detikNews
Rabu 29 Mei 2019, 15:07 WIB

'People Power' Filipina Hingga Jerman, Demo Damai Bisa Ciptakan Perubahan?

BBC Karangan Khas - detikNews
People Power Filipina Hingga Jerman, Demo Damai Bisa Ciptakan Perubahan?
Manila - Sosial Berdasarkan kajian ilmiah, gerakan tanpa kekerasan lebih efektif ketimbang perlawanan dengan kekerasan. (Getty Images)

Tahun 1986, jutaan warga Filipina turun ke jalanan Manila dalam unjuk rasa damai. Dalam aksi yang disebut gerakan 'people power' atau kekuatan rakyat itu, mereka juga merapal berbagai doa. Empat hari setelahnya, rezim Ferdinand Marcos tumbang.

Tahun 2003, rakyat Georgia menggulingkan Eduard Shevardnadze melalui Revolusi Mawar yang tak berdarah. Saat itu mereka membanjiri gedung parlemen sambil menggenggam kembang.

Dan awal tahun ini, presiden Sudan dan Aljazair mengumumkan pengunduran diri mereka setelah berkuasa beberapa dekade. Penyebabnya, lagi-lagi 'people power' secara damai.

Dalam setiap kasus, perlawanan warga sipil mampu mengalahkan elite politik sehingga mendorong perubahan radikal.

Tentu terdapat banyak alasan etis untuk menghindari strategi antikekerasan. Namun kajian yang dilakukan Erica Chenoweth, pakar politik di Universitas Harvard, mengkonfirmasi bahwa ketidakpatuhan sipil bukan cuma pilihan moral, tapi juga siasat politik terkuat, setidaknya sejauh ini.

Meneliti ribuan gerakan sipil selama satu abad terakhir, Chenoweth menemukan fakta bahwa gerakan tanpa kekerasan punya peluang berhasil dua kali lipat ketimbang strategi bengis.

Walaupun dinamika yang muncul bergantung pada banyak faktor, Chenoweth menunjukkan, sebuah gerakan hanya butuh keterlibatan dari 3,5% populasi untuk memastikan perubahan arah angin politik.

Pengaruh kajian Chenoweth dapat terlihat pada rangkaian protes Extinction Rebellion, gerakan penentang pemanasan global. Para pimpinannya kelompok itu mengaku terdorong dengan temuannya.

Pertanyaannya, bagaimana Chenoweth menyimpulkan teori tentang kaidah 3,5% populasi tersebut?

Sosial Penggagas gerakan Extinction Rebellion menyatakan terinspirasi kajian ilmiah yang dilakukan Erica Chenoweth. (Getty Images)

Tanpa perlu dikatakan, penelitian Chenoweth dibangun dari berbagai filosofi figur-figur penting sepanjang sejarah.

Penganjur penghapusan perbudakan, Sojourner Truth; penyokong gerakan pemberian hak pilih bagi perempuan, Susan B Anthony; aktivis kemerdekaan India, Mahatma Gandhi; dan pegiat HAM, Marthin Luther King dengan sangat meyakinkan menunjukkan protes damai.

Namun Chenoweth mengakui, ketika pertama kali memulai penelitian di pertengahan dekade 2000-an, ia agak sinis dengan anggapan unjuk rasa damai yang lebih manjur daripada gerakan dengan kekerasan.

Sebagai mahasiswa strata tiga di Universitas Colorado, Chenoweth menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari beragam faktor yang mendorong munculnya terorisme. Saat itu ia diminta menghadiri lokakarya akademis yang digelar organisasi nirlaba berbasis di Washington DC, International Center of Nonviolent Conflict (ICNC).

Lokakarya itu mempresentasikan banyak contoh menarik tentang protes damai yang berhasil membuat perubahan sosial, salah satunya gerakan rakyat di Filipina.

Namun Chenoweth terkejut menemukan fakta, tidak ada peneliti yang secara komprehensif membandingkan tingkat kesuksesan dua jenis gerakan sipil ini.

Barangkali, studi kasus selama ini dipilih melalui bias konfirmasi. "Saya sangat termotivasi oleh beberapa skeptisme yang meragukan perlawanan damai sebagai metode efektif mencapai perubahan besar di masyarakat," ujarnya.

Bekerja sama dengan Maria Stephan, peniliti di ICNC, Chenoweth menilik beragam literatur tentang perlawanan sipil dan gerakan sosial dari 1900 hingga 2006. Rangkaian data itu kemudian dikuatkan pendapat pakar.

Chenoweth dan Stephan pada pokoknya mempertimbangkan upaya mengubah rezim. Sebuah gerakan dianggap sukses jika meraup semua tujuan dalam setahun sejak puncak gerakan. Sebagai catatan, pencapaian itu adalah hasil langsung dari gerakan yang ada.

Perubahan rezim akibat intervensi angkatan bersenjata asing tidak akan dianggap sebagai kesuksesan. Adapun, sebuah perlawanan dianggap gerakan kekerasan jika melibatkan pengeboman, penculikan, perusakan fasilitas publik atau serangan fisik terhadap orang maupun properti tertentu.

"Kami berusaha mengaplikasikan ujian berat terhadap perlawanan tanpa kekerasan sebagai sebuah strategi," kata Chenoweth.

Kriteria yang mereka terapkan sangat ketat. Dalam analisis mereka, gerakan kemerdekaan India tidak dianggap sebagai bukti pendukung atas protes damai. Alasannya, pasukan tentara Inggris yang kala itu makin menyusut di India merupakan salah satu faktor penentu, meski unjuk rasa sipil juga memainkan peran penting.

Di akhir analisis itu, Chenoweth dan Stephan mengumpulkan data dari 323 gerakan damai dan perlawanan dengan kekerasan. Hasil kajian mencengangkan itu mereka terbitkan melalui buku Why Civil Resistance Works: The Strategic Logic of Nonviolent Conflict.

Kekuatan jumlah

Secara umum, perlawanan damai dua kali lebih sukses ketimbang gerakan kekerasan. Metode damai ini punya peluang sukses 53%, sedangkan perlawanan dengan kekerasan hanya 26%.

Temuan itu adalah sebagian dari kekuatan jumlah. Menurut Chenoweth, gerakan damai lebih sukses karena melibatkan banyak individu dengan latar demografi yang berbeda-beda. Itu disebutnya dapat menyebabkan kekacauan yang melumpuhkan kehidupan urban, selain mematikan fungsi sosial yang ada.

Faktanya, dari 25 gerakan terbesar yang dia kaji, 20 di antaranya non-kekerasan. Dari 20 peristiwa itu, 14 di antaranya berhasil.

Secara keseluruhan, gerakan damai dapat menarik empati orang lebih banyak ketimbang perlawanan dengan kekerasan.

Gerakan rakyat Filipina melawan Marcos misalnya, melibatkan dua juta orang. Di sisi lain, perlawanan warga di Brasil tahun 1984 dan 1985 menarik satu juta orang, sedangkan Revolusi Beludru di Cekoslowakia tahun 1989 menggaet 500 ribu orang.

"Angka sangat penting untuk membangun kekuatan dan bisa dianggap menjadi teguran serius atau ancaman bagi otoritas," ujar Chenoweth. Dan gerakan damai sejauh ini adalah metode terbaik mengumpulkan dukungan publik.

Sosial Menggaet dukungan jutaan warga Filipina, gerakan rakyat di negara itu mampu menumbangkan rezim Ferdinand Marcos. (Getty Images)

Sekali 3,5% dari total populasi warga sudah berpartisipasi aktif, kesuksesan perlawanan tidak dapat dibendung lagi.

"Tidak ada gerakan yang gagal setelah mereka disokong 3,5% populasi selama puncak perlawanan," kata Chenoweth. Ia menyebut angka itu sebagai kaidah 3,5%.

Selain gerakan rakyat di Filipina, ia juga merujuk Revolusi Bernyanyi Estonia di akhir 1980-an dan Revolusi Mawar di Georgia tahun 2003.

Chenoweth mengakui bahwa ia kaget dengan temuan ini. Namun kini ia mengutip banyak rujukan tentang tingginya dukungan bagi gerakan damai.

Barangkali yang paling jelas, perlawanan dengan kekerasan tidak dapat merangkul orang yang benci dan takut pada pertumpahan darah. Sebaliknya, perlawanan damai menjunjung tinggi moral.

Chenoweth menunjuk bahwa perlawanan damai juga tidak memberi hambatan fisik bagi para simpatisannya. Anda tidak perlu bugar atau sehat untuk terlibat di dalamnya. Sementara itu, perlawanan kekerasan cenderung bergantung pada dukungan fisik muda-mudi.

Dan walau banyak bentuk perlawanan damai juga menyimpan risiko serius - respons militer China pada demonstrasi Tiananmen tahun 1989 misalnya - Chenoweth menyebut gerakan ini mudah didiskusikan. Artinya, berita tentang keberadaan mereka bisa mencakup banyak kalangan.

Perlawanan kekerasan, di sisi lain, butuh suplai senjata dan operasi tertutup yang sulit melibatkan orang banyak.

Sosial Seorang perempuan lanjut usia berbincang dengan personel kepolisian dalam unjuk rasa di Aljazair beberapa waktu lalu. (Getty Images)

Dengan pelibatan banyak kalangan, gerakan damai juga lebih mungkin memenangkan hati kepolisian dan militer. Dua institusi ini sangat dibutuhkan penguasa.

Selama unjuk rasa damai jutaan orang di jalanan, aparat keamanan cenderung khawatir sanak famili mereka turut berada di kerumunan itu. Artinya, mereka tidak akan mengambil tindakan keras terhadap pendemo.

"Atau ketika mereka melihat massa yang besar, mereka akan mengambil kesimpulan bahwa situasi itu sudah tak dapat diubah dan mereka tidak ingin mengubahnya," kata Chenoweth.

Dalam siasat spesifik yang digunakan, serangan umum "mungkin salah satu yang paling kuat, metode tunggal perlawanan damai," kata Chenoweth. Strategi ini punya dampak personal, sedangkan bentuk protes lainnya bisa betul-betul anonim.

Chenoweth menunjuk boikot konsumen pada era apartheid di Afrika Selatan. Ketika itu banyak warga kulit hitam menolak membeli produk yang dibuat perusahaan milik orang kulit putih.

Hasilnya adalah krisis ekonomi di kalangan elite kulit putih yang turut mengakhiri politik segregasi di negara itu awal 1990-an.

Sosial Protes damai lebih berpeluang mendapatkan dukungan publik. Foto ini memperlihatkan pendemo dan polisi yang saling berhadapan di Maroko, tahun 2011. (Getty Images)

"Dibandingkan aktivitas bersenjata, ada lebih banyak opsi untuk memikat hati publik dan perlawanan damai yang tidak menempatkan seseorang dalam bahaya fisik, terutama saat jumlah partisipan meningkat," kata Chenoweth.

"Teknik perlawanan damai lebih terlihat, jadi lebih mudah bagi publik mencari tahu bagaimana terlibat langsung dan mengkoordinasikan aktivitas mereka untuk gangguan maksimal."

Angka ajaib?

Tentu ada pola yang sangat umum dan meski dua kali lebih sukses ketimbang perlawanan dengan kekerasan, gerakan ini menyimpan potensi gagal 47%.

Seperti dikatakan Chenoweth dan Stephen dalam buku mereka, gagalnya gerakan damai karena tidak mendapatkan cukup dukungan atau momentum meruntuhkan basis kekuasaan musuh dan tetap diam di hadapan represi.

Cukup banyak gerakan damai yang gagal, seperti protes terhadap partai komunis di Jerman Timur tahun 1950-an. Perlawanan itu melibatkan 400 ribu orang atau sekitar 2% penduduk negara itu.

Dalam data Chenoweth, begitu gerakan damai mencapai kaidah 3,5% keterlibatan aktif warga, kemungkinan kesuksesannya menjadi sangat besar.

Di Inggris, persentase itu setara 2,3 juta orang atau sekitar dua kali lipat jumlah penduduk Birmingham, kota terbesar di Inggris. Di AS, dibutuhkan 11 juta orang, lebih dari total populasi New York City.

Bagaimanapun, faktanya, perlawanan damai adalah satu-satunya cara mengelola keterlibatan aktif publik.

Sosial Dua warga Cekoslowakia memperingati Revolusi Beludru yang terjadi di negara mereka tahun 1989, untuk menjatuhkan rezim komunis. (Getty Images)

Studi awal Chenoweth dan Stephan diterbitkan tahun 2011. Berbagai temuan mereka telah mendapatkan banyak perhatian.

"Sulit melebih-lebihkan betapa besar pengaruh mereka terhadap kajian itu," kata Matthew Chandler yang tengah meneliti isu perlawanan sipil di Universitas Notre Dame, Indiana, AS.

Isabel Bramsen, yang mendalami studi konflik internasional di Universitas Copenhagen sepakat dengan hasil kajian Chenoweth dan Stephen yang menarik.

"Sekarang itu merupakan fakta yang terlembagakan bahwa pendekatan tanpa kekerasan lebih sukses ketimbang gerakan dengan kekerasan," ujarnya.

Merujuk kaidah 3,5%, Bramsen berkata, meski angka itu kecil, tingkat partisipasi aktif barangkali menunjukkan diam-diam mereka setuju dengan gerakan tersebut.

Para peneliti ini kini berupaya mengurai lebih dalam faktor yang mendorong keberhasilan atau kegagalan perlawanan sipil. Bramsen dan Chandler misalnya, menekankan pentingnya persatuan di antara kelompok pengunjuk rasa.

Sebagai contoh, Bramsen merujuk kegagalan perlawanan sipil di Bahrain tahun 2011. Awalnya gerakan itu menarik banyak orang, tapi dengan cepat berubah menjadi faksi yang saling berlawanan.

Akibat dari hilangnya kohesi atau hubungan erat itu, kata Bramsen, sangat menghambat gerakan tersebut meraih momentum perubahan.

Ketertarikan Chenoweth belakangan fokus pada gerakan yang dekat dengan urusan domestik, seperti Black Lives Matter dan Women's March tahun 2017.

Ia juga tertarik pada Extinction Rebellion, yang akhir-akhir ini populer karena keterlibatan aktivis Swedia, Greta Thunberg.

"Mereka menolak banyak inertia yang antiperubahan, tapi saya pikir mereka punya dasar bertindak yang strategis dan bijaksana.

"Dan mereka seperti memiliki semua naluri yang tepat untuk mengembangkannya melalui gerakan perlawanan yang antikekerasan," kata Chenoweth.

Pada akhirnya, Chenoweth berharap literatur sejarah memberi perhatian lebih besar pada perlawanan damai ketimbang perang.

"Begitu banyak sejarah yang kita ceritakan yang berfokus pada kekerasan. Dan meski sepenuhnya bencana, kita masih mencari celah untuk memenangkannya," kata Chenoweth.

Lebih dari itu, Chenoweth menyebut kita cenderung mengabaikan keberhasilan protes yang berlangsung damai.

"Orang-orang biasa selalu tertarik pada heroisme yang mengubah dunia. Dan mereka juga pantas mendapatkan perhatian dan selebrasi," ujarnya.

Anda dapat membaca artikel aslinya "The '3.5% rule': How a small minority can change the world" dan artikel lain semacam ini dalam bahasa Inggris di BBC Future.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed