detikNews
Rabu 01 Mei 2019, 17:31 WIB

Tiga Harta Karun Kekaisaran Jepang yang Misterius

BBC Magazine - detikNews
Tiga Harta Karun Kekaisaran Jepang yang Misterius Kaisar Naruhito ketika menerima harta karun kekaisaran di upacara penobatan (Reuters)
Tokyo -

Putra Mahkota Naruhito secara resmi naik takhta menjadi kaisar baru Jepang, setelah ayahnya Kaisar Akihito turun takhta.

Prosesi turun dan naik takhta melibatkan upacara Shinto yang sangat simbolis, yang berpusat pada tiga benda cermin, pedang dan permata dikenal sebagai Harta Karun Kekaisaran.

Kenji-to-Shokei-no-gi - atau Upacara untuk Mewarisi Harta Karun Kekaisaran - dimulai pukul 10.15 waktu setempat, atau sekitar pukul 08.15 WIB.

Para bangsawan perempuan tidak diizinkan berada di sana sehingga Permaisuri Masako, istri Kaisar Naruhito, tidak hadir.

Naruhito, 59, dihadirkan dengan dua benda - replika pedang dan permata - yang diturunkan dari generasi ke generasi kaisar dan dipandang sebagai simbol kekuatan kekaisaran.

Ada satu objek tambahan, cermin, dan bersama-sama ketiganya membentuk Harta Karun Kekaisaran.

Asal-usul dan keberadaan benda-benda misterius tersebut diselimuti kabut misteri, tetapi mitos tentang mereka bertebaran di sepanjang sejarah dan budaya pop Jepang.

Kenapa Harta Karun Kekaisaran Begitu Penting?

Agama nasional tidak resmi Jepang, Shinto, sangat mementingkan ritual untuk menjaga hubungan dengan masa lalu dan roh-roh yang campur tangan dalam kehidupan manusia.
Kaisar Akihito diikuti pendeta Shinto yang membawa Harta Karun Kekaisaran di istana (1990).
Ketiga harta karun digunakan dalam upacara kenaikan takhta, tapi tidak pernah diperlihatkan. (Getty Images)


Harta Karun Kekaisaran adalah bagian dari ini. Mereka diceritakan diturunkan dari para dewa melalui generasi kaisar yang dipandang sebagai keturunan langsung mereka. Dengan tidak adanya mahkota kekaisaran, benda-benda itu bertindak sebagai simbol kekuatan kekaisaran.

Tetapi mereka dianggap begitu sakral, hingga disembunyikan dari dunia luas.

"Kami tidak tahu kapan mereka dibuat. Kami belum pernah melihat mereka," Profesor Hideya Kawanishi dari Universitas Nagoya mengatakan kepada BBC.

"Bahkan Kaisar belum pernah melihat mereka."

Bahkan barang-barang tersebut bahkan tidak akan hadir di acara penobatan, replika (yang masih belum terlihat) akan digunakan, dan barang aslinya jika memang bisa dibilang begitu tetap disimpan di berbagai kuil di seluruh negeri.

Yata no Kagami - Cermin Keramat

Cermin keramat, yang mungkin berusia lebih dari 1.000 tahun, dipercaya berada di Kuil Agung Ise di Prefektur Mie. Menurut Profesor Shinsuke Takenaka, cermin tersebut dianggap sebagai harta kekaisaran paling berharga.

Yata no Kagami adalah satu-satunya harta yang tidak ditampilkan dalam acara penobatan terakhir pada 1989.

Artist impression of Yata no Kagami
BBC/DaviesSurya


Dalam cerita rakyat Jepang, cermin disebut memiliki kekuatan ilahiah dan dapat mengungkap kebenaran. Dalam upacara-upacara kekaisaran, Yata no Kagami - atau cermin delapan sisi - mewakili kebijaksanaan kaisar.

Menurut Kojiki, catatan tertulis kuno legenda Jepang, Yata no Kagami dibuat oleh dewa Ishikoridome.

Setelah dewi matahari Amaterasu berkelahi dengan kakaknya Susanoo, dewa laut dan badai, ia mundur ke sebuah gua dan membawa terang dunia bersamanya.

Susanoo mengadakan pesta untuk memancingnya keluar, dan Amaterasu terpesona oleh bayangannya sendiri di cermin. Mereka pun berhenti bertengkar, membawa cahaya kembali ke alam semesta.

Cermin keramat dan harta karun lainnya akhirnya sampai ke cucu Amaterasu, Ninigi.

Menurut legenda, kata Profesor Takenaka, sang dewi memberi tahu Ninigi: "Rawatlah cermin ini sebagai jiwaku, sama seperti engkau melayani Aku, dengan pikiran dan tubuh yang bersih."

Ninigi dipercaya sebagai kakek buyut Jimmu, yang menurut legenda menjadi kaisar pertama Jepang pada tahun 660 SM.

Kusanagi no Tsurugi - Pedang Keramat

Lokasi Kusanagi no Tsurugi - atau pedang pemotong rumput - tidak jelas, tetapi mungkin ia berada di Kuil Atsuta di Nagoya.

Menurut legenda, pedang keramat itu tumbuh di ekor ular berkepala delapan yang melahap anak-anak perempuan di sebuah keluarga kaya.

Sang ayah memohon bantuan Susanoo, berjanji akan menyerahkan putri terakhirnya yang masih hidup sebagai istri jika ia bisa menyingkirkan ular itu. Susanoo membuat si ular mabuk, kemudian memotong ekornya dan menemukan sebilah pedang.

Artist impression of Kusanagi no Tsurugi
BBC/DaviesSurya


Tapi ia tidak lama memilikinya si pedang keramat juga digunakan dalam upayanya untuk berbaikan dengan saudara perempuannya, Amaterasu.

Kusanagi no Tsurugi melambangkan keberanian kaisar. Karena begitu sedikit yang diketahui tentangnya dan di mana ia disimpan, beberapa orang mempertanyakan apakah pedang keramat itu sebenarnya masih ada.

Kebenaran seputar keberadaannya jelas-jelas dirahasiakan, seorang pendeta yang mengaku pernah melihatnya pada periode Edo (di antara abad ke-17 dan 19) diusir.

Ada desas-desus bahwa pedang keramat itu mungkin telah hilang di laut dalam suatu peperangan di abad ke-12, tetapi Profesor Takenaka mengatakan bahwa pedang itu sendiri mungkin merupakan replika, dan bahwa replika dari replika itu, yang disimpan di istana kaisar, digunakan dalam acara penobatan.

Ketika Kaisar Akihito naik takhta pada tahun 1989 ia diberi pedang yang disebut Kusanagi no Tsurugi. Tapi kotak yang diberikan kepadanya belum pernah dibuka.

Yasakani no Magatama - Permata Keramat

Magatama adalah manik-manik melengkung yang mulai dibuat di Jepang sekitar 1.000 tahun sebelum masehi. Awalnya hanya dekoratif, magatama mulai mendapatkan nilai simbolis.

Yasakani no Magatama
BBC/DaviesSurya


Menurut legenda, Yasakani no Magatama adalah bagian dari kalung yang dibuat oleh Ame-no-Uzume, dewi kegembiraan, yang memainkan peran penting dalam upaya memikat Amaterasu untuk keluar dari gua persembunyiannya.

Sang dewi kegembiraan melakukan tarian megah dengan mengenakan manik-manik untuk membuat kegaduhan dan menarik perhatian dewi matahari.

Bagaimanapun asal-usulnya, Yasakani no Magatama yang terbuat dari batu giok hijau mungkin merupakan satu-satunya barang "asli" yang tersisa di antara tiga harta karun.

Manik keramat itu disimpan di istana kekaisaran di Tokyo dan dalam upacara penobatan, melambangkan kemurahan hati yang dibutuhkan dari seorang kaisar.

Apakah warga Jepang percaya pada harta karun?

Meskipun para kaisar Jepang masih menarik silsilah mereka dari Amaterasu, mereka tidak lagi mengklaim diri mereka sebagai dewa. Kaisar Hirohito melepaskan status keilahiannya setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II.

Ilustrasi penobatan Kaisar Taisho di Kyoto pada 1912.
Ilustrasi penobatan Kaisar Taisho di Kyoto pada 1912. (Culture Club/Getty Images)


Menurut Profesor Kawanishi ada banyak orang di Jepang yang masih menganggap benda-benda itu dikaruniai kekuatan ilahi, tetapi kebanyakan orang sekarang "menganggapnya lebih sebagai ornamen, agak mirip dengan mahkota kalau di monarki lain".

Mereka sangat penting karena "menunjukkan misteri sang kaisar", katanya, dan sebagai "simbol bahwa sistem kekaisaran terus berlanjut sejak dahulu kala".

Profesor Takenaka mengatakan ada juga pandangan di antara para cendekiawan bahwa ketiga harta keramat mewakili perpaduan dari kelompok-kelompok pribumi kuno Jepang dengan para pendatang baru.

Berdasarkan teori itu, katanya, ketiga harta keramat adalah simbol bahwa kaisar harus menyatukan kelompok-kelompok etnis tanpa diskriminasi.

Namun ia menambahkan bahwa pada abad ke-20, istilah "tiga harta" juga mengambil makna yang sedikit lebih praktis, yaitu ungkapan untuk tiga benda yang sangat penting bagi kehidupan orang Jepang: TV, kulkas, dan mesin cuci.

Ditulis dengan peliputan tambahan oleh Mariko Oi.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com