara kemudian lumpuh akibat pemogokan yang diserukan oleh oposisi, sampai entah kapan.

Di tengah kebuntuan, utusan dari Ethiopia menjadi penengah dan mengatakan bahwa pembicaraan antara kedua pihak dapat segera dilanjutkan.

Inilah semua yang perlu Anda ketahui.

Apa yang terjadi pada para pemrotes di Sudan?

Para pakar mengatakan bahwa dewan militer menggunakan "kekerasan brutal" dan gas air mata, dengan banyak orang terbunuh dan terluka pada tanggal 3 Juni lalu.

Tidak diketahui berapa banyak orang yang sebenarnya terbunuh - para pengunjuk rasa mengatakan ada 100 orang, tetapi militer mengatakan 46 orang.

Pihak berwenang memberlakukan undang-undang darurat dan jam malam. Artinya, orang harus berada di rumah mereka dan tidak boleh pergi setelah waktu tertentu di malam hari.

Banyak sekolah dan universitas di seluruh negeri ditutup untuk sementara.

Bagaimana semua itu dimulai?

Kerusuhan di Sudan dapat ditelusuri kembali hingga ke Desember 2018. Saat itu, pemerintahan Presiden Bashir memberlakukan langkah-langkah penghematan darurat untuk mencegah keruntuhan ekonomi.

Pengurangan subsidi roti dan bahan bakar memicu demonstrasi di timur, dan kemarahan menyebar ke Khartoum.

Protes meluas menjadi tuntutan untuk penggulingan Bashir dan pemerintahannya yang telah berkuasa selama 30 tahun.

Protes mencapai puncaknya pada 6 April, ketika demonstran menduduki alun-alun di depan pusat militer untuk menuntut agar tentara memaksa presiden turun.

Lima hari kemudian, militer mengumumkan bahwa presiden telah digulingkan.

sudan
Presiden Omar al-Bashir akhirnya tersingkir. (Getty Images)

Jadi siapa yang memegang kekuasaan di Sudan sekarang?

Dewan jenderal mengambil alih kekuasaan pada 11 April, tetapi mereka kesulitan mengembalikan negara itu pada situasi normal.

Tujuh anggota Dewan Militer Transisi (TMC) dipimpin oleh Letjen Abdel Fattah Abdelrahman Burhan. Dewan mengatakan bahwa mereka perlu memegang kekuasaan demi memastikan ketertiban dan keamanan.

Tetapi tentara bukanlah kekuatan tunggal di Sudan. Ada organisasi paramiliter lain dan berbagai milisi Islam yang juga memegang kendali.

Militer juga menghadapi kecaman internasional karena melakukan serangan kekerasan terhadap pengunjuk rasa di Khartoum pada 3 Juni. Setidaknya 30 orang dilaporkan tewas.

AS mengutuk dan menyebutnya "serangan brutal". Inggris mengatakan dewan militer menanggung "tanggung jawab penuh".

Sebagai tanggapan, TMC menyatakan "sedih dengan bagaimana peristiwa makin meningkat", dan mengatakan bahwa operasi militer itu menargetkan "pembuat onar dan penjahat kecil".

Siapakah para oposisi?

Masalah ekonomi membuat berbagai lapisan masyarakat turun ke jalan. Tapi pengorganisasian demonstrasi dilakukan oleh Asosiasi Profesional Sudan (SPA), kolaborasi dokter, pekerja kesehatan dan pengacara.

Para pengunjuk rasa sebagian besar masih muda, mencerminkan demografi negara itu, tetapi orang-orang dari segala usia pun nampak di kerumunan.

Perempuan berada di garis depan demonstrasi dan video seorang perempuan memimpin nyanyian dan yel-yel telah menjadi viral. Dia dinamai Kandaka, yang berarti ratu Nubia.

Ketika militer mengambil alih kekuasaan pada bulan April, para demonstran tetap bertahan di luar markas militer dan bersikeras agar kekuasaan dipindahkan ke pemerintahan sipil.

sudan Video seorang perempuan memimpin nyanyian dan yel-yel telah menjadi viral. Dia dinamai Kandaka, yang berarti ratu Nubia. (Getty Images)

Pembicaraan antara jenderal yang berkuasa dan penyelenggara protes yang ada dalam satu wadah Aliansi Untuk Kebebasan dan Perubahan awalnya menunjukkan sedikit tanda-tanda kemajuan, tetapi mereka akhirnya mencapai kesepakatan.

Apa yang disetujui pada kedua belah pihak?

Pada 15 Mei, militer dan pengunjuk rasa sepakat memulai masa transisi tiga tahun ke pemerintahan sipil.

Demonstran berpendapat bahwa rezim Bashir sudah sangat mengakar sehingga perlu transisi panjang untuk membongkar jaringan politiknya agar terwujud pemilihan yang adil.

Kedua belah pihak juga menyetujui struktur pemerintahan baru, yang termasuk dewan yang berdaulat, kabinet dan badan legislatif.

Namun para pemimpin militer membatalkan semua perjanjian ini pada 3 Juni dan mengatakan bahwa pemilu akan diadakan dalam waktu sembilan bulan.

Kepala TMC mengatakan mereka memutuskan untuk "berhenti bernegosiasi dengan Aliansi Untuk Kebebasan dan Perubahan dan membatalkan kesepakatan".

Pengumuman itu muncul tak lama setelah tindakan keras terhadap pengunjuk rasa di Khartoum.

Segera setelah pembunuhan, para pemimpin gerakan pro-demokrasi mengatakan mereka memutuskan semua kontak dengan TMC dan menyerukan "pembangkangan sipil total" dan pemogokan umum.

Mantan duta besar Inggris untuk Sudan, Rosalind Marsden, mengatakan kepada BBC bahwa pemilihan kilat akan "membuka jalan bagi rezim lama untuk kembali berkuasa".

Bagaimana dengan mediasi?

Ketika pembicaraan gagal, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed terbang ke Sudan untuk mencoba jadi penengah untuk perjanjian baru antara kedua pihak.

Setelah berhari-hari berunding, utusan khusus Abiy Ahmed, Mahmoud Dirir, mengumumkan pada tanggal 11 Juni bahwa para pemimpin protes sepakat menunda pemogokan dan kembali ke meja perundingan.

Mahmoud Dirir mengatakan bahwa sebagai imbalannya, militer setuju untuk membebaskan tahanan politik.

Tidak ada tanggal pasti kapan perundingan akan dilanjutkan.

Situs web milik swasta Baj News melaporkan bahwa pihak oposisi bersikeras meminta agar kekerasan yang terjadi para para pengunjuk rasa harus diselidiki dulu oleh penyelidik independen, sebelum perundingan dimulai kembali.

sudan (Getty Images)

Apa tanggapan dunia internasional?

Sebagian besar negara Afrika dan negara barat mendukung para pengunjuk rasa.

Arab Saudi telah mendesak perundingan, tetapi tidak secara langsung mengutuk kekerasan militer.

Uni Emirat Arab, Mesir dan Arab Saudi mungkin khawatir protes itu bisa menginspirasi terjadinya protes di kandang sendiri.

Wakil presiden TMC, Mohamed Hamdan Dagolo, juga dikenal sebagai Hemeti, terbang ke Arab Saudi bulan lalu untuk bertemu putra mahkota Mohamed Bin Salman.

Dia berjanji untuk mendukung kerajaan melawan ancaman dan terus mengirim pasukan Sudan untuk membantu koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

Uni Afrika telah menangguhkan Sudan dari keanggotaan, sampai otoritas transisi yang dipimpin warga sipil didirikan.

PBB mengeluarkan semua staf non-inti dari Sudan, tetapi China dan Rusia telah memblokir langkah-langkah untuk menjatuhkan sanksi.

Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, mengutuk kekerasan Khartoum, dan menyebutnya "menjijikkan".

Tetapi editor BBC Afrika Fergal Keane mengatakan bahwa semua reaksi ini hanya akan berarti jika AS menuntut sekutu regionalnya -Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab- untuk menekan militer Sudan.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed