detikNews
Sabtu 01 Juni 2019, 10:52 WIB

Kisah Guru Honorer yang Mengajar Hampir Semua Kelas di Desa Pulau Seram

BBC Magazine - detikNews
Kisah Guru Honorer yang Mengajar Hampir Semua Kelas di Desa Pulau Seram
Maluku -

Dalam lebih tiga bulan terakhir, seorang warga Soleh, Pulau Seram, Maluku kembali ke desanya untuk membantu mengajar di sekolah yang kekurangan guru.

Delianti Umasugi, salah seorang dari tiga guru honorer di Sekolah Dasar di desa di Kabupaten Seram Bagian Barat dengan lebih dari 110 murid, mengatakan dia sebenarnya diminta untuk mengajar di kelas dua, namun karena kekurangan guru ia juga diminta untuk mengajar di kelas lain.

"Saya mengajar kelas dua sebenarnya tapi karena guru kelas tiga, empat, lima dan enam jarang masuk, (saya yang mengganti), jadi sistemnya ganti-ganti dan kalau ada yang masuk di kelas tiga dan empat, berarti saya masuk di kelas lima dan enam, pokoknya begitulah," ceritanya.

Lulusan perguruan tinggi di Ambon ini memutuskan untuk kembali ke desanya setelah "menyaksikan anak-anak lebih banyak bermain di sekolah," karena kekurangan guru.

Saat ini, kekurangan tenaga pengajar di Indonesia mencapai lebih dari 735.000, termasuk di daerah terpencil, menurut data dari Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Praptono.

Mata pelajaran yang diajarkan juga tergantung situasi, cerita Adel. Di desa ini hanya ada satu SD dan satu SMP dan mereka yang ingin melanjutkan pendidikan biasanya pergi ke Ambon.

"Adel biasa (mengajar) bahasa Indonesia, matematika...pokoknya sesuai jadwal yang ada di ruangan. Kalau masuk kelas bertepatan sama mata pelajaran apa saja, sesuai jadwal," katanya lagi.

Belum bisa baca tulis

Akibat kurangnya tenaga guru di SD itu - tujuh guru termasuk tiga honorer, tiga pegawai negeri sipil dan satu kontrak- banyak siswa di kelas lima dan enam sekalipun yang belum bisa membaca, cerita Adel.

"Saya tidak pikir honor, karena memang kita tidak bicarakan. Bagi saya, yang penting bisa mendapat kesempatan mengajar adik-adik kami di SD," kata Adel kepada Ronald Regang, aktivis perdamaian di Maluku yang melakukan kerja sosial baru-baru ini ke desa ini bersama anak-anak muda lain.

Adel sendiri mengatakan ia dikirim orang tuanya untuk tinggal bersama om dan tantenya dan melanjutkan sekolah di Ambon, sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Penduduk desa di Seram Bagian Barat yang dapat ditempuh dengan kapal cepat selama tiga jam itu mayoritas adalah petani dan nelayan.

Adel mengatakan guru tetap yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil "bisa dibilang jarang ada di sekolah, entah karena kesibukan atau apa kurang tau juga, sementara kalau honorer hampir tiap hari ada."

"Anak-anak ini punya semangat belajar bagus cuma karena kurang ada fasilitas saja dari tenaga guru yang bertanggung jawab dengan tugasnya," tambahnya.

Indonesia kurang tenaga guru lebih 730.000

Kondisi kurangnya guru di desa ini menyebabkan banyak anak yang ke sekolah namun hanya untuk bermain, kondisi yang telah terjadi bertahun-tahun.

Banyaknya murid yang belum bisa baca dan tulis juga dikeluhkan Kepala Sekolah SMP di Soleh, Hasan.

"Di SMP kendala yang beta temukan hanya ada pada siswa kelas 7. Karena mereka masih belum bisa baca tulis, jadi penerapan belajar baca tulis itu ekstra dilakukan untuk siswa kelas 7," kata Hasan.

Ia juga menambahkan kurangnya ketersediaan fasilitas penunjang untuk belajar termasuk buku-buku dan perpustakaan.

Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Praptono mengatakan secara umum Indonesia kekurangan guru sekitar 735.000, banyak di antaranya di daerah terpencil.

"Secara umum, iya ada kekurangan karena guru yang pensiun tidak segera ada penggantian. Saat ini kegiatan pembelajaran diisi dengan tenaga honorer," kata Praptono kepada BBC News Indonesia.

"Untuk itu, upaya yang dilakukan adalah dengan memprioritaskan untuk dipenuhi dengan rekrutmen Aparat Sipil Negara (ASN) 2019, melaksanakan model kelas multi grade atau penugasan guru mengajar multi subjek."

"Untuk pelaksanaan multi grade dan multi subjek sedang tahap piloting (uji coba) dan disiapkan regulasi yang mengatur," tambahnya.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed