DetikNews
Jumat 05 April 2019, 13:44 WIB

2 Tahun Usai Kekalahan ISIS, Mosul Masih Berusaha untuk Bangkit

BBC World - detikNews
2 Tahun Usai Kekalahan ISIS, Mosul Masih Berusaha untuk Bangkit
Baghdad -

Sudah hampir dua tahun sejak kelompok jihadis yang menyebut diri mereka Negara Islam atau ISIS dikalahkan di kota terbesar kedua Irak, Mosul. Perebutan kota terjadi menyusul pertempuran yang menewaskan ribuan warga sipil. Sebagian besar wilayah kota belum dibangun kembali, dan beberapa warga semakin merasa frustasi, lapor wartawan BBC Shaimaa Khalil.

Kota Tua di bagian barat Sungai Tigris adalah jantung dan jiwa Mosul. Kini, ia hancur.

Jalanannya sebagian besar kosong, hanya ada beberapa orang dan buldoser.

Bangunan-bangunannya yang runtuh dipenuhi lubang peluru.

Kota Tua mengalami kerusakan terbesar selama pertempuran antara milisi ISIS dan pasukan pemerintah Irak.

Di kota tersebut, Masjid Agung al-Nuri yang bersejarah dan menara miring al-Hadba pernah berdiri.

Anak-anak memanjat tumpukan reruntuhan; beberapa mencari besi bekas untuk dijual.

Orang-orang bilang bahwa, sampai hari ini, jasad dan alat ledak masih terkubur di bawah reruntuhan di kota Mosul.

Poster-poster di tembok memperingatkan warga, terutama anak-anak, agar tidak menyentuh benda apapun yang mencurigakan.

Poster peringatan Warga Mosul diperingatkan tentang alat peledak yang diduga masih ada di mana-mana. (BBC)

Ketika Mosul berhasil direbut kembali oleh pemerintah pada Juli 2017, peristiwa tersebut dipuji-puji sebagai kemenangan besar melawan ISIS. Tapi ini tidak membuat kehidupan orang-orang yang tinggal di sana menjadi lebih baik.

"Kami tidak punya apa-apa," kata seorang mantan penduduk Kota Tua. "Tidak ada makanan. Udara di sini tidak bersih. Air di sini tidak bersih. Tidak ada sekolah. Tidak ada rumah sakit."

"Ini tidak baik bagi generasi berikutnya," ia menambahkan.

Muhamad Hasyimi mengelola Radio Alghad, stasiun radio yang didirikan pada 2015 untuk memberikan suara pada warga Mosul selama mereka hidup di bawah kuasa ISIS.

"Orang-orang telah dibebaskan selama sekitar dua tahun sekarang, tapi apa yang terjadi di lapangan benar-benar tidak sesuai dengan harapan mereka," ujarnya.

Radio Alghad mendengarkan orang-orang yang frustasi tentang korupsi, kurangnya pelayanan dasar, dan proses pembangunan kembali yang lambat, menurut Hasyimi.

"Tak lama setelah pembebasan (dari ISIS) orang-orang begitu positif. Ini adalah masa emas. Sayangnya, rasa positif itu kini berkurang, Mereka menyadari bahwa tidak ada rencana nyata."

Kecelakaan kapal laut di Tigris baru-baru ini, yang menewaskan lebih dari 100 orang, memantik amarah warga.

Mereka turun ke jalan, menyalahkan pemerintah lokal karena kelalaian dan korupsi. Gubernur Mosul sejak saat itu telah dipecat dan surat perintah telah dikeluarkan untuk penangkapannya atas tuduhan korupsi.

Hasyimi mengatakan kecelakaan tersebut telah membuat sebagian orang tidak tahan lagi.

Kampus Universitas Mosul terletak di bagian timur Tigris. Hiruk pikuk di wilayah tersebut sangat bertolak belakang dengan yang kami saksikan di Kota Tua.

Ini juga merupakan pertanda akan tekad para warga untuk melanjutkan hidup mereka.

Perempuan muda dengan kerudung warna-warni berjalan di jalanan yang penuh lumbur dan berlubang. Sekelompok pria duduk di trotoar dengan alat tukang, mencari pekerjaan.

Reruntuhan minaret di Mosul. Minaret di Mosul yang dihancurkan ISIS. (HUONG LY EDWARDS)

Laki-laki dan perempuan pergi ke kafe dan restoran di jalan seberang kampus. Ini tidak bisa ditemui di bawah kekuasaan ISIS.

Keamanan dan korupsi mungkin merupakan masalah paling mendesak di Mosul, tapi pengangguran juga merupakan masalah besar.

PBB memperkirakan bahwa lebih dari setengah anak muda di Mosul tidak punya pekerjaan.

Asma al-Rawi, seorang mahasiswa berusia 22, melarikan diri dari Mosul bersama keluarganya pada 2014, ketika ISIS menguasai kota itu. Sejak kembali, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehidupan di kampung halamannya.

"Hal buruk akan terjadi. Kami bisa kehilangan rumah kami lagi. Kami mungkin harus meninggalkan kota. Kami bisa kehilangan nyawa kami seperti banyak orang," ujarnya.

"Sangat sulit untuk bersikap optimis ketika Anda hidup dalam situasi seperti ini."

Mosul telah menyaksikan sejumlah serangan, yang dikaitkan dengan sel-sel tidur ISIS.

Pada Oktober 2018, bom mobil menewaskan lima orang di sebuah pasar yang sibuk di wilayah selatan kota. Pada bulan berikutnya, tiga orang tewas ketika bom mobil meledak di dekat restoran di wilayah sibuk di barat.

Guru Asma, Ali, mengatakan masyarakat juga terpecah.

"Mosul dulunya tempat bercampur orang-orang dari latar belakang berbeda. Kini tak lagi seperti itu," ujarnya.

"Banyak warga Kristiani tidak kembali. Sedih rasanya ketika Anda pergi ke Mosul barat dan daerah-daerah perumahan Kristen masih kosong. Gereja mereka masih hancur."

Ali juga menentang kebijakan menahan keluarga yang mendukung ISIS di kamp-kamp penampungan di gurun. Menurutnya, pihak berwenang tidak menangani mereka dengan baik.

"Ini cara lain untuk meradikalisasi dan menciptakan generasi baru militan ISIS," ia menjelaskan.

PBB mengatakan bahwa ISIS telah berkembang menjadi jaringan rahasia di Irak, berkumpul dan mengorganisir sel-sel di wilayah gurun terpencil di provinsi-provinsi seperti Anbar dan Kirkuk.

Pihak berwenang di Amerika Serikat percaya bahwa terdapat antara 15.000 dan 20.000 pengikut ISIS bersenjata yang aktif di Irak dan negara tetangganya, Suriah.

"Tidak banyak orang tahu apa yang akan dilakukan [militan ISIS] selanjutnya. Saya tidak bisa mengatakan apa atau kapan langkah mereka berikutnya," kata Mahmud Hammadi, anggota unit komando elite Irak yang berbasis di Mosul.

"Wajar jika warga Mosul merasa takut. [Militan] menunggu perintah pembunuhan, pengeboman, atau serangan bunuh diri."

"Jika solusi politik bisa ditemukan, Mosul akan baik-baik saja. Ketegangan ini dan cekcok antara politisi mengacaukan kota," tambah Hammadi.

ISIS telah kehilangan wilayahnya, tapi kelompok tersebut belum kehilangan pengaruhnya.

Kemiskinan, korupsi, pengangguran, dan populasi yang semakin marah akan perpecahan sektarian yang bergejolak di bawah permukaan semuanya berkontribusi pada jatuhnya Mosul ke tangan ISIS lima tahun lalu.

Dan kecuali akar masalah tersebut diselesaikan, ISIS akan tetap menjadi ancaman.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed