DetikNews
Jumat 03 Mei 2019, 18:23 WIB

Kisah Penyelam yang Bertahan Hidup di Bawah Air Tanpa Oksigen

BBC Karangan Khas - detikNews
Kisah Penyelam yang Bertahan Hidup di Bawah Air Tanpa Oksigen
London -

Ada bunyi 'krak' ketika kabel tebal yang menghubungkan Chris Lemons dengan kapal di atasnya putus. Tali pusar yang menghubungkannya dengan dunia atas ini membawa daya, komunikasi, panas, dan udara ke pakaian selamnya, di bawah permukaan laut.

Sementara rekan-rekannya masih ingat suara mengerikan dari putusnya tali ini, Lemons sendiri tidak mendengar apa-apa. Sesaat sebelumnya, dia terkait pada struktur logam di bawah laut yang sedang mereka kerjakan dan detik berikutnya, dia jatuh ke dasar laut. Tali yang menghubungkannya dengan kapal di atas terputus, beserta harapan untuk menemukan jalan kembali.

Yang paling penting, persediaan udaranya juga lenyap, membuatnya hanya memiliki enam atau tujuh menit cadangan udara. Selama 30 menit berikutnya di dasar Laut Utara, Lemons mengalami sesuatu yang bisa mengakhiri nyawa kebanyakan orang: ia kehabisan udara.

"Saya tidak yakin saya benar-benar memahami apa yang terjadi," kata Lemons mengenang. "Punggung saya menabrak dasar laut dan saya dikelilingi oleh kegelapan total. Saya tahu saya punya sedikit udara di tabung dan peluang saya untuk keluar dari situasi ini hampir nol."

"Semacam perasaan pasrah menghampiri. Saya ingat merasa diliputi oleh duka cita."

Lemons telah menjadi bagian dari tim penyelam yang memperbaiki pipa-pipa pada sumur minyak di Huntington Oil Field, sekitar 127 mil (204km) timur Aberdeen di pantai timur Skotlandia. Untuk melakukan pekerjaan ini, penyelam harus menghabiskan satu bulan tinggal, tidur, dan makan di dalam kamar yang dibangun khusus di atas kapal selam, dipisahkan dari awak yang lain dengan selembar logam dan kaca. Dalam tabung sepanjang 6 m ini, ketiga penyelam menyesuaikan diri dengan tekanan yang akan mereka alami ketika berada di bawah air.

Ini bentuk isolasi yang tidak biasa. Tiga penyelam bisa melihat dan berbicara dengan kru mereka di luar ruangan, tetapi terpisah dari dari mereka. Anggota masing-masing tim sepenuhnya bergantung pada satu sama lain perlu enam hari dekompresi sebelum mereka dapat meninggalkan ruang hiperbarik (bertekanan tinggi) ini, atau hingga bantuan dapat masuk.

"Ini situasi yang sangat aneh," kata Lemons yang berusia 39 tahun. "Anda tinggal di dalam kapal, dikelilingi banyak orang, tetapi benar-benar terisolasi dari mereka."

"Dalam beberapa hal, lebih cepat untuk kembali dari Bulan daripada dari kedalaman laut."

Dekompresi diperlukan karena gas nitrogen dari udara yang dihirup penyelam saat berada di bawah air larut ke dalam aliran darah dan jaringan mereka ketika mereka berada di kedalaman laut. Ketika mereka naik ke permukaan, tekanan dari air di sekitarnya berkurang dan terbentuk gelembung nitrogen.

Jika ini terjadi terlalu cepat, bisa menyebabkan kerusakan jaringan dan saraf yang menyakitkan dan bahkan menyebabkan kematian jika gelembung terbentuk di otak.

Seorang teknisi berkomunikasi dengan penyelam di ruangan hiperbarik.
Penyelam yang berada di dasar laut dalam periode yang panjang perlu melakukan dekompresi selama beberapa hari di ruangan hiperbarik. (Getty Images)


Namun, para penyelam yang melakukan pekerjaan ini sudah menerima risikonya. Bagi Lemons, yang paling ia khawatirkan ialah menghabiskan waktu begitu lama, jauh dari tunangannya, Morag Martin, dan rumah mereka di pantai barat Skotlandia.

Pagi tanggal 18 September 2012 dimulai cukup normal bagi Lemons dan dua rekan penyelamnya Dave Youasa dan Duncan Allcock. Ketiganya naik ke lonceng selam, yang kemudian diturunkan dari kapal, Bibby Topaz, ke dasar laut tempat mereka akan melakukan pekerjaan mereka.

"Awalnya hanya terasa seperti hari biasa di kantor," kata Lemons.

Meskipun belum berpengalaman seperti dua pria lainnya, ia telah menjadi penyelam selama delapan tahun dan telah melakukan penyelaman saturasi selama satu setengah tahun. Dia juga pernah ikut serta dalam sembilan penyelaman di air dalam. "Lautnya agak bergelombang di permukaan, tapi cukup jernih di bawah."

Namun, laut yang bergolak itu memicu serangkaian peristiwa yang hampir merenggut nyawa Lemons. Biasanya kapal selam menggunakan navigasi dan sistem propulsi yang dikendalikan komputer dikenal sebagai sistem penentuan posisi dinamis (dynamic positioning) untuk menjaga agar kapal tetap berada di atas lokasi penyelaman sementara para penyelam berada di bawah air.

Ketika Lemons dan Youasa mulai memperbaiki pipa bawah air, dengan Allcock mengawasi mereka dari bel, sistem penentuan posisi dinamis Bibby Topaz tiba-tiba terhenti. Kapal pun mulai hanyut.

Sementara di dasar laut, alarm berbunyi di sistem komunikasi penyelam. Lemons dan Youasa diperintahkan untuk kembali ke bel. Tetapi ketika mereka mulai mengikuti tali mereka, kapal sudah berada di atas struktur logam tinggi yang sedang mereka perbaiki, yang berarti mereka harus memanjatnya.

Namun, ketika mendekati bagian puncak, tali Lemons tersangkut pada sepotong logam yang mencuat keluar dari struktur. Sebelum dia bisa melepaskannya, kapal yang hanyut menariknya dengan kuat, menyeretnya hingga menabrak tiang logam.

"Dave menyadari ada yang salah dan berbalik ke arah saya," kata Lemons, yang kisahnya telah diangkat menjadi film dokumenter panjang Last Breath. "Ada momen aneh ketika kami saling bertatap. Ia sangat ingin menggapai saya, tetapi kapal menariknya menjauh. Sebelum saya menyadarinya, saya kehabisan udara karena kabelnya direnggangkan dengan sangat ketat."

Tekanan pada kabel pasti sangat besar. Terbuat dari jalinan selang dan kabel listrik dengan tali yang melintang di tengahnya, kabel berderit ketika perahu yang hanyut meregangnya semakin erat. Lemons secara naluriah memutar kenop di helmnya untuk membuka aliran udara dari tangki darurat di punggungnya. Tetapi sebelum ia bisa melakukan apa-apa, kabel itu patah, dan ia jatuh kembali ke dasar laut.

Ajaibnya, dalam kondisi gelap gulita, Lemons berhasil berdiri tegak dan merasakan jalan kembali ke struktur sumur. Ia kemudian kembali memanjat ke puncak dengan harapan menemukan lonceng selam dan kembali ke tempat aman.

"Ketika saya sampai di puncak, loncengnya tidak ada," kata Lemons. "Saya memutuskan untuk menenangkan diri dan menghemat sedikit gas yang tersisa. Saya hanya punya sekitar enam hingga tujuh menit udara darurat di punggung saya. Saya tidak berharap untuk diselamatkan, jadi saya hanya meringkuk dalam posisi bola."

Tanpa oksigen, tubuh manusia hanya dapat bertahan selama beberapa menit sebelum proses biologis yang menghidupkan sel-sel mulai gagal. Sinyal listrik yang memberi daya pada neuron di otak berkurang dan akhirnya berhenti sama sekali.

"Kehilangan oksigen adalah kondisi sangat sulit untuk bertahan hidup," kata Mike Tipton, kepala laboratorium lingkungan ekstrem di Universitas Portsmouth di Inggris.

"Tubuh manusia tidak punya cadangan oksigen yang besar mungkin beberapa liter. Bagaimana Anda menggunakannya tergantung pada tingkat metabolisme Anda."

Saat istirahat, orang dewasa biasanya menggunakan antara seperlima dan seperempat liter oksigen setiap menit. Jumlah ini bisa naik ke empat liter per menit saat berolahraga berat.

"Jika seseorang stres atau panik, metabolisme mereka juga akan meningkat," kata Tipton, yang mempelajari orang-orang yang bertahan hidup lama tanpa udara di bawah air.

Kembali ke Bibby Topaz, para kru berusaha keras untuk kembali ke posisi awal tanpa bantuan komputer demi menyelamatkan rekan mereka yang hilang. Sembari terhanyut lebih jauh, mereka meluncurkan kapal selam nirawak dengan harapan bisa menemukan rekan-rekannya.

Ketika kapal selam berhasil menemukan Lemons, para kru menyaksikan tanpa daya lewat kamera ketika Lemons perlahan-lahan berhenti bergerak, hidupnya memudar.

"Saya ingat menghirup sedikit udara terakhir dari tangki di punggung saya," kata Lemons.

"Butuh lebih banyak usaha untuk menarik udara itu. Rasanya seperti saat-saat sebelum Anda tertidur. Tidak begitu buruk, tetapi saya ingat merasa marah dan banyak meminta maaf kepada tunangan saya Morag. Saya marah membayangkan bagaimana kematian saya akan melukai orang lain. Lalu hening."

Butuh sekitar 30 menit sebelum kru Bibby Topaz berhasil mendapatkan kendali dan memulai kembali sistem penentuan posisi dinamis yang sebelumnya gagal. Ketika Youasa berhasil mencapai Lemons di atas struktur bawah air, tubuhnya kaku tak bergerak.

Dengan susah payah, Youasa menyeret rekannya ke lonceng dan menyerahkannya ke Allcock. Ketika mereka melepas helmnya, Lemons telah membiru dan tidak bernafas. Allcock memberinya pernafasan mulut ke mulut.

Ajaibnya, Lemons tersentak kembali ke kesadaran.

"Saya merasa sangat pusing dan melihat beberapa lampu yang berkedip, tetapi saya tidak punya banyak ingatan jernih ketika sadar," kata Lemons.

"Saya ingat Dave duduk di sisi lain lonceng, tampak lelah, dan tidak benar-benar tahu kenapa. Baru beberapa hari kemudian saya menyadari betapa gawatnya situasi ini."

Hampir tujuh tahun kemudian, Lemons masih bingung bagaimana dia berhasil bertahan begitu lama tanpa oksigen. Menurut akal sehat, ia seharusnya mati setelah sekian lama berada di dasar laut.

Tapi air dingin di Laut Utara mungkin telah memainkan peran penting sekitar 100 m di bawah permukaan, suhu air mungkin di bawah 3 derajat Celsius (37F). Tanpa air panas yang mengalir melalui tali untuk memanaskan pakaian selamnya, tubuh dan otaknya akan cepat dingin.

"Pendinginan otak yang cepat dapat meningkatkan waktu bertahan hidup tanpa oksigen," kata Tipton. "Jika Anda menurunkan suhu hingga 10 derajat, tingkat metabolisme turun setengah hingga sepertiganya. Jika Anda menurunkan suhu otak hingga 30C (86F), waktu bertahan hidup dapat meningkat dari 10 menit sampai 20 menit. Jika Anda mendinginkan otak hingga 20C (68F), Anda bisa bertahan sampai satu jam."

Gas bertekanan tinggi yang biasanya dihirup para penyelam mungkin memberi Lemons kesempatan tambahan. Ketika menghirup oksigen dalam tingkat tinggi di bawah tekanan, oksigen dapat larut ke dalam aliran darah, memberikan cadangan tambahan pada tubuh.

Kondisi hipoksia

Para penyelam adalah orang-orang yang paling mungkin mengalami kehilangan pasokan udara mereka secara tiba-tiba. Namun ada banyak situasi lain di mana pasokan oksigen terbatas. Petugas pemadam kebakaran sering mengandalkan peralatan pernapasan ketika memasuki gedung yang tersedak asap, sementara pilot jet tempur di ketinggian juga menggunakan masker pernapasan.

Pada kondisi yang tidak terlalu ekstrem, kekurangan oksigen dikenal sebagai hipoksia dapat dirasakan banyak orang. Pendaki gunung mengalami tingkat oksigen yang rendah ketika mereka berada di pegunungan tinggi, suatu kondisi yang sering dikira disebabkan kecelakaan. Ketika kadar oksigen turun, fungsi otak bisa terganggu, menyebabkan kebingungan dan pengambilan keputusan yang buruk.

Pasien yang menjalani operasi juga sering mengalami hipoksia ringan, yang diduga berdampak pada pemulihan mereka. Stroke juga disebabkan oleh otak pasien yang kekurangan oksigen, yang menyebabkan kematian sel dan kerusakan yang dapat memberi dampak jangka panjang.

"Ada banyak penyakit yang tahap terakhirnya adalah hipoksia," kata Tipton. "Salah satu hal yang terjadi pada orang yang mengalami hipoksia adalah mereka mulai kehilangan penglihatan tepi dan akhirnya melihat suatu titik. Itulah yang diduga sebagai alasan kenapa orang mengaku melihat cahaya di ujung terowongan dalam pengalaman di ambang kematian."

Lemons sendiri selamat dari situasi tanpa oksigen dalam kondisi sehat walafiat. Hanya ada luka memar di kakinya.

Tapi keberhasilannya bertahan hidup sebenarnya bukan hal yang unik. Tipton telah memeriksa 43 kasus terpisah dalam literatur medis dari orang-orang yang terendam di bawah air dalam waktu yang lama. Empat di antaranya pulih, termasuk seorang gadis berusia dua setengah tahun yang selamat bertahan hidup di bawah air selama setidaknya 66 menit.

"Anak-anak dan perempuan lebih mungkin untuk bertahan hidup karena mereka lebih kecil dan tubuh mereka cenderung lebih cepat dingin," kata Tipton.

Pelatihan para penyelam seperti Lemon mungkin juga secara tidak sengaja melatih tubuh mereka untuk mengatasi situasi ekstrem. Para peneliti di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) di Trondheim menemukan bahwa para penyelam beradaptasi pada lingkungan ekstrem tempat mereka bekerja dengan cara mengubah aktivitas genetik sel darah mereka.

"Kami melihat perubahan nyata dalam program genetik untuk transportasi oksigen," kata Ingrid Eftedal, kepala kelompok penelitian barofisiologi di NTNU. Oksigen dibawa ke seluruh tubuh dalam hemoglobin, sebuah molekul dalam sel darah merah. "Kami mendapati aktivitas gen di semua tingkat transportasi oksigen, dari hemoglobin hingga produksi dan aktivitas sel darah merah dimatikan selama penyelaman," kata Eftedal.

Dia dan rekan-rekannya percaya bahwa ini mungkin merupakan respons terhadap konsentrasi tinggi oksigen yang mereka hirup saat berada di bawah air. Ada kemungkinan bahwa lambatnya transportasi oksigen dalam tubuh Lemons memungkinkannya persediaan udara yang sedikit bertahan lebih lama.

Berolahraga sebelum menyelam juga telah terbukti membantu mengurangi risiko mengalami "the bends".

Penelitian terhadap masyarakat adat yang terbiasa menyelam bebas tanpa udara tambahan juga menunjukkan bagaimana tubuh manusia mampu beradaptasi pada kehidupan tanpa oksigen. Orang Bajau di Indonesia bisa mencapai kedalaman hingga 70 m (230 kaki) sambil menahan nafas saat mereka berburu makanan dengan tombak.

Melissa Ilardo, seorang ahli genetika evolusi di Universitas Utah, menemukan bahwa orang Bajau telah berevolusi secara genetik dan memiliki limpa yang 50% lebih besar dari tetangga mereka yang tinggal di tanah, Saluan.

Limpa dianggap memainkan peran kunci dalam memungkinkan manusia untuk menyelam bebas.

"Ada konsep yang disebut refleks penyelaman mamalia, yang pada manusia dipicu oleh kombinasi menahan napas dan merendam diri dalam air," kata Ilardo.

"Salah satu efek refleks penyelaman adalah kontraksi limpa. Limpa bertindak sebagai reservoir untuk sel darah merah kaya oksigen, dan ketika berkontraksi sel darah merah ini didorong ke dalam sirkulasi, memberikan tambahan oksigen. Ini bisa dianggap sebagai tangki scuba biologis."

Dengan limpa yang lebih besar, orang Bajau diperkirakan mendapat suntikan darah beroksigen yang lebih besar sehingga dapat menahan napas lebih lama. Seorang penyelam Bajau yang ditemui Ilardo berkata bahwa ia bisa bertahan 13 menit di bawah air.

Lemons sendiri kembali menyelam sekitar tiga minggu setelah kecelakaannya, di tempat kecelakaan itu terjadi, untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah mereka mulai. Ia juga menikah dengan Morag dan mereka memiliki seorang putri.

Merenungkan persinggungannya dengan ajal dan kelangsungan hidupnya yang ajaib, ia tidak berbesar hati.

"Salah satu alasan terbesar keselamatan saya ialah kualitas orang-orang di sekitar saya," katanya.

"Sebenarnya, saya tidak berbuat banyak. Saya bisa selamat berkat profesionalisme dan kepahlawanan dari dua rekan saya di bawah air dan semua orang di kapal. Saya sangat beruntung."

Kecelakaannya telah memicu sejumlah perubahan di komunitas selam. Mereka sekarang menggunakan tangki darurat yang membawa persediaan udara untuk 40 menit alih-alih hanya lima. Tali selam sekarang dilengkapi dengan lampu sehingga lebih mudah terlihat di bawah air.

Perubahan dalam hidupnya sendiri tidak begitu dramatis.

"Saya masih harus mengganti popok," candanya. Tetapi dia mendapati dirinya berpikir tentang kematian secara berbeda. "Saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang ditakuti lagi. Ini lebih tentang apa yang Anda tinggalkan."

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di The man who ran put of air at the bottom of the ocean di laman BBC Future




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed