DetikNews
Senin 06 Mei 2019, 14:00 WIB

Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia di Nepal

BBC Magazine - detikNews
Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia di Nepal Foto: Getty Images
Kathmandu - Perdagangan perempuan Nepal meningkat pesat setelah bencana gempa bumi tahun 2015, dan media sosial telah mempermudah pekerjaan parapelakunya, ungkap VickySpratt.

Suara tawa dan nyanyian bergema di sekitar gedung itu, bercampur dengan bunyi klakson lalu lintas di luar.

Dindingnya dibalut dengan syal sutra berwarna oranye cerah, pirus, dan merah muda yang semuanya dibuat sebagai bentuk terapi oleh para penyintas yang tinggal di sini.

Ini adalah rumah persembunyian di Kathmandu untuk para perempuan yang diperdagangkan ke pelacuran, dan sekarang mendapatkan bimbingan ketika berusaha untuk kembali ke kehidupan normal mereka.

Saya di sini untuk menemui Chandani, yang berusia 35 tahun.

Lebih dari setahun yang lalu orang asing menambahkannya sebagai teman di Facebook, ia menerimanya; dan si orang asing segera masuk ke kotak DM-nya (Direct Message) dan mereka mulai bertukar pesan secara pribadi dan langsung di dunia maya. Orang asing itu ternyata adalah agen bagi para pedagang manusia.

Seorang guru membimbing anak-anak perempuan yang diselamatkan dari perdagangan manusia di rumah persembunyian Shakti Samuha, pada 2018.GettyImagesSeorang guru membimbing anak-anak perempuan yang diselamatkan dari perdagangan manusia di rumah persembunyianShaktiSamuha.

Sambil menunggu Chandani, saya menatap ke luar jendela dan menyaksikan pusaran debu kuning bercampur hujan. Himalaya membentang di sepanjang tepi utara lembah hijau yang membuai ibu kota Nepal tersembunyi di balik awan dan kabut.

Sujata, penerjemah saya, menjelaskan bahwa debu itu berasal dari pekerjaan konstruksi. "Mereka sedang membangun kembali kota," ujarnya, setelah sebagian besar Kathmandu hancur oleh gempa bumi di tahun 2015. Bencana alam, ternyata, baik untuk industri konstruksi ... dan untuk perdagangan manusia.

Perdagangan budak modern dalam hal perdagangan tenaga kerja telah tumbuh subur di sini, namun gempa bumi membuat orang-orang lebih rentan, terpisah dari keluarga mereka dan membutuhkan pekerjaan.

Jumlah korbannya telah meningkat 500% menurut pasukan penjaga perbatasan India.

Charimaya Tamang, yang membantu mengelola rumah persembunyian, memberi tahu saya bahwa ia sendiri pernah diperdagangkan pada tahun 1990-an. Ia dibius, diculik dan kemudian dibawa ke rumah bordil di India. Sekarang teknologi telah menyuntikkan kehidupan baru ke dalam bisnis ini, katanya.

"Media sosial benar-benar membantu para agen sekarang mereka tidak perlu lagi pergi ke desa untuk mencari gadis-gadis," katanya kepada saya. "Mereka hanya perlu mencari target potensial di dunia maya dan mengirim mereka pesan dengan satu klik."

Pintu terbuka dan Chandani menyambut saya dengan pelukan. Kisahnya, katanya, dimulai dengan sebuah permintaan pertemanan yang tidak tampak berbahaya.

Seorang sukarelawan bersiap-siap untuk memeriksa sebuah bus yang akan meninggalkan lembah Kathmandu, kalau-kalau ada korban perdagangan manusia.GettyImagesSeorang sukarelawan bersiap-siap untuk memeriksa sebuah bus yang akan meninggalkan lembah Kathmandu, kalau-kalau ada korban perdagangan manusia.

"Ada seorang pria yang pernah mengobrol dengan adik saya di Facebook," jelasnya.

"Ia menambahkan saya sebagai teman dan mulai mengirim pesan. Dia memberi tahu saya kalau dia bisa membantu saya mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi di Irak. Saya tidak pernah bertemu dengannya, tetapi suatu hari dia mengirim seseorang untuk menyerahkan visa dan paspor."

Keluarga Chandani kehilangan rumah mereka karena gempa. Ketika agen perdagangan manusia ini mengirim pesan kepadanya, ia sedang tinggal di tempat penampungan sementara. Si agen sudah berbicara dengan adik perempuannya selama berbulan-bulan, mempersiapkan mereka berdua. Kemudian, dalam keadaan kacau setelah bencana, ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Setelah pengiriman paspor, agen memberi tahu Chandani bahwa pekerjaan sudah siap baginya sebagai pembantu rumah tangga di Irak. Dia mengatur agar dia dikawal ke Delhi oleh seorang pria yang katanya adalah saudaranya.

Sesampai di sana, alih-alih naik penerbangan ke Timur Tengah seperti yang dijanjikan, dia dikurung di kamar hotel bersama 18 perempuan lain selama beberapa minggu.

Chandani memalingkan muka ketika saya memintanya untuk menjelaskan detailnya. Kulihat matanya berkilau.

Apa yang ada dalam benaknya di kamar itu, saya bertanya? Dia memberi tahu saya bahwa dia tahu "akan dijual" karena ada banyak kisah perdagangan orang di Nepal. Wanita tumbuh diperingatkan untuk tidak membiarkan ini terjadi pada mereka.

Itu risiko yang diketahuinya, tetapi risiko yang ia ambil dengan harapan dapat mengubah nasibnya dan keluarganya.

Meninggalkan negara untuk bekerja bukanlah hal yang aneh di Nepal, tetapi bagi perempuan muda mengejar kehidupan baru dan kebebasan finansial bisa berisiko.

Faktanya, sangat berbahaya sehingga undang-undang kontroversial mengatakan bahwa perempuan di bawah 30 tahun secara teknis tidak diizinkan untuk bermigrasi tanpa izin dari wali - orang tua atau suami.

A policeman with a suspected trafficking victimSeorang polisi Nepal dengan seorang korban peradangan manusia. (Getty Images)

Seperti banyak perempuan muda di kawasan pedesaan Nepal, Chandani telah lama frustrasi akibat kurangnya pilihan sebelum kesempatan itu tiba melalui pesan inboks di Facebooknya.

"Semua orang di keluarga saya bekerja di pertanian," katanya kepada saya. "Sangat berat, saya tidak menikmatinya dan saya tidak dapat menghasilkan cukup uang."

Dia juga tidak ingin menikah.

"Saya tidak melihat banyak perempuan kondisinya membaik dalam kehidupan pernikahan," dia tertawa, "tapi saya melihat banyak pria yang selingkuh."

Sujata tersenyum ketika dia menerjemahkannya, dan saya juga tidak bisa menahan tawa - walaupun saya baru saja sekuat tenaga untuk menahan air mata.

Chandani mengatakan kepada saya bahwa dia membenci gagasan bahwa dia membutuhkan seorang pria untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebelum saya meninggalkan rumah persembunyian, dia melihat sekeliling dan mengatakan kepada saya bahwa dia mungkin masih mencoba peruntungannya.

"Saya akan pergi ke mana pun, saya bisa menghasilkan uang yang lebih baik," katanya seolah menantang. "Saya akan mencoba pergi ke luar negeri lagi."




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed