DetikNews
Selasa 02 April 2019, 08:56 WIB

Alasan Mengapa Ambisi Besar Turki di Bawah Erdogan Terancam Runtuh

BBC World - detikNews
Alasan Mengapa Ambisi Besar Turki di Bawah Erdogan Terancam Runtuh (Getty Images)
Ankara - Lubang yang ada tampak seluas lapangan sepak bola, dengan kedalaman 50 meter.

Gundukan batu berjejer di permukaan. Satu-satunya tanda kehidupan yang ada adalah burung camar minum air yang tersendat.

Di tempat itu sedianya akan dijadikan sebagai lokasi pembangunan baru yang serba gemerl di Istanbul: gedung-gedung skala besar untuk apartemen, mal dan spa di kawasan Fikirtepe.

Video promosi tentang pembangunan di tempat itu yang dikeluarkan pada tahun 2010 menunjukkan adanya suatu simbol kekayaan baru Turki.

Namun ketika terjadi masalah keuangan, para investor mundur, dan sebagian besar pembangunan gedung yang direncanakan tidak pernah terwujud.

Bandara Istanbul
Salah satu keberhasilan Presiden Erdogan baru-baru ini adalah peresmian bandara baru di Istanbul. (Getty Images)


Satu-satunya yang tersisa adalah lubang menganga akibat dari perusahaan-perusahaan yang bangkrut dan janji-janji palsu.

Keadaan itu merupakan gambaran dari lesunya perekonomian secara umum yang menjadi ancaman terbesar bagi kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan selama 16 terakhir.

Jajak pendapat yang dilakukan menjelang pilkada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa Partai AK yang berkuasa berpotensi kalah di ibu kota, Ankara - dan bahkan mungkin Istanbul.

Setelah penghitungan suara, partai politik pimpinan Presiden Erdogan tersebut benar mengalami kekalahan di Ankara.

'Saya merasa benci terhadapnya'

ZeynepDuzgunoldu, 60, meneteskan air mata ketika menunjuk ke arah bekas rumahnya di samping pohon fig yang segar.

"Orang biasanya menyebutnya sebagai 'rumah dengan dapur yang indah'," tutur Duzgunoldu dengan suara retak.

"Sekarang tas ransel saya adalah rumah saya. Saya malu meminta uang kepada anak-anak saya."

Firdevs Uluocak
Firdevs Uluocak mengaku menyimpan kemarahan terhadap Presiden Erdogan. (BBC)


Adapun rumah Firdevs Uluocak terletak di sisi lokasi proyek yang gagal tersebut dan menjadi tidak stabil karena aktivitas penggalian.

Kemarahannya diarahkan kepada satu sasaran: Kepala Proyek Turki, Presiden Erdogan.

"Saya merasa benci terhadapnya," kata perempuan itu. "Saya selalu memilihnya - tetapi ia telah menghancurkan rakyatnya."

Selama 16 tahun terakhir, Erdogan menempatkan pembangunan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Turki.

Hal yang di sebut sebagai "proyek besar" - mulai dari bandara, jembatan hingga terowongan - telah mengubah infrastruktur negara itu.

Dan pembangunan rumah bertingkat tinggi telah mengubah cakrawala kota, seringkali membuat para arsitek membencinya.

Para pengusaha konstruksi yang mempunyai kedekatan dengan presiden memenangkan tender dari pemerintah melalui dukungan politik.

Industri konstruksi diwarnai berbagai klaim terjadinya korupsi dan kronisme.

Tetapi dengan inflasi 20% dan nilai mata uang Lira merosot sekitar sepertiganya, biaya impor bahan-bahan dan pembayaran utang luar negeri meroket - dan perusahaan-perusahaan konstruksi bangkrut.

Pana Yapi, konglomerat yang menjalankan proyek Fikirtepe, mengatakan kepada BBC "bahwa negara mengalami krisis ekonomi ", dan proyeknya juga menjadi korban.

Derek-derek yang mangkrak dan pencakar-pencakar langit setengah jadi yang sekarang menghiasi Istanbul adalah tanda adanya krisis.

Turki memasuki resesi tahun lalu, perekonomian menciut 3% selama kuartal terakhir. Banyak orang khawatir kondisi yang lebih buruk lagi akan segera tiba.

"Turki sangat tergantung pada utang yang didominasi utang luar negeri dan ketika kesulitan membayar uang itu, maka itulah masalah yang kami alami sekarang ini," kata Can Selcuki, manajer di Istanbul Economics Research.

"Kami bisa saja berada di ambang kejatuhan besar. Kami memerlukan dana tunai dari luar negeri dalam jumlah besar," jelasnya, "Dan sumber yang paling mungkin adalah Dana Moneter Internasional (IMF)".

Ekonom Can Selcuki berpendapat Turki memerlukan suntikan dana dari luar negeri.

Ekonom Can Selcuki
Ekonom Can Selcuki berpendapat Turki memerlukan suntikan dana dari luar negeri. (BBC)


Presiden Erdogan telah menentang keras gagasan untuk meminjam dana dari IMF. Pinjaman IMF disertai syarat-syarat ketat.

"Namun harga yang harus dibayar jika tidak dapat mencari pinjaman," kata Selcuki, adalah "mungkin akan meningkatkan risiko kebangkrutan dan efek ke bawah."

Apakah kelesuan dapat menjatuhkan Erdogan?

Kelesuan ekonomi Turki membuat PresidenErdogan mengalihkan perhatian ke masalah-masalah lain.

Ia mempertontonkan video serangan masjid di Selandia Baru dalam acara kampanye partai politik untuk menggerakkan para pemilih konservatif, taat beragama, yang dukungannya diperlukan.

Sebagai cara cepat menangani harga pangan, yang meningkat sepertiga, pemerintah membeli sayur mayur dari petani langsung.

Pemerintah kemudian menjual sayur mayur tersebut kepada konsumen di warung-warung sehingga memutus rantai tengkulak yang selama ini menaikkan harga dan yang selama ini disebut oleh presiden sebagai "teroris makanan".

Di salah satu warung di kawasan Aksaray, Istanbul, terjadi antrean panjang warga yang hendak membeli tomat, terong dan bayam dengan harga 50% lebih murah dibanding harga di supermarket.

"Antrean ini bukan tanda terjadinya kemiskinan tetapi kesempatan," kata seorang warga yang berbelanja, Omer Cakirca, seraya menyambut inisiatif pembelian produk pertanian langsung oleh pemerintah dari petani.

"Di mana-mana seperti ini. Jika ada potongan harga, semua orang akan menuju ke tempat itu."

Namun Esref Korkmaz tidak sepakat: "Saya membeli mentimun dan tomat hari ini - tetapi ini hanyalah investasi untuk pemilu," kata pria tersebut.

"Penjualan seperti ini tidak akan ada lagi setelah April. Saya memilih untuk Partai AK sebelumnya tetapi sekarang tidak lagi karena situasi ekonomi buruk. Saya akan menutup mata dan mendukung oposisi kali ini."

Ekonomi mengantarkan Recep Tayyip Erdogan ke kekuasaan.

Ekonomi pula yang mungkin akan menyebabkan kejatuhannya.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed