DetikNews
Kamis 02 Mei 2019, 17:20 WIB

Pemimpin Oposisi Venezuela Serukan Demo Tiap Hari Sampai Maduro Lengser

BBC World - detikNews
Pemimpin Oposisi Venezuela Serukan Demo Tiap Hari Sampai Maduro Lengser
Caracas -

Krisis di Venezuela kian memanas seiring pertikaian politik antara Presiden Nicolas Maduro dan pemimpin oposisi Juan Guaido meningkat menjadi ketegangan di antara faksi militer pendukung.

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido menyerukan serangkaian aksi demonstrasi sebagai bagian dari kampanye untuk memaksa Presiden Nicolas Maduro untuk melepaskan kekuasaan.

Dia mengatakan akan ada aksi protes setiap hari sampai Venezuela bebas.

Guaido berbicara kepada ribuan pengunjuk rasa yang kembali ke jalan-jalan, sehari setelah upaya untuk melakukan pemberontakan militer gagal.

Di ibukota Caracas, bentrokan terjadi dengan polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet, sementara pengunjuk rasa menyerang kendaraan lapis baja dengan batu dan bom molotov.

Supporters of the President of the Venezuelan Parliament, Juan GuaidoEPA

Di tempat lain di kota itu ada demonstrasi pro-pemerintah.

Apa yang terbaru?

Berbicara kepada para pendukungnya di Caracas, Guaido menyebut protes itu "proses yang tidak dapat diubah" dan berjanji untuk melanjutkan demonstrasi setiap hari "untuk mencapai kebebasan".

"Kita berada di jalur yang benar, tidak ada jalan untuk kembali," katanya.

Dia juga mengatakan akan ada serangkaian aksi mulai Kamis dan memuncak dalam aksi demonstrasi besar-besaran.

Media lokal melaporkan adanya tembakan di Altamira, sebuah lingkungan di Caracas timur di mana oposisi secara teratur berkumpul.

Ada juga bentrokan di jalan raya dekat pangkalan udara di timur ibu kota, dengan pengunjuk rasa mengendarai van melalui pagar pembatas.

Garda Nasional yang mengendarai sepeda motor menembakkan gas air mata ke arah para demonstran.

Beberapa demonstran melempar batu, sementara yang lain terlihat membuat bom molotov.

Demonstrasi telah terjadi di 23 negara bagian Venezuela serta di Caracas, kata LSM dan media lokal.

'Percobaan kudeta' yang gagal

Sebelumnya, Presiden Venezuela Nicols Maduro mengatakan dia telah mengalahkan "percobaan kudeta" oleh pemimpin oposisi Juan Guaido.

Lusinan Garda Nasional memihak oposisi dalam bentrokan pada hari Selasa (30/04) yang melukai lebih dari 100 orang.

Namun dalam pidato yang disiarkan di televisi, Presiden Maduro mengatakan Guaido telah gagal membuat militer menentangnya.

Aparat militer dari Garda Nasional menarik dukungannya dari Presiden Nicolas Maduro dan beralih mendukung Juan Guaido dalam aksi baru-baru ini.Aparat militer dari Garda Nasional menarik dukungannya dari Presiden Nicolas Maduro dan beralih mendukung Juan Guaido dalam aksi baru-baru ini. (AFP)

Guaido bersikeras Maduro telah kehilangan kendali atas angkatan bersenjata. Dia menyerukan lebih banyak aksi demonstrasi di jalan.

"Hari ini kita lanjutkan," cuitnya melalui akun media sosial twitter.

"Kami akan terus berjalan dengan kekuatan lebih dari sebelumnya, Venezuela."

Guaido telah diakui sebagai pemimpin sementara Venezuela oleh lebih dari 50 negara, termasuk AS, Inggris dan sebagian besar di Amerika Latin.

AS mengulangi dukungannya untuk Guaido pada hari Rabu (01/05), ketika Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan "aksi militer dimungkinkan" jika perlu.

Namun Maduro, yang didukung oleh Rusia, Cina, dan pejabat tinggi militer negara itu, telah menolak menyerahkan kepemimpinan kepada saingannya.

Apa yang dikatakan Maduro?

Dalam pidatonya di televisi, diapit oleh komandan militer, Maduro menuduh para pemrotes "kejahatan berat" yang menurutnya "tidak akan luput dari hukuman".

Baik Maduro dan Guaido telah meminta para pendukung mereka untuk turun ke jalan, menyiapkan lebih banyak potensi kerusuhan dan kekerasan di negara yang sudah dilanda krisis ekonomi, pemadaman listrik kronis dan kekurangan pangan yang meluas.

Maduro menyerang lagi di Amerika Serikat, yang ia tuduh berkomplot melawannya. Dia menolak klaim oleh AS bahwa dia memiliki pesawat yang siap di landasan untuk membawanya ke Kuba, negara pendukung setia presiden yang terkepung itu.

Apa yang terjadi pada hari Selasa?

Sebuah video berdurasi tiga menit yang dirilis pada dini hari Selasa (30/04) menunjukkan Guaido berdiri bersama sejumlah pria berseragam militer. Dia mengumumkan bahwa dia mendapat dukungan "tentara pemberani" di ibu kota, Caracas.

Dia mendesak orang-orang Venezuela untuk bergabung dengan mereka di jalan-jalan, dan muncul bersama pemimpin oposisi lainnya, Leopoldo Lpez, yang telah menjadi tahanan rumah sejak 2014.

Demonstran pendukung oposisi Juan Guaido mengibarkan bendera Venezuela di tengah amukan massaDemonstran pendukung oposisi Juan Guaido mengibarkan bendera Venezuela di tengah amukan massa (AFP)

Para pendukung di kedua pihak kemudian berkumpul di berbagai tempat di Caracas sepanjang hari, dan ada bentrokan antara pendukung Guaido dan kendaraan militer bersenjata.

Para pengunjuk rasa juga terlihat melemparkan batu, yang kemudian dibalas dengan gas air mata.

Bentrokan pada hari Selasa menandai episode paling ganas dari krisis politik Venezuela tahun ini. Para pejabat kesehatan Venezuela mengatakan 69 orang terluka dalam bentrokan itu, termasuk dua orang dengan luka tembak.

Bagaimana reaksi komunitas internasional?

Sekretaris Jenderal PBB Antnio Guterres mengimbau kedua belah pihak untuk menghindari kekerasan.

Sementara itu, AS menegaskan kembali dukungannya untuk Guaido. Dalam sebuah wawancara televisi pada hari Rabu, Pompeo mengatakan Washington akan lebih memilih transisi kekuasaan secara damai tetapi menyatakan bahwa "aksi militer mungkin dilakukan".

"Jika itu yang diperlukan, itulah yang akan dilakukan Amerika Serikat," kata Menlu AS.

Presiden Donald Trump mengatakan dia sedang memantau peristiwa di Venezuela "sangat dekat" dan mengatakan AS berdiri dengan rakyat Venezuela dan kebebasan mereka.

Dia juga mengancam akan menerapkan "sanksi tingkat tertinggi" dan "embargo penuh dan lengkap" terhadap Kuba jika militernya tidak segera menghentikan dukungannya kepada Maduro.

Pendukung oposisi Juan Guaido berdiri di samping sebuh bus yang terbakar di CaracasPendukung oposisi Juan Guaido berdiri di samping sebuah bus yang terbakar di Caracas (AFP)

Sementara itu, Rusia memperingatkan Amerika Serikat akan apa yang disebutnya sebagai tindakan agresif Amerika di Venezuela dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Menteri luar negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan kebijakan Amerika di Venezuela adalah pelanggaran hukum internasional.

Pemerintah yang masih mendukung Maduro, termasuk Bolivia dan Kuba, mengecam upaya Guaido sebagai upaya "kudeta".

Pemerintah Meksiko menyatakan "keprihatinan tentang kemungkinan peningkatan kekerasan" sementara Presiden Kolombia Ivan Duque mendesak militer Venezuela untuk berdiri "di sisi kanan sejarah" melawan Maduro.

Pertemuan darurat Kelompok Lima negara-negara Amerika Latin dijadwalkan digelar Jumat (03/05).


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed