detikNews
Rabu 29 Mei 2019, 01:58 WIB

Saat Seekor Kucing Jadi Kepala Stasiun Kereta Api di Jepang

BBC Karangan Khas - detikNews
Saat Seekor Kucing Jadi Kepala Stasiun Kereta Api di Jepang Tama si kucing yang begitu terkenal di kalangan penumpang kereta Kishigawa (BBC)
Jakarta -

Keramahan dan fotogenik Tama si kucing tidak hanya membuatnya terkenal di kalangan para penumpang kereta Kishigawa, tetapi juga membuat 'sang kucing kepala stasiun' mendapat gelar bangsawan.

Pada suatu pagi yang cerah di bulan Mei, di stasiun kereta Idakiso, Jepang, seekor kucing kecil berjemur sembari difoto oleh segerombolan turis. Kemudian seorang bocah menggelitik perut berbulunya.

Selagi si kucing putih-cokelat-hitam itu mendengkur dan mengeong di pangkuan seorang pengunjung, salah seorang pegawai stasiun memerhatikan sambil tersenyum lebar, sesekali menyela untuk membetulkan posisi topi masinis yang dikenakan si kucing sebelum topi itu melorot menutupi matanya.

"Keberadaannya di stasiun membuat semua orang senang," ujarnya, sementara si kucing dengan riang menggeser-geser layar iPhone pengunjung yang memangkunya. "Saya kadang lupa kalau dia bos saya."

Itulah Yontama, kucing kepala stasiun terbaru yang telah membantu menyelamatkan rute kereta Kishigawa di prefektur Wakayama, daerah terpencil berbukit-bukit di Jepang yang dikenal dengan kaki bukitnya yang dipenuhi kuil dan jalur ziarah sakral.

Kisah ini bermula pada akhir tahun 1990-an dengan seekor kucing calico betina muda bernama Tama. Kucing itu tinggal di dekat Stasiun Kishi - stasiun terakhir dari 14 perhentian pada jalur sepanjang 14,3 km yang menghubungkan desa-desa kecil ke Kota Wakayama, pusat daerah itu - dan seringkali nongkrong di pinggir rel, menarik perhatian para penumpang kereta.

Selama bertahun-tahun, keramahan dan tampilan Tama yang fotogenik membuatnya terkenal di kalangan para penumpang, dan mereka yang mengaguminya mulai memberinya panggilan sayang 'kepala stasiun' Kishi.

Akan tetapi, pada pertengahan tahun 2000-an, sepinya penumpang dan masalah keuangan membuat jalur kereta pedesaan itu terancam ditutup, dan akhirnya rute dengan 14 stasiun itu benar-benar berhenti beroperasi pada tahun 2006.

Untungnya, itu bukanlah akhir dari nasib jalur kereta maupun peran si kucing.

"Pada tahun 2006, presiden Kereta Listrik Wakayama saat ini, Mitsunobu Kojima, diminta warga untuk menghidupkan kembali Jalur Kishigawa setelah pemilik sebelumnya mengumumkan akan meniadakan rute tersebut," ujar Keiko Yamaki, seorang pejabat Ryobi, perusahaan yang mengelola Kereta Listrik Wakayama.

Yamaki menjelaskan bahwa seorang pemilik toko serba ada di dekat Stasiun Kishi, yang merawat Tama, memutuskan untuk pindah; namun ia meminta perusahaan kereta api untuk merawat kucing itu sebelum ia pergi.

"Presiden perusahaan kami adalah pecinta anjing, tapi saat ia bertemu Tama ia terpikat," kata Yamaki, sambil memperlihatkan foto-foto Kojima memeluk si 'kucing kepala stasiun' dengan riang di telepon genggamnya. "Ia jatuh cinta pada kucing itu."

Segera setelah mengadopsi Tama, Kojima memesan topi masinis khusus untuk kucing kecilnya, dan pada bulan Januari 2017, ia secara resmi menamai Tama 'Kepala Stasiun Kishi' kucing kepala stasiun pertama di Jepang.

Sebagai kepala stasiun, salah satu pekerjaan Tama adalah menjadi wajah perkeretaapian dan muncul dalam bahan-bahan promosi juga liputan media. Ia juga mendapat tempatnya sendiri di stasiun.

Terkadang ia menyapa para penumpang dari atas meja di dekat loket karcis atau dari balik jendela kaca ruang 'kantor'nya loket karcis yang disulap dan dilengkapi baki kotoran dan sebuah tempat tidur.

Tama sangat disayangi penumpang dan pegawai stasiun sampai-sampai potret lukisannya langsung diproduksi, dan kini digantung bersama dengan sejumlah foto dirinya di toko suvenir Stasiun Kishi di mana pengunjung bisa membeli segala sesuatu bertema Tama, dari lencana dan gantungan kunci hingga permen Tama.

Sebagai pengganti 'gaji', Tama mendapat semua makanan kucing yang ia butuhkan. Ia menerima kenaikan jabatan juga: pada tahun 2008, ia menjadi 'super manajer stasiun' dan diberi gelar kebangsawanan oleh gubernur prefektur di sana.

Dalam prosesinya, ia mengenakan gaun upacara berwarna biru tua dengan renda-renda putih di bagian leher, yang menarik perhatian ribuan turis ke stasiun kecil berperon tunggal itu.

Bahkan, menurut penelitian tahun 2008 yang dilakukan Katsuhiro Miyamoto, seorang profesor di Sekolah Akuntansi Universitas Kansai, dengkuran Tama di stasiun itu berhasil menambah 55.000 penumpang kereta di Jalur Kishigawa dari yang diperkirakan pada tahun 2007.

Bahkan selama tugasnya sebagai kepala stasiun dari tahun 2007 sampai 2015, Tama mengontribusikan 1,1 miliar yen (sekitar Rp144,8 miliar) terhadap perekonomian daerah setempat.

Berkat bantuan sang 'manajer berkumis', perusahaan Kereta Listrik Wakayama menyatakan bahwa jumlah penumpang tahunan Jalur Kishigawa telah meningkat hingga hampir 300.000 orang dari tahun 2006.

Untuk mengkapitalisasi kegilaan akan Tama, pada tahun 2010, perusahaan kereta itu mengontrak seorang perancang produk peraih penghargaan bernama Eiji Mitooka yang dikenal sebagai perancang kereta peluru Jepang yang mulus untuk merombak total rancangan eksterior dan interior kereta dengan tema Tama. Lantas, lahirlah kereta Tamaden.

Sebagai penghormatan bagi Tama, tampilan luar dua gerbong Tamaden kini dihiasi cap kaki kucing dan 101 gambar kartun Tama, termasuk gambar Tama yang tengah meregangkan otot dengan puasnya, gambar Tama menjilati kakinya, dan gambar Tama yang nakal siap menerkam.

Bagian depan kereta itu bahkan dilengkapi gambar kumis kucing, sedangkan bagian dalamnya dilapisi lantai kayu kuno dan rak berisi buku anak-anak. Untuk sentuhan akhir, ketika pintu kereta terbuka di setiap stasiun, bunyi dengkur dan meongan kucing akan terdengar melalui sistem pengeras suara itu suara Tama asli yang sengaja direkam.

Ketika Tama mengembuskan napas terakhirnya tahun 2015 lalu, ia sudah berusia 16 tahun dan muncul dalam berbagai acara TV terkenal, majalah dan surat kabar di seantero Jepang.

Ribuan orang menghadiri pemakamannya di stasiun, meninggalkan tumpukan buket bunga dan berkaleng-kaleng ikan tuna di luar stasiun. Sang 'Kepala Stasiun Abadi yang Terhomat', sebutannya kini, lantas diabadikan dengan sebuah kuil seukuran bilik telepon umum di peron Stasiun Kishi. Dan dalam tradisi keagamaan Shinto Jepang, ia diangkat menjadi dewi Kereta Listrik Wakayama.

Sebagai penghormatan pada hari yang seharusnya menjadi ulang tahun Tama yang ke-18 tahun 2017 lalu, ia diperingati dalam bentuk Google Doodle. Dan empat tahun setelah kematiannya, akun Twitternya sudah memilik lebih dari 80.000 pengikut dan terus bertambah.

"Tamaden benar-benar menjadi sangat terkenal di berbagai kalangan usia," ujar Yamaki. "Kami melihat banyak anak dan keluarga serta orang tua membawa serta cucu mereka. Di samping itu, penggila kereta api, pasangan kekasih hingga turis mancanegara juga datang untuk naik kereta itu dan melihat para kepala stasiun."

Belakangan, salah satu mantan 'murid' Tama, kucing berusia delapan tahun bernama Nitama (secara harafiah berarti 'Tama Dua'), berperan sebagai kepala stasiun Kishi, sementara Yontama yang berusia empat tahun ('Tama Empat') bertugas sebagai kucing asistennya di stasiun Idakiso yang berjarak lima stasiun.

Keduanya bekerja dari pukul 10 pagi hingga empat sore dengan dua hari libur dalam seminggu: Senin dan Jumat untuk Yontama; Rabu dan Kamis untuk Nitama.

Lantas, di mana Tama Tiga? Ia saat ini menjadi pegawai perusahaan Jepang, Tram Listrik Okoyama, dan berperan sebagai direktur pelaksana Museum Okaden.

Meskipun Tama dan para penerusnya memainkan peranan penting dalam upaya menghidupkan kembali Jalur Kishigawa, Yamaki dengan semangat menjelaskan bahwa kebangkitan rute itu bukan hanya berkat para kucing.

Perusahaan kereta itu juga mempekerjakan Mitooka untuk menciptakan kereta-kereta bertema lain untuk menarik para wisatawan, termasuk kereta stroberi (Ichigo Densha) dan kereta acar plum (Umeboshi Densha) - keduanya adalah buah khas Wakayama.

Pada tahun 2009, Mitooka juga merancang gedung baru untuk Stasiun Kishi, sebuah bangunan berbentuk kepala kucing yang terbuat dari jerami.

Telinga kucing kecil mencuat dari atap, pintu masuk berupa mulut kucing, dan dua jendela bundar di bagian atap melambangkan mata kucing masing-masing memancarkan sinar berwarna kuning ketika lampunya dinyalakan di malam hari.

"Stasiun itu hidup menjadi kucing ketika matanya menyala," ujar Yamaki. "Orang bilang kucing mengusir iblis dan malapetaka. Mungkin stasiun ini juga demikian."

Bagaimanapun, menurut sejarah, kucing dianggap sebagai hewan spiritual dan simbol keberuntungan di Jepang. Arca kucing Maneki-neko yang terkenal dengan kaki kirinya yang mengangguk-angguk, disebut membawa keberuntungan dalam berdagang, dipajang di etalase-etalase toko di seluruh dunia.

Ada juga kuil-kuil dan patung di seantero Jepang yang khusus didedikasikan bagi kucing - seperti Kuil Nekogami (Dewa Kucing) di Kagoshima, di mana dua ekor kucing diabadikan oleh panglima perang feodal sebagai penghormatan terhadap dinas militer mereka.

Lebih dari 10 'pulau kucing' Jepang, di mana ratusan kucing bebas berkeliaran, menjadi destinasi wisata popular para turis; seperti halnya kafe-kafe kucing di Tokyo di mana pengunjung membayar untuk bermain dengan kucing di sana. Belum lagi Hello Kitty, karakter kartun kesayangan Jepang yang juga seekor kucing.

Di negeri yang tampaknya sangat menyukai kucing, Tama dan para penerusnya bukan cuma membawa keberuntungan bagi Jalur Kishigawa, tetapi juga menempati ruang tersendiri di banyak hati warga Jepang.

Tapi apa ya yang ada di pikiran Yontama tentang semua itu? Ia hanya mengerling ke atas dan mengeong dengan manis.

Anda dapat membaca artikel Bahasa Inggris The Cat who saved a Japanese rail line di laman BBC Travel.




(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed