DetikNews
Sabtu 30 Maret 2019, 15:27 WIB

Ketika Sebuah Kata Menandai Era Baru Kekaisaran Jepang

BBC World - detikNews
Ketika Sebuah Kata Menandai Era Baru Kekaisaran Jepang Putra Mahkota Naruhito, difoto bersama sang istri, Puteri Masako, akan segera menjadi kaisar Jepang yang baru (Reuters)
Tokyo - Jika Anda harus memilih satu kata untuk mendefinisikan masa depan negeri Anda, apa kata yang akan Anda pilih?

Itulah pertanyaan yang tengah dihadapi para pejabat di Jepang, di mana pergantian kekaisaran akan segera mengantarkan negeri sakura ke era baru.

Setiap pemerintahan suatu kekaisaran, atau disebut dengan "gengo", memiliki nama. Nama itu digunakan sejalan dengan kalender Masehi untuk menghitung tahun - sehingga pilihan nama harus dipertimbangkan dengan matang.

Sementara jutaan warga Jepang menantikan pengumuman besar terkait hal itu pada 1 April mendatang, berikut sejumlah penjelasan terkait proses pemilihan kata yang digelar secara rahasia itu.

Untuk apa nama era digunakan?

Ada jawaban praktis, ada jawaban filosofis.

Nama gengo muncul pada uang koin, koran, surat izin mengemudi, dan dokumen-dokumen resmi sebagai penanda waktu. Namun ia juga mewakili semangat sebuah masa - seperti istilah "90-an" atau "era Victoria" - yang merangkum budaya dan momen-momen pada masa itu.

Kekaisaran Jepang tidak memiliki kekuatan politik, namun keberadaannya tetap menjadi sebuah figur simbolis yang sangat dihormati.

Kaisar yang tengah berkuasa saat ini adalah Kaisar Akihito yang telah berusia 85 tahun. Eranya dikenal dengan sebutan "Heisei". Era tersebut dimulai pada tahun 1989, sehingga tahun 2019 merupakan Heisei 31.

Nama tersebut memiliki makna "mencapai perdamaian" dan dipilih dengan seksama, mencerminkan hasrat untuk memiliki hubungan yang baik, di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

Era sebelumnya disebut "Showa" ("harmoni yang tercerahkan"), dipimpin oleh kaisar Jepang di era perang, Hirohito. Terentang selama 64 tahun, era tersebut meliputi masa Perang Dunia Kedua dan pertumbuhan pesat Jepang pascakonflik.

Salah satu nama yang dirumorkan akan digunakan untuk nama era yang terbaru adalah "Ankyu" ("damai dan kekal") - namun pilihan kata yang sebenarnya adalah sebuah rahasia yang dijaga rapat-rapat hingga pengumuman resmi nanti. Pejabat senior telah bersumpah untuk menarik nama-nama pilihan yang bocor dalam berbagai laporan media sebelum hari pengumuman.

Nama yang baru diperkirakan akan mengandung idealisme dan aspirasi warga Jepang, namun di saat yang sama juga mudah untuk dibaca dan ditulis. Permintaan yang banyak untuk dua karakter kecil.

Bagaimana pemilihannya?

Kabinet pemerintahan Jepang akan memilih sebuah nama dari daftar yang disusun oleh para akademisi, setelah sejumlah pakar ikut menentukan mana saja yang dianggap terbaik.

Untuk menghindari bocornya informasi, anggota kabinet dikabarkan akan menyerahkan ponsel dan jam tangan pintar mereka sebelum pertemuan dilakukan, dan harus tetap berada di ruangan pembuatan keputusan hingga pengumuman resmi dilakukan.

Nama-nama era biasanya berasal dari tulisan klasik Cina, dan biasanya hanya diumumkan ketika seorang kaisar telah wafat dan kaisar berikutnya telah mengambil aloh Takhta Krisan.

Namun sekarang berbeda, karena Kaisar Akihito turun takhta untuk mendukung sang putra, Putra Mahkota Naruhito - yang kekaisarannya akan dimulai pada 1 Mei mendatang.

Pohon keluarga kekaisaran Jepang
Pohon keluarga kekaisaran Jepang (BBC)

Perusahaan-perusahaan dan badan pemerintahan yang sistem komputernya menggunakan sistem gengo telah mengambil langkah untuk melakukan "perlindungan-era" terhadap Millenium Bug versi Jepang, namun diharapkan perilisan nama era sebulan lebih awal dapat memperhalus masa transisi.

Menurut kantor berita Nikkei, proses pemilihan nama telah dilatih setidaknya setahun sekali selama 30 tahun terakhir, sehingga para pejabat selalu siap ketika hari itu tiba.

Ketika nama yang disukai telah dipilih, kabinet Jepang akan membuat sebuah peraturan terhadapnya, di mana kaisar yang tengah memerintah akan menandatanganinya.

Berapa banyak orang yang menggunakan sistemgengo?

Penggunaannya dikabarkan semakin menurun, mengingat Jepang semakin membuka diri terhadap pengaruh global.

Sepertiga masyarakat biasanya menggunakan sistem gengo - angka itu ada di tingkat 82% pada tahun 1975 - sementara 25% lainnya lebih memilih menggunakan kalendar Masehi, menurut sebuah survei terbaru pada surat kabar Mainichi.

Karena kedua jenis kalendar sama-sama menggunakan nama bulan dalam kalendar Masehi, banyak orang yang menggunakan keduanya secara bersamaan.

Namun, satu orang akan terus terikat dengan nama gengo selama sisa hidupnya: kaisar yang akan turun takhta, Akihito.

Di setiap akhir masa kekaisarannya, kaisar Jepang akan diberi nama sesuai nama era mereka. Maka, Akihito akan dikenal sebagai Kaisar Heisei, seperti sang ayah, Hirohito, yang dikenal sebagai Kaisar Showa.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed