DetikNews
Jumat 29 Maret 2019, 13:14 WIB

Kalah di Suriah, ISIS Masih Aktif, di Mana Saja Mereka?

BBC Magazine - detikNews
Kalah di Suriah, ISIS Masih Aktif, di Mana Saja Mereka? Serangan di Filipina juga meningkat akhir-akhir ini. (EPA)
Damaskus - Setelah berperang selama berbulan-bulan, kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) akhirnya kehilanganBaghuz, desa di Suriah timur yang mewakili babak terakhir dalamkekhalifahan mereka.

Meskipun ini merupakan pukulan besar, hilangnya daerah kantong kecil di dekat perbatasan Irak, bukan berarti ISIS tidak lagi bisa menjadi kelompok militan yang mampu melakukan serangan mematikan di seluruh dunia.

Kelompok ISIS dan sekutunya terus aktif di berbagai negara, mengklaim melakukan berbagai serangan setiap hari melalui saluran propaganda media daring.

Data yang dikumpulkan oleh BBC Monitoring menunjukkan, meskipun sudah kehilangan sebagian besar wilayahnya di Suriah dan Irak pada akhir tahun 2017, kelompok ISIS mengatakan mereka berada di balik 3.670 serangan di seluruh dunia pada 2018 atau rata-rata 11 serangan per hari dan 502 serangan pada dua bulan pertama di tahun 2019, saat Baghuz dikepung.

Serangan ISISBBC Serangan yang dilakukan kelompok ISIS per bulan.

Puncak klaim serangan kelompok ISIS terjadi pada bulan September 2018.

Peristiwa itu kemungkinan terkait dengan operasi yang dilakukan oleh aliansi Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang didukung AS untuk merebut wilayah yang dikuasai ISIS, Hajin, di utara Baghuz, awal bulan itu.

Kelompok itu umumnya meningkatkan berbagai serangannya sebagai bentuk perlawanan, baik di daerah yang dikepung atau di tempat lain untuk mengalihkan perhatian atau sumber daya dari sana.

Meskipun kelompok di Irak dan Suriah bertanggung jawab atas bagian terbesar dari klaim serangan ISIS, kelompok di Afghanistan, Somalia, Filipina, Nigeria dan semenanjung Sinai Mesir juga sering kali mengklaim tanggung jawab atas serangan ISIS.

Jumlah serangan ISIS Jumlah serangan kelompok ISIS sejak bulan Januari 2018. (BBC)

Dalam sebuah pesan baru-baru ini, pemimpin kelompok ISIS mengolok-olok pernyataan Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember untuk mengalahkan kelompok itu, dan bersikeras bahwa pertempuran untuk mengalahkan kelompok itu masih jauh dari selesai.

Namun demikian, model kekhalifahan ISIS telah berakhir sejak akhir 2017, ketika kelompok itu kehilangan wilayah kekuasaannya di Mosul, Irak dan Raqqa di Suriah.

Setelah itu, kelompok tersebut berjuang untuk memproyeksikan citra negara yang berfungsi dan berkembang, yang telah membentuk dasar klaimnya untuk menghidupkan kembali kekhalifahan Islam.

Bagaimana data tentang aktivitas IS dikumpulkan

Data tersebut didasarkan secara eksklusif pada apa yang diklaim oleh kelompok itu sendiri melalui media resminya di aplikasi pesan Telegram "Nashir News Agency". Tanggal-tanggal tersebut menunjukkan kapan kelompok ISIS menyebutkan serangan itu terjadi, bukan pada saat klaim itu dipublikasikan.

Data itu mencakup setiap klaim serangan, tidak peduli seberapa kecil atau tidak penting.

Sebagian besar serangan yang ISIS klaim hanya melalui surat kabar mingguan al-Naba, tanpa mengeluarkan pernyataan terpisah tidak terwakili dalam data.

Perlu dicatat bahwa ISIS, seperti kelompok jihadis lainnya, memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan skala serangannya dan dampaknya.

Secara resmi ISIS menyatakan kehadirannya di negara-negara dan wilayah berikut: Irak, Suriah, Libya, Mesir, Yaman, Arab Saudi, Aljazair, "Khorasan" (wilayah Afghanistan-Pakistan), "Kaukasus", "Asia Timur "(kebanyakan aktif di Filipina), Somalia, dan" Afrika Barat "(kebanyakan aktif di Nigeria).

Beberapa cabang ini, seperti Aljazair dan Arab Saudi, nyaris tidak mengklaim aktivitas apa pun, dan lainnya seperti "Kaukasus" jarang mengklaim serangan.

Kelompok tersebut baru-baru ini mengisyaratkan niat untuk meningkatkan kegiatannya di Tunisia lewat propagandanya, negara yang gagal membuat terobosan setelah serangan 2015 di sebuah museum dan resor pantai yang diklaimnya.

ISIS juga mengumumkan kehadirannya untuk pertama kali di Burkina Faso.

Pengumuman tentang Tunisia dan Burkina Faso menunjukkan bahwa setidaknya dalam hal propaganda, ISIS ingin menunjukkan bahwa slogannya "Tetap ada dan Berkembang" masih berlaku.

Tidak mengherankan, medan pertempuran terbesar kelompok ISIS terus berlanjut di Irak dan Suriah, di sana mereka memiliki sumber daya terbaiknya.

Dari total 3.670 serangan yang diklaim kelompok ISIS di seluruh dunia pada 2018, sebanyak 1.767 serangan terjadi di Irak (48%) dan 1.124 di Suriah (31%).

Tentara Nigeria
Tentara Nigeria beberapa kali diserang kelompok ISIS dalam beberapa bulan terakhir. (Getty Images)

Namun, tahun lalu juga terlihat peningkatan yang mencolok dalam aktivitas yang diklaim oleh cabang ISIS lainnya.

Seolah-olah kelompok itu ingin mengkompensasi kerugiannya di Irak dan Suriah dan untuk mengingatkan orang bahwa mereka juga beroperasi di luar Timur Tengah.

Pada tahun 2018, kelompok ISIS mengklaim 316 serangan di Afghanistan, 181 di semenanjung Sinai Mesir, 73 di Somalia, 44 di Nigeria, 41 di Yaman dan 27 di Filipina.

Jumlah klaim serangan oleh kelompok ISIS Provinsi Afrika Barat di Nigeria telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Tentara telah menjadi sasaran utama, mungkin karena kelompok itu berusaha untuk merebut persenjataan dan pada gilirannya meningkatkan kemampuannya.

Kelompok ISIS mengklaim telah melakukan 44 serangan di Nigeria dalam tiga bulan pertama tahun 2019, sesuai dengan jumlah total serangan yang diklaimnya sepanjang tahun 2018.

Dalam sebuah video propaganda yang dirilis pada bulan Januari, kelompok ISIS Provinsi Afrika Barat meminta umat Islam untuk bermigrasi ke wilayah tersebut dan bergabung dengan cabangnya, menandakan bahwa mereka siap menerima rekrutmen asing.

Pada 22 Maret, kelompok ISIS Provinsi Afrika Barat mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa kehadirannya di Burkina Faso - sebuah negara di mana saingannya, Al-Qaida telah melakukan beberapa serangan.

Grafik Grafik menunjukkan jumlah serangan di setiap negara per bulan. (BBC)

Jumlah klaim serangan di Filipina juga meningkat.

ISIS beroperasi di negara itu melalui afiliasi lokal, yang sebagian besar telah berjuang untuk mendirikan negara Islam independen di selatan selama beberapa dasawarsa. Namun serangan mereka, kebanyakan terhadap tentara, masih sporadis.

Dan meskipun ada seruan berulang kali kepada para pendukungnya, ISIS tidak mengklaim adanya serangan besar di Barat selama 2018.

Tahun sebelumnya, kelompok itu mengklaim empat serangan di Inggris, termasuk pemboman Manchester Arena; serangan Barcelona di Spanyol; dan penembakan Las Vegas di AS. Namun, beberapa dari klaim tersebut tampaknya bersifat oportunistik, karena kelompok tersebut gagal memberikan bukti.

Pada 2018, ISIS mengklaim tujuh serangan, sebagian besar serangan kecil di Barat yang tampaknya terinspirasi oleh kelompok itu.

Empat penikaman atau serangan dengan senjata api di Prancis, dan satu serangan masing-masing di Belgia, Kanada dan Australia.

Data dikumpulkan oleh Will Dahlgreen, Nassos Stylianou dan BBC Monitoring


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed