detikNews
Jumat 29 Maret 2019, 10:37 WIB

Surat Seorang Ibu Picu Kontroversi Celana Legging di Kampus AS

BBC Magazine - detikNews
Surat Seorang Ibu Picu Kontroversi Celana Legging di Kampus AS Selama beberapa tahun terakhir, perempuan pemakai celana legging dan celana yoga di luar ruang olahraga banyak dijumpai. (Getty Images)
Washington - Selama beberapa tahun terakhir, perempuan pemakai celana legging dan celana yoga di luar ruang olahraga banyak dijumpai.

Sebuah surat permohonan dari seorang ibu yang prihatin atas banyaknya perempuan pemakai celana legging di sebuah kampus di Amerika Serikat telah menuai gelombang protes.

"Saya seorang ibu dari empat anak laki-laki. Saya punya masalah yang hanya bisa dipecahkan para perempuan: celana legging," tulis Maryann White dalam sebuah surat yang dimuat surat kabar pers mahasiswa Universitas Notre Dame, AS.

White menjelaskan bahwa celana-celana legging yang dikenakan sejumlah perempuan telah merusak pemandangan saat dia berkunjung ke kampus tersebut bersama empat anak laki-lakinya.

Menurutnya, pemandangan itu "membuat sulit bagi pria muda mengabaikan" tubuh perempuan.

"Pikirkan ibu-ibu yang punya anak laki-laki lain kali kamu berbelanja dan pertimbangkanlah untuk membeli celana jeans," tulisnya, merujuk para mahasiswi di kampus itu.

Surat Maryann White memicu kontroversi. Sejumlah mahasiswi berdalih bahwa apa yang mereka kenakan seharusnya tidak diatur-atur dan perempuan bebas mengenakan pakaian yang mereka inginkan.

Sebuah kelompok mahasiswa bernama "Irish 4 Reproductive Health" menggelar acara bertajuk "Leggings Pride Day" yang mendorong orang-orang dari semua gender untuk memakai celana legging mereka dengan bangga di kampus.

Acara itu digelar guna menentang "pandangan seksis usang" bahwa perempuan bertanggung jawab atas tindakan laki-laki, yang digambarkan sebagai orang-orang yang tidak mampu mengontrol diri sendiri.

Sejumlah mahasiswa berbagi foto mereka yang sedang memakai celana legging ke media sosial sebagai bagian dari aksi protes.

https://twitter.com/anniejarr/status/1110610529016602625

Bagi beberapa mahasiswa, memakai celana legging di kampus bukan sesuatu yang baru. Akan tetapi, kontroversi ini mendorong mahasiswa lain untuk mengenakan celana legging pertama kalinya.

https://www.facebook.com/events/2161148627272063/permalink/2162542667132659/

Selama beberapa tahun terakhir, perempuan pemakai celana legging dan celana yoga di luar ruang olahraga banyak dijumpai. Mode ini kemudian menjadi pusat dari sejumlah kontroversi.

Beberapa warganet pun mempertanyakan apakah surat itu sengaja dibikin seseorang untuk membuat polemik. Namun harian Washington Post melaporkan bahwa ini bukan pertama kalinya surat yang dimuat pers mahasiswa mempertanyakan cara berpakaian perempuan.

Dalam surat bertajuk 'Wahai para perempuan, bersikaplah yang santun', seorang mahasiswa memprotes pakaian perempuan di kampus yang dia nilai "tidak patut".

https://twitter.com/danigreen41/status/1110569904925786112

Nicole Waddick, seorang mahasiswa tingkat akhir Universitas Notre Dame, mengatakan dirinya sengaja berpartisipasi dalam aksi protes karena "yang saya kenakan bukanlah undangan untuk menseksualisasikan tubuh saya".

https://twitter.com/NDSMCObserver/status/1110661780290846722

Kate Bermingham, seorang mahasiswa S3 di universitas tersebut, membagi fotonya saat dirinya sedang memakai celana legging seraya mengingatkan bahwa perempuan non-kulit putih amat mungkin dikecam karena dianggap melanggar cara berpakaian tertentu.

Hal ini sejalan dengan laporan Pusat Hukum Perempuan Nasional AS bahwa para perempuan kulit hitam ditegur lebih keras ketimbang perempuan kulit putih terkait pelanggaran cara berpakaian di sekolah.

https://twitter.com/KateBermingham4/status/1110600470651908096

Sejumlah warganet mengatakan bahwa mereka merasa "terinspirasi" saat melihat begitu banyak mahasiswa turut dalam aksi protes tersebut.

Seorang mahasiswa bahkan menulis surat balasan pada surat kabar pers mahasiswa yang berisi dorongan kepada para mahasiswi untuk "memakai apa yang kamu inginkan".

"Cara kamu berpakaian di depan umum bukanlah cerminan karaktermu, dan pakaian itu tidak membuat kami mengecualikanmu dari perlakuan bermartabat dan terhormat," tulis mahasiswa itu.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed