DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 10:52 WIB

Mengapa Aktivis Tolak Pembangunan Gereja di Taman Rusia?

BBC Magazine - detikNews
Mengapa Aktivis Tolak Pembangunan Gereja di Taman Rusia?
Moskow -

Sekitar 2.000 orang memprotes pembangunan gereja di sebuah taman di Kota Yekaterinburg, Rusia, karena dianggap akan menghancurkan ruang hijau kota.

Sebanyak 26 orang ditangkap selama unjuk rasa yang berakhir bentrokan dengan aparat keamanan pada Selasa dan berlanjut pada Rabu (15/05).

Para aktivis mengatakan pembangunan Katedral St Catherine di taman kota itu akan menghancurkan salah satu dari beberapa ruang hijau di kota itu.

Pihak Gereja Ortodoks Rusia mengatakan diperlukan pembangunan gereja baru untuk menggantikan banyaknya bangunan gereja yang dihancurkan oleh rezim Soviet yang anti-agama.

Bangunan gereja ini akan menjadi replika dari salah satu katedral yang dihancurkan pada 1930.

Rencananya pembangunan gereja ini akan selesai pada 2023, tepat pada peringatan 300 tahun berdirinya Yekaterinburg, kota terbesar keempat di Rusia.

Juru bicara pemerintah, Dmitry Peskov, mengkritik tindakan para pemrotes karena unjuk rasa itu digelar "tanpa izin" dan tindakan merobohkan pagar di sekitar lokasi konstruksi gereja.

Apa yang terjadi?

Mengikuti ajakan unjuk rasa menolak pembangunan gereja melalui media sosial, ribuan orang berkumpul di dekat sungai Iset di pusat kota Yekaterinburg, Senin lalu.

Para pengunjuk rasa berkumpul di dekat pagar sementara yang didirikan di dalam taman, yaitu di lokasi rencana pembangunan gereja.

Mereka membentuk rantai manusia di sekitar pagar dan, akhirnya, berhasil merobohkannya, seraya berteriak lantang: "Kami hanya ingin taman."

Ketika kerumunan orang berjalan menuju taman, mereka dihadang penjaga keamanan yang disewa oleh Perusahaan Tembaga Rusia (RCC) - yang mensponsori pembangunan gereja - serta sejumlah anggota Seni Bela Diri Campuran (MMA) yang tampaknya terkait dengan perusahaan Akademi Seni Bela Diri.

Di antara para kelompok pro-gereja terdapat sosok Ivan Shtyrkov, yang juga dikenal sebagai Ural Hulk - seorang atlet MMA profesional dan kepala akademi RCC.

Aksi protes terus berlanjut hingga sepanjang malam, dan dilanjutkan pada hari berikutnya hingga larut malam.

Kementerian keamanan regional mengatakan 26 orang ditangkap dan sejumlah laporan menyebutkan tiga orang dilarikan ke rumah sakit, termasuk salah seorang di antaranya mengalami patah tulang rusuk.

Protes terhadap pendirian gereja terus berlanjut pada Rabu, ketika sebagian aktivis mengikat dirinya pada pohon dan pagar baru didirikan aparat keamanan di sekitar lokasi.

Mengapa warga menentang pembangunan gereja?

Keberadaan gereja telah menjadi sumber kontroversi sejak rencana pembangunannya diumumkan pertama kali pada 2010.

Di situsnya, kelompok aktivis di Yekaterinburg mengatakan: "Demi membangun katedral, mereka ingin menghancurkan taman, yang merupakan tempat favorit bagi warga untuk bersantai."

Warga lainnya mengatakan bahwa kota ini membutuhkan lebih banyak taman, yang sejauh ini masih sedikit jumlahnya.

"Tidak ada yang menentang gereja, tetapi kami menentang pembangunan satu gereja di sini," kata seorang pengunjuk rasa kepada Radio Free Europe. "Ada banyak gereja di sini ... Tapi tidak banyak ruang hijau yang tersisa di kota."

Para pengunjuk rasa juga meneriakkan "kami ingin bertemu walikota" - merujuk pada mantan Walikota Yevgeny Roizman, salah satu dari sedikit politisi yang secara terbuka mengkritik Presiden Vladimir Putin.

Roizman mengundurkan diri tahun lalu setelah diumumkan bahwa pemilihan walikota langsung dibatalkan di Yekaterinburg, dan menyerang keputusan itu sebagai anti-demokrasi.

Apa yang dikatakan Gereja?

Vakhtang Kipshidze, juru bicara Gereja Ortodoks Rusia, menuduh para pemrotes sebagai "anti-agama".

"Ada banyak cara resmi untuk menyatakan ketidaksetujuan ... tetapi merekayasa konflik dengan alasan agama, tentu sangat menyedihkan di Yekaterinburg," katanya kepada Interfax.

"Di Yekaterinburg, ada sejarah panjang keyakinan agama dipersekusi dan Tsar Nicholas II serta anak-anaknya dibunuh," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa unjuk rasa itu "hanya bisa diorganisir oleh orang-orang yang didorong oleh motif anti-agama".

Perwakilan Gereja ikut hadiri dalam pertemuan tertutup dengan para aktivis, yang diselenggarakan Yevgeny Kuivashev, Gubernur Oblast Sverdlovsk.

Kipshidze mengatakan pihak gereja mendukung dialog konstruktif dengan para pengunjuk rasa, dengan syarat diskusi itu tidak boleh melibatkan orang-orang yang "tidak bisa mentolerir apa pun yang berhubungan dengan agama".




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed